
termasuk Lestari terkadang aneh dan heran akan sikap kebaikan keluarga ini seperti tanpa batasan
dulu sama Lestari, padahal Lestari dulu pemulung sampah kan, tapi malah baik bahkan mengajak tinggal disini,
sekarang Sherla, Sherla juga gak beda jauh dengan Lestari, siapa dia? hanya orang asing dibawa Joana,
dan Elva, siapa sih Elva? apa tidak takut dia adalah penjahat atau anak penjahat, semua dibaiki mereka
ketiganya saling melirik..
"ibuk, ibuk sudah bertahun tahun loh sama kita, mulai dari Joana belum tau dunia sampai sebesar itu masih aja tanya" jawab Melanie
"iya buk. ibu gak perlu tanya buk, nih kami jelaskan, kami bisa dan ada untuk berbuat baik, kenapa tidak kan? satu lagi, tidak ada batasan berbuat baik kepada siapapun" jawab Melinda
"iya, ibuk tau, tapi kalian terlalu baik semua" kata Lestari
"menjadi baik itu kewajiban, mendapat pahala itu bonusnya tapi menjadi pribadi baik itu adalah pilihan, jadi apa dipilih yang harus menjadi kewajiban" jelas Amir
mereka mengobrol bertiga, sementara Joana diluar...
masih sedang bernyanyi bersama, tapi malam itu tiba tiba seseorang turun dari motor dan mereka bertiga melihat itu adalah Egar..
Joana dan Elva tau siapa Egar, jadi mereka menyapanya tapi Sherla hanya diam karna ia baru ini bertemu dengan Egar
"hai Egar" sapa Joana
"hai, waah ada apa ini?" tanya Egar
"gak ada, kumpulan saja"
"hahah enak dong, boleh kali aku gabung kan"
"iyaa boleh"
disini Elva seketika melihat dan memerhatikan Egar berubah drastis, yap bagaimana ia melihat keseharian Egar yang dingin dan menjadi coolboy nya kampus, tentu tau lah bagaimana sikap acuh tak acuhnya Egar tapi ketika didepan Joana, semua hilang, menjadi Egar yang bucin yang begitu humoris dan membuat Joana tertawa setiap saat
tapi disini, Elva juga memerhatikan Egar karna ia penasaran dengan sikap Egar ketika berkenalan dengan Sherla, karna Egar kan sama dengan pria lainnya, apa itu juga sama dengan Egar, yang akan tergoda oleh Sherla?
"ehh astaga, ini kak Egar, sepupunya aku, kenalin dong" sapa Joana
"Egar" sapa Egar
"Sherla"
"salam kenal Sherla"
"iya kak, aku baru ketemu ini kan Joana, kemarin dikampus tidak ada ya" kata Sherla
"eh iya kakak kemana pas pentas event nya kak Galen?"
"ahh itu, aku banyak kelas, dikelas banyak tugas"
"oh pantas gak datang"
"aku datang ketemu Ello kok sama Galen, tapi mereka bilang kamu pulang"
"ya lah kak, udah jam berapa itu, jam 3 kali, udah sore sekali"
Elva melihat memang Egar ramah, menyapa Sherla juga ramah, kepada Elva sebelum nya juga ramah, hanya saja ketika pada Joana berbeda terlihatnya wajahnya lebih mengeluarkan aura nya
dan Elva memerhatikan Sherla, Sherla juga tidak terlalu yang gimana gimana kepada Egar, ya biasa saja...
setelah mengobrol berempat diluar, sementara Melanie, Amir, Melinda dan Lestari didalam sudah mulai masuk kamar mereka masing masing untuk tidur, tak lama juga Egar berpamitan karna tidak enak sampai larut malam, dan Elva berpamitan tapi Joana menolak jika Elva pamitan karna ini sudah malah
jadilah Elva menginap, ia mengabari teman temannya juga di kontrakan jika ia pulang pagi saja untuk menginap dirumah keluarga angkatnya
hari hari berlalu, dimana hari pernikahan Melinda dan Dimas semakin dekat, yaaa mereka merencanakan pernikahan dan mempersiapkan semuanya
saat Joana turun dari lantai atas ia melihat pagi sekali Melinda datang dan duduk bersama Melanie di ruang televisi, tapi padahal semalam Melinda tidak menginap, jadi memang datang pagi ada urusan
"iya kali ya kak, kan kalau begini jangan mendadak juga"
"ya kan sebulanan, kamu kurang sebulan menikah"
"iya 2 mingguan aja kali kak, kalau sebulan, gak ah, takut yang diundang kelupaan, itu kelamaan"
"oh yaudah, ini siapa sebarin?"
"adik ipar ku kak"
"oh yaudah, biar Amir nanti bantu deh adikmu"
"yaa"
"bibi, bibi akan menikah?" tanya Joana
"Joana, lah ini kan sudah disiapkan sebelum kamu ke amerika, jauh sebelum itu malah" kata Melinda
"ya aku tau, tapi maksudnya cepat sekali gak terasa"
"ah, gimana gak cepat, kamu di amerika saja berapa bulan? 7 bulan kan? rencana ini sebelum kamu ke amerika saja berapa lama, lama itu" kata Melinda
Joana memeluk bibinya disana sambil ia terharu...
"bibi, semoga pak Dimas membahagiakanmu dan untukmu selamanya ya bi, aku bahagia kalau kamu sama pak Dimas, pak Dimas orang baik kok" kata Joana
"iya Joana, semua juga kan atas perjodohan dari kamu"
"hahah iya, eh iya satu lagi bi, makasih sudah menjadi guruku, sudah menjadi bibi terhebat untukku, aku begitu mencintaimu, jangan lupakan aku setelah menikah"
"ahh ya tidak akan pernah lah itu terjadi"
tidak terasa memang, sudah sebulan saja Melinda akan pergi menjadi istri orang, meskipun masih ada ikatan saudara dan tidak akan berubah meskipun telah menikah tapi sudah tidak seperti sebelumnya
"terus bibi mau antar undangannya?" tanya Joana
"adiknya Dimas lah, masak bibi, bibi sama Dimas ngurus semuanya saja, selain sebar undangan"
"bibi mengundang teman temanku kan?"
"ya pasti, undangan daru bibi, ini buat teman teman kamu, jatah 20 saja ya, cukup kan? kalau cukup, tulis sendiri nama nama nya"
"lebih deh bi, yaudah nanti Joana balikin ada lebihnya"
"okeh, eh kasihnya 2 minggu sebelum penentuan hari H nya ya"
"buat mau sebarin tah?"
"iya"
"okeh bi"
hari berlalu, dimana ketika hari berjalan begitu cepat, Joana yang baru selesai pekerjaannya untuk menulis laporan perkembangan pasien yang ia tangani, Joana akan menulis siapa saja yang akan ia undang ke pernikahan bibi nya, baru saja merapikan mejanya dan menyiapkan bulflpoin dan beberapa undangannya, salah satu teman perawat memanggil Joana dengan nada terburu buru
"Joana, Aal marah" teriak nya
"marah? okeh aku kesana" ucap Joana
Joana tanpa sempat merapikan beberapa barangnya disana, ia pun langsung berlari kekamar salah satu pasiennya yang ia tangani
sesampainya, Joana membuka pintu ruangan rawat dan inilah gadis yang mengalami depresi, tekanan mental karna kedua orang tuanya bercerai dan tidak mau mengasuh anak mereka karna rasa dendam pada pasangan masing masing
"Aal" sapa Joana
"Joana, pergi pergi semua, aku sama Joana disini, pergi kau" teriak Aal
Joana masuk, dan memeluk Aal disana, Aal menangis, ia menceritakan apa yang membuatnya sedih dan lagi lagi, teringat masa bersama orang tuanya, dan Joana disana menenangkan nya