
esoknya, Feris mencoba untuk lebih baik dari sebelumnya, ia ingin berubah, bagaimana menjadi orang baik seperti pacarnya
saat bersama Rozi dan Pipi, dua teman dekatnya, mereka berdua memang memahami sejak dekatnya bahkan pacarannya Feris dengan Joana banyak merubah sikap buruk Feris
yang biasa nya Feris tidak pernah peduli entah Rozi san Pipi sudah makan atau tidak, ia tidak peduli yang penting urusannya tuntas tentang makan
"Feris, kelas kosong nih, kayaknya aku cabs dulu ya" ucap Rozi
"oh okeh, eh Rozi, kamu tidak kekantin bareng gue?" tanya Pipi
"males ah"
"loh bukannya belum makan? keburu amat makan aja lah, keburu gak?" sambar Feris
"keburu sih enggak, tapi.." ucap Rozi melirik Pipi
"udah makan saja dulu, baru lo pergi, kenapa napa baru tau rasa aja lo" jawab Feris
disini memang sudah tidak kaget ketika perubahan dirasakan oleh orang sekitar Feris, perlahan tapi pasti, membuat sekitar Feris merasa bangga Feris berubah
ketika sama halnya dengan Dipo, ayah dari Feris, betapa ia tau bagaimana keras dan dinginnya sang anak tapi es batu itu terasa mulai mencair
"kamu gak ada tugas kelas?" tanya Dipo
"kenapa?" tanya Feris
"gak, kok santai aja disini"
"gak ada, lagi santai, nanti malam adanya"
"oh"
"papa gak pergi?"
"ini mau pergi, udah jam buat ngajar"
"kenapa gak bawa jaket?" tanya Feris
"jaket?" tanya balik Dipo keheranan
"malam pulangnya kan, papa masih harus bawa istri nanti malam, pakai jaket, ini jaketku ini tebal sekali pakai lah pa, ini masih pagi juga udara dingin" jawab Feris
Feris pergi masuk kamarnya dan Dipo hanya diam speechlees tidak tau apa yang ada dipikiran Feris tapi semakin hari merasakan Feris semakin berubah memang
bahkan tak hanya itu, ketika dimana pekerjaan Dipo sangat banyak, Feris yang berada dikantin bersama Joana pun meminta Pipi untuk membelikan makanan dulu lalu meminta Pipi mengantarkan nya ke ruangan kerja Dipo
"Feris ini udah, makanan buat siapa?" tanya Pipi dalam telfon
"ahh kamu kirim keruangan pak Dipo"
"oh yasudah"
"kalau tanya uangnya berapa bilang gak usah, ini kiriman dari gue"
"okeh"
setelah sampai Pipi dalam ruangan kerja Dipo, ia dipersilahkan masuk
"ada apa?" tanya Dipo
"ini pak, ada titipan dari Feris" jawab Pipi sambil memberikan bungkusannya
"Feris? apa ini?"
"makanan, tadi Feris minta saya belikan dan kirim keruangan ini"
"oh terimakasih ya, ini berapa?"
"Feris bilang gak usah katanya"
"oh baiklah"
Pipi pun pergi, Pipi tidak tau kenapa Feris memberikan makanan itu gratis akhirnya ia berpikiran positif saja, karna mungkin agar nilai Feris baik kepada Dipo
karna Pipi sendiri tidak tau jika sebenarnya Dipo dan Feris adalah ayah dan anak
sementara Dipo heran, ia bingung sikap membaik anaknya, ia tidak mau ambil pusing ia menelfon anaknya dan memastikan
"halo" sapa Dipo
"ya pa, kenapa?" jawab Feris
"kamu dimana?"
"ini baru sampai kelas, tadi dari kantin tapi mau ada jam kelas jadi masuk saja dulu"
"oh, emm yaudah deh, eh ini makanan kiriman kamu ada apa?"
"oh, tidak, itu buat papa, papa aku lihat jadwal sibuk kalau hari senin kan, jadi aku kirim makanan biar gak lupa makan, dimakan ya pa"
"iya, dimakan pa, udah pa, ini ada dosennya"
"yaa"
setelah menutup telfon, Dipo menyentuh dada nya speechless perubahan baik sangat dia rasakan dari sang anak, bahkan yang dulunya tidak peduli mau Dipo sudah makan atau belum, Feris tidak memperdulikannya
bahkan tiap jam kelas rajin masuk? ahh itu adalah hal yang paling ingin didengar oleh seorang ayah ketika anaknya yang sering lepas jam kelas tapi malah rajin jam kelas
hari berlalu, dimana sudah penentuan untuk pemilihan mc radio kampus karna Egar dan Joana sudah banyak yang tau adalah dua murid dengan suara emas ketika mereka mengeluarkan kata kata mereka, semua setuju pilihan itu
Joana dengan suara yang lembut, sangat halus didengar telinga sementara Egar cukup terbilang sedikit cempreng tapi jika membaca beberapa bacaan serius, sangat bagus
seluruh murid yang menjadi pengurus BEM, istilah untuk osis dalam perkuliahan
untuk beberapa pengurusan organisasi
BEM, DPM hingga HM
tiga organisasi utama di kampus yang pasti ada
setelah semua berkumpul, barisan paling depan diperuntukan pengurus organisasi organisasi nya seperti BEM, DPM, HM dan organisasi yang lain
saat dosen besar membuka acara dengan sambutan nya, Dipo memerhatikan anaknya berada pada samping Joana yang artinya pada barisan BEM
ia mendekat kearah Feris...
"kamu kenapa berada dibarisan ini?" bisik Dipo
"oh saya anggota BEM juga pak" kata Feris
"anggota?"
"ehh pak Dipo, iya, kak Feris masuk ke anggotaan BEM sejak seminggu lalu" jawab Joana
Dipo pun pergi kembali ke barisan dosen lainnya
lalu mendengar kan jalannya acara dan menentukan beberapa tugas baru..
setelah mengatakan semua pengurusan, sedikit tidak terima karna Joana harus bersama Egar untuk bagian information..
malam nya, Feris sengaja datang lebih awal dirumah dan menunggu kedatangan ayah nya
"Feris" sapa ayahnya baru datang
"pa, kenapa harus kamu memakai Joana dengan Egar?" tanyanya
"Joana dan Egar, dua murid dengan suara yang bagus"
"papa kan tau Joana pacarku, bisaan barengin projek sama laki lain, ya harusnya sama aku kan aku juga BEM"
"tapi itu keputusan sudah atas izin semua pengurus organisasi dan para dosen bersangkutan"
tak mau berdebat malam malam, Dipo masuk dan tidur tapi Feris tidak mau tinggal diam, ia akan melakukan apapun cara agar Joana tidak akan hanya mengurus berdua dengan pria selain dia
berpikir ulang bagaimana Dipo mengaturnya lagi? itu tidak mungkin spontan dia berikan keputusan sepihak membatalkan rencana yang tersusun rapi atas urusan fm kampus itu
saat Feris sampai di sekolah, ia mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya, selesai nya, ia pun pergi keruangan perpustakaan biasa tempat tongkrongan Joana
dan benar sang pacar ada disana
"hai babe" sapa Feris
"hai, sudah selesai kelas?"
"sudah, kamu belum ya?"
"masih mau, ini masih dikerjakan dulu"
"emm iyaa"
tak lama beberapa orang memanggil Joana
"Joana" sapa beberapa orang
"ya?"
"diluar dicari pak Dori"
"oh okeh"
Joana langsung pergi menemui Dori didepan kelasnya, dan Dori mengenalkan Joana dengan dua orang tua disana yang masing masing adalah Mardi dan sang istri
"nah ini Joana, pak, bu, kenalin" sapa Dori
"hai, salam kenal" sapa ibu itu
"salam kenal ibu, saya Joana, ada apa ya panggil saya ya pak Dori?"