My Name JOANA

My Name JOANA
112



"iyaa udah, bareng aja kak makan paginya, aku sudah bangun kok, aku cuci muka dulu"


"iya"


Joana turun bersama Elva, saat makan bersama, kebetulan Melanie dan Amir berangkat untuk shift siang hingga sorenya jadi bisa makan pagi bersama


"loh ada Elva" sapa Lestari


"iya buk" jawab Elva


"Elva sejak kapan datang?" sapa Melanie


"semalam ma, dia lagi pingin tidur disini, baru ditinggal kak Elyas pergi ke amerika ma" jelas Joana


"oh, ditinggal?"


"gak ditinggal, maksudnya kakaknya pergi kesana, kan disana ada kerjaan menetap jadi balik kesana ma"


"terus kamu sama Elyas?" tanya Amir


"ya putus pa, tapi hubungan masih baik"


"emm"


"kak, kakak cerita sama orang tua kakak kalau putus?" bisik Elva


"kalau aku semua tidak pernah ditutupi Elva, kalau pacaran ya bilang kalau putus ya bilang"


"emm"


"ayo dimakan, habiskan saja" kata Melanie


"iya ma, makasih"


"mama pergi anter papa dulu ya bekerja, biar sekalian mama pergi juga deh"


"loh kan masuk siang kan" kata Joana


"iya anter papa kan, biar gak bolak balik lagi, sekalian jalan saja"


"emm yaudah deh"


"bye sayang" sapa Melanie


Melanie mencium kening sang anak, yaitu Joana, ternyata juga mencium kening Elva, saking dekatnya keluarga ini dengan Elva memang sudah layaknya anak sendiri


setelah makan pagi, Joana pun pergi bersama Elva kekampus mereka, lalu Sherla ikut turun, sebenarnya Sherla sudah sejak tadi akan turun tapi ia tidak berjalan turun tangga ketika melihat Melanie mencium kening Joana dan Elva


Sherla berpikir, kenapa masih ada keluarga sebaik ini didunia, bahkan didunia yang ia anggap keras dan bukan layak ditinggali lagi


manusia dalam rumah ini semua berhati tinggi dan bersih, membuatnya tidak tau bagaimana mengungkapkan perasaan kagum nya


"loh, Joana pergi buk?" sapa Sherla


"iya, baru ini, pamitan sama Elva" jawab Lestari


"emm yaudah"


"kamu gak makan dulu?"


"makan buk"


"iya itu dah, ibuk mau pergi ke pasar dulu ya, soalnya bahan dapur habis, gakpapa ya ibu tinggal"


"iya bu gakpapa, oh ya buk, aku mau pergi mall dekat sini, ada kan disana, aku pernah lihat sama Joana waktu keluar"


"oh yaudah, hati hati ya, kalau orang gak dikenal jangan sembarangan bicara"


"siap ibu"


Sherla tidak ada tugas hari itu, ia memutuskan untuk jalan ke mall untuk refreshing otaknya meskipun tidak membeli apapun disana, maklum, kalau di amerika jangankan mau mikir jalan ke mall, ke tempat sedikit ramai orang saja ia takut


seperti biasa dengam gaya pakaian yang masih sama dengan sebelumnya, Sherla memakai baju kaos memperlihatkan perutnya setengah, lalu rompis levis dan celana panjang hitam street


ia jalan membuat banyak mata tidak fokus selain kepada nya, bagaimana tidak, cara berpakaian Sherla sangat terbuka, tapi sepadan dengan visual yang dimiliki oleh Sherla, cantik, mulis, putih dan wangi


tidak ada yang bisa memalingkan wajahnya ketika Sherla melewati mereka mereka, bahkan kaum gadis pun disana juga kagum atas tubuh indah dimiliki Sherla


setelah jalan puas lalu pulang dan duduk dikamarnya, ia melihat arah jendela kamar itu, ia menarik boneka Nav lalu ia peluk dan masih melihat kearah langit dari jendela itu


ia berpikir hal paling bebas dalam hidupnya adalah hari ini, ia bisa jalan tanpa memakai topi, tanpa berkacamata hitam dan bermasker tapi bisa jalan bebas kemana mana ia mau


"Sherla" sapa Melinda


"yaa bi"


"gak ada tugas juga gak ada bi"


"belajar lagi sama bibi ya"


"ayo, tunggu bi"


"iyaa"


Sherla tak hanya belajar dengan guru di sekolahnya tapi dengan Melinda juga, jadi pengajaran tidak hanya 1 pihak saja


terus giat untuk belajar, Sherla ingin cepat selesaikan urusan pengejaran sekolah SMA nya dan tak sabar untuk kuliah karna target nya untum masuk kuliah adalah tahun depan dimana Joana lulus dari kampus dan Sherla baru akan masuk kampus


Joana pun sama, ia harus belajar dan tingkatkan fokus lebih tinggi karna ia berada di semester paling tua yang menumpuk banyak pekerjaan, belum lagi ia harus selesaikan masa kknnya selama 3 bulan


saat sudah tidak lagi ke kampus karna masa kkn, ketika Joana ada tugas mendadak untuk datang ke kampus atas panggilan Dipo, Joana datang kekampusnya..


sesampainya, ia bertemu Galen...


"Joana" sapa Galen


"kak Galen?"


"kamu kok datang?"


"iya, pak Dipo memanggilku pagi ini, aku masuk shift sore ke malam"


"ahh, apa terburu? bagaimana kita mengobrol? kita lana tidak mengobrol Joana"


"boleh deh, ayo kak, duduk disini saja, santai kok aku juga"


"yasudah"


Galen dan Joana duduk mengobrol disana membahas banyak hal


"eh iya, kakak kok disini? ada urusan juga ya?" tanya Joana


"iya, aku mau legalisir, jadwal nya ketemu pak Dipo dan pak Dori hari ini"


"ahh sudah tapi?"


"ini sudah, beres tinggal pulang"


"oh"


Galen sudah lulus barengan dengan Elyas dan Feris juga, disini Galen membahas soal Feris yang berhasil jadi dosen yang rapi dan wangi, diidolakan banyak anak maba


begitu juga Galen menanyakan soal kesibukan Elyas di amerika dan Joana menjelaskannya


banyak hal memang dibahas termasuk membahas soal hubungan Galen dengan seorang gadis, karna Joana tidak mau membahas Elyas terlalu panjang disana


"emm terus ngomong ngomong kak gimana sama kakak, masak kalah sama Vera? Vera aja dapatin Wildan" kata Joana


"emm, Joana.. sebenernya, aku itu deketin, Wita" kata Galen


"wooh, Wita? temanku kan?"


"emm, aku dekati dia, tapi dia punya pacar"


"apa kamu pernah mengatakannya?"


"tidak sih, tapi aku selama ini berikan dia perhatian, tapi percuma sebenarnya, dia punya pacar kan"


"iya, aku tau Wita punya pacar, tapi beneran kakak suka sama Wita?"


"ya udah lah jangan dibahas lagi Joana, aku malu"


"bah iya jawab lah dulu, beneran suka sama Wita?"


"iya Joana, tapi gimana, aku gak mungkin kan merusak hubungan orang lain"


dalam hati Joana berpikir, pantas saja, kemarin ketika makan siang bersama dikantin utama, ia melihat ada yang aneh dengan Galen yang memerhatikan Wita beberapa kali ketika Wita malah sibuk mengobrol dengan Vera dan Wildan


"apa kamu serius sama dia?" tanya Joana


"gak kok, aku gak serius"


"dih, kamu jadi tadi bercanda?"


"ya enggak, soal itu gak bercanda aku, aku serius"


"terus gimana nih maksudnya kok muter"


ya menjelaskan lah Galen bagaimana ia menyukai Wita dengan kebaikan Wita, dan ketika mengobrol berdua begitu lepas, ya memang hanya tak sering mereka mengobrol..