My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
219



"Aku tidak membutuhkannya! Lagipula wajar saja milikku berdarah karena tidak pernah dipakai sebelumnya. Dan di tambah lagi...punyamu terlalu besar untuk ku..." Bantah Rein dengan suara mencicit.


Rein memalingkan wajahnya ke samping berpura-pura melihat ke arah lain. Rasanya geli juga menyenangkan, suasana manis ini sungguh berbeda dengan hari-hari yang telah berlalu di antara mereka berdua. Mungkin karena mereka sekarang sudah sah saling memiliki sehingga hati yang telah berjamur dalam intensitas cinta kian meleleh saja rasanya.


"Oh yah," Davin menggeser posisi duduknya di samping sang istri.


Istrinya sedang malu, bagaimana mungkin dia tidak tahu dan tidak melihatnya?


Davin tidak tahan dan memutuskan untuk terus menggoda istrinya sampai dirinya terpuaskan. Hei, reaksi malu-malu istrinya terlalu menggemaskan untuk dilewatkan.


"Punyaku besar, tapi kamu menyukai rasanya'kan? Aku ingat semalam kamu berteriak-teriak meminta ku untuk melakukannya lagi-"


"Mas Davin berbicara omong kosong lagi!" Potong Rein sangat malu.


Dia menatap cemberut suaminya dengan bibir merah bengkak mengerucut tampak imut. Tanpa menahan diri lagi Davin mengangkat tangan kanan untuk meraih kulit lembut Rein dan mencubit pipi itu dengan tenaga ringan takut meninggalkan bekas.


Rein mengaduh, memegang pipinya yang dicubit oleh sang suami- padahal sejujurnya Davin tidak menggunakan kekuatan besar untuk mencubit pipinya tapi Rein masih berpura-pura kesakitan di depan Davin, bersikap manja dan rapuh.


"Maaf, apakah rasanya sakit?" Davin melepaskan tangannya.


Jari-jari yang panjang mengelus ringan pipi lembut Rein yang semakin memerah saja rupanya. Ini membuat Davin salah memahaminya dan mengira jika pipi Rein semakin merah karena cubitannya.


"Sakit, jadi jangan mencubit pipiku lagi!" Kata Rein pura-pura merajuk.


Davin mengangguk serius. Mengelus pipi merah istrinya sebelum menghadiahi pipi istrinya yang merah dengan sebuah kecupan basah.


Rein merasa bersalah karena telah mengerjai sang suami. Karena itu dia memalingkan wajahnya ingin menghindar dari tatapan lembut sang suami dan tidak sengaja melihat bubur putih yang masih mengepulkan asap hangat di atas nakas samping tempat tidur.


"Mas Davin, aku ingin makan." Kata Rein sambil menunjuk makanan di atas nakas.


Tapi Rein heran melihat semua makanan yang Davin bawa ke kamarnya... terlihat seperti bubur. Tiga mangkuk bubur, Rein tidak yakin semua makanan ini untuknya.


"Oh astaga, aku melupakan sesuatu yang penting!" Davin menepuk jidatnya lupa.


Dia lalu mengambil bubur putih yang paling mencolok di antara bubur bubur yang lainnya. Warnanya yang polos dan memiliki tekstur ringan membuat seseorang tidak berhenti menatapnya- bukan karena terlihat lezat tapi karena terlihat sangat ringan, ah!


"Aku bisa makan sendiri!" Rein ingin mengambil mangkuk itu dari Davin tapi sang suami menolak untuk memberikannya kepada Rein.


"Aku yang membuatmu seperti ini jadi aku harus bertanggungjawab kepadamu. Salah satu pertanggungjawaban yang harus aku lakukan adalah memberimu makan. Aaa...ayo sayang, buka mulutmu lebar-lebar agar kamu bisa menelannya."


Mulut Rein berkedut tampak sangat tidak setuju karena yang sakit hanya bagian bawahnya dan bukan kedua tangannya, okay!


Tapi melihat tatapan penuh harap dari sang suami, Rein tidak punya pilihan selain membuka mulutnya dengan patuh dan menelan suapan pertama bubur itu ke dalam perutnya.


Rasanya.... sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena ini sangat ringan!


Apa bedanya dia makan nasi putih yang telah dihancurkan dengan paksa dan dicampur dengan air putih!


Sangat tawar!