
"semua makanan pesanan atas nama kamu, akan masuk notifikasi bos Theo" kata Delvin
"itu suami kamu yang dari indonesia?" tanya Ravansa
"iyaa, kalian mengikutiku?" tanyanya
"iya lah, kan tugas kami" jawab Ravansa
"kan sudah kubilang gak usah ikut seminggu kedepan, kalian gak perlu kuatir, aku tidak akan macam macam pada bos kalian" kata Joana
"iya tapi bos malah yang menyuruh kita tetap ikuti kamu" jawab Delvin
"tolong jangan ganggu dulu, aku pengen menghabiskan banyak waktu bebas dengan suamiku" kata Joana
"iya, tapi kamu sudah tugas kami untuk awasi" jawab Delvin
"iya tapi.." ucap Joana terpotong
"Mooy" sapa Egar
Egar mendekati Joana karna Egar curiga Joana terlalu lama mengambil makanan diluar
Joana kaget dan mereka berdua langsung sigap memakai topinya, Egar mendekati Joana dan disinilah pertama kalinya Delvin dan Ravansa melihat bagaimana wajah dari suami Joana
bagaimana terpesonanya kedua anak buah Joana itu melihat wajah Egar begitu tampan dan manis, yaa jangan kan perempuan, bahkan pria pun dibuat kagum
karna baru ini memang Delvin dan Ravansa melihat dengan dekat dan jelas wajah Egar karna sebelumnya kan mereka mengawasi dari kejauhan
"makanannya mana?" tanya Egar
"ini, ayo masuk, ini sudah"
"sudah?"
Joana pun masuk dan menutup pintunya, Joana menyiapkan makanan nya dan mereka makan berdua di depan televisi, saat makan, Egar mengatakan rasa sayangnya, yaa benar benar seperti baru pacaran kan mereka
tapi ungkapan nya yang sekarang cukup dalam dan serius, jauh dari sikap Egar sebelumnya yang sering melucu dan membuat Joana tertawa girang
"Moy" panggilnya
"yaa Poy, kenapa? mau apa? aku urusin"
"enggak, aku mau bilang, aku sayang sama kamu" kata Egar
"kamu.. ada apa tiba tiba bilang ini?"
"yaa aku mau bilang saja, kan sudah lama aku gak mengatakan langsung"
"hehe iya"
"aku cinta sama kamu, sampai kapanpun selama aku hidup, aku tidak akan pernah melepaskan kamu dari kehidupanku bahkan sampai aku mati"
"jangan bilang gitu, aku merinding"
"aku serius loh Moy"
"astaga iya maaf, iya aku dengarin"
"aku sayang sama kamu, aku cinta, jangan pernah tinggalkan aku ya, aku tidak akan pernah rela kehilangan kamu"
Joana memeluk Egar dan mengusap kepala Egar dengan penuh kelembutan dan Egar pun mencium rambut Joana disana sembari membalas pelukan Joana itu
malamnya.. ketika malam hari mereka pun tidur, tapi 2 jam sebelum Joana bangun, Egar bangun lebih awal, Egar melihat masih jam tiga pagi, ia bangun dan duduk di kasur itu dan melihat Joana masih tidur, ia pun mendekati wajah Joana..
memerhatikan wajah Joana yang tidur disampingnya, ini adalah hal yang tidak lagi ia lakukan sejak Joana pergi tiga tahun lalu
"aku terlalu mencintaimu, tidak akan ada yang bisa merubah takdir itu, aku harap kamu tau situasiku, jangan pernah minta aku untuk tidak bisa cemburu, apalagi saat aku tau dua pria mengejar cintamu sampai membuatmu tidak pernah lagi bisa kembali bersamaku" ucap Egar dalam hati
Egar pun kembali tidur dengan merangkul istrinya dan waktu sudah jam enam pagi, Egar bangun bersamaan dengan Joana
hari itu, mereka cekout dari hotel, karna sudah hari ketiga, mereka hanya menyewa dua hari saja
saat baru bangun..
"pagi Moy" sapa Egar
"pagi juga Poy" sapa Joana
"kamu mandi dulu sana, aku nanti setelahmu"
Joana dulu mandi lalu selesai Joana mandi bergantian Egar yang masuk, Joana duduk di depan meja rias sembari ia menyalakan pengering rambut dan ia mengeringkan rambut
saat Egar selesai dengan mandinya, ia melihat Joana masih depan cermin mengeringkan rambutnya karna rambut Joana cukup panjang jadi cukup lama untuk mengeringkan
"nah sudah kering Moy" kata Egar
"diapain?"
"di blow gimana"
"ahh jangan, biarin biasa, kan kamu gak suka model model rambut"
"iya sih, kamu gak mau?"
"ya mau sih, mau deh, terserah kamu"
"hehe gak deh, kok bagusan ini" kata Egar
"Pooooy" teriak Joana gemes
mereka tertawa sembari mengeringkan rambut Joana itu dan merasakan bagaimana kebahagiaan mereka sedang beradu peran
bahkan mereka pun bergantian untuk Joana yang mengeringkan rambut Egar
"sini kamu sekarang Poy" kata Joana
"oh iya"
saat Joana sibuk mengeringkan rambut Egar, Egar memanggilnya
"Moy" sapa Egar
"ah? kenapa?" jawab Joana masih sibuk mengeringkan
"gimana aku panjangin rambut?" tanya Egar
"apa sih Poy? gak, jangan, aku gak suka pria gondrong"
"kamu gak suka? bukannya dulu kamu suka sama yang gondrong?"
"dih, kapan Poy? gak ada ya aku bilang"
"hehe aku sih yang bilang, suka rambut gondrong" ucap Egar
"ahh? kau suka rambut pria gondrong?"
"bukan pria, wanita itu maksudnya sayang, aku normal"
"yeeeh kalau wanita, gak ada yang gak gondrong" kata Joana
"lih ada Moy, ada, cewek aja ada yang pendek potongan pria" kata Egar
"ya tapi kalau cewek nya pas panjang, udah bukan gondrong, Poy ih.. ngeselin" kata Joana
mereka kembali tertawa dan lagi lagi menertawakan keanehan masing masing
setelah urusan pagi itu selesai, Joana dan Egar pun cekout, mereka akan pergi kerumah Joana, tapi sebelumnya, Joana mengajak Egar untuk jalan jalan dulu
setelah keluar dari hotel, mereka menunggu grab dipesan oleh Joana, dan saat grab datang, Joana masuk tapi saat sudah duduk didalam, Joana bingung karna kenapa didalam mobil sudah ada dua orang
"pak, ini kok ada orang? apa kamu sedang mengantarkan pelanggan lain?" tanya Joana
"tidak nona, ini teman saya memang bersama saya" jawab supir itu
seketika itu Joana mencium aroma tubuh dua pria itu dan mengingat langsung siapa keduanya, Joana kaget tapi ia hanya diam disana agar tidak ketahuan Egar jika dua pria didalam mobil itu adalah Delvin dan Ravansa
"yaudah pak sesuai maps yang saya minta ya" kata Joana
"baik nona" jawab supir
saat tengah jalan, Delvin dan Egar memerhatikan tangan Joana dan Egar yang saling bergandengan juga saling mengobrol
setelah sampai di salah satu mall, mereka turun, karna Joana akan membayar, jadi Egar turun duluan
"bentar Poy, aku bayar dulu ya" kata Joana
"oh ya aku turun dulu" kata Egar
Joana membayar nya, tapi ia sedikit mengancam kepada keduanya atas ketidak nyamanan Joana
"dengar, sampai sekali lagi aku melihat kalian masih mengikutiku, aku akan mengaduh kepada bos kalian bahwa aku merasa tidak nyaman" kata Joana
"ini tugas kami nona, bagaimana bisa aku tidak mengikuti perintah bos?" ucap Delvin