My Name JOANA

My Name JOANA
161



tapi Fero membuktikan bahwa ia memberikan perhatian sebagai tanda ia menyayangi dan menyukai Alisia, tidak peduli masa lalu yang bagaimana dulu dijalani Alisia


hari hari berikutnya, mereka semakin dekat dan menjadikan mereka sudah seperti couple goals


hari itu, dimana ketika hari Alisia sedang tidak begitu banyak pekerjaan, ia mendapatkan kesempatan pulang cepat, ia tidak pernah ambil, tapi kali ini ia hanya memutuskan pergi ketempat dimana dulu dirinya dirawat


"emm hai" sapa Fero


"hai dokter"


"kamu pulang?"


"iya dokter, kerjaan sudah selesai, biasa nya saya tidak ambil, ini tapi pengen ke RS Netra saja"


"oh kesana? yaudah saya temani mau?"


"loh, dokter gak sibuk?"


"gak kok, udah saya antar"


yap, di RS Netra, berencana untuknya melihat dan menyambangi tempat lamanya, bagaimana pun dulu disini lah ia di rawat dan ditampung


ditemani Fero, mereka pergi ke sana dan sampai..


mereka turun dari mobilnya dan Alisia melihat kearah dalam gedung itu


"yaaa.. inilah tempatku, sebelum bertemu dengan manusia berhati malaikat seperti Joana" ucap nya dalam hati


mereka masuk dan semua antara takut, takjub dan heran atas perubahan Alisia yang benar benar berubah drastis tis dari sebelumnya ketika masih dirawat dirumah sakit ini


semua menyapa tapi ada beberapa juga yang hanya diam karna tidak tau lagi apa yang akan mereka katakan


hingga sampai pada ruangan tempat nya dirawat, ada Wita disana, teman Joana, merawat salah satu pasien jiwa juga diruangan itu


Alisia akan masuk dan hampir membuka pintunya tapi Fero menahannya


"kamu mau masuk?"


"iya dokter, saya mau menyapa pasien didalam"


"apa kamu yakin?"


"yakin sekali"


akhirnya Alisia masuk, menyapa pasien itu..


Alisia paham situasi apa yang terjadi pada pasien itu, dan ia mulai menyapa, mengatakan dengan lembut, dan pasien itu mulai melirik kearah Alisia


"kamu pasti baik baik saja kan? aku tau itu" kata Alisia


"kamu baik, makasih ya sudah baik" kata pasien itu


"iya, aku baik karna kamu baik, baik mendengarkan aku bicara, terimakasih ya, jangan lupa minum obat rutin sampai kamu sembuh, jangan lupa sayang sama dokter perawatmu ini, dia berjuang sekuat hatinya untukmu" kata Alisia


melihat itu, Fero merasa ia begitu mencintai Alisia, ia tertarik ingin sekolah lanjutan nya di bidang ahli kejiwaan, yang dimana itu keputusan terjauh dari sebelumnya ia ingin ambil yaitu menjadi dokter ahli syaraf


"hai Aal, apa kabar kamu?" sapa Wita


"baik kak Wita, kak Wita baik?"


"sama, baik, kamu tinggal sama Joana ya?"


"tidak kak, Joana kerumah baru bersama suaminya, aku tinggal dirumah mama Melanie dan papa Amir"


"oh, yaudah selamat ya atas keberhasilan kamu sampai titik ini, semoga kamu selalu sukses kedepannya"


"sama kak, kamu juga ya jaga sehatmu, pasien seperti mereka butuh orang seperti kamu"


saat teringat Joana bertugas disana...


"iya sama sama, senang deh lihat kamu berbeda" ucap Wita


"haha iya, eh iya kak Wita, Joana kerja kan hari ini?"


"iya ada diruangannya"


"didepan itu kah?"


"bukan lagi, di dekat kantor utama perawat, dia menjadi pengawas baru di Netra"


"ahh iya juga, aku juga denger itu sih"


"iya disana dia"


"aku kesana ya"


"iyaa"


Alisia pergi kesana, mengetuk pintu ruangan kerja, Joana mempersilahkan masuk, dan kaget karna itu Alisia bersama Fero disana


"Aal? pak dotker Fero?" sapa Joana


"Joana, aku kangen tau, dirumah sepi"


"iya sepi gak ada kamu maksudnya, kamu kapan main lagi kerumah?"


"minggu ini, kamu tenang saja, jadwal minggu ini aku balik sama Egar kerumah mama Melanie"


"waah, beneran? yeeeh, nanti aku bakalan bantuin buk Tari masak deh"


"haha bisa saja kamu, memang bisa masak?"


"bisa dong, dikit dikit, hehe"


"paaak, Fero?"


"yaa Joana, hehe"


"udah bilang? kan dekat sudah?"


"hehe iya belum"


"bah, buruan, nanti di sambar orang lain"


"Joana, memangnya petir apa?" jawab Alisia


"hahah, eh dari mana kalian?"


"aku lagi sedikit kerjaan, jadi mampir kesini, lihat kamar ku, diisi pasien nya kak Wita ya"


"oh iya, itu disana,udah kesana?"


"sudah, aku sempat bicara juga sama dia, pasien disana, dia tidak terlalu berat kan masalahnya, jadi mudah deh sembuh"


"iyaa, aku pikir juga sama, aku gak bantuin, aku bagian untuk pasien yang berat saja masalahnya"


"aah"


mengobrol banyak hal disana, Joana melanjutkan pekerjaan nya setelah Alisia dan Fero berpamitan pergi, pekerjaannya mulai sedikit, dan ia bebas hari ini untuk tugas nya yang sudah ia arsipkan untuk seminggu kedepan


gajian masuk, tak terasa artinya sudah mengurangi kontrak kerja sebulan nya, Joana sudah masuk kontrak kerja nya dibulan ke 9


kontrak kerjanya 6 bulan pertama sudah habis, ia perpanjangan lagi dapat 6 bulan kedepan, dan ini masih berjalan selama 3 bulan jadi masih ada sisa 3 bulan lagi untuk kemudian Joana resmi menjadi dokter tetap dirumah sakit itu


sorenya, suaminya datang menjemput, mereka pulang, sampai dirumah mandi, dan selesainya, Egar memberikan atm gajiannya


selama 2 bulan pernikahan mereka, Egar selalu memberikan penuh hasil kerjanya kepada sang istri, jadi yang mengatur keuangannya ya istri, Egar tinggal bilang minta uang untuk apa kepada istrinya


termasuk tentang jatah bulanan yang Joana dan Egar keluarkan untuk orang tua mereka masing masing sebagai jatah bantuan bulanan kepada mereka


"sudah aku transfer semua Poy" kata Joana


"sudah? mama papa?"


"iya semua, ini "


"iya sudah"


mereka makan berdua dan menikmati kehidupan setelah menikah, tak lama seseorang datang


"siapa? kamu ada janjian sama teman?" tanya Joana


"gak ada Moy"


"siapa?"


"biar deh aku buka"


"yaudah barengan"


dan ternyata itu Lestari, membawa beberapa baju ganti untuk dirumah Joana dan Egar


"buk Tari, masuk buk" sapa Egar


"iya nak, ibuk katanya suruh tinggal sini?"


"iya, jadi ibu tinggal disini, nanti dari aku sama Egar pulang kerja sampai berangkat kerja, baru ibu bisa balik kerumah mama" jelas Joana


"oh gitu, ya udah gakpapa"


"ibu naik apa?"


"sama Melanie disuruh naik taksi, mahal kan, jadi naik ojek pengkolan saja"


"loh, bibi naik motor bisa?" tanya Egar


"bisa nak tapi motor siapa dibawa?"


"pakai motorku bi, bentar kuambilkan"


Egar memberikan kunci kontak, surat surat dan motor untuk Lestari, itu motor memang dulunya milik Egar, ia kuliah memakai motor itu, tapi sejak bekerja, ia memakai mobil karna kan antar jemput Joana juga, Joana tidak pernah mau naik motor


btw. tau ya alasannya kenapa Joana tidak mau naik motor, sudah dijelaskan sebelumnya