My Name JOANA

My Name JOANA
144



"kapan yaa? em" ucap nya berpura pura berpikir


"Joanaaa ayolah, jangan lama lama ya, besok atau besok"


"jangan besok, minggu depan, janjian dulu sama aku selama seminggu ini sebelum jalan jalan sepuasnya ini, lupakan boneka kamu ini" kata Joana


"emmm Joana, kan susah"


"kan gak langsung"


"iya udah deh, tapi disimpan baik baik ya bonekanya"


"siap, nanti aku kasih tempat tidur paling nyaman buat boneka"


"asik, terus itu saja?"


"yaa itu saja"


hanya permintaan sepeleh untuk meninggalkan bonekanya, bukan karna Joana jahat atau tidak suka boneka karna masalalu nya, yaa memang ia memiliki masa lalu yang misterius dengan boneka tapi jauh dari alasan itu


karna itu 1 dari banyaknya trik Joana mencoba menormalkan kembali setiap sikap yang dilakukan oleh Alisia sebelum dan sesudah dinyatakan survival


hari berlalu, perlahan tapi pasti, yaa memang sulit membuat untuk Alisia terpisah dengan boneka yang memang selalu menemaninya sejal awal masuk Netra itu, tapi semua berjalan dengan sesuai rencana dimana bahkan Alisia bisa melupakan boneka nya


saat berhasil mengambil bonekanya, Joana takut menyentuh boneka


yap, Joana berhati lembut, yang dominan memiliki hati lembut itu pastilah menyukai boneka, tapi Joana tidak


Joana beberapa kali mendapatkan boneka, ia selalu dengan tegas menolak ketika ada yang memberikannya boneka karna alasannya tidak suka bulu boneka tapi jika mainan boneka, gantungan kunci, tidak masalah


yang masalah hanya boneka ketika berukurang sedang


bahkan ia tidak pernah menyentuh apapun tentang boneka, ia trauma, teringat soal Nav (nama boneka milik Joana)


karna harus menjauhkan boneka itu, Joana meminta bantuan Septi mengambil bonekanya


"emm kita makan yuk" ajak Joana


"iya, disini kan?" tanya Alisia


"bagaimana ditaman?"


"boleh yuk"


saat mereka pergi dan tak sengaja Joana melihat dengan Septi tak jauh darinya, Joana mengarahkan Alisia sebentar ke bangku taman, ia mendekati Septi


"kak Septi bisa bantu?" sapa Joana


"Joana? ada apa?"


"tolong ambilkan aku boneka nya Aal, bawa bonekanya dan simpan, sembunyikan ya"


"dimana?"


"dikamar Aal, tolong ya"


"oke"


Joana kembali kearah Alisia dan makan bersama..


hari berikutnya, tak terasa seminggu sudah, dimana janji nya harus Joana tepati


"Joana Joana, ayo" ajak Alisia sudah memakai baju dengan rapi masuk ruangan kerja Joana


"Aal? kamu sudah siap saja?"


"iya, pagi ini kan kamu janji buat ajak aku jalan jalan sepuasnya kan"


"iya, bentar ya, aku kirim laporan data pasien dulu ke dokter Ridha"


"okeh"


mereka pun jalan, dan disini, semua staff di Netra melihat betapa berbedanya Alisia yang pertama masuk hingga sekarang


"weeh tunggu, itu benar si Aal?" tanya staff disana


"iya beneran dong, wahh gila Aal aslinya cantik dia" jawab staff lainnya


"eh, katanya dia survival kan? sembuh dong?"


"iya ya, bener itu, itu lihat saja, berubah banget dia, sudah terlihat normal"


"waah iya ya"


"Septi, Septi, lihatlah, sudah lihat bagaimana tampilan Aal sekarang?" tanya staff disana memanggil Septi


"belum, mana?"


"itu, itu, sama Joana keluar"


"pakai baju kuning itu kah?" tanya Septi


"yap"


"waah bener"


"ya kan?"


"hebat"


"begitu dah kalau ada pada tangan yang tepat" kata Septi


"iya juga ya, Joana hebat dong, pantes bu Ridha menjadikan Joana anak emasnya, bahkan menawari pekerjaan tetap di waktu Joana baru kkn"


"iya kan? pasti lah, prestasi itu penting" jawab Septi


sementara Joana, menepati janjinya, pergi dulu mencari sarapan, lalu pergi berbelanja ke mall, siangan mereka jajan jajan di mall, makan siang juga sekalian, lalu pergi ke salon, karna kan baik Joana dan Alisia sama sama tidak pernah lagi masuk salon perawatan


"Joana, aku belum pernah lagi masuk salon" kata Alisia


"kamu mau perawatan? ayo dah kesana, gimana?"


"ayo ayo"


mereka pergi kesalon, mulai dari lulur, fauna, mandi susu, perawatan lainnya bahkan disana Alisia meminta sebuah permintaan


"Joana" panggilnya


"ya Aal?"


"aku boleh minta sebuah hal"


"apa?"


"aku mau potong rambut dan mewarnai nya boleh?"


"potong semana? warna apa?"


"potong pendek saja, aku capek rambut pajang, mau buang sial juga kan"


"iya udah boleh, warnanya?"


"warna, emm aku suka netral saja, coklat muda gitu, hampir pirang tapi gak pirang"


"ada kak?" tanya Joana kepada staff salon


"ada, lengkap warna disini kak" jawab staff


"tuh, ya" kata Alisia


"okeh, boleh"


Joana membayari semua pengeluaran hari itu, ia tidak oeduli bahkan ia tidak menghitungnya


yap, sama ketika ia bersama dengan Sherla pertama kali diindonesia, ia membayari semua nya yang Sherla perlu, dan sekarang kepada Alisia


Alisia memotong rambut dan mewarnainya selesai, lalu berjalan mencari banyak baju untuk Alisia, baru sorenya mereka pulang tapi pulang kerumah Joana


sesampainya..


"waduh dua anak ini lagi" kata Joana


"hehe Joana" sapa Nandra


"dasar, yaudah lanjutin deh kami masuk"


terlihat ada Sherla dan Nandra berduaan didepan rumah dan Joana mengenalkan Alisia disana, lalu menbawa nya masuk dan mengenalkan kepada keluarganya yang lainnya juga


saat makan malam dirumah Joana, Alisia hanya diam, ia gugup karna ia sudah lama tidak merasakan hangatnya keluarga seperti ini, dan sekarang Joana membawanya kepada tengah keluarganya yang baik dan peduli ini


"Joana, beneran dokter semua bilang aku sembuh?" tanya Alisia


"iya serius, suster Septi katakan dulu pertama, lalu dokter Ridha dan dokter lainnya semuanya"


"waaah akhirnya Joana, makasih semua karna kamu"


"iya karna dirimu sendiri lah, kamu kan bisa saja menolak aku buat membantumu"


"oh iya haha"


Joana menjelaskan semua nya sejak awal bagaimana Joana kenal, lalu dekat hingga bersahabat dan menjelaskan awal pertama hingga proses dimana Alisia dinyatakan dokter sembuh dari penyakit stress mental nya itu


mereka mengobrol lagi disini


"oh ya, kalau disini jangan malu malu ya Aal" kata Melanie


"iya, udah kaya rumah sendiri saja deh" jawab Amir


"iya om, tante, makasih"


"weeh. panggilnya mama papa, biar kamu jadi anakku saja, mau tidak?" tanya Melanie


"wooh serius ini?"


"serius, mau tinggal sini, ada kamar tamu, kamu pakai kamar pribadimu gimana?" tanya Amir


"waah"


jelas lah bahagia mendapatkan keluarga asing menerima ia seperti anak mereka sendiri, kan yang membuat Alisia menjadi gila dan stress karna kehilangan keluarganya


hari berlalu, dan akhirnya setelah proses cukup panjang, Alisia resmi keluar dari Netra, rumah sakit jiwa yang menampungnya karna masalah masalah beratnya tapi sekarang semua sudah pergi


beberapa hari berikutnya...


Joana dapat banyak pujian dari seluruh staff di Netra karna sudah berhasil membuat Alisia survival dari masalahnya