My Name JOANA

My Name JOANA
146



disini Fero menjelaskan membawakan bunga untuk Alisia untuk mengucapkan selamat atas survivalnya dari mentalnya tapi itu semua bohong, ia niat membawa bunga untuk Joana


karna membuka pintunya Alisia, dan sejak awal memang Fero terkesan kepada wajah Alisia, apalagi sekarang Alisia sudah normal dan berpakaian yang menjadi ciri khasnya, feminim cute cute gitu tentu membuat Fero langsung tertarik


disini Joana mengira jika Fero mendekatinya memang bukan karna dirinya tapi karna mendekati Alisia


"emm Joana, aku masuk ya, emm pak, makasih bunga nya" kata Alisia


"iya sama sama" jawab Fero tersenyum lebar


Joana melihat jelas wajah Fero yang begitu semringah melihat wajah cantik Alisia, beruntung belum menyatakan suka pada Joana, jika sudah pacaran saja dengan Joana, Joana akan tersakiti lagi dan yang menyakitinya orang yang ia percaya sendiri yaitu Alisia


Joana akhirnya membantu Fero agar dekat dengan Alisia dan berkenalan


"pak, suka kan sama Aal?" bisik Joana


"Joana apasih?"


"beneran, aku bantu deh dekati dia, ya"


"yang bener lah... kamu candain aku ya?"


"serius aku pak, ya"


"beneran?"


"iya"


"boleh minta nomor ponselnya dia"


"gak lah"


"loh tadi katanya bantu kamu?"


"iya biar pak dokter minta sama orangnya lah, tadi gak minta dasar"


"hemm Joana"


"gak, tetep gak, biar proses pak, yaa, aku beneran bantu kok, suwer"


"awas bohong"


"iya asli"


malamnya, Alisia yang tidak begitu suka bunga, btw di rumah itu tidak ada yang suka bunga, pas sekali kebiasaan itu malah ada pada Alisia


jadi Alisia meletakkan bunga itu pada kanvas bunga dan diletakkan di meja hias tepat depan pintu utama rumah Joana, karna kan model rumah Joana pas buka pintu terlihat meja hias beserta laci lacinya, baru masuk sedikit, disamping ada ruang tamunya


"kamu taruh sini?" sapa Joana


"eh iya Joana, aku kan gak begitu suka bunga, kalau sejak awal aku taruh kan gak enak sama pak Fero nya"


"iya juga sih, kok sama kita, aku juga gak terlalu suka"


"ya kah?"


"satu keluargaku gak suka"


"oh ya kah? waah kebetulan"


esoknya, pagi sekali, sebelum Joana pergi kantor, Egar datang sekitar jam 7 pagi, untung jam kerja Joana sedang normal yaitu jam 9


dimana sebelumnya, Egar sudah memiliki ide membuatkan Joana hadiah bunga berwarna biru dongker


bunga? biru dongker? mana ada?


yap, karna Egar tau Joana dan keluarga nya tidak menyukai bunga, dan Joana menyukai warna biru tua, ia pun membuatkan bunga mainan dari plastik plastik bekas minuman yang ia kumpulkan dan ia bentuk dan hias lalu ia spet dengan warna biru dongker


lalu setelah semua jadi, Egar merangkai bunganya dan menjadi segenggam bunga berwarna biru dongker dan beberapa warna nya juga ada kuning muda, pink muda dan putih sebagai pemanis saja


dan siap, Egar pergi kerumah Joana, lalu sampai dan memencet bel rumah itu, karna masih libur, dapat libur sabtu dan minggu, dan hari itu hari minggu, kemarin Fero datang dihari sabtunya


kali ini Joana yang membukakan, karna ia sedang menonton televisi sendirian dan tidak ada orang lain jadi ia membukakannya


"Egar" sapa Joana


"hai Joana, apa kabar?"


"baik, kamu baik?"


"baik juga, ayo masuk, duduk diruang tamu dalam"


"iyaa"


Egar yang ternyata datang membawa bunga palsu itu seketika gugup menyembunyikan bunga mainan itu dibelakang badannya ketika melihat ada bunga asli terpajang di meja hias depan pintu itu


saat mendekati akan masuk ruang tamu, betapa kagetnya lagi karna melihat nama pengirimnya disana bertuliskan from Dr.Fero


"apa kamu bawa?" tanya Joana


"emm"


"apa Egar? mana aku lihat dong"


Joana memaksa melihat dan betapa senang nya Joana karna melihat bunga palsu dengan warna kesukaannya


"buat siapa ini kok cantik banget?" ucap Joana


"buat.. emm sebenarnya itu aku buat, aku bawa, buat kamu" kata Egar gugup


"waah serius?"


"iya. tapi itu kan kamu ada bunga asli, disitu, dari siapa?"


"oh itu dari dokter Fero, tapi aku sukaan ini, karna ini bunga palsilu dan warnanya kesukaan ku, aku simpan, aku akan simpan dikamar" kata Joana


"ahh serius kamu?"


"iya lah, aku suka, makasih ya, tau aja aku gak suka bunga tapi dibuatin palsunya, aku suka warna biru, bunga nya warn biru, ahh kreatif sekali" kata Joana


tak lama Alisia keluar, Joana langsung menyembunyikan bunga itu dibelakang bantal kursi sofanya


"hai Joana" sapa Alisia


"hai Aal, kemana?"


"aku kedepan mau jalan dekat sini saja cari udara segar, baru saja aku berpamitan kepada buk Tari"


"oh"


"ini siapa?"


"oh ya, kenalin"


Joana mengenalkan Egar kepada Alisia, Alisia pun berjalan mendekati pintu utama rumah itu dan melirik arah bunga dari Fero disana


"Joana, cantik ya" kata Alisia menunjuk arah bunga itu


"iya dong, cantik kan kalau letakkan disitu ya" ucap Joana


"emm bener" jawab Alisia


Alisia pun keluar tak lama Sherla turun juga dan menyapa Joana, dimana Sherla ternyata melihat semua apa yang terjadi, dimana Sherla pasti merasa jika Egar cemburu


"Joana" sapa Sherla


"hai Sherla, mau pergi?"


"emm tugas kerumah dosen hari ini malah"


"ohh"


"emm Joana, sepertinya kamu harus jelasin soal bunga itu dari pak Fero deh" kata Sherla


"oh kenapa?"


"biar gak salah paham"


"oh gakpapa aku kok" jawab Egar


"ah astaga Egar aku lupa, itu bunga dari pak Fero" kata Joana


"iya tau, tadi kan kamu bilang"


"maksudnya itu dari pak Fero kasih bukan buat aku Egar tapi buat Alisia, tadi yang baru saja kukenali kekamu"


"oh, kenapa ke dia? bukannya dia dekati kamu?" tanya Egar


"kan salah paham, beneran Sherla" kata Joana


"iya deh, kamu urus itu, aku pergi dulu ya Joana, Egar"


"iya" jawab keduanya


disini baru Joana menjelaskan semua tentang yang ia tau siapa Joana itu Fero dan mengapa mendekatinya, dan mendengar itu seketika Egar merasa tenang, ia bernapas lega juga akhirnya


"eh tapi bunga itu tadi, setelah Alisia tadi datang kamu sembunyikan, kamu tidak jadi ambil karna ada Sherla. kenapa kamu sembunyikan?" tanya Egar


"oh, aku sembunyikan karna aku tau mereka akan suka, nanti malah minta satu satu tangkai, aku gak mau ah, ini lucu"


"dasar ya, kukira kenapa" ucap Egar sambil tertawa lepas mengusap rambut Joana dengan gemasnya


saat mereka duduk diruang tamu, Egar berpikir ia tak mau berlama lama, Galen Wita benar, harus cepat mengatakan sebelum terlambat