My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
110. Buruk Rupa



"Jangan bercanda, maaf tidak berlaku untuk Davin Demian, tidakkah ada yang pernah mengajarimu kata-kata ini?"


Yuni menggelengkan kepalanya dengan panik. Riasan di wajahnya yang sudah kacau karena air mata adalah pemandangan menarik yang pernah Davin lihat dalam hidupnya. Menarik?


Oh astaga, jangan bercanda. Kata ini terdengar terlalu menggelikan untuk wanita rendahan dan tidak tahu malu di depannya ini. Daripada disebut menarik, Davin lebih suka menyebutnya,


"Menyedihkan." Ucap Davin datar seketika membuat Yuni merinding.


Davin mengangkat tangannya tinggi,"Adit." Panggilnya kepada laki-laki berwajah datar di belakang.


"Bos." Adit dengan pengertian mengeluarkan barang berbahaya yang sebelumnya membuat keributan.


Memberikannya kepada Davin tanpa menunggu Davin memberikan perintah lebih. Davin menerima barang tersebut, memutar-mutarnya di depan Yuni yang praktis telah berwajah biru ketakutan.


Yuni meneguk ludahnya kasar, kedua tangan dan kakinya lemah sulit digerakkan tapi ia masih berusaha untuk menjauh dari Davin. Ketakutan, ia bergerak menjauh dari Davin dengan mengesot di tanah. Membiarkan pakaian mahalnya ternodai tanah karena hidupnya jauh lebih penting daripada apapun.


"Aku mohon jangan bunuh aku, Pak." Mohon Yuni dengan suara isakan tertahan.


Dihadapkan dengan barang berbahaya di tangan Davin, dia dengan bijaksana menahan suara isak tangisnya agar tidak membuat Davin kian marah.


"Oh ya, apa yang harus aku lakukan kepadamu? Apakah penting bagiku mendengar mu memohon untuk diberikan hidup pada saat yang bersamaan kamu tidak perduli dengan hidup kekasihku? Apakah kamu adalah seorang pelawak? Kenapa setiap kata yang kamu ucapkan adalah sebuah lelucon?" Davin bertanya heran, membuat Yuni bahkan hampir semua orang yang ada di sini menatapnya ngeri.


Saat ini Davin lebih terlihat sebagai ketua mafia daripada seorang CEO dingin yang telah meluluhlantakkan hati karyawan wanitanya. Hanya dalam beberapa jam kesan semua orang terhadap Davin berubah 360 derajat. Ketampanan memang masih memiliki nilai yang tinggi namun semua itu terlihat sangat mustahil saat melihat sisi gelap Davin.


"Pak Davin, aku minta maaf. Tolong maafkan kesalahan ku, Pak. Aku mengakui hiks..aku mengakui bahwa aku memang sengaja menjebak Rein ke dalam hutan tapi aku sungguh tidak menyangka bila ini akan berdampak buruk untuk Pak Davin. Aku...aku hanya ingin memberikannya pelajaran agar jangan mengganggu Pak Davin lagi karena Anda sudah memiliki tunangan-"


"Melelahkan berbicara dengan orang idiot sepertimu." Dia lalu melemparkan barang berbahaya itu ke belakang yang langsung di tangkap oleh Adit.


Ketika melihat Davin sudah tidak memegang batang berbahaya itu, semua orang menghela nafas lega karena adegan berdarah yang mereka bayangkan nyatanya tidak terjadi.


Haah... Davin adalah Davin, dia masihlah seorang manusia sekejam apapun dirinya. Dia tidak mungkin menghilangkan nyawa manusia apalagi sampai melukai-


Sreg


Suara sobekan nyaring menarik mereka dari kelegaan.


Tik


Tik


Tik


Darah merah segar mengalir deras dari wajah kacau Yuni- ah, sekarang tidak lagi tapi kacau tapi telah berevolusi menjadi wanita buruk rupa.


"Arghh...!" Yuni berteriak kesakitan sambil memegang wajahnya yang telah bersimbah darah.


Ia dengan sekuat tenaga mundur ke belakang menjauhi Davin sejauh yang ia bisa. Sambil terisak menahan sakit, ia meminta pertolongan kepada rekan-rekan kerjanya tapi tidak ada yang berani menolong karena suasana benar-benar diluar dugaan.


Tidak ada yang menduga bila Davin! bila Davin, CEO kebanggaan perusahaan mereka melakukan tindakan yang sangat kejam. Davin menggores wajah Yuni dengan sebuah pisau kecil yang sangat tajam dan didapatkan entah darimana. Para karyawan wanita yang melihat kondisi wajah Yuni memperkirakan bahwa wajah Yuni tidak akan bisa kembali seperti semula. Luka itu akan membekas selama seumur hidup Yuni dan ini adalah sebuah aib yang tidak bisa ditunjukkan.


Sayatan itu memanjang dari pipi kiri hingga ke pipi kanan, memperlihatkan daging merah nan segar yang tampak santai mengerikan untuk para karyawan wanita.


Para karyawan laki-laki tidak tega melihat rekan kerja mereka seperti ini, mereka kasihan apalagi saat melihat cucuran darah di wajah Yuni. Mereka tidak bisa tinggal diam hanya menonton saja akan tetapi nyali mereka langsung menciut saat melihat para pengawal Davin tiba-tiba menodongkan pistol ke arah mereka- barang berbahaya yang sebelumnya membuat mereka ketakutan.


Tindakan ini membuat semua orang dilanda panik. Mereka ingin melarikan diri tapi tidak punya jalan keluar sebab orang-orang berbaju hitam yang mereka yakini sebagai pengawal Davin telah mengepung mereka sepenuhnya.


Apakah akan terjadi sebuah pembantaian?


Otak mereka berteriak ketakutan. Mereka tahu bahwa Davin tidak akan ragu melakukan itu karena dia punya kekuasaan dan mungkin tergabung dalam kelompok bawah tanah yang sangat tabu dibicarakan. Bukankah Davin terlalu tidak manusiawi?


"Davin," Suara lembut Rein memanggil Davin.


Davin tertegun, kemarahan yang sempat berkobar tadi tiba-tiba meluap entah kemana. Ia segera menoleh ke belakang, menatap lembut Rein yang kini tengah menatapnya cemberut.


"Jangan membuat mereka takut. Sudah, hentikan semua ini. Aku tidak ingin kamu menakuti-nakuti mereka." Kata Rein dengan nada mengancam.


Davin menghela nafas panjang, ia membuang pisau kecil itu entah kemana dan berjalan mendekati Rein. Ia ingin menyentuh Rein tapi orang yang ingin dia sentuh bergerak menyamping menghindari sentuhannya.


"Rein," Panggil Davin teraniaya.


Rein menghela nafas panjang. Menunjuk tangan Davin yang ternodai darah merah.


"Kamu kotor, aku tidak ingin disentuh olehmu selama kamu belum membersihkan diri." Kata Rein kian cemberut.


Davin melihat noda merah ditangannya, kesal, ia sontak melemparkan tatapan tajamnya ke arah Yuni yang kini tengah meringkuk di tengah-tengah halaman.


"Enyah sebelum kamu menyesal." Ucap Davin dingin.


Yuni menahan isak tangisnya, mundur secepat yang ia bisa dan pergi melarikan diri untuk menyelamatkan hidupnya.


Setelah Yuni pergi, Davin menarik Rein dengan tangannya yang tidak ternodai darah, meskipun sempat menolak tapi ujung-ujungnya Rein masih mengikuti Davin masuk ke dalam penginapan.


"Hukuman ini hanya berlaku bila kalian mencoba menyentuh batas kesabaran bos." Kata Adit di depan semua orang.


"Tentu saja, batas kesabaran yang aku maksud di sini adalah urusan pribadi bos Davin. Seperti wanita itu, kalian akan bernasib sama bila mencoba menyentuh Nyonya Rein dan Tuan muda." Dia kemudian menoleh pada salah satu pengawal yang setia berdiri di belakangnya.


"Aku tahu kalian ketakutan dan panik, ini wajar. Maka dari itu bos Davin berpesan kepadaku bila kalian ingin mengundurkan diri dari perusahaan, kalian bisa mulai mendaftar hari ini atau kalian bisa menghubungi langsung HRD untuk menyerahkan surat pengunduran diri kalian besok di perusahaan. Untuk masalah gaji dan sebagainya perusahaan akan bertanggungjawab sepenuhnya kalian tidak perlu takut hak kalian tidak diberikan. Jadi, apakah ada yang mulai mendaftar saat ini?" Tanya Adit seraya mengotak-atik iPad di tangannya.


Ia memasukkan kata sandi, lalu masuk ke dalam data HRD yang kini tengah menunjukkan hampir 1000 pegawai tetap perusahaan yang Davin pimpin.


Diam membisu, semua orang jelas tidak ingin keluar dari perusahaan. Sekalipun mereka masih takut tapi mereka tidak akan bodoh menggunakan alasan ini untuk berhenti bekerja.


Toh, Davin marah karena masalah pribadinya di sentuh oleh orang asing jadi wajar saja.


Tersenyum dingin,"Aku tahu kalian cerdas." Ucapnya sebelum berbalik pergi meninggalkan kerumunan.


...🍃🍃🍃...


Rein menatap acuh tak acuh wajah polos Davin yang dibuat-buat. Di dalam benaknya ia tidak pernah berpikir bila laki-laki arogan ini nyatanya juga memiliki sisi gelap- atau lebih tepatnya sebut saja kejam.


"Katakan dengan jujur apa kamu sebenarnya ketua mafia atau peran-peran jahat yang setara dengannya!"


Davin masih mempertahankan wajah polosnya.


"Rein, aku tidak mengerti dengan apa yang kamu maksud."


Rein tersenyum manis,"Oh ya, kalau begitu aku tidak keberatan mengingkari janji di hutan tadi."


Davin menolak dengan tegas,"Kamu tidak bisa melakukan itu!"


Rein bertanya dengan ekspresi polos yang dibuat-buat.


"Kenapa tidak bisa? bukankah janji juga dibuat untuk diingkari?"


Bersambung...