My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
177



Anggi mengangguk cepat. Dia langsung masuk ke dalam kamar hotel dengan mengekori Adit. Di dalam hatinya dia merasa aneh karena Adit juga memegang kunci kamar hotelnya.


Apa mungkin Adit lah yang menyiapkan kamar hotel ini untuk kami? Batin Anggi tidak menemukan penjelasan yang lebih masuk akal dari ini.


"Rein sudah mengatakannya kepada tuan Davin jika dia akan menetap di sini sampai tuan Davin keluar dari rumah sakit, dan mungkin itu akan menghabiskan beberapa bulan ke depan. Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kamu akan mengikuti Rein atau memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Jika kamu kembali ke Indonesia maka aku akan menyiapkan tiketnya malam ini." Jelas Adit begitu mereka masuk ke dalam kamar.


Adit membuka jas formalnya dan membuangnya secara acak ke sofa sementara dirinya sendiri beristirahat di salah satu sofa single. Dia sangat lelah beberapa hari ini untuk menyelesaikan masalah proyek kilang minyak Davin, dan pekerjaannya semakin bertambah berat saat Davin mengalami kecelakaan mobile di kota B. Alhasil dia harus membagi waktunya menjadi dua, satu untuk proyek kilang minyak dan satunya lagi untuk mengawasi situasi Davin di rumah sakit.


"Pulang?" Gumam Anggi kosong.


Dia baru saja sampai sore ini dan sudah diminta kembali ke Indonesia? Anggi tidak tahu apakah tubuhnya masih bisa bertahan melakukan perjalanan panjang lagi.


Namun dia juga tidak bisa tinggal terlalu lama di sini apalagi sampai berbulan-bulan lamanya. Dia memiliki anak di rumah yang harus dia hidupi karena tidak baik mengandalkan kebaikan kerabat.


Di sini Anggi tidak bisa mendapatkan pekerjaan tapi di Indonesia, dia memiliki banyak peluang untuk melakukan pekerjaan paruh waktu yang menghasilkan uang. Dia memiliki pikiran ini tapi dia juga agak enggan pergi. Rein sedang membutuhkan teman bicara agar tidak terlalu banyak pikiran jadi Anggi bersedia tinggal di sini, dan si samping itu dia juga diam-diam mulai memperhatikan Adit.


Seperti sekarang, hatinya berdegup kencang berada di dekat Adit. Dia sangat gugup berada sedekat ini dengan Adit jadi karena alasan ini juga yang membuat Anggi tidak mau pergi.


"Aku..." Anggi bimbang antara anak-anak dan urusan hatinya.


"Tapi bagaimana dengan anak-anak?" Tanya Anggi mulai menimbang,"Jika aku pergi siapa yang akan mengurus anak-anak karena Rein tidak akan bisa membagi waktunya untuk mengurus tuan Davin dan anak-anak."


Adit juga tidak mungkin mengurus anak-anak karena dia pasti sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Lagipula, apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki berwajah dingin ini selain menatap dokumen-dokumen penting?


"Aku bisa memperkerjakan seseorang untuk mengurus mereka." Jawab Adit sederhana dengan implikasi tertentu dibalik jawabannya.


Anggi tidak nyaman. Dia merasa terganggu dengan ide Adit untuk memperkejakan seseorang. Siapa yang dia pekerjaan dan berapa usianya?


Apakah sudah tua atau masih muda? Apakah wanita itu cantik atau biasa-biasa saja?


Anggi tiba-tiba memiliki setumpuk pertanyaan yang ingin segera dia tanyakan kepada Adit.


"Tapi bagaimana jika anak-anak tidak terbiasa dengan orang baru?" Anggi sangat berharap Adit mengatakan jika dia tidak boleh pergi dan tetap tinggal mengurus anak-anak.


Adit melihat kekhawatiran Anggi, wajah datarnya tanpa sadar membentuk sebuah garis senyum, samar, dan mungkin lebih tepat disebut sebagai seringaian.


"Jika mereka tidak cocok, maka aku benar-benar tidak punya pilihan selain mengurus mereka."