
"Joana, kemana?" tanya Delvin
"ambil minuman, haus"
"biar aku yang mengambilkan, kamu tunggu kamar"
"oh, yaudah aku tunggu dikamar" kata Joana
tak lama Delvin masuk kamar Joana dan memberikan minuman
"ini" kata Delvin
"ya udah, keluar lagi aja, aku ingin sendiri" kata Joana
"apa apa minta aku diluar ya"
"emm"
Delvin keluarlah, dan tinggal Joana, karna anjuran dari Shilly, meminum pil KB itu harus rutin tiap hari dan tidak boleh terlambat, jadi konsumsi pil nya menentukan jam dan harus tepat waktu di hari selanjutnya
melihat jam, menunjukkan pukul 9.05 tapi Joana menunggu sampai jam 9.10 agar ia mudah mengingat
karna pil KB itu konsumsinya rutin dan tepat waktu jadi setiap hari nya harus minum di jam dan waktu yang sama, setidaknya harus sama setiap hari di jam 9.10 terlambat pun maksimal 3 jam dari jam rutin jadi sekitar pukul 12.10
Joana meminum obat nya pertama kalinya dan menelannya, lalu berdoa supaya obat itu mempan untuk membuatnya tidak akan pernah hamil
hari terus berjalan seperti itu, dimana Joana memainkan peran nya sendirian untuk bermain kucing kucingan dengan Motheo dan Samuel urusan minum pil KB
bahaya jika tidak minum pil itu, Joana akan cepat hamil, sementara ia tidak mau hamil anak dari keduanya
meninggalkan Joana dengan kesibukannya yang baru, menjadi istri dari dua pria berbeda baik sikap, sifat dan kebiasaan semua nya berbeda
back to story of life to Egar Pradika
back to story dimana Egar mulai untuk kesembuhan dan pemulihannya sehabis patah tulang kaki kanan kirinya dan juga salah urat lehernya, yang menjalani operasi..
karna kondisi nya tidak memungkinkan ia diam sendirian dirumah selepas operasi jadi Egar memutuskan pergi pulang kerumah Meliana dan Enggar, agar mereka mengurusnya disana, yaa sesekali Melanie dan Amir sempatkan diri menjenguk dan mengurus Egar disana
"Egar tidur Malia?" sapa Melanie
"eh Malan? ada dikamarnya, biasanya dah bangun dia, masuk saja" sapa Meliana
"dikamar atas? enggak kan? susah keluar masuk?"
"dikamar tamu, habisan gak mungkin sih memang kalau naik keatas" kata Meliana
"oh yaudah, aku masuk ya"
"iyaa"
Enggar diluar bersama Amir, mengobrol pekerjaan mereka sementara Meliana dan Melanie mengurus Egar
"Egar" sapa Melanie
"Malan?" sapa Egar
Melanie datang, Egar mencium tangan Melanie bersalaman lalu Melanie mencium kening Egar, sejauh itu mereka dekat memang sudah layaknya ibu ke anak kandung bukan?
tidak sekali dua kali bahkan Melanie dan Amir sering datang, kadang datang berdua ya kadang sendiri sendiri, sesempatnya saja
sementara Egar yang selepas operasi saja, ia hanya istirahat setengah bulan atau dua minggu saja untuk istirahat, dan masuk minggu ketiganya lah baru mulai aktifitasnya sebagai dokter
Egar adalah dokter yang profesionalitasnya sangat tinggi, karna betapa ia sendiri menahan sakit tapi betapa ia masih memutuskan bekerja untuk pasien nya
"kamu yakin kerja hari ini?" tanya Enggar
"iya pa, kalau libur lama gak enak, Egar ada kontrak" kata Egar
"bukan soal itu, mending berhenti dulu, lepas kontrak, nanti nyari kerjaan baru, karna mama papa gak bisa loh temenin kerja kamu" kata Meliana
"iya mama sama papa fokus saja kerjaan, Egar bisa kok kondisi begini buat stay work" kata Egar
"yaudah, papa abtar jemput kamu saja, nanti papa jemput sebelum jam kamu cekout" kata Enggar
"oya pa"
Egar seminggu terakhir menggunakan kursi roda, tapi minggu berikutnya, ia mencoba jalan dengan tongkat bantuan kanan kiri tangannya untuk menyanggah kakinya meskipun masih sering merasakan sakit dan harus kembali duduk kursi roda
tapi semangat kerja nya tinggi, bukan egois karna uang dan uang tapi egois karna ia dibutuhkan nyawa lainnya
beberapa bulan kemudian, dimana kaki Egar mulai sembuh dan bisa jalan tanpa bantuan tongkat
"ini kamu bisa benar jalan?" tanya Meliana
"iya ma, tapi pelan pelan kok"
"iya ma, papa awasi dia kok selama ajar berjalan" jawab Enggar
"nanti capek jan paksa jalan terus ya, duduk, istirahat, kalau jalan maksa ya pegang tembok gitu" jawab Meliana
"siap ma, yaudah pamit kerja dulu" kata Egar
"nah, langsung pergi kerja aja?" tanya Enggar
"hehe iya pa, gakpapa kok beneran bisa kok"
"anter pa" jawab Meliana
"yaudah ayo papa antar" kata Enggar
karna butuh proses panjang memang, jalan tanpa tongkat pun masih harus pelan, terkadang membuat Egar harus extra berhati hati dan juga harus mencari benda di sekitarnya untuk ia bisa pegang
kegigihannya berbuah manis, karna semangat nya, ia pun mampu berjalan normal dalam beberapa bulan, maksimal enam hingga tujuh bulan jalan, untuk Egar dan semangatnya cukup empat hampir lima bulanan saja
setelah sembuh, ia memikirkan untuk mulai memikirkan rencananya ke amerika, ke amerika bukan berlibur atau apapun tapi ia meminta izin secara langsung pada istrinya jika akan mengambil kuliah lagi di dokter kejiwaan
malamnya saat Egar baru pulang kerja, seperti biasa, ia menelfon sang istri, bercerita banyak hal disana hingga larut malam
Egar yang sibuk telfon tidak tau jika Melanie Amir datang, mereka menjenguk Egar karna mendengar sudah sembuh total
"hai Paeng" sapa Melanie
"eh Malan, Pamir?" sapa Enggar
"sendirian pak?" sapa Amir
"iya, Lia didalam, masuk gih" kata Enggar
"Egar?" tanya Melanie
"ada ada" kata Enggar
Enggar mengantarkan Melanie Amir ke kamar anaknya, tapi mereka melihat Egar telfon dan mendengar seperti telfon dengan Joana, mereka membiarkannya
"oh telfon dia, sama Joana biasanya kalau malam begini" kata Enggar
"ahh, iya biarin deh pak" jawab Amir
"iya, kasihan, eh dari tadi gak lihat Malia?" tanya Melanie
"lagi kamarnya. kerjakan laporan, bentar lagi selesai kok dia"
mereka duduk di ruang televisi bertiga tak lama Meliana datang menyapa dan mengobrol, cukup lama, Egar keluar dan kaget ada Melanie dan Amir
"Pamir, Malan? sejak kapan?" tanya Egar
"tadi, tadi kamu masih telfonan"
"oh iya, itu Joana"
"apa katanya?"
"ahh biasa, tukar kabar, dia gak kabarin mama papa?"
"kabari sih"
"ahh"
hari berlalu, berjalannya waktu, ketika Egar mengatakan itu kepada istrinya soal rencananya akan datang ke amerika
"Moy? gimana keadaan mu?" tanya Egar
"Poy, kemarin tanya kan, sekarang masak tanya lagi. seminggu sekali kek" kata Joana
"ya kan gakpapa tiap telfon, kita malam saja gak ada telfon setiap hari"