
"mana ada, kamu itu ketua gangster tapi menghadapi ini saja takut?" tanya Joana
"ya beda lah ini Boo, mereka menakutkan"
"yaudah gakpapa Joana, gakpapa kok ikut" kata Shilly
Shilly membolehkan Motheo masuk, baru didalam ia mulai menjelaskan pekerjaan Joana, apa saja tentang cerita hidup pasien, dan Joana mulai paham apa saja tentang diri pasien, mulai dari biodata lengkap, asal mula stress dialami nya, hingga beberapa kebiasaan sejak pasien menjadi gila
"paham semua kan?" tanya Shilly
"ya kak, saya paham semua, lalu dimana pasiennya?"
"ayo aku antar, dia ada di kamar pasung"
"okeh"
Joana akan keluar, Motheo ikut bersama Joana, memaksa ikut lebih tepatnya padahal sudah Joana jelaskan ia pergi ke kamar pasung
"kamu disini saja tunggu, aku mau ke ruangan pasien ku" kata Joana
"gak ada aku disini, aku ikut kemana kamu pergi" jawab Motheo
"aku kekamar pasung pasien"
"iya pokoknya aku ikut kamu"
"yaudah"
kamar pasung sendiri adalah kamar keramat di setiap rumah sakit jiwa, disediakan itu pasien yang tingkat stresnya sudah begitu berat
Joana takut? jelas tidak, bahkan sebelumnya dimana Joana pernah mengatasi dua pasien jiwa yang terparah yaitu Alisia dan Wilson dimana keduanya pernah masuk kamar pasung
dan setelah sampai depan kamar pasung...
"kamu serius masuk kamar pasung? aku tau cerita kalau kamar pasung di rumah sakit jiwa itu untuk pasien paling membahayakan" kata Motheo
"iya aku yakin, aku berhadapan dengan pembunuh saja berani, apalagi dengan pasien kamar pasung" jawab Joana
"siapa kamu katakan itu? kamu bicarakan aku?"
"iya sayang, aku bicarakan kamu, diam dulu ya sayang, aku mau kerja ini"
"kamu panggil aku sayang?"
"ya biar kamu bebaskan aku bertemu pasienku dulu, yaa"
"iya deh, karna kamu panggil aku sayang"
Joana pun masuk, melihat ada pria terpasung disana, pria itu sudah berwajah sangat kusam, wajahnya begitu menakutkan, suram, gelap, penuh kemarahan ketika Joana mulai masuk
yaa.. inilah pasien yang bernama asli Calvin..
Calvin Anderas adalah pasien jiwa baru di Jorshy dengan gejala traumatik, ia trauma kepada cahaya, bayangkan saja, jika ia melihat cahaya baik dari matahari, lampu, atau sinar lainnya, badannya akan kesakitan dan ia meronta ronta
inilah alasan mengapa Joana tidak membolehkan menyalakan lampu dikamar pasung itu, yaa bukan Joana jika tidak bisa membuat pasien itu menerima Joana
"hai kakak?" sapa Joana
"siapa kamu?" teriak pria itu
"kenalkan, aku Joana"
"kau siapa? kamu dokter disini ya? kamu yang akan membunuh ku kan?"
"aku tidak membunuhmu, tidak akan ada yang akan membunuhmu disini"
"lalu apa mau mu?"
Joana mulai duduk, menyentuh tangan Calvin yang di rantai besi lalu menceritakan masa kecilnya yang suram
yaa, Joana menceritakan bagaimana ia dulu lahir sebagai gadis buta hingga diusia 15th nya baru bisa melihat dunia untuk pertama kalinya
semuanya diceritakan oleh Joana..
"jadi kamu sejak lahir buta?" tanya Calvin
"iya, aku buta sejak lahir, hingga pada usiaku 15 tahun, baru aku bisa melihatnya, tapi itu pertama kalinya aku melihat dunia"
"lalu kamu bisa mengerti sebuah warna, benda, dan lainnya?"
"tidak, aku belajar dari awal lagi, yaa aku tau, misalkan kursi, aku tau nama nya kursi, tapi aku tidak tau bentuk bendanya kan, setelah bisa melihat dan tau bentuknya aku malah berusaha mengingat apa nama benda itu, dan ini tingkat sulitku harus belajar dari awal lagi"
"kenapa kamu akhirnya mau melihat?"
"karna aku ingin melihat wanita dan pria terhebat yang selalu bersama ku, ibuku, wanita berjuang atas napasku, dan ayahku, pria berjuang atas kehidupanku dan ibuku"
jadi tidak heran jika Joana harus gelap gelapan di suatu tempat karna memang ia pernah ada di situasi lebih gelap dari itu
disini Joana mulai bisa merasuki pikiran Calvin, yaa.. semudah itu Joana mencampuri pikiran Calvin, hari pertama, bukan hal mudah untuk menakluk kan pasien jiwa jadi perlu proses dan sabar meskipun untuk sekedar membuka pasungan nya
setelah sehari itu ikut Joana, Motheo dan Joana pulang, didalam mobil, Motheo melirik arah Joana dan dengan bangganya ia terhadap istrinya itu atas kebaikan hatinya bahkan mampu membuat pasien gila menjadi lebih tenang
Motheo menyentuh dan menggenggam tangan Joana
"kenapa Boo?" tanya Joana
"gak papa, aku hanya ingin memegangi tanganmu"
Motheo benar menggenggam tangan Joana tanpa melepaskannya hingga sesampainya dirumah Joana, Joana mandi di kamar mandi lantai bawah, bergantian dengan Motheo, lalu mereka naik ke rumah atas, dan duduk disofa depan televisi
bukan menyalakan televisi, Joana malah mengambil salah satu buku tentang traumatik bagi pasien jiwa, dan masih ada hubungannya dengan Calvin, makanya Joana kembali membaca dan memelajarinya
"aku geli ih kamu mengurus pasien gila, berbahaya loh Boo, udah lah jangan kerja lagi, aku kan sudah kasih jatah bulanan, beda sama makan mu loh" kata Motheo
"itu kerjaan bagiku, aku gak bisa meninggalkan pasien yang membutuhkan aku"
"iya aku tau, tapi aku kuatir, kamu sama pasien gila, Calvin tadi itu, berbahaya buat kamu Joana"
"lebih bahaya mana aku hidup dengan ketua gangster seperti kamu?"
"ayolah Joana kamu kenapa selalu membahasnya kepadaku lagi"
"kan memang itu faktanya, kalau pasien ku sudah jelas, mereka dipasung, di lepas atas izin ku, dan aku tau kapan waktu pas mereka dilepas ketika tidak akan menyakiti siapapun termasuk aku"
"yaa tapi aku kuatir, bagaimana dia suatu saat hilang kendali? tiba tiba menikammu?"
"yaa sama bagaimana suatu saat aku tau ketika kamu akan kehilangan kendali, bahkan aku tidur dan berhubungan badan dengan penuh kekerasan, kamu selalu mencekik leherku setiap kali kita berhubungan badan taruhannya pun nyawaku kan" ucap Joana
"Joana udah udah, jangan bahas itu, aku akan memperlakukan mu baik ketika berhubungan badan lagi, tapi aku tidak mau ditolak, jadi jangan menolak"
"aku sudah tidak pernah menolak bukan? tapi kamu masih tetap kasar bermain"
"gini, aku kasih bayaran kamu dapatkan selama kamu bekerja sebagai dokter jiwa, aku bayar dua lipatnya tapi berhenti, tidak usah lagi bekerja"
"okeh, tapi aku minta untuk kamu juga berhenti dan keluar dari kepala gangster amerika" kata Joana
"mana mungkin? itu bukan pekerjaan, itu adalah jiwa ku disana"
"ya sama denganku, aku sudah tidak menganggap dokter adalah pekerjaan tapi sebagai jiwa ku disana"
"tapi kalau berbahaya bagaimana coba?"