
tinggallah Max dan Samuel, disini Joana belum sadar jika disana hanya ada Max dan Samuel, Samuel masih duduk di samping Joana
beberapa menit, Samuel ada telfon, dari anak buahnya yang lain, karna tidak mungkin mengangkatnya di depan Joana, apalagi urusan kekerasan, Joana akan benar marah dan melarangnya pergi yang ada
disini, masih bahkan Joana belum juga sadar tentang hanya ada Max diruangan itu ketika Samuel pergi
Samuel mengangkatnya dan mengatakan jika ada pengutang yang meminjam uang pada si mafia ini, tidak mau membayar sisa bunga nya karna dianggap sudah cukup banyak bunga ia berikan
Samuel tergugah lah untuk ia pergi menemui orang itu agar memberikan pelajaran agar tidak berani lagi lain kali untuk menolak bayar sisa uangnya
karna sudah ada diujung untuk kemarahannya, jadi Samuel mendatangi Joana, berpamitan pergi
"Joana, aku tinggal ya, urusan aku penting diluar" kata Samuel
"kak, tapi" ucap Joana yang mulai menyadari diruangan itu ada Max saja, tidak ada siapapun
"ada Ravan, nanti aku temui dia atau dijalan aku akan telfon dia untuk mengurusmu" kata Samuel
"tenang Sam, ada aku masih, aku akan jaga, aku kan juga utusan bos Theo" jawab Max
"oh iya bener, ya aku tinggal ya" kata Samuel
"kak" ucap Joana
Samuel mencium kening Joana tanpa pikir panjang langsung pergi, karna sampai detik ini tidak ada yang tau perasaannya kepada Joana kecuali Fabian, tapi karna Fabian pergi paling awal, jadi tidak akan ada yang mengganggunya kali ini
tinggallah Max diruangan itu dengan Joana yang terbaring lemas diatas kasur rawatnya, kepala nya masih sakit, Joana belum bisa menoleh kemana mana dan tidak bisa teriak cukup kencang
kesempatan Max, Max menatap tajam arah Joana, Joana mencoba tenang, ia menenangkan dirinya dan mengatakan pada dirinya sendiri, semua pasti baik baik saja
tapi itu salah..
karna Max mendekati Joana, lalu Max menghapus bekas ciuman dari Samuel di kening Joana, Joana langsung menampis tangan Max
"jangan sentuh tanganku" kata Max
"kamu jangan sentuh kepalaku" jawab Joana
"kamu berani?" tanya Max menatap tajam kedua mata Joana
"tidak" jawab Joana terpejam ketakutan
lalu Max menggantikan dengan ciuman dari Samuel menjadi ciuman dari nya, Joana hanya hanya diam, karna ia tidak berani dan juga tidak bisa melarang atau menolak
Max menatap kedua mata Joana dengan tatapan begitu dalam dan membuat Joana makin ketakutan, ia menutup kedua matanya
Max malah hampir mencium Joana tapi telfonnya berdering, padahal sedikit lagi bibirnya menyatuh dengan bibir Joana tapi ia mengangkatnya saja
setelah selesai telfon, ia pun diam dan melirik lagi kearah Joana lalu mendekati Joana. dan mengusap rambut kepala Joana
"hanya ada kita berdua? mau melakukan apa? aku siap melayani" kata Max
Joana hanya meringis, ia ketakutan bukan main, Max menatap kembali tajam kearah Joana
"apa yang kamu mau? kamu mau membunuhku sekarang? aku siap" kata Joana
Max menyentuh pipi Joana lalu tertawa...
"kejadian itu kamu masih ingat?" tanya Max
"jangan bahas, kalau memang kamu mau membunuhku, bunuh saja sekarang"
"Joanaaaa Joana.. aku melakukan hal itu bukan untuk membunuhmu tapi untuk kita mati bersama, jadi tidak mungkin aku membunuhmu dan lari begitu saja karna aku akan mati ditangan bos Theo" kata Max
"ya katakan, apa mau kamu?"
"mau kamu tapi aku terlalu takut pada dua pria kejam yang mengejarmu" kata Max lagi
Joana pun diam, dan Max masih mengusap pipi Joana lalu mencium pipi yang baru saja ia usap itu, kali ini benar benar menempel antara bibir Max dengan pipi Joana, Joana hanya diam dan menutup kedua matanya, bukan menikmati tapi karna ia pasrah karna ketakutannya
Max kembali mencoba membunuh Joana, ia sudah memiliki rencana rapi dalam pikirannya untuk melakukan percobaan pembunuhan kepada Joana dan percobaan bunuh diri padanya sendiri
"kak Max jangan" ucap Joana
"sudah lah, lupakan semuanya, aku akan memutus infus ini dan meminum cairannya, jadi kita akan mati bersama" kata Max
"kaaaak, jangaaaan" teriak Joana
tapi rencana itu beruntung gagal, karna Max menyadari ada yang membuka pintu ruangan inap Joana itu, dan benar itu adalah Ravansa dan Delvin
"Max" sapa Delvin
"hei" sapa Max
"apa yang kamu mau lakukan?" tanya Ravansa
"infusnya tadi kurang pas, kurang lurus saja" jawab Max
"ahh" jawab Ravansa
"astagaaa" ucap Joana dalam hatinya merasakan lega
mereka bertiga duduk di sofa disana sembari menunggu Joana, tak lama Joana meminta minum, Ravansa pergi mengambilkannya, tapi salah satu anak buah Samuel yang lain (bukan Morza, Fabian atau Nico) datang meminta mengobrol dengan Morza dab Ravansa yang ada disana
"bentar Joana kami tinggal dulu" kata Morza
tapi Joana menyentuh tangan Ravansa...
"Joana? ada apa?" tanya Ravansa
"bukannya kak Sam menyuruhmu menjagaku dan tidak meninggalkanku? jangan pergi ya" kata Joana
"tapi itu ada urusan sama kita" kata Ravansa
"Joana? bentar kok" jawab Morza
"tidak" jawab Joana
"kan ada aku? biarkan mereka pergi lah" jawab Max
"kalau kamu pergi, kalau nanti kak Sam datang kesini lagi, aku akan memarahinya karna aku tidak dituruti olehmu" kata Joana kepada Ravansa
"hei, kok gitu? matilah aku" kata Ravansa
"yaudah jangan kemana mana, disini saja, biarkan kak Morza sendiri pergi"
"ya mana bisa, nanti bisa bantuin apa kek kalau Ravan pergi, Joana" kata Max
"kalau memaksa, aku akan bilang pada kak Theo kalau kamu memaksa ku yang tidak aku mau" kata Joana pada Max
"eh iya udah, udah aku disini, Morza pergi sendiri kok" kata Ravansa
"hemm" jawab Joana
Joana menyuruh Ravansa duduk disampingnya dan menungguinya, ia akan tidur dan meminta Ravansa tidak meninggalkannya sedetikpun termasuk yang minta Samuel
"aku mau tidur, kamu jangan pergi pergi" kata Joana
"tapi kalau ada perlu?" tanya Ravansa
"penting mana sama aku menyangkut nyawamu?"
"ya kalau bos Sam yang menyuruhku?"
"aku yang akan bilang padanya kamu tidak boleh mengerjakan pekerjaan apapun kecuali menunggui aku selama tidur" kata Joana
"ahhss okeh" kata Ravansa
Max kesal, ia pun keluar, ia melihat ada area smoking, ia pergi kearea itu dan menyalakan rokoknya disana sambil berpikir tentang sikap Joana kepada Ravansa barusaja ia sudah paham jika Joana menghindarinya
hari berlalu, Joana sudah semingguan selama dirumah sakit untuk perawatan intensif nya