My Name JOANA

My Name JOANA
151



yaa, memang keduanya belum begitu kenal dengan Sherla, lalu kenapa ada beberapa yang mengenal Sherla?


yap, itu untuk mereka yang pernah memiliki urusan dengan Motheo entah urusan barang atau utang barang dan pinjaman entah lainnya


jadi karna Ameera dan Freedy tidak berurusan sama sekali dengan Motheo jadi mereka tidak akan tau siapa itu Sherla


sorenya..


"kita mau kemana sih ra?" tanya Melinda


"udah ikut kita saja, aku mau kasih hadiah apartemen aku janjiin kalau ini aku benar benar tidak akan mengambilnya lagi, kamu yang simpan kunci ini" kata Ameera menyodorkan kunci apartemen


Melinda terharu, ia pun memeluk Ameera disana dan Dimas memeluk Freedy sebagai tanda terimakasihnya juga atas hadiah itu


mereka pun pergi ke arah apartemen, yaa meskipun cukup jauh


setelah masuk dan melihat lihat didalam situ..


"waaah bagus, beneran buat kita ini?" tanya Dimas


"iya kalian serius kah?" sambar Ameera


"iya serius kami kasih ini buat kalian, aku berharap kalian suka ya" kata Freedy


"waah ini sih jelas suka" jawab Dimas


"haha beneran?"


"iya lah"


"oh ya, kamu pegang ambil alih semua kunci nya, sebenernya ada 4 buah kunci ini, tapi aturan kalau kamu tidak rutin tinggali, kamu kasih 1 kunci saja kepada admin jaga lobi utama" kata Ameera


"oh gitu? ya gakpapa sih, memang kalau ditinggal buat apa?" tanya Dimas


"buat kalau bersihkan, kan tidak kalian tinggali, jadi rutin pembersihan" kata Freedy


"oh astaga, iya aku gak ngerti aturan apartemen gitu haha" kata Dimas


"sebenarnya gak semua gitu sih yangg" ucap Melinda


"emm"


"tapi disini begitu ciri khas nya" sambar Ameera


"emm"


malamnya, baru Dimas dan Melinda bisa tidur dengan nyaman di apartemen itu, sembari mereka menikmati indahnya malam di balkon kamarnya


hadiah pernikahan paling mahal yang mereka dapatkan karna kebaikan Melinda di masa lalu nya


esoknya, Dimas dan Melinda pergi ke tempat Elyas, mereka janjian bertemu dengan Elyas di cafe dekat apartemen itu saja, Elyas mendapat kabar dari Melinda pun langsung menyempatkan waktunya menemui mereka


sesampainya..


"paman, bibi, kalian kapan datang?" sapa Elyas


"eh Elyas, duduk sini, kami sehari kemarin sih suda datang, tapi kami tinggal dirumah teman kami, baru sore kemarin pindah ke apartemen teman kami" jelas Melinda


"ahh, ada apa ini?"


"eh tunggu, kamu sendirian? mana pacarmu? aku mau kenalan kok gak diajak?"


"bah, dia kuantar kerja tadi sebelum kesini, aku pikir penting butuh aku saja"


"ahh Elyas dasar, aku kan pengen kenal"


"gampang nanti aku kenalin kok bi, bibi ada apa koh?"


"ahh bibi antar undangan pernikahan" kata Melinda


"bibi sama paman menikah lagi? kan sudah undang aku sama Elva?"


"bukan kami juga, itu Joana"


"wooh Joana? sama?"


"Egar"


"oh berita itu serius jadi?"


"berita?"


"iya, di grup chat banyak penbahasan Joana dan Egar akan menikah, aku pikir bercanda, kan Joana bukan tipe yang cepat ingin menikah?" tanya Elyas


"iya sih, tapi Egar sudah menyatakan kepada Joana dan keluarga Joana juga, kami juga sudah bertemu dengan keluarga Egar, semuanya penentuan saja langsung menikah" kata Melinda


"astaga cepat sekali ya Joana ini, dan Egar lagi, Egar juga teman aku bi, dikampus kan masih sama, ya beda fakultas juga sih"


"iya kah? iya kan enak kalau sama sama kenal kedua mempelainya"


"makasih ya, oh itu undangan buat kamu sama Erisa jadi bawa dia ya, kalau dibawa, bibi mau kenalan, ya"


"oh okeh bi, siap siap"


setelah urusan selesai, Melinda dan Dimas kembali ke indonesia, sementara Elyas juga menyimpan undangannya


saat Elyas pulang cepat dari jam biasanya kerja, ia duduk bersama dengan 2 temannya, yaitu Halburt dan Lerry, tak lama Erisa juga datang


"waduh pacaran lagi, kita ditinggal lagi" jawab Halburt


"haha, makanya pak Halburt bawa tuh istri, buat nongkrong bareng" kata Elyas


"eh sembarangan, dilarang, kalian enak pas berduaan semua lah aku?" tanya Lerry


"hahaha"


mereka mengobrol disana, Elyas menjelaskan soal kedatangan paman dan bibi Joana kemarin untuk mengundang mereka kepernikahan Joana


"nikahan Joana? serius Joana menikah?" tanya Erisa


"iya, serius, ini undangannya"


"wooh iya, siapa ini? apa kamu kenal?"


"kenal banget, Egar namanya, dia satu fakultas memang dengan Joana dulu dikampus, dia memang suka sih kata teman teman dulu dikampus, tapi aku tidak sangka jadi beneran" kata Elyas


"waah jodoh kalau begitu ceritanya kan" kata Halburt


"iya bener, jodoh ini namanya" jawab Erisa


"kalau kita ikut datang boleh gak tuh ya Elyas, aku kan kenal sama Joana, boleh kali aku datang, sekalian jalan jalan" kata Lerry


"bah iya itu, aku bisa ijin istriku, dia tidak akan melarang, aku bilang saja dapat undangan pernikahan" kata Halburt


"apa kalian mau ikut, ini undangan kami saja" jawab Elyas


"iya sih, tapi boleh lah pak Elyas, Joana kan kenal sama kami" kata Halburt


"iya nanti aku tanggung sendiri deh nanti buat biayanya pulang pergi" jawab Lerry


"ajak lah babe" kata Erisa


"bukan gitu, ini kan namanya kita doang, tunggu deh aku telfon dulu Joana nya ya" kata Elyas


"okeh deh"


Elyas menelfon dengan video calling kepada Joana, tapi karna Joana sibuk menulis laporan nya untuk data pasien yang sedang ia tangani itu, Joana melihat hapenya, dan mengangkatnya


Joana langsung meletakkannya di atas papan ketik dan meletakkan di layar komputer kerjanya, karna ia sambil mengetik tugasnya


"halo, iya kak Elyas" sapa Joana


"bah, kamu sibuk ya Joana?" tanya Elyas


"gak kok, santai, bilang saja, aku cuma sambil ngetik gakpapa ya"


"okeh, eh disini ada Ameera, Lerry dan pak Halburt"


hai semua, hai Erisa, apa kabar?" sapa Joana


"hai Joana, baik kok, kamu apa kabar?"


"sama baik nya"


"Joana selamat atas pernikahan kamu bentar lagi ya" kata Erisa


"iya makasih"


"kemarin paman dan bibi sampai sini, dia kasih aku undangan, ini undangannya kan" kata Elyas


"iya kak, bener, dateng bisa gak kalian?"


"bisa banget aku" kata Erisa


"iya, aku juga bakal datang siapin hari buat libur sama Erisa kesana, tapi ada mau kubahas bentar"


"oh kenapa? ada masalah?"


"tidak sih Joana, emm gini, aku gak enak bilangnya"


"udah gakpapa, bilang saja, apa kalian butuh uang pulang?"


"aah bukaaan, bukan itu, ada kok buat aku sama Erisa, bukan sama sekali soal itu"


"oh ada apa kak?"