
tapi malah berganti, Elva membuat Feris mematung dengan jawabannya
"iya, saya tau, harusnya saya mundur, karna melihat bagaimana saingan saya tidak akan bisa saya kalahkan, tapi setidaknya saya adalah seseorang yang mampu melupakan masa lalu bukan stay melihat mantan tertawa bersama pria lain" jawab Elva
Feris terdiam, ia membalikkan badannya dan menatap arah Elva..
"apa yang kamu bicarakan?" tanya Feris
"lalu apa yang bapak bicarakan? kenapa saya anda suruh mundur? anda kan dosen? bukannya dosen memotivasi muridnya untuk maju? bukan mundur seperti yang anda katakan tadi" jawab Elva
"saya hanya bilang, kalau tidak mau dilakukan ya gakpapa, didengarkan saja saya terimakasih tapi ucapan kamu tadi menyindir saya soal masa lalu, apa maksudnya? tau apa kamu masa lalu saya? kamu saja murid baru, kita baru kenal, saya dosen baru juga" jawab Feris
"saya tau anda masih ada sedikit rasa untuk kak Joana"
seketika itu Feris terdiam, ia hanya diam karna yang dikatakan oleh Elva benar
"apa Joana menceritakan semua?" tanya Feris
"tidak, tidak ada yang mengatakan apapun kepadaku, dan saya tidak perlu itu, tapi saya tau pak, harus nya saya yang bilang, banyak gadis diluar sana yang masih bisa anda kejar, bukan kak Joana karna soal tipe yang anda bilang kak Egar tidak men-tipe-kan saya sebagai gadis idaman, asal anda tau, kak Joana juga tidak mengatakan anda adalah tipenya" kata Elva menatap kedua mata Feris
Elva akan pergi dari sana ketika itu juga Feris menahan lengan Elva dan menariknya
"jangan urus urusan hati dan perasaan saya kepada siapapun termasuk Joana, itu cerita hidup saya, jangan pernah ikut campur" kata Feris menatap Elva tajam
"jangan urus urusan hati dan perasaan saya kepada siapapun termasuk kak Egar, itu cerita hidup saya, jangan pernah ikut campur" jawab Elva menatap Feris lebih tajam
seketika itu Elva melepaskan tangannya dari tangan Feris dan pergi meninggalkan Feris
esoknya, saat ada kelas Feris, seperti yang sudah sudah, Elva tau ia adalah bulanan untuk Feris kerjai, jadi ia menyapu, mengepel, membersihkan seluruh ruangannya untuk sejam sebelum Feris datang
setelah semua bersih, Feris datang setengah jam sebelum ia masuk kelas yang sudah dipastikan masih tidak ada murid disana dan ketika sampai kelas, benar saja, ada Elva disana
Elva yang selesai pekerjaannya dan melihat Feris datang, ia merapikan semuanya alat bersih nya dan menatanya di berangkas kelas itu tapi saat akan pergi, Feris menahannya
"aku tidak bisa lama lama untuk menyimpan perasaan, aku menyukai kamu" kata Feris
"hemm, apa yang pak Feris terhormat katakan? jangan coba hancurkan saya lewat cinta pak, permainan cinta itu tidak pernah ada jadi jangan mainkan cinta" kata Elva
"saya serius, maafkan saya soal kemarin, saya ikut campur kamu suka Egar karna saya tau Egar tidak akan menyukaimu, dia menyukai Joana tapi saya yang menyukaimu"
"pak, maaf, saya permisi"
Elva saat menatap kearah kedua mata Feris, ia sebenarnya sama, ia menyukai Feris, ia tidak tau sejak kapan perasaan itu tapi pasti ia mulai merasakan itu terasa saat pertama kali ia berkumpul dengan Joana dan teman temannya saat makan siang dikantin utama
sejak itulah Elva merasa dirinya suka kepada Feris, karna tepat saat itu, Elva melihat memang kepada Egar, tapi dihari itu juga ia merasa benar benar tidak akan ada kesempatan ia untuk dapat masuk kehati Egar, dan saat itu pula reflek membuat Elva melirik dan memerhatikan Feris
Elva pun keluar kelas, ia duduk di depan kelasnya bersama beberapa orang temannya dari kelas lain, tak lama beberapa temannya berdatangan dan mulai masuk, ia menunggu setidaknya Tiko atau Sahid datang dan Sahid lebih dulu datang jadi Elva pergi masuk kelas bersama Sahid
"hai Sahid" sapa Elva
"beh Elva, kau disini? nunggu Tiko ya?"
"ya nunggu Tiko, nunggu Elu" kata Elva
"bah ayo, masuk, kenapa diluar tumbenan"
tak lama Tiko juga datang, ia juga kaget karna Feris sudah didalam kelas nya saja
"eh, kita telat gak sih?" tanya Tiko
"enggak lah ini kurang 7 menit mulai" kata Sahid
"kok ada dosen aja"
"dia nya kecepetan, ya kan Elva" jawab Sahid
"hemm" jawab Elva tersenyum smirk
Elva biasanya sangat suka membahas apalagi ketika ada yang menghina Feris tapi kali ini ia benar benar diam, ia malas membahas apapun hari ini karna kejadian baru saja ia alami
hari berlalu, berjalannya waktu membuat Elva mulai bersikap dingin dan tidak seperti biasanya jika bicara soal Feris dengan kedua temannya,
tak hanya itu, kedua temannya juga melihat jika kelas Feris, Elva cenderung diam,
bahkan ketika ketemu diluar dengan Feris ia juga hanya diam, melewati Feris begitu saja,
mengerjakan kewajibannya sebelum kelas Feris masih dilakukannya tapi ia hanya lebih banyak diamnya saja
"kamu ada masalah sama pak Feris ya? kok berubah sih Elva" kata Tiko
"berubah apa?" tanya Elva
"ya gak, biasanya seneng amat bicarakan buruknya pak Feris kan"
"ya bagus dong jangan dilanjut kan itu, kamu ini" kata Sahid
"ya beda ada gitu Sahid, gak biasa"
"tapi memang ada masalah kamu?" tanya Sahid
"katakan lah, aku tau dan kenal kamu lama Elva" kata Tiko
"tidak"
hari kembali berlalu dan ketika seiring nya waktu berjalan membuat Feris terus merasa mendapat sikap dingin dari Elva sejak ia mengatakan perasaannya, Feris pun gemas dan kesal ia pun mendatangi Elva ketika ia sedang tidak ada jam mengajar ia mencari Elva dikelasnya
tiba diwaktu dimana Elva baru selesai membicarakan tugas kampus bersama teman 1 kelompoknya,m dikelasnya, lalu beberapa dari mereka mulai berpergian, tertinggal Elva, Elva merapikan meja kursinya dan akan pergi tapi Feris menyapanya
"Elva" sapa Feris
"pak Feris? apa ada kelas?" tanya Elva
"tidak ada, aku hanya perlu sama kamu, kenapa kamu sejak aku bilang suka tidak pernah baik bersikap? malah dingin"
"bukannya itu yang pak Feris mau? saya agar tidak kurang ajar"
Feris meyakinkan lagi disana untuk hatinya menyukai Elva, Elva tidak lagi bisa menghindar, ia hanya menunduk...
"pak Feris benar, kalau aku menunggu kak Egar, kurasa hanya stay disana, aku tidak akan mendapatkan orang lain yang mencintaiku, bukan hanya aku cintai" kata Elva