My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
54. (54)



"Anggi minta maaf... Anggi tidak bermaksud membohongi kalian. Anggi hanya..." Dia mengangkat kepalanya sehingga kedua orang tuanya bisa melihat wajah basah Anggi karena terlalu banyak menangis.


"Anggi hanya tidak mampu, Bu, Yah... Anggi tidak sekuat itu..." Sambungnya terdengar menyedihkan.


Apa yang harus dia lakukan? Tuhan tahu batapu takut hatinya selama ini. Perlu banyak waktu untuk meyakinkan diri sendiri bila semuanya sudah berakhir, bila semuanya hanyalah sebuah kecelakaan yang disengaja, dan bila dia hanyalah korban di sini. Dia memerlukan banyak episode keraguan untuk mengahadapi dirinya sendiri, meyakinkan dirinya sendiri bila dia masih layak dan masih bisa bermimpi untuk mendapatkan cinta sejati. Untuk sampai ke tahap ini, ada banyak cobaan yang menerpanya. Misalnya seperti yang terjadi beberapa bulan lalu ketika para pelayan menggosipkan luka lama di hatinya. Saat itu betapa rendah kepercayaan dirinya sampai-sampai dia menyimpulkan di dalam hatinya bahwa apa yang para pelayan itu katakan memang benar, dia tidak selayak itu dan dia juga sekotor itu. Dia tidak memiliki keberanian besar untuk menyangkalnya sampai akhirnya Adit datang dan memaksaku dirinya. Adit menekannya, mengatakan bila dia harus kuat dan membawa kemuliaan dari Rein, nyonya Demian. Saat itu Anggi sangat terpukul. Dia sungguh sangat terpukul. Betapa dalam perasaannya kepada Adit dan betapa dilema hatinya untuk Adit.


Karena Adit dia rela mengambil pijakan lain, berani melangkah jauh sekalipun dia tahu bahwa ini harus melanggar batasnya dan sekalipun dia tahu bahwa perasaannya ini mungkin tidak terbalaskan.


Semua keberaniannya berasal dari Adit dan tumbuh karena Adit pula. Oleh sebab itu Anggi sama sekali tidak menunjukkan perasaan jijiknya kepada Adit, dia juga tidak melawan ketika Adit menyentuhnya walaupun ada kalanya dia merasa tegang tapi di jauh di dalam alam bawah sadarnya, ada sebuah bisikan yang selalu mengingatkan Anggi bahwa Adit adalah orang yang berbeda, orang yang memang sepantasnya untuk merasakan cintanya.


Dan dari sini lah kepercayaan dirinya perlahan-lahan tumbuh. Dia takut kehilangan Adit dan mulai berjuang keras untuk mendapatkan perhatian Adit.


Klise memang. Tapi inilah yang terjadi sebenarnya. Adit adalah kekuatan yang mampu membuatnya bertahan sampai dengan detik ini. Adit membantunya untuk menghadapi rasa sakit ini dan berjanji akan selalu bersamanya. Tuhan tahu betapa bahagia hatinya.


"Apa yang membuat kamu tak bisa mengatakannya, nak? Apakah kamu tidak mengenal kami? Apakah kamu tidak percaya bila kami akan selalu menerima kamu dan memelukmu di kala duka?" Ibu bertanya marah.


Dia marah sekaligus sedih karena terlambat mengetahui penderitaan putrinya di luar sana. Dia pikir putrinya selama ini hidup dengan bahagia dan menikmati kehidupan yang menyenangkan sebab putrinya selalu tersenyum tiap kali pulang ke rumah. Tidak disangka, dibalik semua itu putrinya ternyata sangat menderita. Dia menderita sendirian dan tidak memiliki keberanian besar untuk mengatakannya. Hati orang tua mana yang tidak akan sakit bila kejadian ini menimpa anak atau putrinya?


"Bu, tolong mengerti lah posisi Anggi. Dia memiliki trauma besar akibat masalah ini. Karena masalah ini dia sering kali meragukan dirinya sendiri dan tidak memiliki kepercayaan yang tinggi. Dan karena tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi dia memilih untuk memendam semua masalah ini sendirian." Adit langsung menjawab pertanyaan Ibu dengan sabar pengertian bahwa Ibu pasti sangat tertekan hari ini.


Dia bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Ibu tapi rasanya agak salah melihatnya terus menekan Anggi. Dia tidak bermaksud apa-apa, tapi dia hanya tidak nyaman karena kekasihnya diperlakukan sedemikian rupa oleh Ibu sekalipun Ibu adalah kedua orang tua kekasihnya.


"Aku...aku minta maaf." Ibu mengusap wajahnya yang basah, tersenyum malu, setelah selesai mengusap wajahnya dia beralih mulai mengusap wajah basah putrinya. Menghapus setiap lelehan air mata yang tidak mau berhenti keluar dari pelupuk matanya.


Rasanya sungguh sangat menyayat hati melihat kedua orang tuanya menangis karena dirinya. Menangis bukan karena kebahagiaan tapi karena rada bersalah, mengapa mereka tidak ada di samping Anggi saat melalui semua itu.


"Bu, Ayah...aku minta maaf sebelumnya. Kejadian itu memang sangat membekas di dalam hatiku. Seperti yang dikatakan oleh mas Adit tadi, aku perlu banyak waktu untuk menelaah semua yang terjadi. Aku perlu banyak waktu untuk menerimanya dan memiliki banyak keraguan saat ingin membicarakannya dengan kalian. Daripada memberi tahu kalian semua rasa sakit ini, aku lebih suka memendam semuanya sendirian dan berharap kalian tidak akan tahu masalah ini karena masalah ini terlalu berat...masalah ini membuatku merasa jijik berkali-kali rasanya jadi aku lebih suka menguburnya sendirian. Jika bukan karena Doni...jika bukan karena laki-laki jahat itu, maka kalian mungkin tidak akan pernah tahu dalam hidup bila ada masa kelam di dalam hidupku yang tidak akan pernah bisa dihapuskan. Aku sungguh menyesal dan ketakutan, Bu. Aku hampir gila karena masalah ini. Apa Ibu dan Ayah tahu? Pada saat itu aku hampir saja mengakhiri hidupku. Aku sangat sulit mempercayai bila suamiku tega melakukan itu kepadaku. Aku tidak bisa mempercayai bila laki-laki itu tega menjual ku demi uang yang tidak seberapa banyaknya. Aku sangat hancur, Bu. Aku merasa tidak bisa mempercayai siapapun pada saat itu dan aku juga takut memberitahu kalian masalah ini. Namun... untungnya ada nyonya Rein, tuan Davin, dan mas Adit yang selalu ada bersamaku. Bila tidak ada mereka di sisi ku maka mungkin...." Anggi tidak bisa menyelesaikan kata-katanya namun suara isak tangisnya yang menyedihkan membuat semua orang tertekan.


Adit terdiam di sisi lain. Dia menatap sang kekasih yang sedang terluka kini tengah menangis di dalam pelukan Ibu dan Ayah. Sudah lama sekali kekasihnya merindukan pelukan hangat ini. Mungkin tidak ada yang tahu tapi Adit mengenalnya dengan baik orang seperti apa Anggi. Dia mengatakan tidak tapi sejujur dia menginginkannya. Dia kesepian dan lelah menahan semuanya sendirian tapi sayangnya tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakan. Dia sejujurnya sangat tersiksa tapi sekali lagi hanya bisa menahan semuanya sendirian.


Adit sejujurnya tidak ingin bertindak kejam kepadanya. Dia tidak ingin mengabaikan Anggi namun juga tidak ingin melihatnya terluka oleh sebab itu, dengan memaksanya menjadi wanita yang kuat dan tegas, Anggi setidaknya tidak selemah dulu. Dengan menekannya menjadi wanita yang pembersih, orang-orang akan berpikir dua kali saat akan menyakitinya. Adit telah lama memikirkannya dan berusaha bertindak normal seolah tak melihat kegelisahan hati Anggi. Karena dia ingin Anggi hidup bahagia dengan caranya sendiri.