My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
188



"Ini sangat banyak, Dav. Kamu hampir mengakuisisi perusahaan Group Demian." Kata Rein merasa sangat luar biasa setelah mendengarnya.


Davin tersenyum misterius,"Aku juga merencanakan ide ini."


"Hah, serius?" Kaget Rein.


Davin tertawa rendah,"Tidak mudah melakukannya tapi aku pasti bisa. Dan cepat atau lambat Group Demian akan jatuh ke tangan ku." Davin diam-diam telah merencanakan ini di dalam hatinya.


"Tapi 15 persen saham milik Papa adalah milik Aska. Aku sudah mendapatkan bagian dari Kakek jadi milik Papa akan menjadi milik Aska di masa depan. Sedangkan putra kita Tio, aku juga berencana memberikannya sekian persen agar dia dan Tio berada di posisi yang adil. Namun mereka harus tumbuh dewasa dulu jika ingin mendapatkannya." Mengenai masa depan anak-anaknya. Davin sudah merencanakannya sejak jauh-jauh hari untuk menghindari permusuhan seperti yang Davin alami di dalam keluarga Demian.


Dia juga akan memperlakukan anak-anaknya dengan sama rata agar tidak timbul perselisihan karena rasa iri. Semua ini telah Davin pelajari sejak tinggal di dalam keluarga Demian. Dia tidak butuh keluarga yang saling berkompetisi atau keluarga yang paling mampu, tapi dia hanya ingin keluarga yang damai dan harmonis tanpa ada perselisihan saling menjatuhkan.


"Dav, kamu adalah Daddy yang luar biasa. Anak-anak pasti bangga dan sangat beruntung memiliki Daddy sebaik dirimu." Akui Rein dipenuhi perasaan bahagia dan tersentuh.


Dulu dia pikir Tio akan tumbuh tanpa seorang Ayah, tapi nyatanya Tuhan telah mempersiapkan skenario lain. Tidak hanya Tio mendapatkan Ayahnya kembali, tapi dia juga mendapatkan saudara tambahan dan kehidupan yang sangat nyaman.


Ini bagaikan mimpi untuknya.


"Tidak, akulah yang beruntung memiliki kalian semua. Tanpa kalian aku tidak akan bisa sampai di posisi ini. Rein Xia, terima kasih untuk semuanya. Aku sangat bahagia dan tidak akan kekurangan apapun selama ada kamu juga anak-anak di sampingku." Bantah Davin sambil menekuk erat kekasihnya.


Dia juga tidak pernah membayangkan akan ada hari dimana dia bisa hidup dengan nyaman dan damai. Karena saat itu dia terpaksa melukai Rein, melukai rumahnya.


"Tidak, Dav. Kamu-"


Tok


Tok


Pintu kamar Rein diketuk seseorang. Tanpa melepaskan kekasihnya, Davin mempersilakan tamu itu masuk.


"Tuan, ada berita dari rumah utama." Kata Adit melapor.


Davin langsung tertarik, perkiraannya salah lagi karena bagaimana mungkin orang-orang serakah itu bisa setahan ini melewati 'peluang' untuk menjatuhkan dirinya?


"Apa yang mereka katakan?" Tanyanya sambil mengelus puncak kepala istrinya.


Adit berpura-pura buta dengan sikap lengket Davin kepada Rein dan segera menjawab,"Malam ini, pukul 8 malam tuan dan nyonya diminta pergi ke rumah utama untuk menghadiri acara makan malam yang diselenggarakan oleh tuan besar."


Davin tersenyum tipis,"Ouh, Nenek lampir itu sepertinya sangat tidak sabar sampai-sampai menggunakan nama Kakek untuk mengundangku datang." Ucap Davin mencela.


"Tapi tidak apa-apa, toh mereka lah yang menginginkannya. Adit," Panggilnya kepada sang asisten pribadi.


"Ya, tuan?"


"Siapkan semuanya malam ini. Jangan sampai kejutan ku mendapatkan masalah."


"Tuan bisa tenang. Semuanya sudah ku atur dengan baik untuk malam ini." Jawab Adit percaya diri.


Davin mengangguk puas,"Akhir bulan ini gaji mu dan Anggi akan dinaikkan 3 kali lipat. Terima kasih untuk kerja keras kalian selama ini."


Adit rasanya ingin berseru senang saat Davin mengatakan bulan ini gajinya dan Anggi bertambah 3 kali lipat. Jika bisa, dia ingin berguling-guling untuk menunjukkan betapa senangnya dia saat ini. Tapi tidak, dia tidak bisa kehilangan image di depan majikannya hanya karena 'uang', ehe.


"Tuan terlalu sopan." Kata Adit menahan kegembiraan.