My Name JOANA

My Name JOANA
105



"yaudah kalau kalian setuju, kita bahas kapan?" tanya Amir


"terserah abang lah, kan abang yang jelasin" kata Melinda


"oh yaudah, besok malam saja"


"yaa bang, besok malam aku tidak menginap lagi loh, eh tapi gakpapa deh, kalian saja, tanpa aku, aku gak bisa datang"


hari berikutnya dimalam berikutnya juga, Amir menjelaskan disana, tentang apa yang jadi rencana nya bersama sang istri dan adiknya juga


dan mendengar tentang itu, Sherla kaget karna tawaran itu membuatnya begitu merasa memiliki masa depan cerah nantinya


tapi ia takut menjadi beban baru dalam keluarga Joana, melihat bagaimana mereka benar benar tulus memberikannya kehidupan layak


"apa itu tidak berlebihan pa, aku disini saja sudah sangat merepotkan kalian urusan makan" kata Sherla


"Sherla, kok bicara itu? gak lah, kami menawari kamu, bukan terpaksa atau paksaan siapapun" kata Melanie


"iya, kami hanya memikirkan masa depan kamu nak, kamu harus melihat masa depan, kamu masih muda, harus bisa melampaui batas" kata Amir


"iya, aku setuju juga Sherla, itu bagus buat kamu, oh ya, bibi Melinda tau?" tanya Joana


"bibi Melinda malah mau membantu pem-biaya-an nanti, makanya aku nawari Sherla, mau ya nak" kata Melanie


karna terus didesak agar menerima, dan tidak enak harus di tolak, apalagi niat baik dari mereka, Sherla menerima tapi sebatas SMA


"iya ma, pa, Sherla mau sekolah, tapi sampai SMA saja ya, tidak usah kuliah, kuliah banyak biaya, nanti aku makin membuat kalian kesusahan" kata Sherla


"loh, masak sampai SMA saja sih? kuliah juga, kuliah disini penting nak" kata Melanie


"iya bener, diindonesia, kuliah itu penting banget, kalau sampai sekolah saja, kerjaan gak akan maju maju, itu itu saja kamu" kata Amir


"iya tapi nanti bagaimana biaya kuliah membengkak, kan biaya kuliah tidak sedikit pa" jawab Sherla


"pakai sistem kuliah jalur undangan prestasi saja, kamu kan pintar dan cerdas" kata Joana


"nah bener, kalau pakai itu kan kamu gratis semua bebas dari penarikan biaya apapun" jawab Amir


"tapi kan-"


"uda jangan tapi tapi, ambil saja, aku gak mau terus ditolak" kata Melanie


disini Sherla malah menangis, karna ia begitu terharu sikap keluarga ini kepadanya..


hari berikutnya, dimana Joana sibuk sekolahnya sementara orang tuanya sibuk bekerja, dan kedua orang asing dirumah Joana menjadi pengurus dirumah itu, Sherla juga membantu Lestari selama ia belum mulai mengikuti kejar sekolahnya yang tertinggal


sementara Joana pamitan pergi, ia berangkat dan sampai dikampus..


"waah selamat datang kembali di kampus nya, Joana" sapa satpam disana


"iya pak makasih pak" sapa Joana


Joana masuk, dan melihat sekolah kampusnya tidak ada perubahan, hal paling ia rindukan disini


tak lama sampai di kelasnya, ia kaget saat membuka pintu, ruangan kelasnya sudah penuh banyak hiasan disana dan sambutan dari seluruh teman kelasnya


"ini sambutan dari kami Joana, atas rasa bangga kami kepada kamu yang membawa nama sekolah menjadi baik di amerika" kata Ello


"kalian, astagaaaa, aku terharu, ide siapa ini?" tanya Joana


semua memberikan jarak untuk menunjukkan yang memberikannya ide itu adalah Egar, dan ketika melihat Egar, Joana begitu bahagia


"selamat datang kembali peri cantik" kata Egar


"Egaaaar, makasih, aku rindu kamu"


mereka mengobrol disana, Joana menjelaskan banyak hal disana selama di amerika, hingga akhirnya 1jam berjalan, karna akan ada kelas, Joana dan seluruh temannya merapikan kembali hiasan hiasan itu semua


beberapa hari berikutnya dimana sudah beberapa hari ini Joana mulai aktif di kampusnya, tapi Joana belum sempat bertemu dengan teman teman dekatnya dikampus itu yang dari lain kelas


Joana mengajak untuk berkumpul bersama teman temannya yang dari fakultas lain, dan akan mengundang mereka makan dikantin utama kampus


"Joana, kalau gitu, aku yang kabari mereka semua deh" kata Ello


"iya, aku bantu Ello sebarin ke teman teman lainnya ya" kata Vera


"aku disini saja, temani Joana, takut kenapa napa" jawab Egar


"dasar memang kau bucin" teriak Ello


"biarin"


Joana duduk berdua dengan Egar disana, sementara dari luar kelas, Elva akan menemui Joana dikelas Joana tapi ketika ia melihat dari pintu kelas itu terdapat Egar duduk bersama Joana


seketika Elva membatalkan niatnya, ia diam memerhatikan mereka disana dan melihat dari kejauhan, bagaimana dekatnya mereka berdua di kelas itu


Elva seketika bingung, bagaimana bisa Egar sedekat itu dengan Joana tapi seketika ia baru ingat jika Egar adalah orang selain dirinya yang sering menyambangi rumah Joana ketika Joana di amerika


yaa sejauh itu perhatian Egar kepada Joana ketika Joana tidak ada, jadi ia tidak kaget ketika bersama Joana disana, Elva melihat bagaimana Egar menatap Joana dengan beda dari tatapan yang biasa


Elva membatalkan masuk, ia kembali kekelasnya tapi baru sampai ia berpapasan dengan Ello


"Elva, aku cari kamu baru saja, kata teman teman mu, kamu pergi" kata Ello


"kak Ello, ada apa memang nya kak?"


"ini, Joana mau ajak makan makan bareng buat kumpulan, kamu ikut datang ya"


"kapan kak?"


"besok, siang, biar sekalian makan siang, besok siang kan semua kelas kosong kan?"


"iya sih, iya udah deh kak, okeh aku datang" kata Elva


Ello pun pergi, tapi dijalan akan pergi, Ello bertemu dengan Feris yang akan mengajar dikelas murid nya, yaa sebagaimna Feris memang menjadi dosen baru dikampus itu tapi Ello masih memanggilnya sebutan kakak


Ello menyapanya..


"kak Feris" sapa Ello


"Ello, kenapa?" sapanya


"kak, ada waktu besok siang gak? makan siang makan bareng Joana kak di kantin utama, nanti ada teman teman yang lain juga" kata Ello


"oh ya Joana datang ya? iya udah deh, aku bisa besok"


setelah memberitahu, Ello pergi, Feris juga, saat Feris sampai dikelas Elva, Elva akan masuk kelasnya setelah Ello pergi tadi tapi Feris menarik tangan Elva


"pak" teriak Elva


yaaa Feris hanya jahil kepada Elva, dimana ia menarik tangan Elva sampai keluar kelas padahal ia hanya akan lewat li kelas itu saja, bukan mengajar dikelas Elva


"dasar dosen gila" gerutu Elva


saat Elva masuk dan duduk disamping Tiko dan Sahid, mereka berdua mengatakan rasa heran atas sikap dosen dan murid yang satu ini


yaa, siapa lagi kalau bukan Feris dengan Elva, bukan layaknya dosen dengan murid mereka terlihat sekilas, sudah seperti tikus dan kucing yang bertemu karna sebuah masalah