My Name JOANA

My Name JOANA
211



"apa ada, kamu kan ketua umum gengster terkejam, kerjaan nya membunuh, kamu menghilangkan nyawa saja tidak takut, kenapa takut hanya pada mati lampu?" tanya Joana


"tidak tau, akhir akhir ini aku merasakan rasa ketakutan itu ketika gelap" kata Motheo


Joana tidak lagi menjawab, ia lanjutkan membacanya, Motheo kembali memerhatikan Joana, karna terlalu risih, Joana pun perdiri akan pindah duduk diranjang saja tapi Motheo menahan tubuh Joana dengan merangkul perut Joana dan menariknya sampai duduk di pangkuan Motheo


"kaaaaak" ucap Joana


"kamu mau kemana? disini saja, udah jangan pindah" kata Motheo


"ahh aku mau baca, mana fokus dilihatin begitu?"


"iya aku tidak ganggu, diam disini saja duduk"


"mana nyaman kak"


"diam udah disini" kata Motheo memaksa


akhirnya Joana membaca lagi tapi sedikit kekurangan fokusnya, yaa karna ia tidak nyaman duduk dipangkuan Motheo itu


tak lama malah tangan Motheo nakal, malah menyentuh bagian sensitif milik Joana (bagian dada)


"kaaaak, apa dah, jangan macam macam lah" kata Joana menatap tajam arah Motheo yang pahanya ia duduki


"enggak, sekali doang saja, ih besar ya" kata Motheo menatap nakal arah Joana


"apa sih, diam" kata Joana membuang mukanya


"ahh aku tidak bisa melupakannya, itu besar sekali, kamu membuatku makin ingin melakukan" kata Motheo


"pikirannya loh, ih"


Joana mencoba melepaskan tangan Motheo dari perutnya tapi Motheo terlalu kuat menahan tangannya


"udah disini, aku janji gak lagi deh" kata Motheo


"sampai berani pegang lagi, aku tampar ya"


"berani kamu sama aku? aku Theo loh" kata Motheo


"mau kamu Theo, mau kamu siapa, gak ada takut aku, jangan sama kan aku dengan orang lain di amerika ini yang takut sama kamu, kamu yang takut sama aku" jawab Joana


"apa? takut? aku tidak takut Joana, sama siapapun, termasuk kamu, aku bisa menyiksamu atau memerk*sa mu"


"buktinya kamu menahanku, pulang kan aku kalau kamu tidak takut apapun, apa kaku berani?" tanya Joana


yaa.. Joana lah kunci skakmat sikap keras Motheo dan Samuel, ia dengan mudah menjatuhkan mental keduanya tak terkecuali Motheo


"iya iya jangan, udah diem, aku tidak akan ganggu, tapi tetap duduk disini" kata Motheo


"hemm"


Joana masih membaca pada buku yang sama dan cerita sama, tapi saat itu pula diluar kamar, empat anak buah Motheo tadi mendapatkan kabar dari anak buah Motheo yang lainnya jika markas utama diserang


ada yang menyerang tapi tidak tau siapa karna tidak ada yang tau siapa penyerangnya, penjaga markasnya juga dibuat pingsan terkalahkan, tempat markas sudah hancur berantakan


Bams yang mendapatkan kabar itu, langsung menjelaskan semuanya, empat anak buah Motheo ragu mau masuk dan mengatakan itu kepada Motheo tapi kalau tidak, mereka harus melaporkan setiap kejadian itu kan kepada bos utamanya


"sudah bilang sana sama bos, nanti bos marah kau tidak kasih tau" kata Bastian


"iya loh, sana bilang saja, udah buka pintu langsung, digedor kalau gak mereka sibuk, bisa bukain, ini gak dikunci juga kan?" ucap Delvin


"iya sana dah kamu saja, dia tidak akan berani marah padamu kalau kamu yang melakukan" kata Bams pada Max


"hei kenapa aku? kamu saja lah, aku takut, sana, kamu" jawab Max


"gimana dah, kok gak mau? terus gak ada yang berani ini?" tanya Bams


"iya Max, sana lah bilang, bantu lah kita, kalau kita yang masuk, kita yang kena semprot habis habisan" jawab Bastian


"yaa kalau aku yang bilang aku kena" kata Max


"tidak akan" jawab Bastian


karna terus didesak akhirnya Max mau melakukannya dan ia membuka pintu itu, membuat Joana kaget tapi Motheo menolak tetap menahan Joana agar duduk di pahanya


itu tentu akhirnya dilihat oleh keempat anak buah Motheo


"itu ada kak Max loh, kamu ih" ucap Joana berbisik


"aaassh udah biarin saja" Jawab Motheo


"bos maaf bos, ada kabar markas di jajah" kata Motheo


"oh? siapa?"


"tidak tau bos, ini kata Bams"


Bams menjelaskan kabar yang ia dapat, mendengar itu, Motheo geram, ia langsung membiarkan Joana turun dan duduk di sofa tadi


"aku pergi dulu, jaga diri, jangan macam macam ingat ya" kata Motheo


"emm"


Motheo mencium kening Joana lalu pergi tapi ia melarang Delvin ikut, ia meninggalkan Delvin untuk disana bersama Ravansa menjaga Joana dan yang lainnya ikut Motheo


"oh ya, aku minta Delvin, kamu disini temani dia, ada Ravansa kan anak buah Sam tadi" kata Motheo


"gak ikut bos?" tanya Delvin


"gak, ada Ravansa, kamu stay jaga khusus anak buah saya buat jaga Joana, paham" kata Motheo


"iyaa bos"


"okeh saya pergi"


Motheo pergi bersama tiga anak buahnya yang lain lalu menimggalkan rumah itu..


"mau makan atau apa Joana?" tanya Delvin


"tidak, aku mau tidur saja" kata Joana berjalan ke arah kasur nya dan tidur


"yasudah aku diluar sama Ravansa"


"emm"


Delvin pergi keluar dan mencari Ravansa dan mereka duduk mengobrol disana sembari sesekali mengintip Joana untuk memastikan ia benar masih tidur, karna tugas mereka kan menjaga


Motheo pergi ke markasnya dan melihat anak buah jaga pingsan semua ada empat orang jaga, saat masuk semua sudah hancur dan berantakan, tapi tidak ada yang tau siapa yang melakukan


"bos, ini sih pasti ada masalah besar terhadap kita" kata Max


"bawa empat anak jaga disini, tidurkan mereka di ruangan depan" kata Motheo


setelah semua di ruangan depan, semua sudah ada dihadapan Motheo, Motheo hanya diam sembari ia mengingat siapa yang bermasalah dengan nya akhir akhir ini


"bos, ini tidak dibawa kerumah sakit saja?" tanya Bams


"gak perlu, biar dia sadar sendiri" jawab Motheo


"kalau mati bagaimana bos karna kan ini korban kekerasan" kata Max


"tunggu saja, nadinya masih ada, dia belum mati, tapi kalau sampai mereka sadar dan mengatakan siapa yang melakukan ini, orang itu akan mati" jawab Motheo


tak selang lama benar sama satu persatu anak jaga markas bangun, mereka dibiarkan dulu sampai sesadar sadarnya sampai mereka akhirnya mengatakan apa yang telah terjadi diantara mereka


keempatnya tidak ada yang mengenali siapa mereka yang merusuh di markas Motheo, bahkan mereka tidak ingat dengan postur tubuh atau sedikit saja ciri ciri dari pelaku


"iya bos, kami tidak mengenalinya karna mereka memakai baju lengkap dengan masker lebar tebalnya" kata salah satu


"apa ciri cirinya?"


"tidak tau bos, bajunya juga super lebar kebesaran"


"sepertinya sudah membaca saja mereka" kata Bams