My Name JOANA

My Name JOANA
158



"yaudah ini bahas nanti saja lah, malam nanti kita kan bisa bicara berdua" kata Egar


"iya udah"


lalu mandi bersama, siap siap bersama..


"sudah tas mu apa lagi mau dibawa ini Egar?" tanya Joana


"tidak ada, udah deh itu saja"


"yaudah, aku bawa ke mobil"


mereka menuliskan note pada masing masing kamar untuk memberikan salam pamit karna berangkat bekerja


Egar menuliskan di skininote lalu menempelkan di pintu kamar Melanie dan Amir


maa, paa..


kami pamit pergi bekerja,


tadi Joana sudah siapkan makan


untuk sarapan kalian, dimeja makan


Egar


Joana menuliskan di skininote lalu menempelkan di pintu kamar Meliana dan Enggar


maa, paa..


Joana dan Egar pamit pergi bekerja,


kami sudah siapkan makan


untuk kalian berempat sarapan bersama,


kami pamit ya


Joana


setelah Joana dan Egar pergi, keempatnya bangun dan tidak melihat ada skininote itu


Meliana dan Melanie penasaran akhirnya mereka mendengarkan suara dari pintu kamar utama tapi tidak ada suara apapun bisa mereka dengar


"apa yang kamu dengar?" tanya Meliana


"tidak ada kak, apa tidur masih?" ucap Melanie


"iya kali ya, lemburan semalam"


tak lama mereka kembali, dan melihat tulisan pamitan itu, membuat mereka gemas, karna pengantin baru malah langsung ambil pekerjaan dihari pertama selepas pernikahan


one day first merried...


keduanya tidak ada yang berbeda


pergi bekerja dengan pekerjaan yang sama sebelumnya


hingga di kantor masing masing, mereka dapatkan ucapan selamat untuk pernikahan mereka


sorenya..


saat Joana menunggu suaminya...


"siyeh yang nunggu suami nya ya" ledek Septi


"haha iya kak Septi, kak Septi pulang sama siapa?"


"itu sama pacarku"


"itu punya pacar, oh yang kemarin dibawa ke nikahan aku kah kak?"


"iya itu Joana"


"ahh ayo kapan menyusul nya?"


"doakan lah Joana, eh itu udah dateng, aku pergi dulu ya"


"ya kak"


"doakan loh"


"haha iya, hati hati kak"


"iya kamu juga, byebye Joana"


baru saja Septi pergi, Egar datang, Joana masuk mobil Egar dan pergi tapi ternyata Ridha melihat sejak tadi awal Joana menunggu sampai datangnya Egar


"sebenarnya sayang sekali jika mereka memutuskan menikah terlalu cepat karna harusnya mereka mengejar karir dulu baru menikah"


tapi apalah dayanya, ia hanya seorang atasan, dan pernikahan kemarin adalah keputusan Joana


lalu mengapa keluarga mereka tidak melarang atau menunda pernikahan itu?


jawabannya simpel, karna baik Meliana dan Egar atau Melanie dan Amir, sama sama menikah diusia mereka masih muda, karna menurut mereka, menikah adalah kehidupan untuk selamanya bahkan untuk masa tua sebagai pendamping masa depan bersama sama


jadi jika datangnya cepat untuk apa menunda, berbeda dengan Melinda yang sebenarnya tidak setuju terlalu cepat, karna Melinda sendiri menikah diusia yang cukup matang dan hampir terlambat dari batas maksimal gadis untuk menikah yaa meskipun akhirnya menikah


tapi Melinda ada manfaatnya juga menikah disaat sudah sama sama sukses dengan Dimas, karna tidak kuatir memikirkan kedepannya


sementara Joana dan Egar, bahkan mereka tidak menyiapkan apapun untuk perhitungan setelah menikah, hanya perhitungan biaya menikah dan pesta dan sebagainya saja tercatat, lainnya menyusul deh sambil jalan, itu pikiran keduanya


sementara Joana dan Egar sampai dirumah, sudah seperti di pikirkan Egar, Meliana dan Enggar akan panjang mengomelnya


"Joana, siap siap mama papa ku mengomel ya" kata Egar


"kenapa? ada apa mengomel"


"kan kita langsung ambil scedule kerjaan hari ini, mama Meliana pasti mengoceh nanti, lihat saja"


"udah, jangan dipotong selama bicara biarkan bicara selesaikan dulu nanti, baru kalau mama selesai, kita bisa jelaskan"


benar saja, Enggar dan Meliana bergantian mengomeli keduanya disana, tidak peduli didepan besan nya juga karna memang besan nya juga setuju atas omelan omelan itu


dan Joana disana hanya diam, mendengarkan Meliana dan Enggar dengan sabar tanpa menjawab sedikitpun, dan inilah, alasan mengapa Meliana dan Enggar sangat mencintai Joana meskipun hanya menantu


"Joanaaa" teriak Meliana


"ahh, iya ma, maaf ma" ucap Joana


"kamu ini kenapa diam? kenapa buat saya sayang dan cinta sama kamu, saya itu suka sama gadis yang ketika saya mengomel tapi didengarkan, Joanaaa, makasih ya sudah mau menjadi menantu saya" kata Meliana


"maa, astaga, mama kan marah, Joana dan Egar memang salah, kami tau kami salah, jadi kami minta maaf ya ma" ucap Joana


"ini juga (Egar) dia biasa nya menjawab aja apa mama papa nya bilangin, selalu ada aja jawaban dia, sekarang diam kamu ha?" ucap Meliana


"habisan Joana diam kan Egar gak enak juga sama mama Melanie sama papa Amir juga" jawab Egar


"ya bener, itu yang harus dicontoh, orang tua bicara dengerin dulu, jangan jawaaaab aja" jawab Enggar


"nah, dengerin dulu, gakpapa, kita marah kan buat kebaikan nak Egar" kata Melanie


"tapi panjang kan ma, tau sendiri itu" jawab Egar


"Egaaar" bisik Joana


"ya" jawab Egar langsung diam


yaa, memang Egar adalah anak yang selalu saja ada jawaban ketika orang tuanya mengomel atau memarahi nya, pasti dijawab olehnya sebagai bentuk pembelaan diri


tapi dari sini Meliana dan Enggar langsung paham, dimana titik kelemahan untuk bisa menaklukan Egar, anak mereka sendiri, yaitu pada Joana


jadi ada apa apa, yang di bilangin nanti oleh Meliana dan Enggar ya Joana nya, bukan Egarnya, karna Egar pasti akan menjawab bahkan membantah


"yaudah selesaikan semua kerjaan kamu, bulan depan, wajib honeymoon, kalau tidak mau kami akan siapkan dan kirim paksa kalian ke tempat honeymoon" kata Enggar


"iya pa, kalau bulan depan, kami atur lagi jadwal libur ya" ucap Egar


selesai urusan diluar, mereka masuk kamar untuk bersihkan badan mereka dan setelah selesai, keduanya duduk berdua di atas kasur tidur


"Egar, mau merombak semua isi kamar dirumah ini deh"


"dirombak gimana?" tanya Egar


"ya aku mau kasih kamar mandi setiap kamar"


"memang bisa?"


"harus bisa lah Egar, aku mau setiap kamar memiliki kamar mandi pribadi, jadi gak keluar kamar buat mandi"


"yaudah gampang, kamu butuh berapa?"


"gak tau, nanti pakai uangku"


"eh jangan, pakai uangku lah"


"kan ini juga jadi rumahku, gakpapa kan pakai uangku"


"iya, tapi pakai uangku, udah aku bilang, ini atm ku bawa saja, ini isi uang pribadiku sudah terkumpulkan semua disini, pakai saja berapa kamu mau pakai"


"oh, memang gakpapa aku pakai?"


"kok masih tanya? pakai saja, aku ada atm gajiku, tapi gajinya bulan ini belum keluar, tapi bayaran belum masuk, jadi masih minggu depan, kamu pakai berapa pun pakai saja"