My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
99. Rein Yang Sama



Rein tidak tahu pembicaraan mereka dan ia bahkan tidak tahu apa yang Adit katakan kepada mereka. Adit segera menghampirinya setelah selesai berbicara dengan mereka. Adit hanya berdiri di sampingnya tanpa mengatakan apapun. Menyediakan beraneka macam makanan di samping Rein agar ia tidak mudah bosan.


Rein merasa jika adalah putri dari keluarga konglomerat yang harus dijaga dan di awasi dengan hati-hati.


Namun, Rein tidak mau ambil pusing karena semua tindakan Adit juga atas perintah Davin. Jika ia menolak, Adit tidak akan mendengarkan maka lebih baik diam saja daripada membuat masalah.


"Malam ini semua tempat akan disinari cahaya lampu. Jadi, kamu bisa keluar jalan-jalan tanpa harus takut gelap." Beritahu Adit dengan nada khas dinginnya yang tidak pernah berubah.


Rein takut kegelapan- ah, sejujurnya ini bisa disebut sebagai trauma. Trauma yang telah hidup di dalam dirinya sejak ia masih kecil entah dari alasan yang tidak diketahui. Intinya Rein tidak bisa melakukan apa-apa bila lingkungannya gelap gulita.


"Davin tidak perlu melakukannya karena aku tidak akan tertarik keluar di malam hari." Kata Rein tidak tertarik.


Adit tidak memberikan komentar apapun lagi. Dia diam membisu selayaknya sebuah robot remote yang hanya bergerak dan berbicara jika kendalikan lewat remote.


Diam, Rein membawa tatapannya menatap ke pasangan Ayah dan Anak yang masih asik naik perahu di tengah-tengah danau. Tangan gembil Tio bergerak menyentuh air danau, ia akan tertawa lebar setiap kali berhasil menyentuhnya. Sementara Davin sendiri memeluk Tio dari belakang, memastikan dan mengawasinya agar jangan sampai terjatuh ke dalam danau.


"Rein terimakasih telah mau kembali." Ucap Adit tulus.


Dia senang Rein kembali di dalam kehidupan sahabatnya.


Rein tersebut tipis,"Aku tidak pernah kembali. Aku di sini karena Tio-"


"Kamu sekarang sangat pandai membuat alibi atau alasan, tidak seperti Rein yang aku kenal 5 tahun yang lalu." Potong Adit tenang.


Lagi, Rein tersenyum tipis,"Rein yang kamu kenal sudah mati dari 5 tahun yang lalu-"


"Dia tidak mati, tapi dia hanya bersembunyi. Jika dia benar-benar mati maka kamu tidak akan ada di sini menemani Bos dan Tuan muda. Apapun alasan yang kamu ciptakan, aku yakin itu hanyalah topeng saja. Kamu masih Rein yang sama, kamu masih Rein yang tulus. Dan karena itulah aku berterimakasih kamu mau kembali, kembali ke dalam hidup sahabatku dan membuatnya tersenyum kembali." Lagi, Adit memotong ucapan Rein tapi kata-katanya sangat tepat sasaran.


Membuat Rein kesulitan untuk memberikan komentar balasan.


Lama terdiam, dia akhirnya menghela nafas panjang. Memandangi Tio dan Davin di ujung sana yang akan segera kembali ke daratan karena hari sebentar lagi akan gelap.


"Adit, aku ingin bertanya kepadamu."


"Bukankah Davin adalah orang yang kejam? Kamu dan dia sudah bersahabat dari sejak kecil tapi kenapa ia malah menjadikan mu sebagai pesuruhnya?"


Ditanya soal ini Adit lantas membawa atensi tajamnya melihat ke arah Davin yang masih berjuang menyentuh daratan.


"Tidak, Rein, itu sungguh tidak benar. Mungkin hubungan persahabatan kami membuatmu salah paham terhadap dia, tapi nyatanya dia bukanlah orang yang kejam. Dia bukanlah orang yang seperti itu. Justru, dengan menjadikan ku sebagai pekerjanya adalah salah satu bentuk cara ia memberikan perlindungan kepadaku dan kepada keluargaku. Selain dirinya, yakinlah tidak ada satupun orang-orang yang pernah mengaku sebagai sahabatku mampu melakukannya. Dan jika dia memang benar-benar kejam, maka dia hanya berlaku kejam untuk dirinya sendiri. Aku yakin kamu jelas sangat mengetahui masalah ini." Adit menyinggung masalah percakapan beberapa hari yang lalu ketika Rein tidak sengaja mendengarnya.


Atau mungkin ada seseorang yang sengaja mengarahkan Rein untuk mendengar percakapan itu.


"Hah... pikiran para orang kaya memang sulit untuk dipahami." Katanya mengabaikan poin terakhir yang Adit singgung.


Untuk saat ini Rein masih berada diambang kebingungan. Dia tidak bisa mematok siapa yang benar dan siapa pula yang salah karena pada dasarnya dia di sini adalah korban terlepas siapapun yang bersalah.


Setelah itu mereka tidak berbicara lagi. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing dan tidak saling mengganggu. Ini terus saja berlanjut sampai seseorang yang coba Rein hindari beberapa hari ini datang menghampirinya.


"Rein," Panggil Dimas di bawah pengawasan mata tajam Adit.


Adit tidak mencegah Dimas untuk mendekati Rein karena ia pikir Rein butuh waktu untuk berbicara dengan Dimas. Ia yakin, setelah malam itu Rein tidak akan pernah memiliki kemauan untuk tinggal bersama dengan Dimas atau mungkin... lebih tepatnya, Rein sudah kehilangan kepercayaan kepada Dimas.


"Dimas." Rein menoleh, merasakan sesak dihatinya ketika mengingat semua percakapan Davin dan Adit malam itu.


Benarkah laki-laki yang pernah menjadi sandaran terkuatnya selama tahun-tahun sulit itu adalah orang yang menjadi alasan kenapa ia melalui semua kesulitan itu?


Benar, Rein tidak akan tahu jika ia tidak bertanya langsung kepadanya.


"Aku ingin berbicara dengan mu, Rein." Pinta Dimas dengan nada lemahnya.


Dia terlihat jauh lebih kurus daripada sebelumnya. Ada noda hitam di bawah matanya karena sering melewati malam tanpa tidur.


Rein melirik Adit kemudian beralih menatap Dimas.


"Tentu. Aku juga ingin berbicara denganmu."