
"sudah, intinya jangan ganggu urusan pekerjaanku sebagai dokter jiwa, aku tidak akan mengusik pekerjaanmu sebagai ketua gangster, adil bukan?" ucap Joana
"tapi aku kuatir, bagaimana jika kamu mati ditangan pasien gilamu? mereka tidak akan merasa bersalah, aku pun tidak bisa selalu menjagamu"
"bahkan aku lebih baik mati ditangan pasienku daripada aku harus terus merasakan kesakitan atas ulahmu merenggut kehidupanku untuk menikah denganmu" tegas Joana
"okay, stop, aku tidak akan melarangmu lagi apa apa"
"ya memang harusnya begitu"
hari terus berjalan, berjalannya waktu, Joana dengan pekerjaan barunya dan kesibukannya..
meninggalkan Joana dengan kesibukan barunya disana, bahasan kembali kepada Egar ya..
dimana cerita dimulai setelah kedatangan Egar di indonesia setelah dari amerika
Melanie, Amir, Melinda, Meliana dan Enggar datang kerumah Egar menanyakan bagaimana dengan kondisi Joana disana, Egar pun menjelaskan semuanya yang mereka lakukan selama Egar di amerika
banyak hal diceritakan Egar dan membuat semua merasa lega kecuali Melinda
ketika semua sudah mulai lega, mereka masuk kamar masing masing karna menginap di rumah Egar untuk menyambut kedatangan Egar
Melinda malah tidak tidur, ia keluar kamarnya, kebetulan ia tidak bersama suaminya
saat keluar, Melinda mengetuk kamar Egar dan mengajaknya mengobrol di depan televisi dilantai atas rumahnya
"ada apa ya bi?" tanya Egar
"kamu apa ada yang mau diceritakan selain itu?" tanya Melinda
"soal apa?"
"Joana, apa ada yang lain mau kamu katakan?"
"ya semua nya tadi kukatakan jujur kok bi, serius" jawab Egar
"ahh iya juga jadi tidak ada yang specific gitu ya, hanya santai saja?"
"iya, yaa karna kan Joana disana juga tidak ada jadwal kegiatan di rumah sakit nya, jadi banyak waktu sama Egar, bi"
"ahh iya sih"
kan Melinda tau jika Egar tidak tau apapun soal Joana disana dengan hubungan nya bersama Motheo dan Samuel
"terus kapan katanya mau pulang, barang sebentar kek gitu, kan dia sudah tiga tahun loh gak balik" ucap Melinda
"dia janji nanti enam bulan awal aku masuk kuliah, libur persemester, dia balik kok, tadi sudah kujelaskan juga kan"
"oh ya sih"
disini Melinda meminta agar Egar jujur pada semua hal, Egar jujur semuanya yang ia ceritakan tadi, tidak ada ia tutupi, tapi Melinda malah baru sadar jika ia memaksa Egar berkata jujur padahal menurut Egar ia sudah jujur nanti malah curiga padanya
hari berlalu, sembari kerja di Netra Utama, Egar juga mulai mendaftar untuk kuliah nya, ia akan melanjutkan di S3 nya
karna S1 ia sudah selesai jauh sebelum kenal Joana
lalu S2 nya juga ia kuliah pas disini lah kenal Joana
dan ini lanjutkan S3 nya berbeda dari S1 dan S2 nya karna Joana, karna Egar ingin menjadi dokter jiwa seperti sang istri
hari hari berikutnya, saat hari ujian test kelulusan, Egar menjalani dengan lancar, lalu dapat hasilnya juga tidak begitu mengecewakan, hingga masuk hari penerimaan, ia dinyatakan lulus dan masuk sebagai murid di fakultas dokter jiwa
disini lah ia mulai ikut ospek kegiatan awal kampus, lalu menjalani awal masuk kuliahnya sebagai dokter jiwa
"gimana Egar sama urusan kuliah barumu?" tanya Meliana
"oh, kapan mulai ngampus?"
"minggu depan, ini masih masuk ospek empat hari, libur nya tiga hari baru hari kedelapan nanti masuk pertama"
"jadi kemana nak?" tanya Enggar
"masih pa, dikampus lama saja, disini juga lengkap, malas nyari tempat lain" jawab Egar
"oh ya bener dah, kan kampus mu ini juga top"
"awas ya management waktunya yang teratur" jawab Meliana
"siap maa"
untuk sekolah kampusnya sendiri, Egar tidak mengambil dari kampus lain selain dari kampus lama nya dan Joana, karna itu sudah terbilang kampus paling besar dan lengkap bertaraf international pula
hari pertama masuk, sebagai murid kedokteran jiwa, dimana sebelumnya ia adalah dokter umum, ia masuk kelas yang sudah ditentukan untuknya
setelah masuk, ia duduk di salah satu sisi tepat lurus dengan meja dosen, saat ia menoleh kearah samping kirinya bermaksud menambah teman untuk teman baru dikelas barunya
malah ia kaget bukan main karna orang disapa itu ternyata adalah Fero
yaa.. Fero.. suami dari Alisia, Alisia adalah mantan pasien rawat kejiwaan dibawah penanganan Joana..
"dokter Fero?" sapa Egar
"loh, astaga dokter Egar?" tanya Fero kaget
"ssst jangan panggil dokter, gak enak, kita kan mulai kuliah, panggil nama" bisik Egar
"ahh benar kamu, iya jangan panggil dokter" kata Fero
"waah bisa ketemu disini, ngapain kamu?" tanya Egar
"yaa biasalah"
Fero menjelaskan Fero memang sudah berniat cukup lama untuk ia ingin sekolah lanjutan ke kedokteran jiwa, karna melihat bagaimana sang istri dulunya pasien jiwa membuatnya jadi ingin memahami pembelajaran dari pasien jiwa
disini Egar juga menjelaskan niat utamanya sebenarnya sama saja dengan niat dari Fero, karna sama sama ingin menjadi dokter jiwa, hanya saja berbeda pendapat dimana Joana alasan utama Egar berkuliah di dokter kejiwaan sementara untuk Fero adalah Alisia alasan ia ingin menjadi dokter jiwa
"ya sama saja sebenarnya kan niat kita berdua" kata Fero
"iya juga sih, sama sama buat istri, karna ingin tau bagaimana mengurus pasien jiwa, aku berkeinginan untuk bisa membuka usaha rumah sakit jiwa mungkin kedepannya" jawab Egar
"waah bagus itu, bisa lah calling aku kalau ada butuh bantuan, haha"
"iya pasti lah, apalagi kita sudah best friend"
sekarang Fero dan Egar tidak hanya jadi teman karna para istri mereka adalah bersahabat, tapi teman karna mereka satu kampus, satu kelas bahkan satu misi yang sama
hari terus berjalan dimana sebagai murid baru, masih belum begitu padat jadwal dan kegiatan mereka jadi masih bisa untuk hangout, jalan, makan diluar berdua, sebagai seorang sahabat
sejak sekolah dikampus yang sama, Egar dan Fero cukup dikenal, bukan hanya karna kedekatan mereka tapi karna baik Egar atau Fero memang sama sama dikenal dikampus
Fero masih aktif mengajar sebagai dosen tamu di beberapa kampus termasuk kampus ia tempati itu, sementara Egar pernah menjadi murid dikampus itu juga yang perna juga diajar oleh dosen Fero yang sekarang malah jadi teman kelas
saat sudah masuk bulan keduanya, Egar yang tidak ada jadwal pagi, memutuskan pergi pagi, untuk mengerjakan tugas dari dosen minggu sebelumnya
sesampainya di kampus, ia pergi ke perpustakaan, mencari buku untuk materi dan menggarap pekerjaannya
"halo bos" sapa Egar pada penjaga perpustakaan
"halo, wih bos, jadi kuliah disini lagi?"