My Name JOANA

My Name JOANA
83



"arah kemana nona?" sapa Alberto, supir taksi


"ini pak alamatnya" kata Joana memberikan hapenya


seketika Alberto itu kaget melihat alamat dituju gadis itu adalah alamat yang ia kenal yaitu rumah mafia yang pernah ia hutangi uangnya tapi beruntung ia berhasil membayar lunas beserta bunga berjalannya


"apa kamu tidak salah alamatnya?" tanya Alberto


"tidak pak, bener, ini alamat dikirim temanku"


"temanmu? teman mu pria?"


"iyaa, pria, namanya kak Fabian"


"kak Fabian?" tanyanya


Alberto berpikir buruk, tentang gadis itu yang menuju kerumah Samuel, ia takut kenapa napa dengan gadis itu


"oh ya? kamu kenal sama pemilik rumahnya?" tanya Alberto


"kak Sam kan? kenal pak"


"ada hubungan apa?"


"kenal saja pak"


"oh"


mendengar teman, dipikiran Alberto berarti Joana ini sama saja dengan Samuel dan semua anak buah Samuel, tapi ia sedikit bingung karna ia baru melihat gadis itu baru pertama kalinya, ia tidak


setelah sampai..


saat Joana akan membuka pintu mobil..


"emm nona, boleh saya tau nama anda?" tanya Alberto


"saya Joana pak" kata Joana


"oh okey, salam kenal nak Joana, saya Alberto, jika anda butuh bantuan atau apa, bisa ini telfon saya, ini kartu nama saya"


"bantuan?" tanya Joana bingung


"misalkan nanti butuh taksi pulangnya atau gimana, yaa sebagai perkanalan kita saja"


"oh, baik pak"


Joana pun pergi masuk kerumah itu sementara Alberto memerhatikan Joana yang benar benar masuk rumah itu


Alberto mengingat bagaimana sadis nya Samuel ketika menekannya untuk bunga berjalan, jika terlambat sedikit akan menghancurkan apapun barang dirumah bahkan nyaris membuat Alberto kehilangan anaknya (Ranya)


yap, karna sebenarnya Ranya sudah akan dijadikan pelunas hutangnya kepada Samuel, tapi kebetulan sebelum itu terjadi juga sebelum Ranya dan Samuel sama sama kenal, ia mampu membayarkannya


jadi Ranya tidak tau ia nyaris dijadikan pembayaran hutang ayahnya dan Samuel juga hanya sebatas tau jika Alberto memiliki anak gadis tapi tidak tau jika itu Ranya


tidak mau memikirkan terllau banyak, Alberto pun mengegas mobilnya dan pergi dari sana sementara Joana masuk disapa oleh Fabian


"kak Fabian, gimana?" tanya Joana


"masuk saja Joana, aku antar kekamarnya"


"baiklah"


saat masuk rumahnya, ada 2 anak buah Samuel disana, hanya ada Fabian dan Ravansa


"Joana" sapa Ravansa


"kak, hai kak, terus 2 teman yang lain kemana kak?" tanya Joana


Fabian melirik kearah Ravansa, tapi Ravansa langsung cepat menjawab alasannya


"mereka ada kerjaan lain Joana" jawab Ravansa


"ahh"


hampir disetiap sudut rumah terdapat orang berdiri disana sebagai penjaga, beda dari rumah Motheo sebelumnya yang penjaga nya semua akan berdiri berjejer dari pintu untuk menyambut kedatangan bos nya


rumah Samuel tidak begitu karna rumah Samuel setiap pojok dan beberapa sisi rumah ada penjaga pria sebagai pengawas dan boardiguard disana dan setiap melewati mereka, Joana melihat mereka selalu menunduk hingga orang yang melewatinya telah selesai berjalan melewatinya


"rumahnya besar ya? setiap sudut ada penjaga, apa tidak mahal bayar?" tanya Joana dengan polosnya


"emm ini kan permintaan nya bos.. emm kak Sam" jawab Ravansa


"oh, tapi setiap kita jalan harus menunduk? sampai kita lewatnya selesai?"


"iya harus begitu sudah aturannya"


setelah sampai kamar Samuel, Joana menyapa nya, Joana menyentuh kening Samuel dengan tangannya dan benar panas


yap, Samuel benar benar demam saat itu, untuk itu mengapa anak buahnya bingung karna Samuel tidak pernah sakit selama ini


"ini aku kak, Joana"


"bos, ini Joana" bisik Ravansa


"ahh Joana, kenapa kamu datang?" tanya Samuel


"aku dapat kabar dari kak Fabian kamu sakit, tunggu dulu aku buatkan untuk kompres kepala mu kak, ini kompresannya sudah harus diganti"


"emm"


"kak, bisa anterin aku ke dapurnya? aku tidak tau dimana" kata Joana kearah Ravansa dan Fabian


"yaudah biar aku jaga kak Sam nya, kamu sama Ravansa" kata Fabian


"Fabian" bisik Ravansa


Ravansa takut jika ia berurusan dengan Joana nanti bosnya marah tapi ternyata Samuel menyuruh untuk Ravansa mengantarkan Joana


"sana antarkan dia, tapi jangan sentuh sedikit dia" bisik Samuel


"ya bos" jawab Ravansa


Ravansa pergi bersama Joana, tertinggal Samuel bersama Fabian disana


"bos, gimana, sudah mendingan?" tanya Fabian


"tidak Fabian, eh kamu kenapa menelfon dia datang?"


"aku bingung bos mau ngapain, telfon siapa, bos bilang jangan pernah ikutin campur dengan keluarga bos jadi telfon Joana"


"hemm"


sementara itu Joana bersama Ravansa didapur, Ravansa menjelaskan semua isi dapur, lalu Joana mengurus membuatkan air dingin yang dicampur dengan air biasa


Ravansa memerhatikan Joana disana, ia berpikir, apa yang spesial dari gadis ini..


baik, masuk


sopan, masuk


ramah, masuk


tapi tidak cantik, tidak kaya, tidak juga manis, biasa saja semuanya terlihat sekilas apalagi dia terbilang cukup polos, tapi Ravansa tidak tau, dibalik kepolosannya itu lah membuat nyaman bos nya


karna Samuel tidak pernah tau jika didunia kejam seperti sekarang masih ada manusia polos yang baik dan tulus ditambah membuat nyaman


setelah jadi, mereka kembali kekamar lalu Joana duduk di ranjang samping Samuel tidur, Samuel memberikan kode dengan tangannya untuk Ravansa dan Fabian keluar, mereka pun berpamitan


"emm yaudah bos, eh emm kak Sam, kami pergi dulu" kata Ravansa


"kak Ravan sama kak Bian mau kemana?" tanya Joana


"emm kami ada urusan lain, bisa kami tinggal kan Joana?" tanya Fabian


"oh yaudah sana deh, ada aku kok jagakan kak Samuel"


"iya sudah"


setelah mereka keluar dan pergi, mereka hari itu bebas jadi bisa pergi urusan pribadi masing masing, Fabian berencana akan menemani Erisa, pacarnya


sementara Joana mengompres kepala Samuel dengan air itu lalu menunggu beberapa detik mengganti lap kompresan, lalu menyeka juga wajah Samuel agar lebih turun lagi panasnya


setelah beberapa menit, panas memang mulai turun, tapi Samuel masih lemas, ia memaksakan untuk duduk


"kakak mau apa?" tanya Joana


"aku mau duduk saja, punggungnya panas" kata Samuel


"yaa, sini kubantu"


Joana membantu Samuel duduk, lalu setelah duduk dan merapikan bantalnya, Joana menyentuh punggung Samuel masih panas


"kak ini punggunya aku seka juga ya" kata Joana


"emm"


Samuel mendengar itu akan membuka bajunya tapi Joana kaget, malah melarangnya membuka


"kak, mau ngapain?" tanya Joana


"kan kau mau menyeka, aku buka"


"jangan, gak usah dibuka gak papa kak, ini saja begini bisa" kata Joana


"ahh, kupikir dibuka, hehe"


Joana berdiri lalu mengusap punggung Samuel disana, Samuel melihat perut Joana tepat di arah wajahnya, ia pun menyenderkan kepalanya ke perut Joana