
merasa kuatir, bergantian menelfon Joana, tidak bersamaan tapi hari yang sama panggilan tanpa Joana angkat dari kedua pria itu, Joana sudah menjadi peran tuli
kembali kepada Joana, saat sorenya ia menjemput lagi Egar, ternyata Egar sudah ada didepan pintu fakultasnya, Joana turun dari taksi dan menghampiri Egar
"kamu sudah tadi ya?" tanya Joana
"enggak"
"kok diluar? katanya jam tiga? ini masih jam dua lebih 45 menit"
"iya aku bilang jam tiga biar kamu terlambat, karna biar kamu gak nunggu aku kelar biar aku yang nunggu kamu"
"ahh Poy, yaudah ayo pulang"
mereka balik kerumah, sesampainya, baru juga sampai, sudah baru buka pintu dan masuk rumah, malah hujan deras sekali
"oh pantes tadi ada petir, masuk musim hujan ya?" ucap Joana
"iya kali, untung sampai rumah dulu ya Moy?"
"iya itu"
"eh iya tadi gimana kamu tanya kelas Ayu? sudah kesana?"
"sudah, tapi kata anak anak disana gak ada kelas, ada nya sorenya, sorenya aku lupa kesana lagi karna kamu sudah didepan fakultas jadi langsung pulang saja"
"ahh gak ketemu? pantes, biasa nya dia memang duduk di kursi ada di lobi biasanya, bareng aku malah biasa kalau dia ada kelas"
"oh ya? bareng?"
Egar menjelaskan soal ini, agar tidak ada Joana salah paham, tapi Joana sudah paham dari awal kok tapi saling menghargai pasangan jadi tanpa diminta menjelaskan akan tetap dijelaskan
itu satu hal paling kokoh untuk sebuah hubungan makanya Joana Egar menerapkan prinsip yang sama agar tidak ada salah paham dan kecemburuan
jadi tidak heran antara Joana dan Egar tidak ada cemburuan berlebih, lalu soal Fero tadi? bukannya Egar melarang Fero memeluk Joana karna cemburu? kalau soal itu beda, kalian juga pasti tau soal tadi itu beda dengan kujelaskan diatas
Joana dan Egar istirahat dan tidur, melakukan beberapa pekerjaan rumah lainnya, hingga esok paginya, saat Egar dan Joana bangun
"kamu ada kelas lagi kapan?" tanya Joana
"siang Moy, biar dah, panas, aku pergi sendiri"
"ayolah, aku antarkan saja"
"yaudah kalau masih maksa gakpapa"
"beneran? waah makasih Poy sayang"
"emm, dasar kalau ada maunya panggil nya sayang" ledek Egar
"kamu?"
"kenapa aku?"
"kamu juga sama lah, kalau ada mau nya sayang juga"
"dih gak ya"
"bener? udah tua, pelupa, maklum lah ya" jawab Joana
"Moooy" teriak Egar menggelitiki istrinya karna kesal digodai
"lah godai dulu siapa?" jawab Joana
"haha"
siangnya, Joana berangkat untuk antar suaminya ke kampus, saat sampai, karna kemarin istrinya mencari Rahayu tidak ketemu, jadi Egar mengantarkannya ke kelas Rahayu
"kamu mau ke kelas Ayu lagi?" tanya Egar
"iya sih, tapi apa dia ada"
"yaudah aku antar"
"kamu gak keburu masuk?"
"masih kurang 10 menit, itu lama, bisa kok anter dulu"
ternyata kelas 15.5 sedang ada dosen, jadi tidak bisa menyapa Rahayu dari dekat, Egar hanya melambaikan tangannya kearah Rahayu
"yaah ada kelas ya?" tanya Joana
"iya Moy, biasa nya anak itu nunggu aku di lantai lobi, kok udah masuk kelas nya saja?" gerutu Egar
"yaa, biasanya kalau ada kelas pas barengan, dia nunggu di lobi bawa lantai utama, pas jalan bareng kekelasnya, tapi udah dikelas aja"
"keburu kali Poy, keburu masuk, kan dah ada dosen tuh"
"iyaa, eh itu anaknya, tunggu aku sapa"
Rahayu senang karna Egar datang melihatnya dikelasnya tapi seketika suasana hatinya berubah ketika Joana menampakkan dirinya dan juga ikut melambaikan tangan nya menyapa Rahayu
Rahayu terpaksa membalas lambaian Joana, dengan berat hati ia tersenyum
"dah lah, ayo dia ada kelas, kamu akan ada kelas juga" kata Joana
"iya Moy"
jadilah mereka turun lagi dan sampai didepan kelas Egar, Joana melirik sekitarnya dan aman
"cari siapa Moy?" tanya Egar
Joana kali ini mencium bibir Egar, seketika itu, Egar terdiam dan menyentuh bibirnya, Joana terbiasa kehidupan di amerika, yang cukup bebas untuk sebuah hubungan yang ciuman di tempat umum adalah hal biasa jadi Joana tanpa ragu mencium bibir Egar, toh mereka suami istri
"Moy? ah kamu" ucap Egar malu
"apasih, begitu amat, biasa lah"
"dih, kamu gak pernah ya semanis ini" kata Egar
"ya kenapa? sama suami sendiri"
"sumpah ya, aku cinta sama kamu" kata Egar
tiba tiba petir kembali terdengar, keduanya kaget dan saling melirik satu sama lain
"kamu jangan kebiasaan bilang sumpah, tuh petir" kata Joana
"lah emang aku berani sumpah karna aku serius, itu tandanya petir mendukung ku" kata Egar
"apa? mana ada petir mendukung? ada ada saja"
"ya memang itu kebenaran"
"udah, gak ada gitu gitu, memang sekarang musim hujan, petir udah bakal sering datang kok, jangan mikir jauh jauh udah, sana masuk"
"yaa sayang, kamu hati hati pulang, gak usah jemput, aku sama Fero nanti pulang, kalau gk salah Aal juga nanti bakalan kesana" kata Egar
"oh ya? kapan Aal kerumah?"
"bilangnya jam tiga sore, ini masih baru jam satu kan"
"oh, iya, terus kamu selesainya?"
"jam lima itu"
"okeh deh, jadi gak usah jemput aku?"
"iya"
Joana pun pergi akan turun kelantai bawah dari lantai kelas Egar, tapi saat ia sampai di lobi untuk keluar dari gedung fakultas itu, malah hujan mulai turun dan perlahan mulai makin deras
Joana batal pergi, ia duduk di kursi yang ada di luar lobi fakultas kedokteran kejiwaan, sembari ia duduk dan sembari mengingat masa kuliah, masa bahagia, tanpa ada beban, semua ia pernah lakukan dengan begitu kebahagiaan tapi sekarang? begitu jauh langkah kakinya berjalan meninggalkan banyak kenangan warna kehidupan
tak lama Rahayu lepas kelasnya, ia turun dari tangga, saat akan melihat ke arah kelas Egar, ia ingin menyapa Egar seperti biasa ia lakukan jika ia tidak ada kelas tapi Egar ada, ia akan mengintip dari pintu dan melambaikan tangan nya menyapa Egar memberikannya semangat kelas hari ini
tapi karna malas juga jadi ia melewatinya saja dan turun lagi ke lantai bawahnya, tapi ia melihat keberadaan Joana diluar gedung fakultas itu
awalnya ia tidak mau menghampiri Joana, ia berencana pergi dari pintu lain nya, tapi ia tidak tega, bagaimana Joana bersikap baik kepadanya ketika awal kenal hingga saat ini
"hai kak?" sapa Rahayu
"hai Ayu? wah sudah kelasmu?" sapa Joana
"sudah kak, kakak kok disini?"
"kan tadi aku antar kan Egar kelasnya"
"iya, kupikir udah pulang"
"belum, masih hujan"
"oh ya juga"