My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
80. Selamat Tinggal Cintaku (2)



"Kamu capek banget ya, sayang?" Bisiknya lembut seraya membaringkan Rein di atas ranjang mereka.


Rein tidak memberikan respon apa-apa lagi. Dia benar-benar terjatuh dalam tidurnya dan tidak sadar telah mengabaikan sang kekasih.


"Rein," Davin mengecup ringan bibir merah Rein yang tampak pucat.


"Apa yang harus aku lakukan..." Dia sangat frustasi dan putus asa.


"Aku tidak mau kehilangan kamu, sayang. Aku tidak mau melepaskan kamu...tapi, bagaimana dengan Adikku? Dia adalah satu-satunya harta yang Papa dan Mama tinggalkan kepadaku. Di samping itu dia masih bayi berusia 1 bulan, aku tidak bisa membiarkannya ada di tangan Kakek." Perlahan cairan bening itu keluar dari sudut matanya.


Dia menangis,


Untuk yang kesekian kalinya beberapa waktu ini. Kehilangan kedua orang tuanya dan sekarang harus kehilangan Rein, dunia Davin seolah kehilangan cahaya.


"Maafkan aku sayang," Ia memohon dengan suara penyesalan.


"Maafkan aku, maafkan aku...ini yang terakhir, tolong maafkan aku." Mohon nya berulangkali namun Rein masih tidak bangun juga memberikan jawaban.


"Bila saja aku cukup kuat maka kita tidak akan berakhir seperti ini, bila saja aku cukup kuat, sayang. Percayalah bahwa aku sangat mencintai kamu. Di hati ini hanya kamu yang berhak menempatinya entah itu dulu, sekarang, ataupun di masa depan, aku bisa menjaminnya. Percayalah sayang, aku sangat mencintai kamu. Aku...aku memang laki-laki brengs*k yang serakah tidak ingin kehilangan kamu, oleh karena itu...aku akan memperjuangkan kamu kembali bila waktunya sudah tepat. Ketika aku telah mampu berdiri sendiri, kamu adalah orang pertama yang akan aku bawa ke dalam duniaku kembali, Rein, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu."


Mengecup lembut kening Rein lama. Davin lalu mengusap wajah Rein penuh nostalgia sebelum turun dari ranjang. Ia menyelimuti Rein dengan hati-hati dan perasaan kalut.


"Selamat tinggal, cintaku." Bisiknya memaksakan diri melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang.


Ia pergi dari rumah itu seolah-olah tidak pernah kembali sebelumnya. Tanpa membuang banyak waktu ia langsung masuk ke dalam mobil, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Adit tidak berbicara begitu Davin keluar dari rumah itu. Ia mengerti betul bagaimana perasaan Davin saat ini.


Kemudian malam pun berganti menjadi siang dan Davin mulai menghidupkan kembali mode acuh tak acuhnya yang sarat akan rasa arogansi. Ia seperti seseorang yang tidak mengenal kelembutan, mengikuti semua yang Kakek katakan dengan patuh. Membuat Kakek puas dengan perubahan pesat yang Davin tunjukkan.


Kemudian malam itupun terjadi. Malam dimana Rein melihatnya bercumbu dengan model cantik, tunangan yang Kakek telah atur untuknya dari keluarga terpandang.


"Apa ini?" Davin menatap benda pipih nan panjang yang ada di atas meja.


Kakek meminta salah satu menjawab,"Ini adalah alat perekam, Kak." Kata sepupunya masam.


"Perekam?" Davin jelas tidak mengerti.


"Benar, semua yang Kakak bicarakan hari ini bisa Kakek dan kami dengarkan di sini." Sepupunya memperjelas lagi.


Tertegun, Davin lalu mengusap wajahnya menahan sesak begitu menangkap makna dibalik perekam ini. Kejamnya, bahkan dihari terakhir ia bertemu dengan Rein saja ia masih harus diperbudak oleh mereka. Untuk sebuah kekuasaan... Davin tidak pernah menginginkannya lalu kenapa kekuasaan itu malah memilihnya diantara semua sepupunya?


Davin sangat membencinya!


"Davin," Panggil Kakek yang masih betah duduk di kursi kebesarannya.


Davin hanya menatapnya tanpa ada rasa kehidupan. Tubuhnya sudah mati rasa dibuat oleh mereka dan tiba-tiba... tiba-tiba ia merindukan bagaimana rasanya kematian?


"Buang dia." Perintahnya tidak berperasaan.


"Kenapa? Apakah memisahkan kami berdua saja tidak cukup? Apakah melihatku berkhianat di depan matanya saja tidak cukup? Apakah semua itu tidak cukup untuknya?" Tanya Davin tidak mengerti.


Luka, ia dan Rein telah diambang kehancuran. Hanya dalam satu minggu... hanya dalam satu minggu ia telah membuat jarak yang sangat jauh untuk Rein, ia telah membuat Rein terluka berkali-kali tapi kenapa?


Kenapa mereka masih belum puas membuatnya seperti manusia yang tidak berperasaan?


"Jika itu orang lain, maka semua yang kamu lakukan selama satu minggu ini sudah cukup tapi sayangnya kamu adalah Davin Demian. Aku sangat mengenal orang seperti apa kamu ini. Jadi, untuk membuatku mempercayai semua tekad mu, aku ingin kamu membuangnya. Buang dia hingga ia tidak akan pernah memiliki wajah mendekatimu, apa kamu mengerti maksudku?" Kata Kakek dingin tidak ingin bernegosiasi.


Davin, dia tahu cucu berharganya ini sangat mencintai perempuan cacat itu dan dia juga tahu bahwa hatinya tidak akan sampai mengeluarkan kata-kata kejam untuk meminta sebuah perpisahan. Kakek tidak punya cara selain mengikatnya seperti ini, menutup peluang sebesar apapun untuk mencegah mereka kembali bersama.


"Lakukan Davin, bukankah Adikmu jauh lebih penting dari apapun?"