
"lah tapi tapi bos" ucap Mikail
"udah, jangan panggil bos, saya sudah bukan bos kalian lagi, dulu kan sering memberikan makan, uang, jajan, sekarang lihatlah, bahkan kalian memiliki jabatan pekerjaan diatas ku"
"ya tapi kita kan sudah terbiasa" jawab Arsan
"udah biasakan panggil Elyas, kita sahabat, bukan teman kerja atau teman terpaksa yang harus panggil bos kan?"
Mikail melirik arah Arsan dan memberikan kode jika ia kaget perubahan jauh sekali dari Elyas, yaa tapi dibalik itu, mereka cukup senang atas perubahannya
Mikail dan Arsan memiliki pacar masing masing dan mereka bawa dipernikahan Joana itu, lalu keduanya bergantian berfoto dengan pengantin
Joana dan Egar memang khusus meminta agar berfoto dengan masing masing tamu, tapi tamu itu tidak dengan siapapun ya jadi dalam foto itu pertamu dapat foto sendirian dengan pengantin atau bisa bersama sama juga dan sisanya sesuai permintaan saja mau bagaimana dan dengan siapa saja
Elyas, Mikail, Arsan dan teman teman mereka lainnya yang dari kelas yang sama juga, mereka mengobrol bersama disana
sementara Lerry dan Halburt memisahkan diri untuk mencari makanan yang lain
disini, Arsan dan Mikail memberikan selamat atas hubungan Elyas dan Erisa disana, Elyas menyebutnya dengan baik juga Erisa
hingga pembahasan mereka berdua kepada adik Elyas, yaitu Elva dengan hubungannya dengan Feris
yaa memang banyak yang tidak tau soal Elva adalah adik Elyas dikampusnya yang tau ya hanya Joana, itupun Joana bukan tipe yang mengumbar kan, jadi tidak gembar gembor kemana mana
tapi disini Arsan dan Mikail membukanya kepada Elyas tentang yang mereka tau soal Feris dan Elva, seketika membuat Elyas marah, tapi lagi lagi power of Erisa lebih kuat jadi Elyas meredam lagi
"ya gue gak kompor bos, cuma kan biar lo tau aja, gimana juga Elva adik lo, lo harus tau" kata Mikail
"bener, gue rasa Elva tutupi kan dari lo?" sambar Arsan
tapi Elyas mulai tenang lagi disana atas permintaan dari Erisa agar menjaga sikap karna itu diacara bahagia nya Joana
setelah lepaskan semua pikiran membekuk nya, tak lama Elva bergadung dengan abangnya untuk makan karna pikiran Elva tidak enak jika mencueki terus kakaknya disana
apalagi kakaknya kan sudah sangat jarang balik ke indonesia, ini saja karna permintaan Joana
tapi tak disangka ketika Feris terlihat dekati Elva dan ia mengode untuk Elva kebelakang karna ada yang mau ia bahas dibelakang membuat Elva sedikit menjauh dari Elyas agar Feris juga tidak mencurigainya
Elyas menyadari ada yang aneh dengan Feris kepada adiknya, Elyas mulai curiga jika perkataan kedua temannya benar, ia diam diam mengikuti adiknya yang mulai kearah ruangan belakang tempat rias pengantin dan beberapa orang yang berkaitan dengan acara itu
"kemana?" tanya Erisa
"bentar, toilet" kata Elyas
"dimana?"
"itu kali, disana kan room servise"
"oh yaudah aku pergi sama Lerry dan Halburt ya"
"okeh"
yaa, memang Elyas tipe yang mudah percaya dengan kecurigaan, karna itu ia mengikuti Elva kebelakang dan benar saja yang ia dapatkan
"ada apa?" tanya Elva kepada Feris
"kamu kenapa sih, kita bisa kan berduaan mengobrol, aku temani deh kamu buat jadi penerima tamu disana" kata Feris
"jangaaan, jangan lah, nanti pada tau hubungan kita"
"emm"
"oh ini" kata Elyas dengan nada keras
"bang" ucap Elva kaget
"ini Elva?" teriak Elyas
"dia? lo tau dia siapa? dia Elva, adik gue" bentak Elyas
Feris melirik kearah Elva, Elva hanya diam dan nenunduk takut kepada Feris akan marah, yap, bukan takut pada kakaknya yang murka tapi Elva malah takut pacarnya akan marah
"lo ditinggal gue saja berapa lama? udah berani main dibelakang gue?" bentak Elyas kepada Elva
"bang, udah bang, disini tempat acara kak Joana" bisik Elva
"lo yang gak sadar apa? disini tempat Joana menikah dan bahagia, malah dikotori dengan hubungan parasit" teriak Elyas
seketika itu juga, Elyas mendekati Feris dan menatap kedua matanya dengan tajam, dan berpapasan juga Erisa datang...
yap, Erisa kuatir kepada Elyas yang pamit kebelakang tapi tidak ada balik lagi, jadi ia berjalan kearah tadi Elyas yang berjalan ke room service
dan mendapati Elyas dan pria lain disana bertatapan
"mau membalas aku karna merebut Joana dari hubungan mu yang terdahulu?" tanya Elyas
"tidak ada hubungannya, aku tulus sama Elva, bahkan aku tidak tau dia adikmu" jawab Feris
"Elvaaa?" ucap Elyas meliriknya tajam
"Elyas" ucap Erisa
"diam dulu Erisa" kata Elyas
"jangan keras keras" bisik Erisa
"Elvaaa jawab" teriak Elyas
"iya bang, Feris memang tidak tau soal aku adik kamu" jawab Elva menunduk
"Elvaaaa, kamu yang gatal? ya Elva? gataaal?"" teriak Elyas
"Elyas cukup, jangan kasar" kata Feris melindungi Elva dengan berdiri didepan Elva agar menutupi Elva
"jangan ikut campur dia adik gue" bentak Elyas
"dia pacar gue" jawab Feris
"pacar? gue gak merestui, tidak sah kalian berpacaran" ucap Elyas
"aku tidak peduli" jawab Feris
"Feris, perlu lo tau, lewati restu gue saja mendapatkan Elva karna keluarga Elva hanya ada gue" kata Elyas
"lalu apa pantas sudah tau adik lo tidak memiliki keluarga selain lo tapi lo pergi sama wanita lain ini?" teriak Feris menunjuk kearah Erisa
Feris sudah mulai muncak juga marahnya, ia merasa kesal kepada sikap kasar Elyas kepada Elva itu berlebihan sebagai kakak kepada adiknya
seketika itu Feris menampis tangan Elyas yang hampir memukul wajah Elva dan menahannya
"seberapapun lo sakiti dia, harusnya lo malu, sementara gue bukan darah yang sama dengan dia tapi menjaganya" ucap Feris
"yakin? apa kamu tidak pernah sentuh adik saya? ah itu tidak mungkin"
"tanyakan sama manusia lain yang kenal dan tau hubungan kami" kata Feris
melihat pertengkaran itu semakin membuat kuatir Erisa soal Elyas akan membuat keributan disana apalagi ia tidak tau story hubungan keduanya antara Elyas dan Feris sampai sebenci terlihat sikap masing masing
Erisa pun keluar mencari bantuan kepada Joana kan tidak mungkin, itu acara pernikahan, acara kebahagiaan, tidak mungkin di ganggu karna masalah pribadi Elyas dan pria itu, jadi Erisa mendekati arah Mikail dan Arsan
"kak, dibelakang sana, Elyas sama pacarnya Elva ribut" kata Erisa pakai bahasa inggris yang kefduanya sedikit kurang paham
Arsan dan Mikail bisa sedikit sedikit bahasa inggris tapi masalahnya, Erisa mengatakan dengan terbatah batah dengan terengah engah, Erisa pun paham dan mulai menjelaskan dengan perlahan