My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
187



"Tuan bilang kartu ini milik Nyonya sekarang."


Rein terkejut. Tangannya bergetar gugup saat menatap kartu gold di tangannya yang didesain dengan mewah dan penuh vitalitas glamor.


Dia tidak pernah bermimpi suatu hari nanti akan mendapatkan barang seberharga ini. Dia bertanya-tanya, kebaikan apa yang pernah dia lakukan dalam hidup ini hingga Tuhan mengirimkannya begitu banyak keberuntungan.


"Aku...aku tidak tahu harus menyimpannya dimana. Kartu ini sangat berharga, kan? Jika hilang, Davin tidak bisa mendapatkan yang lain." Rein tiba-tiba bingung menaruh harta berharga ini dimana.


Otaknya seketika macet tidak bisa berpikir normal seperti biasanya.


"Ada apa?" Suara berat Davin langsung menguraikan kebingungan Rein.


"Dav?" Panggil Rein lembut.


Melihat Davin ada di sini, Anggi dengan bijaksana mundur dan keluar dari kamar Rein. Memberikan kedua majikannya waktu untuk berduaan.


"Ada apa, Hem?" Davin menyentuh puncak kepala kekasihnya yang lembut.


"Dav, benda ini terlalu berharga. Aku tidak tahu harus menyimpannya dimana. Bagaimana bila benda ini menghilang?" Ucap Rein bingung.


Mengikuti benda yang Rein maksud, Davin tiba-tiba langsung mengerti kepolosan kekasihnya. Kekasihnya ini terlalu sederhana dan cukup polos untuk hal-hal bersifat mewah. Terkadang Davin bersyukur dengan sifat istrinya yang tidak serakah dan terkadang pula, Davin gemas dengan kepolosan istrinya yang terlalu polos sampai-sampai enggan membelanjakan uang yang Davin berikan.


"Rein, ini adalah hadiah Mama buat kamu." Kata Davin membuat Rein langsung terkejut.


Davin tersenyum tidak berdaya. Salahkan dirinya yang tidak menjelaskan Rein terlebih dahulu.


"Mama memiliki saham sekian persen di perusahaan perhiasan ini. Dan karena Mama telah tiada maka keuntungan saham itu dilimpahkan kepadaku. Meskipun Mama tidak pernah mengatakannya secara langsung kepadaku, tapi pengacara yang Mama pilih untuk mengurus semua saham-sahamnya di perusahaan itu pernah mengatakan jika Mana ingin mengalihkan semua miliknya kepada seorang wanita yang bernama Rein Xia, kekasih putranya. Namun sayang, sebelum Mama dapat mengalihkannya Tuhan lebih dulu memanggilnya pulang. Tapi sekarang ada aku, Rein. Akulah yang akan memenuhi semua keinginan Mama yang belum bisa tercapai waktu itu. Dan kartu ini, sebenarnya aku ingin memberikannya kepadamu sebelum kecelakaan itu terjadi atau lebih tepatnya di hari pernikahan kita. Tapi karena takdir berkata lain, maka semua rencana ku harus diundur dan barulah kemarin aku kembali mengingatnya. Aku meminta Anggi memberikannya kepadamu dan seharusnya dia sudah menjelaskan semuanya, kan?"


Rein menganggukkan kepalanya kosong, sedetik kemudian dia menggelengkan terlihat sangat imut. Dia masih sangat sulit mempercayai kebenaran ini. Mama Davin rupanya menganggap serius hubungannya dengan Davin waktu itu dan bahkan berencana memberikannya harta yang ada sangat melimpah. Rein... sangat terharu tapi pada saat yang sama dia merasa sedih. Sedih karena pertemuan mereka tidak cukup lama untuk saling mengenal bersama. Jika Tuhan tidak memanggil mereka pulang secepat itu, mungkin kebahagiaan Davin hari ini akan berlipat ganda karena semua orang yang dia cintai hadir di sisinya.


"Dia bilang kartu ini hadiah kerjasama." Kata Rein.


Davin tersenyum,"Yah, aku lupa memberitahunya dan kamu akan menjelaskannya nanti agar dia tidak salah paham mengenai asal muasal benda ini."


"Tapi Davin, jika Mama sebelumnya ingin memindahkan sahamnya beralih menjadi atas namaku, maka bagaimana dengan Aska? Bukankah seharusnya dia harus memiliki sesuatu ditangannya?" Rein tidak bisa tidak merasa heran.


Davin mencubit pipi Rein gemas, menariknya lebih dekat dengannya agar wajah Rein terangkat ke atas menghadapnya. Sekejap mata kemudian, bibir ranum Rein dikecup oleh Davin. Awalnya hanya sentuhan ringan tapi lama-lama Davin tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dia memakan habis daging lembut Rein, membuat Rein pusing dan terlena dibuatnya. Tangan yang sebelumnya mencubit pipi Rein kini beralih memegang tengkuk Rein, menekannya kuat agar Rein terkunci dan tidak dapat melarikan diri kemanapun.


Rein mulai kehabisan nafas, suara desahannya yang erotis kian membuat Davin bersemangat. Tidak tahan menahan beban tubuh sendiri, tubuh Rein langsung menjadi lemas dan akan jatuh ke bawah jika Davin tidak segera melingkari pinggang ramping istrinya


"Hah...hah...kamu masih aja sempat-sempatnya main!" Keluh Rein seraya mencoba menstabilkan ritme nafasnya.


Dia akui Davin memang good kisser. Setiap kali terjerat dengannya, dia tanpa sadar akan terbuai dan menginginkan sentuhan yang lebih lagi. Jujur, ketika Davin menyentuh dirinya, Rein selalu merasa dibawa melayang tinggi ke tempat yang tidak bisa dijelaskan. Dia memiliki sebuah perasaan bahwa Davin bisa memilikinya setiap kali mendapatkan sentuhan.


Davin menyentuh sudut bengkak bibir kekasihnya, mengusap cairan saliva entah milik siapa yang meluap dari bibir kekasihnya yang bengkak dan ranum."Aku gak main-main, sayang. Aku cuma gak tahan aja liat bibir ranum kamu di anggurin." Ucap Davin dengan nada menggodanya yang menyenangkan.


Rein tersipu-sipu. Dia mengalihkan pandangannya ke bawah dan memeluk pinggang Davin sayang.


"Dav, ayo kita kembali ke topik pembicaraan kita tadi." Pinta Rein sambil menyembunyikan wajahnya yang merona terang.


"Dasar pemalu. Apa yang membuat kamu malu? Kita sudah bersama bertahun-tahun lamanya dan aku sudah melihat setiap inci dari tubuh kamu-"


"Dav, serius, ih!" Potong Rein sangat malu.


"Okay...okay, aku serius." Davin berusaha menahan tawanya.


Tatapi dadanya yang berguncang hebat telah mengkhianatinya. Rein tidak ingin memberikan komentar karena dia tahu pembicaraan vulgar ini pasti tidak akan selesai. Jadi lebih baik diam saja.


"Mama memiliki kekayaan yang sedikit dibandingkan Papa. Jika Mama memiliki saham sekian persen di perusahaan perhiasan brand ini, maka Papa memiliki saham sekian persen di perusahaan Grup Demian. Saham Papa adalah campuran dari saham miliknya dan saham Nenek saat berpisah dengan Kakek. Jadi jumlahnya lumayan besar. Ketika Mama dan Papa mengalami kecelakaan, saham Papa otomatis beralih menjadi milikku dan tidak ada yang memberikan komentar apapun mengenai hal ini di dalam rumah utama. Namun, hal yang paling membuat orang-orang serakah itu kepanasan adalah saat Kakek memindahkan sahamnya menjadi milikku. Dia bilang aku pantas mendapatkannya karena aku adalah pewarisnya. Tapi aku harus melewati beberapa ujian agar benar-benar resmi memilikinya. Dan lihatlah sekarang, dengan kamu dan anak-anak, aku bisa bertahan menghadapi orang-orang serakah itu sehingga saham Kakek akhirnya resmi menjadi milikku. Namun tidak ada yang tahu soal pengalihan ini kecuali Kakek dan aku, di samping itu, dengan berpura-pura lumpuh, orang-orang serakah itu menganggap diri mereka berada di atas angin. Mereka pikir aku gagal dan tidak mendapatkan apapun. Padahal mereka tidak tahu aku sudah memiliki sebanyak 50 persen saham di perusahaan. 15 persennya dari milik Papa dan 35 persennya dari Kakek. Dari kekayaan ini saja tidak akan ada yang berani macam-macam kepadaku."


Urusan keluarga Demian sangat rumit. Apalagi berbicara saham, Rein harus mencernanya dengan hati-hati agar bisa memahaminya dengan baik.


"Ini sangat banyak, Dav. Kamu hampir mengakuisisi perusahaan Group Demian." Kata Rein merasa sangat luar biasa setelah mendengarnya.