My Name JOANA

My Name JOANA
29



Feris pergi ke kelasnya karna ada jam kuliah


baru keluar dari kelas Joana, Galen datang dan menyapa Joana


"hai kak" sapa Joana


"hai Joana, apa kabar?"


"baik kak, kakak bukannya kkn?"


"oh iya, ini ada keperluan di kampus jadi aku mampir" kata Galen


"emm"


tak lama Egar dateng..


"hai kakak" sapa Egar


"hai gar" sapa Galen


"waah ada apa nih kesini?"


"ini kebetulan lewat, kamu kok disini ini bukan kelasmu"


"biasa, ngapelin Joana" jawab Egar


Egar memang sering begitu, sering bercanda dan tidak kenal tempat tapi anak yang asik


Ello yang melihat itu lebih senang, Ello sebagai seorang sahabat, ia tau, mana lelaki yang suka pada sahabatnya itu dan pantas dengan sahabatnya


Galen? Galen suka, tapi ia kalah dengan Nero, Michel ditambah sekarang Feris, sementara Egar.. Egar ia juga merasa jika Egar ada hal yang sama dengan Galen yang suka dengan Joana yaa antara belum mengakui atau belum menyadari saja


tak lama Galen berpamitan, ia akan kembali ke tempatnya untuk kkn, tinggallah Egar dan Ello..


"kamu gak keluar, bentar lagi kelas masuk" kata Joana


"gakpapa, ngikut sedikit lah apa ada yang masuk sama otakku" kata Egar..


"emm"


Egar duduk disamping Joana, ia tersenyum melihat kearah Joana, Ello semakin yakin jika Egar suka pada Joana


"oh ya, aku tadi beli minuman panas, tapi karna perjalanan kesini, tau tau gak lagi panas, jadi sebelum dingin, sebelum hangat nya makin ilang, jadinya aku minum" kata Egar pada Joana


"maksudnya?" tanya Joana


"Maksudnya apa?" tanya Egar balik


"maksudnya ya kamu beli buat kamu sendiri bukan buat aku gitu" jawab Joana


"hahah iya ya, nanti pulang aku beliin gimana, sekalian aku ada cari buku ke toko buku biasanya"


"boleh, sama Feris juga ya, dia bakalan ikut" kata Joana


seketika Egar melirik arah Ello, sesekali ada momen dimana orang lain merasa kesal akan kepolosan seseorang


tak lama Feris datang, beruntung ia tidak tau percakapan tadi diantara mereka


"babe, sudah makan?" tanya Feris


"sudah, kamu belum pasti?" tanya Joana


"hemm iya, aku mau makan sama kamu, kok kamu sudah"


"iya udah aku temani makan ya, ayo"


"iya ayo"


"ayo kamu ikut gakpapa Egar.. Ello.." kata Joana


"babe, kita kan berdua saja" bisik Feris


"tapi mereka belum makan kan kayaknya ya" kata Joana melirik kearah Egar dan Ello


"iya kalian duluan saja gakpapa" jawab Egar


"loh kenapa?" tanya Joana


"babeee" ucap Feris


"aku duluan ya" kata Joana


"yaa" jawab Egar


hanya ada Egar dan Ello, mereka membahas dimana pikiran mereka yang tidak satu frekuensi tentang hubungan Joana dengan Feris


dimana Ello mengatakan ia lebih setuju Joana bersama Nero atau Michel dari pada dengan Feris atau Elyas


"kalau itu ya sama aja lah gar, Elyas juga tidak kasar" jawab Ello


"mana dia gak kasar, tuh murid banyak di adu, brutal, bakar tas murid dan buku tugas mereka, Puri kamu tau? gimana dia kasarnya? udah kesebar itu ke penjuru kampus" kata Egar


"iya tapi dibandingkan dengan mereka berdua memang lebih baik sama kak Michel, kak Michel buaik banget, apa lagi dia rapi kan, jauh dibandingkan sama Elyas" jawab Ello


"jadi memang kamu setuju Joana sama siapa antara mereka?"


"ya sama Nero atau kak Michel"


"kenapa Feris sama Elyas?"


"aduh enggak deh, gak bisa ngebayanginya"


"lah itu udah kejadian sama Feris"


"makanya, gak habis pikir gue"


tapi mereka tidak sadar jika Elyas dan kedua temannya malah mendengar kan percakapan keduanya


Mikail dan Arsan menoleh ke arah Elyas


"lakukan" ucap Elyas


seketika paham perintah itu, Arsan dan Mikail langsung berjalan kearah mereka, lalu menendang meja disana, menggebrak meja itu juga tapi tidak sampai mengasari keduanya


"kak Elyas" ucap Ello


"Elyas tidak perlu perbandingan dengan siapapun murid disekolah ini termasuk Feris, apalagi Nero dengan Michel, mereka bukan satu level dengan bos kami" ucap Mikail


"itu hanya obrolan biasa, kuharap kalian tidak emosi" kata Ello


"dengarkan aku baik baik kalian, kami tidak akan pernah menyentuh kalian dan kasar kepada kalian karna Joana, tapi hargai kami selagi kami masih memegang prinsip itu, sebelum berubah pikiran kami" ucap Elyas


mereka pun pergi, menuju perginya Joana dan Feris, karna mereka tau dimana Joana


sesampainya, mereka diam memerhatikan Joana disana, tapi Arsan menyadari seperti ada yang membicarakan diam diam Joana yang duduk dengan Feris dikantin itu


"Joana ini keren ya, didekati pria pria keren dan bisa merubahnya" ucap salah satunya


"apanya keren, darimana keren?"


"tuh lihat Nero, berubah loh sekarang gimana? baik kan dia"


"iya juga sih ya"


"belum lagi kak Michel"


"eh memang benar kak Michel suka?"


"ya jelas kelihatan lah, asal kalian berdua tau, kak Michel sampai simpan banyak foto Joana diam diam"


"loe tau darimana?"


"gue sempat kirim laporan ke ruangan pak Dori, kelihatan dari sekitar sana kan meja kerja kak Michel, saar dia buka ambil bulpoin dalam laci, gue jelas lihat banyak banget foto berserakan didalam laci


"ahh"


"ehh tapi tapi, serius gak si Feris pacaran sama Joana karna tulus? yakin gak sih, perbedaan jauh, buta mata Joana ya?" tanya salah satu dari mereka


"lebih buta lagi mata Feris sama Elyas lah, masak suka sama gadis polos, gue jadi mereka, ngejar Puri, cantik, putih, bersih, tajir pula"


seketika itu, Arsan dan Mikail menoleh lagi kearah Elyas


"lakukan" ucap Elyas


Arsan langsung berdiri didepan ketiga gadis itu duduk dikantin sana dan langsung menggebraknya


"kak Elyas, kak maaf kak" ucap mereka


"masih saja, udah tau urusan nya sama Elyas kalau kalian membahas Joana apapun pembahasannya" bentak Mikail


"maaf, kami hanya membahas sedikit" jawab lagi salah satu nya


Elyas langsung menarik kedua pipi salah satu gadis disana yang terakhir yang mengatakan jika yang buta buka Joana tapi Elyas dan Feris


seketika mendengar keributan, Joana menoleh dan melihat sudah ada Elyas dan dua temannya akan menghajar dua gadis disana seketika Joana berlari menahan untuk Elyas tidak memukul salah satu gadis disana


"kak Elyas" ucap Joana


"asssh" ucap Feris kesal


karna Elyas menatap tajam kedua mata gadis itu, ia mengepalkan tangan kanannya sementara tangan kiri nya menahan kedua pipi gadis itu


"babe, kemana?" tanya Feris