My Name JOANA

My Name JOANA
84



Joana tidak melarangnya malah membiarkannya, lalu setelah selesai menyeka punggung Samuel, Joana meletakkan baskom bekas sekaan itu dibawa agar tidak terjatuh berceceran


"Joana" sapa Samuel


"ya kak" jawab Joana duduk disamping Samuel


"makasih ya"


"iya kak, sama sama, keluarga kakak gak ada yang datang memang kalau kakak sakit?"


"keluarga ku tidak akan datang, karna aku tidak mau mereka repot saja"


"ahh, baik sekali, oh ya, kakak mau makan?"


"emm"


"bubur?"


"emm"


"tunggu disini"


"jangan lama lama"


"iyaa"


Joana pergi kedapur, dan dengan polosnya ia setiap bertemu dengan setiap orang jaga disana selalu menundukkan kepalanya juga, bahkan ketika di dapur, karna ia masuk dapur membuat pengurus dapur disana langsung diam dan memberikan hormatnya, Joana malah menyentuh lengan ibu ibu pengurus dapur itu sambil tersenyum


setelah bubur jadi, Joana balik, lalu menyapa Samuel dan duduk disamping nya, lalu mulai menyuapinya


Samuel hanya memerhatikan gadis didepannya itu, ia memikirkan sebuah hal, tentang ia harus memiliki Joana, bukan Motheo yang memiliki Joana, bahkan nyawa ia gadaikan yang penting mendapatkan Joana


setelah selesai makan, Joana mengusap pinggir bibir Samuel karna ada bekas buburnya dan saat Joana mengusap dengan tisu selesai, Samuel menahan tangan Joana dengan tangan kirinya lalu tangan kanannya mengambil tisu ditangan Joana itu untuk ia buang


Joana hanya menatap kedua mata Samuel disana, Samuel menatap balik dengan tajam dan penuh makna, lalu Samuel mencium tangan Joana itu


"kenapa kak?" tanya Joana


"terimakasih Joana sudah menemaniku" kata Samuel


"kak, dari tadi itu saja diucap, udahlah aku santai"


"emm"


Joana masih menatap kearah Samuel yang menatapnya, lalu mendekati wajah Joana dan hampir menciumnya tapi Joana menghindar


"emm kak, aku belum mengerjakan tugas kampus buat besok kelas" kata Joana


"ahh kamu bilang temani aku?"


"iya aku temani, aku kerjakan disini kok, boleh ya"


"dimana?"


"di sofa itu"


"aku ikut" kata Samuel


Samuel malah turun dari ranjangnya, Joana melarangnya tapi Samuel memaksa, jadilah Joana membantunya


setelah duduk di sofa, Joana memgambilkan selimut untuk Samuel, Samuel hanya duduk disana sambil memakai selimutnya sementara Joana mengerjakan tugas di laptopnya


tak lama mengerjakan pekerjaan nya, Marcello menelfonnya


"halo" sapa Joana


"Joana, kau sudah tugas buat nanti malam? aku telfon key, dia sudah"


"ini setengah mengerjakan"


"itu yang masukin rumus buat pendataan pasien yang untuk kasus parah, bener pakai tabel buat penjelasan?"


"iya, bener, karna pakai tabel saja, biar rapi, karna semua juga pakai tabel buat penulisan, baik tangan atau ketikan"


"oh bener ya? iya deh, eh bisa kirim materi mu yang minggu lalu soal syaraf kaki ke paha?"


"okeh aku kirim nanti ringkasan materinya"


Samuel menatap terus wajah Joana disana dengan cukup dekat, tapi tak lama pekerjaan Joana selesai, Joana membereskan semuanya, ia melihat Samuel malah tertidur


ia membantu tubuh Samuel untuk tidur terlentang di sofa itu karna ia tidak kuat untuk mengangkat tubuh Samuel keatas ranjang


lama kelamaan, Joana malah ikut tertidur disamping sofa itu dengan kepala yang disanggah ketangannya tepat disamping pinggang kanan Samuel


sejam kemudian Samuel terbangun, ia melihat Joana tidur, ia pun turun dari sofa itu perlahan lalu duduk di depan Joana tepat kemana arah Joana tidur, lalu mendekati wajah Joana dan mencium pipinya


tapi karna Joana tidak juga sadar meskipun sudah ia cium pipinya, Samuel melanjutkan untuk mencium bibirnya, tepat disaat bersamaan ternyata Fabian datang..


Fabian tepat sekali datang dan langsung melihat jelas jika Samuel berciuman dengan Joana disana


akhirnya ia kembali menutup pintu kamar itu perlahan dan tidak jadi masuk, sementara Samuel berhasil mencium bibir Joana cukup lama disana sampai akhirnya membuat Joana terbangun karna merasa ada yang aneh, langsung Samuel duduk dengan posisi biasa saja agar Joana tidak curiga ia sudah menciumi bibirnya


"emm kak, kamu bangun?" sapa Joana


"emm iya, aku melihat mu tidur, kamu capek?"


"tidak kak, aku hanya ketiduran tadi, sudah mengerjakan tugas, emm ini kenapa bibirku basah ya? ahh apa aku tertidur sambil mengeluarkan.." ucap Joana terhenti


"ia mungkin, kamu tidur begitu ya?"


"tidak kak, aku biasa nya tidur juga tidak pernah keluar air liur kok, apalagi cuma bentar, emm" ucap Joana


Joana mengusap dengan tisu saja tanpa memperpanjang lagi soal bibirnya basah


sementara Fabian memutuskan untuk duduk diruang televisi rumah itu saja, bicara Fabian, Fabian datang lebih cepat karna ia yang tadi pergi akan menemui pacarnya malah mendapatkan fakta baru tentang pacarnya yaitu Erisa dengan pacar Joana yaitu Elyas


mengapa?


jadi ketika setelah pamitan tadi, Fabian memiliki waktu luang lagi, ia menemui pacarnya dirumahnya, tapi setelah sampai, ia bertemu dengan ibu dari pacarnya


"ehh nak Fabian, masuk dulu nak" sapa ibu itu


"iyaa buk, emm Erisa ada kah?"


"Erisa tadi sudah keluar, dia bilang mau pergi sama temannya"


"teman? yang siapa bu?"


"duh tidak tau, temannya baru, ibu juga baru kenal tadi pas jemput"


"oh perempuan?"


"bukan, pria"


"pria? siapa bu namanya"


"aduh lupa lagi, El... El siapa dah gitu tadi"


"oh kemana memang nya bu?"


"tidak tau ya, tapi ibu dengar katanya pria ini mau diantarkan ke tempat biasa Erisa jalan, dan Erisa mau"


"emm gitu bu? yasudah bu saya pamit saja deh"


"loh gak makan? minum atau gitu"


"tidak bu, biarin saja, oh ya nanti bilang saja saya kesini ya bu"


"yaa"


Fabian pergi, dijalan ia sambil berpikir, semua teman Erisa selalu diketahui oleh Fabian, Erisa bukan tipe yang menutup beberapa urusan teman kepadanya apalagi teman baru, dan itu pria


sekilas ibu Erisa mengatakan teman baru anaknya itu adalah pria, memiliki nama El, tapi Fabian tidak sadar El itu adalah Elyas, karna ibu Erisa memang sudah lupa namanya hanya ingat El saja


seketika Fabian mengingat ibu Erisa mengatakan jika Erisa pergi mengantarkan dan menemani pria itu jalan ke tempat tempat biasa Erisa datangi, sepertinya Fabian tau


ia pergi ke salah satu mall, bisanya Erisa menghabiskan waktunya untuk duduk di kafe yang tepat berada di samping mall daerah sana


dan setelah sampai, benar saja, ia melihat ada nama pengunjung di meja 23 atas nama Erisa


"selamat datang, ada yang mau saya dipesan pak?" tanya pelayan


"ini meja 23 ada berapa orang yang atas nama Erisa?" tanya Fabian