
Pernikahan ditunda, semua surat undangan yang tersebar segera ditarik kembali oleh pihak Rein. Keluarga Demian tidak mengatakan apa-apa dan tidak bertanya apa yang sedang terjadi. Sikap mereka sangat tenang dan terkendali dibawah pengawasan Kakek Demian.
Setelah kepergian Davin, Kakek Demian tiba-tiba mengirim beberapa orang bertubuh kekar untuk mengawasi sekeliling rumah Davin.
Awalnya ini sangat mengherankan untuk Rein dan dia tidak terbiasa dijaga sebanyak ini oleh orang-orang, tapi karena Davin sudah mengingatkannya untuk berhati-hati karena suasana rumah utama sedang bergejolak, Rein akhirnya membiarkan orang-orang itu melakukan tugasnya.
Toh, dia hanya perlu menghabiskan hari-harinya bersama dengan anak-anak.
"Mom, aku rindu Daddy." Suara lemah Aska menarik Rein dari lamunannya.
Saat ini dia sedang duduk di halaman belakang, beristirahat menikmati suasana sore untuk meredakan stresnya karena terlalu banyak mencemaskan Davin.
Sejak terbang ke negara A, Davin hanya memberikannya kabar sekali saja dan tidak pernah lagi menelpon. Untungnya Adit telah menjelaskannya melalui sebuah pesan jika Davin sangat sibuk bekerja dan tidak punya waktu untuk menghubunginya.
"Mommy juga sangat merindukan Daddy." Akui Rein kepada putranya.
Dia menarik Aska agar duduk di sampingnya.
"Kapan Daddy pulang, Mom?"
Davin tiba-tiba pergi tanpa mengucapkan pamit kepada Aska dan Tio yang membuat kedua anak itu sangat sedih. Mereka berdua hari itu menangis keras saat mengetahui Davin pergi ke luar negeri.
"Secepatnya, Daddy akan berusaha menyelesaikan semua pekerjaan dan pulang ke rumah kita lagi untuk kembali berkumpul bersama." Jawab Rein dengan suara yang sangat lembut dan penuh kelembutan.
"Oh, Daddy sibuk cari uang ya, Mom?"
Rein tertawa kecil. Dia mengusap puncak kepala Aska pelan.
"Iya, Nak. Daddy cari uang buat kita."
Aska tidak mengerti,"Kenapa Daddy cari uang? Bukannya Daddy punya banyak uang ya, Mom?"
Rein gatal ingin mencubit lambung calon suaminya. Lihat saja pengaruh yang didapatkan Aska setelah mendapatkan pelajaran sia-sia dari Davin. Masih kecil saja putranya sudah diajarkan tentang uang dan sifat arogansi, bagaimana jika putranya besar kelak?
Tidakkah dia tumbuh besar seperti Revan yang hanya tahu berfoya-foya?
Oh, tidak mungkin! Rein tidak akan membiarkan itu terjadi!
"Kita memang punya cukup uang, sayang. Tapi uang itu tidak akan bertahan lama. Daddy harus mencari lagi untuk pendidikan Aska dan Tio. Daddy melakukan itu agar Aska dan Tio tumbuh menjadi anak yang berpendidikan juga bertanggungjawab. Jadi setelah besar nanti Aska harus ingat untuk menjaga Daddy karena tanpa Daddy, Aska mungkin tidak memiliki kehidupan yang cukup seperti anak-anak di luar sana." Rein berusaha membangun citra yang baik untuk calon suaminya.
Dia tidak ingin hubungan Davin dan anak-anaknya tidak terlalu dekat hanya karena Davin sibuk bekerja.
"Aska janji, Mom. Aska akan melindungi Mommy dan Daddy setelah Aska besar nanti."
Karena kedatangan Aska, suasana hati Rein jauh lebih ringan daripada sebelumnya. Untuk sesaat dia tidak terlalu memikirkan Davin di luar sana karena fokusnya sudah diambil oleh Aska.
...🌪️🌪️🌪️...
"Aku sudah memperingatkan kamu agar jangan berulah lagi karena laki-laki tua bangka itu sedang mengawasi mu, tapi lihat apa yang kamu lakukan! Kamu susah membuat keluarga malu dan ditertawakan banyak tamu!" Raung wanita glamor itu memarahi laki-laki jangkung berpenampilan malas yang kini sedang duduk di atas sofa single.
"Ma, aku tidak sengaja melakukannya tapi wanita itulah yang pertama kali menggodaku. Jika dia tidak menggodaku maka semua ini tidak akan terjadi." Laki-laki jangkung berpenampilan malas itu tiada lain dan tiada bukan adalah Revan, Paman kecil yang dijuluki payah oleh anggota keluarganya sendiri.
Revan, sang pelaku pembuat masalah dengan mudahnya melemparkan masalah kepada Anggi. Menyalahkan Anggi karena menggodanya terlebih dahulu padahal faktanya, dialah yang mencari Anggi terlebih dulu.
Wanita glamor- atau sebut saja Mamanya enggan mempercayai Revan karena dia tahu sendiri betapa buruk perangai putranya itu. Apalagi orang yang diprovokasi oleh putranya adalah asisten pribadi Davin sendiri sehingga masalah ini telah banyak mencoreng wajah keluarga. Terutama wajahnya sendiri sehingga dia sangat malu menunjukkannya di depan Ibu-ibu sosialita saat berkumpul di masa depan.
"Aku tidak perduli siapa yang menggoda kamu karena yang terpenting sekarang Davin pasti akan mengincar kamu." Kata Mamanya mengingatkan.
Revan melambaikan tangannya dengan santai sambil tersenyum penuh makna,"Mama tidak perlu mengkhawatirkannya karena dia tidak punya waktu untuk mengurus ku."
Mama mengerti dengan apa yang dimaksud putranya. Hanya saja dia masih sedikit khawatir Davin akan mengatasi semuanya dengan mudah. Akan tetapi mendengar suara penuh percaya diri putranya membuat Mama sedikit tenang. Karena jika putranya tidak melakukannya dengan baik, maka Davin pasti sudah bisa menyelesaikan semuanya sekarang.
"Lalu bagaimana dengan sikap laki-laki tua bangka itu kepadaku? Apakah dia berencana mengeluarkan ku dari rumah utama?" Tanya Revan agak cemas.
Pasalnya laki-laki tua bangka itu pernah mengatakan akan mengusirnya bila membuat masalah lagi. Dan masalah malam itu benar-benar diluar perkiraannya. Semuanya kacau dan langsung menyebar. Tanpa bertanya pun Revan tahu jika laki-laki tua bangka itu pasti sudah mendengarnya jadi dia sangat cemas dengan reaksinya.
"Kamu beruntung dia tidak mempermasalahkan masalah ini! Jika tidak, kamu pasti sudah tidak ada lagi di kartu keluarga!"
Mama sudah mengawasi respon laki-laki tua bangka itu sejak kemarin. Dia menunggu dengan cemas apakah laki-laki tua bangka itu benar-benar mengusir putranya atau hanya ucapan omong kosong belaka. Untung saja laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan masalah ini pergi begitu saja. Jika tidak, entah apa yang akan dia lakukan untuk menyelamatkan Revan. Mana mungkin dia membiarkan semua usahanya sia-sia begitu saja?
Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi karena pewaris keluarga Demian akan jatuh ke tangan putranya!
"Sudah ku duga! Dia tidak mungkin melakukan itu karena aku adalah putranya!"
Mama memutar bola matanya malas.
"Tetap saja kamu harus berhati-hati agar tidak membuatnya marah. Jika tidak, mungkin kamu benar-benar akan dikeluarkan dari kartu keluarga!"
Revan tidak takut karena dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap laki-laki paruh baya itu.
"Jangan khawatir, lain kali aku akan berhati-hati lagi agar tidak membuat masalah." Tapi tetap saja dia harus mengikuti perintah Mamanya- hanya omong kosong belaka.
Dia tidak mungkin menolak karena Mamanya pasti sangat marah!