My Name JOANA

My Name JOANA
223



"iya Ello, nanti ibuk bilangkan, kamu sudah mau nikah saja, cepat sekali?" kata Lestari


"ya cepetan Joana sama Egar sih malah kan bu"


"haha iya juga sih, yaudah selamat buat kalian"


"makasih buk"


malamnya, Lestari memberikan undangan itu pada Melanie, Melanie menelfon Egar, esok paginya baru Egar mengambil undangan itu


malam berikutnya, biasalah telfon dan Joana juga memberikan selamat atas pernikahan dari Ello


tapi kali ini, Joana tidak kirim pesan chat pada Ello, ia menelfon biasa kepada Ello


"halo, Joana?" sapa Ello


"aku menelfonmu dapat kabar kemarin"


"kabar apa?" tanya Ello


"kamu nikah? aku dapat kiriman foto undangan loh dari Egar"


"ahh iya, aku itu kirim kerumah mama Melan, tapi ketemu buk Tari doang, eh udah sampek kamu?"


"iya, fotonya, selamat ya atas pernikahannya, aku turut bahagia" kata Joana


"iya, kamu gak bisa pulang? datang ke acaraku?"


"hemm, pekerjaanku lagi banyak sekali"


"yaaah, yasudah jangan dipaksa, aku paham, semangat kerjanya ya"


"iya, nanti biar Egar datang sendirian ya, gak apa kan?"


"oh ya lah, dia kan sahabatku juga"


"iya, selamat sekali lagi, semoga bahagia ya Ello"


"iya Joana, makasih yaa, kamu semoga selalu sehat dan bahagia"


"iyaa"


"oh ya, aku mau tanya satuhal"


"apa?"


"kamu undang Vera kan?"


"iya Joana, aku undang kok, bagaimana dia, dia tetap sahabatku" kata Ello


"iya udah, gakpapa, jaga diri mu dan Puri"


mereka telfon, selesai, matikan, Joana langsung memeluk Samuel kebetulan Samuel ada disana menungguinya setiap telfonan, ia memeluk karna merasa sedih atas apa yang terjadi dengan sahabat nya tapi ia tidak bisa datang


sementara Ello, sebagai seorang sahabat, Ello yang menahan tangis sejak telfonan dengan Joana karna mendengar suaranya saja sudah bisa menyembuhkan sedikit rindu Ello kepada sahabatnya itu


dan baru saja menutup telfonnya, iya tidak membendung lagi yang ia rasakan, dan ia pun menangis, ia menyadari mengeluarkan air matanya lalu ia memgusap langsung


hari pernikahan Ello dan Puri tiba, saat Egar siap, ia menelfon Joana dan menunjukkan ia telah siap


"halo Moy" sapa Egar


"ya Poy, ada apa?"


"aku sudah siap pergi nikahan Ello"


"oh iya hari ini kan?"


"iyaa, aku video calling nanti ya"


"emm, Poy, gak usah"


"loh, kok gak usah? kan biasa gitu Moy?"


"iya, aku sudah telfon Ello sendiri, aku gak usah telfon pas nikahannya, aku gak mau terlihat sedih disaat acara mereka" kata Joana


"astaga iya udah Moy, kamu istirahat yang cukup ya, makan juga jan telat"


"iya Poy"


Joana menolak menelfon, ia takut ia menangis ketika melihat Ello menikah dan bahagia tapi ia tidak disisinya, karna betapa ia menjanjikan persahabatan sampai menemani ketika Ello dan Vera menikah


jika kepada teman dekat lain Joana bisa melihat kebahagiaan di hari pernikahan mereka tapi pada dua sahabat nya itu, ia tidak akan mampu


jelas, bagaimana dekatnya Joana dengan Ello dan Vera, jadi lebih baik tidak telfon dan tidak tau acara pas dihari pernikahannya itu sendiri


hari berlalu..


ketika sedang santai diruang kerjanya, ada staff masuk dan menyapanya..


"dokter, ini tadi ada titipan" kata staff


"oh, siapa?"


"dari pengirim atas nama Amir"


"oh, iya mana orangnya"


"langsung pergi"


"baik pak"


Egar menerima undangan dan membaca undangan pernikahan itu asing, karna pernikahan teman lama Joana yaitu Niane, sahabat lama Joana yang sekarang malah sahabat dekat Menik


Egar menelfon Amir..


"halo, Pamir?" sapa Egar


"iya Egar, ada apa?"


"undangan sampai di aku, papa kok keburu pulang?"


"oh iya papa ada ndadak kerjaan, jadi mampir sebentar"


"oh, siapa ini pa?"


"itu sahabat Joana saat sekolah dulu"


"emm"


mendapatkan undangan itu, malamnya Egar menelfon Joana, beda dengan sebelumnya, kali ini Joana mempersilahkan Egar agar memilih mau datang atau tidak


"oh, Niane, iya itu teman sekolah, kamu kalau mau datang, datang dah Poy" kata Joana


"oh yaudah nanti aku telfon pas sampai acara nya gimana?"


"iya udah gakpapa"


hari berlalu tiba dimana hari pernikahan Niane, saat Egar sampai, ia kaget karna melihat kedatangan Egar


"dokter Egar kan?" tanya Niane


"iya, saya, salam kenal, saya Egar"


"iya, saya tau kamu dokter Egar, emm tapi aku merasa tidak mengundangmu"


"oh, iya saya datang mewakili istri saya"


"istri?"


"Joana"


"Joana?" ucap Niane kaget


"iya, istri saya sibuk, berhalangan hadir jadi saya mau datang menggantikan, maafkan Joana ya"


"astaga jadi selama ini, dokter Egar ini adalah suami Joana?" ucap Niane


"iya"


"Joana sahabat saya dokter"


"haha iya saya tau"


Egar meminta izin menelfon Joana dan Niane mengizinkan, baru Niane percaya ketika Joana benar di telfon video oleh Egar


Joana memberikan selamat pernikahannya dan memberikan doa juga meminta maaf ia sibuk, disini barulah Niane tau siapa Egar


lepas acara pernikahan, Niane baru menjelaskan kepada Rossa dan Menik tentang siapa Joana, si istri dari mantan pacar Menik itu


"oh jadi sahabat kamu itu?" tanya Rossa


"iya, sahabatku, istri dia itu, yaa emang buaik banget si Joana sih"


Menik hanya diam, ia tau pasti Niane tidak akan mendukung juga jika Menik kembali dengan Egar setelah ini


"jadi gimana tanggapan mu Menik?" tanya Rossa


"Menik, kalau ini sepertinya aku akan melarangmu" jawab Niane


"melarang?" tanya Rossa


"iya, aku merasa mereka sudah serius menikah jadi aku minta jangan ganggu mereka" kata Niane


"iya, kau tenang saja, aku akan melupakan ini" kata Menik


hari hari bergulir, kesibukan Egar terus berjalan, sedang banyak tugas, Egar tidak mau ada yang mengganggu sampai ia selesai pekerjaannya


"pak dokter, ini berkas ditumpukkan di meja sofa" kata staff


"iya, taruh saja, tumpukkan yang rapi ya" jawab Egar


"iya pak"


"kalau sudah paham, taruh ya taruh saja" jawab Egar masih sibuk dan fokus di komputer nya


"ya pak, maaf pak"


semua staff paham, jadi mereka diam dan jika ada perlu, misal memberikan berkas laporan, dokumen lainnya, mereka hanya masuk dan meletakkan di meja sofa ruangan kerja itu, tanpa mengganggu sang dokter


setelah selesai semua tugasnya, Egar pun melihat kearah tumpukan beberapa berkas yang sudah para staffnya kumpulkan, sembari duduk dan memeriksa satu persatu


ada tujuh berkas dan dokumen tertumpuk tapi di belakang tumpukan nomor kelima alias nomor tiga dari paling bawah, ada lembar undangan pernikahan, bukan dokumen kerjaan


saat ia membuka dan melihat nama mempelai dari undangan ia dapat itu dari Menik, mantan nya yang kemarin datang