My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
148. Tamu Tak Diundang



Besoknya Davin tidak pergi ke kantor dan menyerahkan semua urusan kantor kepada bawahannya. Davin bilang sudah saatnya para pejabat korup itu bekerja dengan serius jika ingin karirnya tidak hancur.


Aneh pikir Rein. Untuk pertama kalinya sang kekasih bisa santai di rumah tapi pada saat yang bersamaan juga tampak sibuk. Rein mengawasi Davin selama pagi ini. Kekasihnya itu seringkali berbisik dengan Adit dan melihat ponselnya beberapa kali. Entah apa yang mereka bicarakan tapi Rein tidak terganggu dengan tingkah mereka. Toh, Davin bukan Revan yang memiliki dua cabang dalam hal ranjang. Paham, bukan?


Tapi meskipun begitu Rein masih iseng menjahili mereka berdua.


"Dari pagi aku lihat kalian berdua sangat senang berbisik-bisik. Emang kalian berdua lagi ngomongin apa sih kok serius banget?" Tanyaku dengan bibir mengerucutkan yang dibuat-buat.


"Bukan masalah penting, ini hanya masalah kantor saja." Nada suaranya santai, sikapnya tenang, dan ekspresinya tidak menunjukkan kecurigaan.


Tapi karena inilah Rein semakin curiga bila Davin sedang berbohong kepadanya. Hem, walaupun berbohong Rein tahu jika topik pembicaraan mereka tidak jauh-jauh dari urusan kantor. Nah, jika begini Davin sebenarnya sedang berbohong atau tidak?!


Jangan ditanya, Rein sendiri bingung memikirkannya. Tapi ya sudahlah, dia melemparkannya ke kepala belakang karena dia tidak memiliki minat ikut campur dalam bisnis mereka.


"Oh astaga, aku pikir kalian berdua selingkuh di belakang ku hahahah... habisnya kalian berdua nempel terus sih kayak orang pacaran saja." Kataku sambil lalu keluar dari ruang tamu.


Davin dan Adit tercengang di tempat, beberapa detik kemudian wajah mereka langsung berubah menjadi muram setelah mencerna kata-kata Rein. Mereka saling pandang dengan rasa jijik di mata masing-masing. Tak perlu dikatakan lagi, mereka berdua jelas tidak memiliki keinginan untuk berbelok.


"Enyah lah, kenapa kamu suka sekali menempeli ku." Usir Davin seraya menjaga jarak dari sahabatnya.


Adit gatal ingin mengumpat tapi masih berpikir waras jika Davin adalah bos-nya, hem, bos berkepala batu yang mulai dipertanyakan kewarasannya.


"Bos aku tidak tertarik pada Anda ataupun dengan jenis Anda yang lainnya." Kata Adit mengultimatum dengan wajah datarnya.


Davin juga tidak ingin kalah,"Aku juga tidak tertarik kepadamu ataupun dengan jenis kamu yang lainnya." Katanya angkuh.


Bibir Adit bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu. Namun hati nuraninya mengingatkan bahwa sia-sia berbicara dengan orang yang masih dipertanyakan tingkat kewarasannya.


Canggung, Davin berdehem ringan,"Jangan terlalu mewah karena Rein tidak akan Menyukainya. Aku ingin konsep yang sederhana saja karena Rein sudah lebih dari cukup istimewa untukku." Kata Davin kembali ke dalam topik pembicaraan mereka.


Adit dengan cepat menyesuaikan suasana. Dia mengotak atik ponselnya untuk melakukan sesuatu.


"Aku akan segera menyiapkannya, bos, jadi kamu tidak perlu khawatir. Tapi masalah ini," Dia mengangkat kepalanya untuk menatap Davin.


"Apakah kamu tidak ingin memberitahu Kakek dan keluargamu yang lain. Karena biar bagaimanapun mereka adalah keluargamu di sini." Sekarang gaya bicara Adit beralih dari bawahan yang cakap menjadi sahabat yang peduli.


Disebutkan tentang mereka, Davin mendengus tidak perduli. Dia meluruskan kakinya di atas meja dan menyilang kan nya dengan kaki yang lain. Dia terlihat santai tapi pada saat yang sama juga tidak.


"Adit," Katanya dengan pandangan menerawang."Keluargaku sudah lama mati. Jadi mengapa aku harus memberitahu orang asing mengenai kehidupan pribadi, ku? Aku rasa itu tidak masuk akal."


🍃🍃🍃


Pada sore hari Rein dan anak-anak sedang bermain di halaman depan. Tiba-tiba sebuah mobil Porsche berhenti tepat di depan halaman vila Davin. Fokus Rein seketika teralihkan. Ia dan kedua anaknya menatap penuh penasaran pada mobil mewah tersebut. Rein pribadi bertanya-tanya siapa gerangan pemilik mobil mewah ini. Apakah dia rekan kerja Davin atau justru anggota keluarga Davin.


Dia tidak ingin mempermalukan Davin, sebagai tuan rumah dia mengambil inisiatif untuk menyambut kedatangan tamu tersebut.


Tapi anak-anak adalah anak-anak apalagi mereka adalah laki-laki. Ketika melihat mobil Porsche yang terparkir di depan halaman, mereka berdua menjadi sangat bersemangat karena baru pertama kali melihat mobil mainan versi besar secara langsung.


"Mom, Aska boleh ikut, enggak?" Tanya Aska memohon.


Tio juga ikut memohon,"Tio juga mau ikut ke sana, Mommy." Rengek nya memohon.


"Enggak boleh ya, Nak. Mommy gak mau kalian mengganggu tamu Daddy." Tolaknya lembut.


Tapi Aska dan Tio semakin memohon, mereka merengek-rengek sambil menggoyang-goyangkan tangan Rein.


Rein menghela nafas panjang, dia menatap mobil itu dan beralih menatap anak-anaknya. Tidak ada pilihan lain, ia pikir tidak ada salahnya mengajak anak-anak ikut bersamanya. Lagipula ia juga gugup bertemu langsung dengan orang penting.


"Baiklah, tapi kalian harus patuh di samping, Mommy, dan jangan membuat masalah, mengerti?" Kata Rein memberikan syarat.


"Mengerti, Mom!" Aska dan Tio dengan kompak menyanggupi.


Rein menghela nafas lega. Ia menggenggam erat kedua tangan putranya seraya berjalan ke arah mobil mewah itu. Belum sampai mereka di depan mobil mewah itu, pintu mobil tiba-tiba terbuka menampilkan sosok wanita cantik nan tinggi yang membuat cemburu. Figur wanita itu sangat eye catching, rambut hitam lebatnya dibiarkan tergerai dengan kaca mata hitam di atas kepalanya. Selebihnya, dia menggunakan pakaian dari merk berkelas yang sangat sesuai dipadukan dengan bentuk tubuhnya yang ramping dan menggoda.


Sekilas, Rein tiba-tiba teringat dengan wanita seksi yang berbagi ciuman panas dengan Davin 5 tahun yang lalu. Mood Rein langsung menjadi buruk, ia menatap datar wanita itu sambil menahan rasa sesak di dadanya.


Jadi tunangannya benar-benar pulang ke Indonesia? Batin Rein mencibir.


"Mom?" Panggil Tio sambil mendongak ke atas menatap Rein yang masih tenggelam di dalam pikirannya.


"Mom, Tio mau bobo." Kata Tio tiba-tiba tidak tertarik lagi dengan mobil mewah itu.


Wajahnya yang tadi ceria kini terlihat cemberut dengan aura kekanak-kanakannya yang lembut.


Rein menghela nafas panjang, dia menatap putranya dengan tatapan getir. Hari itu dia dan Tio melihat sendiri bagaimana Davin bermesraan dengan wanita ini. Meskipun Davin tidak bermaksud melakukannya tapi hati Rein masih sakit dan tidak bisa menerimanya semudah itu.


"Okay, kita akan pergi bobo sekarang." Bisiknya lembut.


Aska sebenarnya ingin melihat mobil itu, tapi Rein dan Tio tidak mau pergi sehingga ia pun mulai kehilangan minat.


"Aska mau makan, Mom." Katanya kepada Rein.


Rein tersenyum,"Okay, Mommy akan masakin Aska masakan lezat di dapur." Janjinya.


Mereka bertiga lalu berbelok ke arah pintu masuk tanpa niat menyapa wanita cantik itu. Kebetulan pintu masuk dibuka oleh Davin dari dalam.


Rein menghentikan langkahnya, tersenyum sinis,"Oh, kebetulan sekali. Aku baru ingin memberitahumu jika tunangan mu ada di depan untuk mencari mu." Ucapnya acuh tak acuh.


Davin yang tiba-tiba diberikan tatapan sinis oleh kekasihnya,"...." Sebelumnya kami masih baik-baik!