
hari hari berlalu, selepas hari dimana Joana dirumahnya, Elva tiba tiba datang..
"Elva?" sapa Sherla
"kemana kak Joana?" tanya Elva
"masuk sana" kata Sherla
Elva masuk dan naik ke atas lalu menyapa Joana yang baru selesai mandi, menjelaskan jika Elyas baru sempat telfon balik
tak lama Elyas menelfon..
"halo Joana" sapa Elyas
"halo kak, hai, apa kabar kak?"
"baik Joana, aku telfon baru mau bilang maaf ya aku gak bisa datang dan ucapin untuk pernikahan nya bibi Melin"
"oh iya gakpapa kak, nanti aku sampaikan deh"
"eh gak usah, aku sudah telfon langsung dan juga ada pak Dimas malah"
"oh ya? waah iya deh makasih"
"iya sama sama"
"kamu apa kabar?" tanya Elyas
"baik kak, ini aku kkn di RS Netra"
"waah iya kah, itu bukannya RS keinginan kamu?"
"iya buat kerja tapi aku kan hanya kkn"
"iya sih"
mereka mengobrol disana, melihat itu, Elva merasa kakaknya masih ada sedikit perasaan untuk Joana, dan ia pun menyeletuk
"bang, kangen ya sama kita?" sapa Elva
"gak, biasa" jawab Elyas
"abaaaang"
"haha pake nanya, jauh kita lah ya kangen pastinya"
"aku bisa nih pelukan sama kak Joana"
"haha biarin deh, gakpapa, nanti kalau aku ketemu Joana bisa pelukan, eh Joana, kapan kesini?"
"aduh kak, gak ngerti deh, aku kan bukan tipe yang mikir jauh jauh, aku masih mikir yang sekarang aku lagi kerjakan, soal kesana ada waktu ya main kok"
"bener ya, sama 1 lagi ada aku mau cerita"
"apa?"
"aku tau kamu gadis baik, kamu orang yang tidak pernah mau menyakiti orang, maafkan aku kalau aku bilang ini mungkin menyakitimu"
"ada apa kak?"
"aku sama Erisa balikan"
btw. mereka telfon video calling yaa..
mendengar itu, seketika Elva kaget, ia membelalak, ia kesal karna bodohnya Elyas mengatakan itu, Elva melirik arah Joana tapi sama sekali Joana tidak ada marah
"waaah serius? waaah aku mau kapan kapan telfonan pas kamu sama kak Erisa ya" kata Joana
"beneran kamu gak marah?"
"gak lah, kan aku juga suruh kamu balik sama kak Erisa, karna aku tau cintanya dia itu kamu, kamu juga kan"
Elyas mengakui dirinya balik kepada Erisa selama di amerika dan dapat dukungan penuh disana, bahkan Joana bersedia mendengarkan semua yang dikatakan oleh Elyas tentang baliknya ia dengan Erisa
cukup lama mengobrol, Elva menyelesaikan telfonnya karna ia beralasan mengantuk kepada kakaknya, dan mereka menyudahi telfonnya
setelah menutup telfonnya, Elva kesal, menatap tajam kedua mata Joana
"kenapa Elva?" tanya Joana
"kakak loh, gimana sih, malah seneng dengerin bang Elyas cerita?"
"loh seneng lah, mereka balik lagi kan"
"tapi kakak tersakiti atas hubungan mereka"
"tidak, siapa bilang, sudah Elva, kakakmu menemukan yang tepat gadis yang menerima nya, jadi jangan lah kamu marah"
"kakak kapan mau mikir diri sendiri aku tanya"
"apa maksudmu Elva?"
"kemarin disakiti karna kak Ello sama kak Puri pacaran karna kak Puri dulu musuh kakak, sampai kak Vera saja menyudahi persahabatan kan, sekarang"
"Elva, sudah sudah, jangan begitu, kakak Joana tau apa yang terbaik buat diri sendiri, jadi jangan kuatir"
"yaudah, kalau gitu aku juga mau jujur"
"aku sama pak Feris pacaran"
"ohh, kak Feris? dosen itu?"
"iya pacaran, kakak marah?"
"gak lah, ngapain dah, malah senang"
"kan aku yakin akan senang"
"ya apa lagi kan?"
"udahlah capek sama kakak"
"tunggu tunggu, kamu bener pacaran sama kak Feris?"
"iya"
"gimana itu ceritain"
akhirnya Elva menceritakan semuanya disana dan lagi lagi dengan polosnya Joana menerima hubungan mereka dan mendukung bahkan
"coba telfon coba" kata Joana
Elva menelfon Feris disana, dan menjelaskan kepada Feris jika ia sudah terlanjur menceritakan kepada Joana, dan Feris juga menjelaskan hubungan ia dengan Elva akhirnya, dan karna sudah larut malam disana, mereka menyudahi telfon itu
sekarang sudah tidak ada lagi rahasia hubungan orang orang terdekat Joana, Joana sudah tau semuanya cerita mereka
hari berlalu, merasa dunia sangat indah, pagi yang cerah, dan Joana turun untuk makan dengan wajah yang ceria
"Joana, kamu ceria sekali?" sapa Sherla
"oh iya dong, aku senang karna dengan banyak kabar bahagia"
"apa saja?"
Joana menjelaskan ia mendengar banyak temannya berpasangan mulai dari Puri dan Ello, Elyas dan Erisa, Elva dan Feris bahkan sebelumnya juga ia mendapat kabar langsung dari Claudi tentang hubungan Claudi dengan Rean, teman semasa sekolah dulu
mendengar itu semua seketika membuat Sherla akhirnya tergugah ingin menceritakan apa yang ia alami beberapa hari terakhir...
"sepertinya aku akan menambah list cerita mereka" kata Sherla
"maksudnya?"
"aku mau bilang, setelah resepsi pernikahan bibi Melin sebenarnya seminggu berikutnya Nandra datang kerumah ini"
"Nandra? terus terus?"
"dia tanya kamu tapi kita mengobrol lama, kamu tidak juga datang jadi dia pamitan"
"emm, terus ada apa katanya?"
"dia minta nomor hape aku"
"waah serius?"
"iya, aku serius, ada buk Tari dong, tanya saja"
"iya buk?"
"iya Joana, bener, ibuk godain jawab buat kenalan lebih dekat"
"waah terus terus?"
"ya mulai itu dia sering menelfon setiap malam, selalu, aku rasa aku nyaman sama dia"
"waooh, apa dia pernah bilang suka kekamu?"
"dia sama dengan Egar, nyatain nyatain tau tau bercanda"
"iya mereka sama sih. tapi kamu yakin gak sama dia?"
"yakin, yakin Joana, dia perhatian" kata Sherla
Sherla menjelaskan hubungannya dengan Nandra dan Joana kembali merasakan kebahagiaan, ia mendapat banyak berita bahagia, ia merasa hari bahagia
Joana menjalani kehidupannya lebih baik lagi, ia bahagia ketika sekitarnya bahagia, padahal ia sedang berada dalam masalah persahabatan nya dengan Vera dan Ello tapi yasudah lah, Joana pikir mereka sudah sama sama besar, sama sama tau bagaimana menyikapi keadaan
hari berlalu, kesibukan Joana pun tak terelakkan, ia mengerjakan banyak pekerjaan sebagai kkn dan menyelesaikannya setelah 3 bulan
tapi karna pihak Netra merasa mereka membutuhkan Joana, jadi mereka menawari kerjaan langsung kepada Joana untuk masih akan datang kesini sekedar mengurus Alisia
"pak, saya menghargai permintaan anda, terimakasih tawarannya" kata Joana
"ah Joana, apa kamu menolak?" tanya dokter utama di RS Netra
"tidak pak, tapi sayang belum bisa kasih kepastiannya, saya masiu benar benar fokus kepada tugas dikampus saya sebelum kelulusan"
"tapi bagaimana Aal? dia sepertinya masih butuh kamu Joana"
"oh itu tenang pak, sempatnya saya, saya akan datang kemari mengecek kondisi Aal setiap harinya"
"kalau begitu bisa ini disimpan saja dulu"