My Name JOANA

My Name JOANA
37



Joana melepaskan tangan Feris dan berjalan mendekati Ello lalu pergi bersama Ello, sementara Elyas dan dua temannya juga pergi disana, sementara Feris


ia diam, menutupi wajahnya dan berteriak sekeras mungkin, mengeluarkan segala kemarahannya atas rasa kehilangan Joana


"siaaaaaaaalaaaaan" teriak Feris


akhirnya hubungan Joana dan Feris berakhir, Joana jelas memilih pergi bersama Ello disana, karna ia melakukan hal sejauh itu sampai mau berpacaran dengan Feris saja ya karna Joana memperjuangkan keinginan Ello, sebagai sahabatnya


Elyas juga pergi, ia pergi meninggalkan studio rekaman kampus dan balik ke fakultasnya saja


saat Joana dan Ello juga beberapa teman lainnya sampai dikelas mereka..


"Joana, kenapa kamu lakukan semuanya?" tanya Ello


"aku hanya ingin kamu jadi ketua bem"


"aku tidak peduli aku kalah, tapi aku tidak rela kamu sama dia demi aku"


"iya maafkan aku ya Ello"


"aku yang minta maaf Joana, aku harusnya gak egois, karna aku kamu begitu juga kan"


"Joana, jangan pikir kamu harus berkorban seperti ini lagi, kalau gitu bukan bahagiakan kita yang ada kamu menyakiti kita, karna kita kamu begini" kata Vera


"Joana, aku memang tidak begitu sering dengan kalian, tapi aku tau kamu, kalau begini, kamu membuat kami menjadi teman yang tidak baik" jawab Wita


"aku rela kok melakukannya, untuk sahabatku kan" jawab Joana


"tidak, udah jangan ada lagi yang begini, aku gak mau siapapun entah Joana, entah Wita atau Vera, bahkan Egar juga, semua yang dekat denganku menderita hanya karna inginku" kata Ello


kondisi persahabatan membaik, dimana beberapa teman Joana yaitu Ello dan Vera terutama merasa kecewa karna Joana berpacaran dengan Feris, tapi kali ini semua hilang seketika rasa kecewa itu


hari berlalu, hubungan Joana dan Feris benar benar berakhir, Joana menjalani kehidupannya lagi..


sementara Feris di kamarnya, yang sudah hampir seminggu, tak lama


Dipo masuk kekamar anaknya


"mau gini sampai kapan?" tanya Dipo


Feris hanya diam saja masih tidur telungkup di atas ranjangnya


"Feris, kenapa kamu gak bilang sama papa sejak awal, papa sudah yakin kalau semua bukan murni karna Joana menyukai mu" kata Dipo


"papa tau?"


"aku tidak tau, tapi aku membaca semuanya, aku tau siapa kamu Feris, dan aku juga tau siapa Joana"


"aku melakukan itu karna aku suka sama Joana"


"tapi kamu tidak melihat dari sisi Joana, apa dia suka atau tidak kan?"


"udah lah, papa keluar saja, aku ingin sendiri"


"papa kuatir"


"gak pa, aku janji aku keluar, tapi gak sekarang, aku benar benar ingin sendiri" kata Feris


Dipo keluar dari kamarnya dan ini semua seperti mimpi yang menjadi nyata untuknya, ia sudah membaca kalau ini semua akan terjadi dan benar benar terjadi, karna Dipo tau semua hubungan tentang Joana menerima Feris bahkan dari Joana sendiri


Dipo berharap, nanti saat keluar, anaknya masih memegang prinsip tetap berada dalam jalan kebaikan


yaa, Feris sempat down tapi akhirnya Feris kembali bangkit, ia berpikir, semua benar berakhir, ia benar benar sudah kehilangan Joana, dan tidak akan bisa lagi mendapatkannya karna ia tau Ello akan menjaga Joana


bukan lagi Elyas yang bisa menghalanginya kembali dekati Joana, karna Elyas masih bisa ia tandingi, tapi ketika melihat sosok Ello, bahkan dimana Feris tau sendiri jika Joana melakukan semuanya untuk sahabatnya


jadi ia sadar Ello yang menjaga Joana tidak akan pernah memberikan ijin nya kepada Joana dekat lagi dengan Feris dan Feris paham jika Joana anak menuruti itu


akhirnya.. Feris keluar dari kamarnya dan siap pergi kuliah lagi, Dipo di meja makan melihat anaknya dan berharap sikap anaknya tidak lagi kembali menjadi brutal seperti dulu


"kenapa papa melihatku?" tanya Feris


"iya, aku mulai kuliah pa, aku bisa bisa gila dirumah terus memikirkan ini" kata Feris


"hem"


"mau bareng pa?"


"tapi"


"aku tungguin kok pa"


dan setelah Dipo selesai, ia pergi bersama sang anak menuju kampus, lalu turun dan berpisah dengan papa nya di parkiran mobil


"aku pergi pa, ini kontak nya kalau papa pulang duluan" kata Feris


"loh terus kalau kamu yang butuh?"


"kalau aku butuh, aku keruangan papa, atau tidak aku sama Rozi sama Pipi"


"oh"


ia kembali balik kekampus, menghirup udara kampus dan menghembuskannya perlahan, ia menoleh kearah gedung Joana


"aku tepati ucapanku untuk selalu menjadi orang baik, aku ingin membuat kamu bangga" ucap Feris dalam hati terdalamnya teruntuk Joana


berjalan kearah kelas nya, semua menatapnya dengan rasa aneh dan takut juga, karna takut dampak masalah kemarin, sama hal nya dengan Hanafi atau Pipi, yang membuat suara itu bersama Rozi


"Fer" sapa Pipi


Feris menoleh kearah Pipi, Pipi menunduk disana bersama Rozi, ia meminta maaf dan takut jika Feris marah tapi ia menanggung resikonya


"Fer, maafin gue" kata Pipi


"gue rasa karna gue juga" kata Rozi


Feris menatap tajam kearah Pipi dan Rozi, ia mengumpat sebenarnya, tapi ia menarik napasnya perlahan dan menghembuskannya lagi, itu adalah satu ajaran dari Joana ketika marah dan kesal, harus menarik napasnya perlahan dan menghembuskan juga perlahan


"gue kecewa, tapi gue sudah lupa, karna gue anggap kau adalah sahabat, gue maafin kok" kata Feris merangkul pundak Pipi dan menyentuh lengan Rozi


"hah serius lo gak marah?" tanya Rozi


"gak Rozi, tenang saja, kalian sahabat gue paling the best diluar masalah kemarin, gakpapa, mungkin kalau gak ada masalah kemarin, gue gak akan pernah sadar Joana melakukan itu hanya karna Ello" kata Feris


mereka berpelukan disana tanda persahabatan yang masih utuh, Feris melupakan semua kekesalannya, mengatakan kepada kedua sahabatnya ingin menjadi orang baik dan sahabat baik untuk mereka


"gue kehilangan orang baik kemarin, dan gue gak mau kehilangan dua orang baik lagi dalam hidup gue" ucap Feris


Feris kini berubah, ia memutuskan untuk tidak menjadi ular lagi seperti julukannya, yaa meskipun masih ada celah sedikit pikirannya untuk tetap menjadi Feris yang dulu, karna memang itu sudah keterbiasaannya, tapi lepas semua ia masih ingin memperbaiki dirinya dari pengalaman kehilangan kemarin membuatnya sakit ia harus bisa menerima kenyataan


Feris kembali kekesibukan dikampusnya, ia memilih fokus dengan kelasnya dan banyak tugasnya sementara Joana..


Joana kembali sibuk dengan kegiatannya..


ketika sedang ada dikelas, Elyas menyapanya..


"Joana" sapa Elyas


"eh kak Elyas"


"ada salam dari Elva"


"Elva? waah makasih, salam balik kak, gimana kabar dia?"


"dia membaik terus"


"waah syukur yaa kalau baik"


"emm"