My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
70. 70 (3)



Sore harinya langit sore di atas pulau berkibar cerah diiringi oleh suara gelak tawa orang-orang di pulau. Mereka bercanda, tertawa, bahkan menari dengan pasangan masing-masing mengikut musik lembut nan ceria yang berputar di dalam pendengaran semua orang. Ijab kabul telah dilaksanakan dan berlanjut dengan acara resepsi yang telah direncanakan semua orang.


Suasana sore yang biasanya membawa kedamaian hari ini memiliki warna lain yang tidak biasa. Tampak hidup dan ceria sama seperti yang dirasakan oleh pasangan pengantin yang baru saja mengikat janji dihadapan semua orang. Entah disengaja atau tidak, pasangan tersebut ditarik berpisah oleh beberapa kelompok hingga mereka kesulitan untuk berbicara ataupun sekedar berpegangan tangan. Tiap kali hati yang membara ingin bertemu dan memadu kasih, akan ada beberapa orang yang akan menarik sang pengantin, entah itu Adit ataupun Anggi, mereka berdua tidak lepas dari serangan kelompok itu. Mereka tidak berdaya, diam-diam menanggung kerinduan yang telah membara di dalam hati.


"Hei, hei, kemana mata mu melihat? Tidakkah kamu melihat kami di sini sedang berbicara denganmu?" Goda mereka ketika melihat Adit tidak pernah fokus mendengarkan pembicaraan.


Sejak Adit diseret oleh mereka menjauh dari Anggi, fokusnya yang tajam langsung menurun drastis. Fokusnya lari entah kemana dan matanya terus saja mengikuti pergerakan kemana Anggi dibawa pergi oleh sekumpulan wanita yang telah mereka atur untuk menjauhi Anggi dari Adit.


"Tentu saja menatap istriku." Adit tidak malu mengakuinya.


Meskipun warna merah di telinganya memberitahu semua orang betapa malunya dia saat ini.


Teman-temannya segera tertawa konyol. Mereka belum pernah melihat Adit segila ini saat melihat wanita. Biasanya para wanita lah yang menggilai Adit, menghantui Adit kemanapun dia pergi hingga membuat Adit kerap kali melarikan diri ketika melihat wanita yang terlalu antusias. Teman-temannya selalu menggodanya memiliki fobia terhadap wanita karena penghindaran Adit kepada wanita sama seperti seseorang yang melarikan diri dari hama yang mematikan.


"Bro, kamu akhirnya bisa melihat keindahan seorang wanita. Aku pikir dalam hidup ini kamu akan terus melajang hingga akhir hayat mu." Ejek yang lain kembali mengundang tawa.


Pikiran Adit akhirnya ditarik dari Anggi. Dia melihat teman-teman kantornya dengan malu.


"Aku hanya belum menemukan yang tepat saja. Jadi itu bukan salahku jika aku menghindari mereka." Kata Adit merasa bersalah ditatap aneh oleh beberapa wanita yang kebetulan juga berdiri tak jauh dari perkumpulan mereka.


Beberapa wanita pernah bermimpi mendapatkan hati Adit dan mengejarnya dengan sepenuh hati, tapi apa yang mereka dapatkan justru hanyalah bahu dingin dari Adit saja. Beberapa wanita menghela nafas panjang tampak sangat murung. Beberapa wanita tak mampu menutupi kesedihan di matanya yang tidak sinkron dengan suasana ramai di pulau ini.


"Yo Adit, mata para gadis itu sangat tajam. Aku takut kamu tidak bisa melakukan malam pertama dengan lancar malam ini." Teman-temannya kembali bercanda, menggoda Adit yang sedang ditatap oleh beberapa pasang mata muram.


Adit mengabaikan para wanita disekitarnya. Tersenyum manis, wajah tampannya seketika dimabukkan oleh fantasi gairahnya. Dia tidak bisa menutupi harapan yang tersembunyi di dalam pikirannya untuk malam hangat yang akan dia lalui bersama sang istri.


"Yah, siapapun tidak akan mampu menggangu waktuku bersama Anggi." Balas Adit santai tanpa mengubah ekspresi wajahnya.


Semua orang bisa melihat apa yang dia pikirkan dan kembali mendapatkan sorakan meriah dari teman-temannya. Para laki-laki selalu seperti ini ketika mereka berkumpul. Tidak ada tabu diantara mereka kecuali urusan pribadi yang benar-benar tak boleh dibicarakan. Semua orang dapat memahami ini sehingga mereka tidak terlalu bertindak terlalu jauh. Contohnya saat membicarakan status Anggi sebelumnya yang pernah menjanda. Status ini sangat sensitif bagi siapapun sehingga tak ada yang membahasnya. Mereka mengerti bila masalah ini tidak akan bisa dilakukan disebutkan dalam percakapan jadi semua orang berusaha untuk menghindarinya.


"Adit, selamat ku ucapkan untuk pernikahan mu. Ku pikir butuh waktu lama bisa melihat mu naik ke atas pelaminan." Suara lembut seorang wanita segera menarik perhatian kelompok mereka.


Adit melirik wanita itu tanpa kejutan di matanya.


"Terima kasih. Aku sudah menantikannya selama ini." Balas Adit ringan.


Faktanya dia telah melakukan rencana yang sangat besar dan rapi untuk membuat Anggi jatuh cinta kepadanya, menyadari keberadaannya, dan memperhatikan betapa hebatnya dia sebagai laki-laki. Hampir dua tahun dia menjalankan rencana ini, memaksa Anggi secara perlahan agar jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.


Senyum wanita itu menjadi kaku, tapi beberapa detik kemudian dia kembali memulihkan senyumnya. Dengan penampilan yang anggun, dia mengangkat tangannya untuk menutupi mulutnya sambil tertawa.


Dari tawanya, mungkin wanita terdengar bercanda, tapi sekilas, semua orang bisa melihat ada permusuhan dibalik kata-katanya itu.


Wanita ini adalah model dari majalah X, putri dari seorang pengusaha sukses kota D. Beberapa bulan yang lalu wanita ini pernah santer dibicarakan semua orang di kantor karena keberaniannya mengejar Adit. Untuk mendapatkan hati Adit, dia malah membawa orang tuanya untuk bertemu Adit, memaksa hubungan diantara mereka melalui orang tuanya. Tapi sayang, saat itu Adit sama sekali tidak tersentuh ataupun tersenyum melihat dedikasi wanita kepadanya. Dia segera menolak proposal wanita tanpa mempertimbangkan keuntungan yang akan dia miliki jika menikahi wanita itu. Jelas saja wanita patah hati tapi tak pernah menyerah mengejar Adit sama seperti wanita yang lainnya.


Sekarang melihatnya di sini, pasti ada maksud tertentu dari ucapannya tadi. Semua orang yang mengenalnya mengerti ini sehingga tak ad yang berani bersuara. Suasana yang tadinya riuh dan cair tiba-tiba membeku sejak kedatangan wanita itu.


"Hahaha.. kamu sangat suka bercanda. Seperti yang aku bilang sebelumnya, saat itu aku masih belum menemukan yang tepat. Tapi dengan istriku ini hatiku tak bisa membohongi, selain itu dia juga memberikan ku bonus yang sangat berharga. Yah, dia lebih berpengalaman dari pada diriku jadi malam ini aku sangat beruntung dibimbingnya. Kamu pasti bisa membayangkan betapa nyaman yang kurasakan nanti ketika kami hanya berdua saja di dalam kamar pengantin. Bila kamu tidak bisa membayangkannya maka aku bisa bisa memberitahu-"


"Cukup." Potong wanita itu tak tahan lagi dengan kata-kata Adit.


"Hem, bagaimana mungkin kamu menyerah begitu saja? Bukankah kamu tadi sempat mempertanyakan kelebihan pasangan ku?" Adit tidak melepaskan wanita itu pergi begitu saja karena dihari yang bahagia ini, wanita ini sangat mampu memperburuk suasana hatinya. Jujur, dia tidak lebay, sungguh. Siapapun yang membicarakannya, Adit tidak akan menganggapnya serius sebab dia sudah terbiasa mendengar mulut-mulut ember orang-orang di belakangnya. Tapi jangan Anggi. Dia tidak suka bila wanita yang dicintai di bicarakan buruk ataupun diperlakukan buruk oleh orang lain. Dia kesal dan mudah emosi bila menyangkut masalah istrinya.


"Adit kamu..." Wanita itu menghela nafas panjang, kemudian nada suaranya kembali melembut. Belum terlambat mengambil Adit dari sang istri. Lagipula mereka baru saja menikah hari ini.


"Adit, apakah kamu sudah memikirkannya dengan baik?" Tanya wanita itu berbicara dengan nada yang lebih lembut.


Adit menaikkan satu alisnya tampak sangat sulit ditebak.


"Wanita itu adalah seorang janda. Kamu... apakah kamu tidak apa-apa menikah dengan bekas laki-laki lain?" Tanya wanita itu langsung mengundang kekaguman teman-teman Adit.


Mereka... mereka sangat mengagumi keberanian wanita ini untuk menggali sudut Anggi secara terang-terangan disaat yang bersamaan mereka juga ngeri dengan ambisi wanita itu yang lebih pantas disebut sebagai obsesi yang berlebihan. Bahkan sekalipun wanita ini cantik, kecantikannya tidak akan berharga bila dia memiliki tabiat yang ekstrim.


"Ouh, apa yang kamu katakan benar juga. Tapi... apakah kamu bisa menjamin bila kamu atupun para wanita lainnya masih suci?" Tanya Adit langsung membuat wanita itu tersedak. Pertanyaan ini terbilang sangat sensitif untuk para wanita.


Adit tidak memberikan wanita itu kesempatan untuk berbicara karena dia langsung menyambung ucapannya.


"Apakah kamu dan wanita itu belum di jamah pria, lain? Heh, istriku memang seorang janda tapi dia adalah wanita yang terhormat. Sedangkan kamu?" Menatapnya dengan senyuman yang tidak lagi disebut sebagai senyuman,"Jangan pernah berpikir bila aku adalah orang yang bodoh. Orang seperti kamu, aku tidak mungkin tidak mengetahuinya. Sebab kamu adalah orang yang sangat menggangu ku selama ini."


Mendengar jawaban santai Adit, teman-temannya langsung berteriak heboh. Mereka diam-diam mengacungi Adit jempol untuk keberaniannya mempermalukan seorang wanita.


Wanita itu sangat malu. Wajahnya yang bangga langsung kehilangan warna. Dia menatap Adit tidak percaya sekaligus sedih, sebab orang yang dia cintai rupanya telah menyelidiki kehidupannya diam-diam.


"Adit...kamu sangat kejam!"


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya muram, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera pergi dari kerumunan. jangan salahkan dirinya yang tidak bisa menjaga diri. Pekerjaannya adalah seorang model, dan seorang model normalnya memiliki banyak hubungan ambiguitas dengan beberapa pengusaha, pejabat, atau bahkan sesama model. Wanita itu tak bisa menampiknya sebab dia juga ikut berkecimpung dalam kebiasaan buruk ini. Mau bagaimana lagi, sebagai seorang wanita biasa, dia mana tahan tidak pergi berkencan selama seminggu saja. Dia butuh dimanja dan diperhatikan. Mungkin jika dia berhasil bersama Adit, maka ceritanya tidak akan seburuk ini. Tapi apalah daya. Dia telah lama berkecimpung dan tidak bisa menghindari jalan berlumpur.