My Name JOANA

My Name JOANA
204



"udah sana saja lah dulu, temui, selesaikan urusan kalian" jawab Enggar


Egar akhirnya menemui Menik, Enggar tau istrinya cerewet dalam segala hal, ia langsung menahan Meliana untuk mengintip apalagi ikut dengan Egar


"maa, biarkan dulu mereka, selesaikan saja dulu mereka" kata Enggar


"iya udah pa, aku percaya sama Egar, tapi dia mengakiti Joana. mama kecewa" jawab Meliana


"iya udah ayo"


Egar turun, menyapa Menik, Menik berdiri dan akan mencium pipi kanan kiri Egar tapi Egar sigap menolak


Egar berkata apapun, ia mengambil buku nya, buku diari yang setiap malam ia tulis sejak ia dan Joana berpisah, disana terdapat banyak foto dan curahan Egar tentang masa ldr nya ini dengan sang istri


Egar tidak memberitahukan tulisan, hanya memberikan foto foto nya saja


"lihatlah" kata Egar


"pacarmu?" ucap Menik


Menik masih mengira itu adalah pacar Egar, jadi Egar memberikan buku nikahnya juga, lalu menunjukkan pada salah satu sisi tembok rumah itu yang terdapat pajangan foto Egar yang saat menikah dengan Joana


karna foto pernikahannya ada tiga yaitu dipajang dirumah itu, lalu dipajang di rumah Melanie dan satu lagi yang lebih besar dari keduanya di pajang dirumah Egar dan Joana


"kamu sudah menikah?" tanya Menik


"iya, kamu lihat sejak awal kan pastinya soal cincin ini"


"aku tidak tau, aku pikir cincin biasa, tapi mana istrimu? aku tidak pernah melihatnya?"


"itu biar urusanku, jangan ikut campur"


"tapi"


"bisa silahkan pergi sebelum aku mengusirmu? karna aku tidak mau ada yang tersakiti" kata Egar


"Egar.."


"tolong"


akhirnya ia pun pergi memutuskan untuk meninggalkan rumah Egar, Egar diinterogasi oleh kedua orang tuanya tapi ia mengatakan jika semua sudah ia jelaskan


Egar pikir, Menik paham, tapi tidak, ia malah datang lagi dan lagi, itu terus ia lakukan untuknya berpikir, ia mungkin bisa merebut hati Egar


"aku harap kamu paham, tapi kamu tidak pernah paham atas apa kemarin saya ceritakan"


"Egar... aku akan berjuang, aku gakpapa berjuang yang penting bisa lagi bersamamu"


"iya. terserah, jadi jangan salah kan saya saat adanya waktu membuatmu menyesal bertahan"


"iya"


yang terjadi, sama dengan apa yang dialami oleh Melki beberapa saat lalu ketika mendekati Egar, dimana beberapa orang terdekat Egar dan Joana mulai menjudge dan memberikan komentar pedas seputar Menik


di judge bertubi tubi, dan selir berganti, Menik mulai kembali luntur tentang ia akan memperjuangkan Egar karna susah, Egar sudah tidak peduli akan dirinya, dan Egar juga tidak peduli soal beberapa orang tidak menghargai Menik


golnya lagi lagi ada pada Meliana, dimana ia yang mengomentari Menik langsung membuatnya langsung menciut


dimana ketika banyak berita soal Menik ini terdengar sampai pada telinganya dan Enggar, ketika ada di RSNU, ketika itu Meliana ada urusan mengantarkan suaminya mengurus obat obatan di rumah sakit itu


"silahkan masuk pak Enggar, bu Meli" ucap staff disana


"iyaa, saya tulis untuk daftar buku tamu?" tanya Enggar


"tidak pak, ini bagian sini saja silahkan untuk tanda obat masuk"


"okeh"


saat suaminya menulis buku disana, Meliana melihat di buku lainnya ada tulisan nama Menik


"sus, itu buku apa?" tanya Meliana


"oh ini hanya buku non pasien yang dering datang"


"oh"


setelah Enggar selesai, mereka pergi ke lift dan didalam sana Enggar menanyakan apa tujuan istrinya tadi buku tadi


"kamu tadi nanya buku?" tanya Enggar


"emm, iya, papa tau tidak apa membuatku jadi tanya?"


"kenapa?"


"oh apa iya? mungkin sebelum nya Menik belum datang kerumah, kan Egar sudah menyelesaikan"


"itu date nya hari ini kok"


"ah masak sih ma? ini kan tanggal 11, mungkin mama lihatnya kurang teliti, tanggal 01 mungkin"


"tanggal 11 paa"


karna rasa penasarannya, Enggar masuk ruangan obat untuk menata beberapa pasokan obat disana, Meliana pergi mencari keberadaan Menik


selang beberapa menit, Enggar keluar karna melihat istrinya tidak juga ikut masuk, biasanya kan masuk


tapi langsung nelihat Meliana akan masuk lift, Enggar lari dengan cepat dan masuk lift


"papaa" ucap Meliana


"kamu ini kemana?"


"aku masih gatal, ingin mencari keberadaan Menik, aku akan memberikan dia pengertian, agar tidak terus masih mengganggu Egar"


"maa, udahlah"


"udah apanya pa? papa ini, udah sana kerjakan kerjaanmu"


"tidak, aku lebih jaga kamu, bahaya kamu"


mereka mencari cari, keliling, dan akhirnya ketemu sama Melki, Melki berusaha menyapa tapi Meliana cuek, karna tidak enak, jadi Enggar menyapanya saja


"om.. tante.." sapa Melki


"iya Melki" kata Enggar


"dari pasokan obat ya om?"


"iya"


"sudah mau pulang?"


"belum kok, lagi ada urusan"


"urusan apa ya om?"


"jangan suka kepo" jawab Meliana


akhirnya Enggar menarik istrinya dan lanjut pergi mencari keberadaan Menik, dan ia mendapatkannya di salah satu ruangan..


"hei" teriak Meliana


"maa" ucap Enggar


"udah diem aja deh pa"


Meliana mendekati Menik. .


"tante? hai tante, om?"


"kamu masih ya sering datang mencoba menemui Egar?" tanya Meliana


"ahh saya bisa jelaskan tante"


"gini ya Menik, saya memang pernah dekat sama kamu, dan pernah baik juga, tapi sudah lama, tolong di hari yang baru dari hari lama ini, rubah sikap dan etitude jelek mu" kata Meliana


"loh tante, apa salahnya? aku hanya ingin dekat dengan Egar, aku ingin memperbaiki diri untuk Egar"


"terlambat" jawab Meliana dengan nada keras


"ma" bisik Enggar


"diam pa, biar anak ini tau perbedaan antara laki laki berpacaran dan beristri, kalau Egar berpacaran ya gakpapa dia jawab begini. mungkin bisa jadi akan Egar kembali sama dia, tapi Egar sudah menikah, apa papa mau mengorbankan rumah tangga anak papa demi wanita asing yang dulu bahkan orang tuanya menghina anak kita karna anak orang miskin?" ucap Meliana


"tante, maafkan papa mama Menik, waktu itu mereka hanya ingin Menik fokus sekolah kok, bukan membenci Egar" kata Menik


"sudah ya Menik, kamu berkaca, lihat dirimu dalam kaca, apa pantas wanita mencoba merusak hubungan rumah tangga orang lain?" jelas Meliana


"gini ya Menik, kamu baik kok, cantik juga, pintar juga, bisa lah ya cari pria lain, om yakin kamu bisa dapat lebih dari Egar" kata Enggar


"om, om kan tau bagaimana Egar mencintai saya dulu kan, saya sekarang juga masih cinta sama Egar" jawab Menik


"itu dulu, sebelum ayah dan ibu kamu meminta anak saya putus dari kamu dan menunggu anak saya sukses dulu baru merestui nya" kata Meliana