My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
111. Mommy?



"Rein, cukup, hilangkan ide itu dari kepalamu." Davin melemparkan handuk mandi yang sebelumnya ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya ke lantai kemudian berjalan mendekati Rein.


Namun Rein tidak mau disentuh olehnya. Dia dengan jelas menghindar sentuhan Davin, berpura-pura naik ke atas ranjang untuk menidurkan Tio- yang sudah tidur sejak lama.


Melihat sikap acuh Rein yang tidak main-main, Davin menghela nafas panjang mengalah. Ia ikut naik ke atas ranjang sambil mengabaikan tatapan tatapan dari Rein yang tidak setuju. Davin cengengesan, ia membawa Tio beserta Rein ke dalam pelukannya. Memeluk penuh sayang harta yang paling berharga dan penting untuknya di dunia ini.


"Jangan marah, Rein. Aku tahu bahwa aku salah." Ujar Davin mengakui.


Rein masih kesal,"Bagus bila kamu mengetahuinya."


Davin tersenyum tipis,"Aku sangat takut membunuh." Kata Davin tiba-tiba mulai mengenang masa lalu.


Dia sama seperti manusia pada umumnya, takut melukai orang lain apalagi sampai menghilangkan nyawa orang, dia takut melakukan itu semua karena dia memiliki hati nurani. Hatinya tidak mengizinkan Davin melakukan itu.


"Aku takut menyakiti orang lain, namun aturan ini hanya berlaku untuk orang yang tidak menyentuh batas ku, Rein. Aku tidak akan bermurah hati bila mereka sampai berani menyentuh batas ku. Menyakiti kamu dan Tio ataupun orang-orang tersayang ku, percayalah Rein, aku sungguh sangat kejam bila sudah menyangkut kalian."


Davin masihlah manusia namun itu tidak akan lagi sama bila sudah menyangkut kebahagiaannya. Ia tidak akan bermurah hati bila sumber kebahagiaannya disakiti ataupun diganggu, Davin tidak akan sebaik itu memaafkannya.


"Namun apa yang kamu lakukan hari ini jahat, Davin. Kamu menodong karyawan mu sendiri dengan senjata berbahaya dan kamu juga melukai wajah karyawan mu. Apa kamu tidak takut mereka pergi meninggalkan perusahaan mu? Apa kamu tidak takut dilaporkan ke polisi? Apa yang kamu lakukan ini berbahaya, Davin! Aku gak suka."


Davin tercengang, bukan karena kemarahan Rein tapi pada mata basah Rein yang bersinar menyedihkan di bawah cahaya lampu kamar penginapan mereka.


Rein kesal dan marah, di dalam hatinya ada banyak sekali ketakutan jika Davin harus berakhir buruk-


"Jangan menangis, okay? Aku tidak akan mengulangi ini lagi. Dan kamu juga tidak perlu khawatir mengenai mereka karena yakinlah, mereka tidak akan pernah keluar dari perusahaan ku. Lalu tentang gadis itu," Davin mengusap sudut basah mata Rein yang telah diam-diam membuatnya tidak nyaman.


"Itu pantas untuknya agar tidak menggangu kamu lagi. Dia juga tidak akan pernah berani masalah ini ke polisi, bukan karena aku berkuasa tapi karena dia tahu bahwa apa yang ia lakukan salah. Dia tahu akan berakhir mendekam di penjara."


Rein tidak tahu apakah yang Davin katakan benar atau tidak karena bila berbicara kekuasaan, ya, Davin memilikinya jadi tidak menutup kemungkinan Yuni tidak akan bisa berkutik. Lalu, jika berbicara kesalahan Yuni dan Davin sama-sama salah di sini sehingga hukum akan memberikan mereka hukuman yang setimpal.


Untuk semua itu Rein tidak menginginkan hasil yang buruk.


"Aku tidak tahu, aku ingin tidur." Rein memutuskan pembicaraan dan langsung memejamkan kedua matanya lelah.


Dia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya yang sedang berantakan karena masalah ini dan untungnya Davin tidak mempersulit, dia membiarkan Rein tidur karena ia mengerti Rein pasti masih shock dengan kejadian tadi.


Malam berlalu begitu cepat, paginya semua orang sudah siap dengan bawaan barang masing-masing. Mereka pulang dengan suasana hati yang buruk karena kejadian semalam. Tidak ada nyanyian seperti hari pertama, tidak ada tawa ceria seperti hari-hari yang lalu, dan raut wajah mereka menunjukkan ketidakpuasan yang tidak bisa disembunyikan.


Ini semua tentang Yuni dan rekan-rekan kerjanya yang sudah dipecat Adit semalam. Mereka membuat masalah dan imbas dari masalah tersebut harus dirasakan oleh semua karyawan yang tidak bersalah. Jujur, ini adalah akhir yang buruk dan tentu saja meninggalkan kekesalan di hati beberapa karyawan. Tapi apa yang bisa mereka lakukan, Yuni sudah menghilang sejak kejadian semalam. Mereka tidak pernah melihat batang hidungnya dan tidak pula berinisiatif untuk menanyakan keadaannya, toh, Yuni mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan.


Akan tetapi liburan mereka...haah, para karyawan menghela nafas berat. Mereka benar-benar tidak mengharapkan akan mendapatkan hasil yang sangat buruk.


Begitu sampai di vila, Davin tidak langsung istirahat karena ada panggilan darurat dari negara A. Davin harus pergi hari itu juga ke bandara tanpa sempat beristirahat di vila. Rein menolak Davin pergi karena ia berharap Davin beristirahat dulu agar tubuhnya tidak kelelahan. Namun Davin menolak dengan tegas dan menekankan bahwa masalah ini sungguh sangat penting dan harus diselesaikan secepat mungkin.


"1 minggu lagi aku akan kembali ke rumah, kamu dan Tio patuh lah di rumah, tunggu kepulangan aku."


Rein enggan,"Hem, kami akan menunggumu. Selalu kabari kami apapun yang terjadi di sana dan jangan terlalu memaksanya dirimu bekerja. Aku tidak mau mendengar kabar buruk apapun-"


"Aku tahu, aku tahu. Aku tidak akan memaksakan diri dan aku akan berusaha menghubungi mu. Rein, aku mencintaimu, jaga dirimu dan Tio baik-baik di sini. Aku meminta Adit menjaga kalian di sini, tapi bila terjadi sesuatu jangan ragu untuk menghubungi ku. Apa kamu mendengarnya?" Davin buru-buru memotong ucapannya, tersenyum lebar di akhir kalimat tidak ingin membuat Rein khawatir.


Rein menatap Davin dengan pandangan menilai, entah apa yang dipikirkan saat ini namun yang pasti beberapa detik kemudian ia menghela nafas panjang, mengambil inisiatif mengecup dagu kasar Davin dan memeluknya erat.


Padahal mereka baru saja bersama tapi sudah terpisah lagi. Sekalipun ini hanya 1 minggu tapi rasanya tetap saja tidak rela.


"Aku mendengarnya."


...🍃🍃🍃...


Dua hari kemudian di dalam vila Rein sedang duduk bersantai sambil mengelap hati-hati foto-fotonya dengan Davin dan Tio. Sesekali ia akan bersenandung kecil dengan garis senyuman lembut terbentuk di bibirnya setiap kali menatap foto-foto yang ada ditangannya. Haah, terkadang ia bertanya-tanya kapan Davin mengambil semua foto-foto ini dan kenapa ia tidak menyadarinya?


"Kamu selalu membuatku terkesan." Bisik Rein sambil memandangi wajah tampan Davin.


Tok


Tok


Tok


Suara seseorang mengetuk pintu. Rein menoleh, bertanya-tanya gerangan yang datang bertamu ke vila di siang-siang begini.


"Tunggu sebentar." Teriak Rein seraya menaruh foto Davin di atas meja.


Dia lalu membuka pintu masuk, namun nihil, ia tidak menemukan siapapun sampai akhirnya ia menangkap keberadaan seorang anak laki-laki berwajah datar di depannya.


"Mommy?" Anak laki-laki itu berteriak nyaring setelah menatap wajah Rein- dia terlihat sangat terkejut.


Rein tercengang,"Siapa yang kamu panggil Mommy?"


Bersambung...


Alhamdulillah, terima kasih yang sudah mampir di lapak orange, entah mengapa menulis di sana menghidupkan gaya tulisan lama saya. Terima kasih semuanya 🍃