
"Tidak perlu berterima kasih. Sebab itu lah yang seharusnya aku lakukan." Kata Adit serius.
Anggi tersenyum malu. Dia buru-buru mengambil tissue dari dalam tasnya. Mengambil beberapa lembar secara acak dan memberikannya kepada kedua orang tuanya, lalu mengambil untuk dirinya sendiri.
"Nak Adit, Ibu minta maaf sebelumnya. Tadi Ibu sempat salah paham kepada kalian berdua. Ibu pikir kalian berdua telah melakukan sesi yang tidak-tidak." Kata Ibu memohon maaf.
Ibu awalanya memiliki prasangka terhadap Adit dan Anggi. Dia pikir mereka telah melakukan hubungan yang tidak-tidak sebelum menikah. Dan dia pikir penyebab perceraian Anggi diprovokasi oleh Anggi dan Adit sendiri jadi dia sempat kecewa kepada mereka berdua. Namun setelah mendapatkan penjelasan langsung dari anaknya, dia kini tahu bila Adit adalah laki-laki yang sebaik itu. Dia kini tahu bila Adit adalah laki-laki yang sangat baik dan menyerahkan Anggi kepadanya untuk dijaga sungguh bukan lah sesuatu yang mengkhawatirkan. Justru dia bersyukur karena Adit yang menjaga putrinya di masa depan. Hanya saja dengan masa lalu Anggi, dia takut bila perjalanan putrinya tidak akan mudah di masa depan nanti. Dan dia takut dengan masa lalu ini keluarga Adit spegan terhadap Anggi.
Ini adalah kekhawatiran yang wajar karena Adit dan keluarganya berasal dari kalangan yang sangat baik, berbanding terbalik dengan mereka yang berasal dari miskin merangkak menjadi orang yang sedikit mampu.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku bisa mengerti perasaan Ibu dan Ayah." Kata Adit dengan senyuman lembut di bibirnya.
Kini suasana hatinya telah membaik karena tidak ada lagi tekanan di sekitarnya. Semua orang memiliki pemikiran tersendiri untuk kasus ini dan Adit tidak akan mau perduli sebab selama kekasihnya bisa tersenyum maka sisanya bukan apa-apa untuknya. Hatinya memang sedingin itu, tapi bukankah ini tidak salah?
Dia hanya memprioritaskan kekasihnya saja karena kekasihnya memiliki posisi yang sangat penting di dalam hatinya. Dia layak mendapatkan pelayanan ekslusif dan VIP dari dirinya, sedangkan orang lain, mereka hanya bisa menunggu karena Adit tidak terlalu mengganggap penting suara-suara mereka.
Dia seegois ini namun dia sama sekali tidak perduli selama kekasihmu tidak mengucapkan keberatan.
"Itu..." Ibu melihat Anggi dan Ayah, lalu melihat Paman dan Bibi yang duduk di seberangnya sebelum beralih menatap Adit.
Ibu ragu mengatakannya tapi demi masa depan putrinya, dia akhirnya melepaskan apa yang ingin sekali dia katakan.
"Adit, putriku sekarang seperti ini. Situasinya jauh lebih buruk daripada wanita lain di luar sana. Apakah kamu tidak masalah dengan situasi putriku sekarang? Selain memiliki dua anak dengan gelar jandanya, dia juga memiliki masa lalu yang kelam. Apakah... apakah kamu tidak masalah dengan semua ini?" Tanya Ibu membuat semua orang langsung menahan nafas.
Ibu dan Ayah langsung menatap Adit dengan ekspresi canggung juga pengharapan. Memangnya orang tua mana di dunia ini tidak mengharapkan kebahagiaan anaknya sendiri?
Mereka sangat mengharapkan kebahagiaan Anggi dan menurut mereka melalui laki-laki tegas nan hangat ini, anak mereka akhirnya bisa menikmati kehidupan yang baik dan menyenangkan. Karena setiap kali anak mereka bersama Adit, senyuman malu-malu dengan rona merah di wajah tidak pernah disembunyikan. Anggi menyukai Adit, mereka berdua jelas bisa melihat ini.
"Bu, aku sudah lama bersama Anggi. Sejak awal kasus ini, aku selalu ada di sampingnya." Kata Adit membuka mulutnya.
Semua orang menahan nafas, menunggu kata-kata Adit selanjutnya. Bahkan Anggi sendiri tidak bisa tidak mengangkat kepalanya menatap Adit sejenak sebelum menundukkan kepalanya kembali. Dia tidak berani menatap Adit karena dia sangat cemas. Cemas rasanya ya Tuhan. Meskipun Adit telah berjanji untuk menikahinya, untuk selalu bersamanya, dan akan selalu menemaninya, namun berbicara langsung di depan kedua orang tuanya memiliki pengaruh tersendiri. Seolah-olah Adit mengklaim secara resmi bila mereka memiliki hubungan sedalam itu. Anggi gugup dan diam-diam menunggu jawaban selanjutnya.
Tersenyum simpul, Adit geli melihat ekspresi gugup di wajah mereka semua. Harusnya dia lah yang gugup dan cemas di sini sebab dimana-mana pihak laki-laki lah yang memiliki perasaan ini setiap kali datang ke rumah pihak wanita. Namun di sini, justru mereka lah yang paling gugup dan cemas yang membuat Adit tidak bisa untuk tidak tersenyum.
"Dan jika aku memang mempertimbangkan semua situasi Anggi ini, maka mungkin aku tidak akan duduk di sini malam ini. Jauh dari dua tahun sebelumnya aku telah memikirkan semuanya dan aku juga telah menerima semuanya dengan berlapang dada karena semua itu terjadi di masa lalu, bahkan Anggi pun tidak pernah menginginkan semua itu terjadi. Dia juga terpukul jadi aku tidak bisa menyalahkannya. Aku menyukainya sepenuh hatiku, Bu. Dia adalah wanita pertama yang membuatku berpikir untuk membangun rumah, bekerja keras untuk menghasilkan uang agar bisa dia belanjakan sepuas hati, dan bersamanya, jujur, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku sangat mementingkan nya di dalam hidupku. Jadi karena itulah aku tidak pernah keberatan saat membantunya menangani kasus ini dan aku juga tidak pernah mengeluh menemaninya menyelesaikan kasus ini. Sebab, aku tidak ingin menjadi laki-laki yang munafik. Aku juga mengharapkan dia segera melepaskan mantan suaminya dan memulai lembaran baru dengan cinta yang baru pula. Dengan keyakinan itu aku membimbingnya secara perlahan untuk menyadari keberadaan ku, menyadari bahwa aku jauh lebih baik daripada mantan suaminya, mengingatkannya bila aku bisa memperlakukannya jauh lebih baik dari laki-laki di luar sana. Bu, Ayah...aku tidak mau berbohong kepada kalian berdua dan sejujurnya akulah yang membimbing Anggi agar jatuh cinta kepadaku. Aku tidak akan menutupinya dari kalian tentang semua yang kulakukan kepada Anggi. Aku mengatakan ini untuk membuktikan bahwa aku sangat mencintai putri kalian. Aku bisa menjaganya dengan sepenuh hatiku. Walaupun aku tidak bisa menjanjikannya untuk hidup bahagia bersamaku karena itu adalah rahasia Tuhan, tapi aku berjanji akan memperlakukan putri kalian sebaik mungkin, menganggap Aldo dan Aldi sebagai anakku sendiri bukan karena aku terpaksa menerimanya, tapi karena mereka dilahirkan oleh wanita yang sangat ku cintai. Bu, Ayah, Paman, dan Bibi, aku tidak akan mengecewakan kalian. Aku ingin hidup bersama dengan putri yang telah susah payah kalian besarkan dengan sepenuh hati. Oleh karena itu... izinkan aku menikahi putri kalian, menjadikannya sebagai satu-satunya ratu di dalam bahtera rumah tanggaku dan berusaha memberikannya segala yang kumiliki serta apa yang ku mampu kepada putri kalian. Maka izinkanlah aku memilikinya."
Anggi tertunduk malu dalam isak tangis harunya. Tuhan tahu apa yang dia rasakan saat ini dan Tuhan tahu betapa bahagianya dia saat ini. Di antara semua skenario dalam hidup ini, dia tidak pernah menyangka bila Adit memiliki perasaan yang sedalam ini kepadanya. Tidak hanya mencintainya, tapi Adit adalah orang pertama yang jatuh cinta di antara mereka berdua. Lantas bagaimana hatinya tidak sejatuh-jatuhnya kepada laki-laki hebat ini?
Bagaimana mungkin dia tidak mencintai laki-laki sehebat ini?
Laki-laki ini memperlakukannya dengan sangat baik, mencintainya dengan apa adanya dan memanjakannya dengan sepenuh hatinya terlepas dari masa lalunya yang menyakitkan. Tuhan tahu betapa bahagianya dia malam ini...
Isak tangisnya tidak bisa ditahan lagi. Dia menangis terisak sambil memeluk erat ayahnya yang telah tua. Ayah mengusap punggung putrinya terharu, dia ikut merasakan kebahagiaan untuk putrinya. Ayah senang dan lega karena Adit mau menerima putrinya dengan apa adanya. Dia lega karena laki-laki sebaik dia mencintai putrinya yang memiliki banyak kekurangan. Sejujurnya bukan hanya Ayah dan Anggi saja yang bahagia. Namun Ibu, Paman dan Bibi juga sangat berbahagia untuk Anggi. Akhirnya Anggi mendapatkan laki-laki yang setulus Adit, memperlakukannya dengan baik dan menerima segala kekurangannya dengan sepenuh hati.
Namun,
"Adit... Terima kasih. Kami sangat senang mendengarnya bila kamu mencintai putri kami dengan sepenuh hati. Kami juga senang kamu memperlakukan cucu-cucu kami dengan sepenuh hati pula. Kami sungguh senang. Namun bagaimana dengan keluargamu, nak? Kamu memang menerimanya dengan sepenuh hati terlepas situasi dan keadaan putriku, tapi bagaimana jika keluargamu menolak keberadaan putriku, nak? Dia...aku adalah Ibunya dan aku tentu tidak bisa melihat putriku diperlakukan dingin oleh orang-orang di luar sana." Ujar Ibu mengatakan kebingungannya.
Ibu khawatir bila Anggi di sana ditolak dan diabaikan oleh orang-orang kaya itu karena putrinya terlalu banyak kekurangan dalam hidupnya. Dalam hal fisik, mungkin dia baik-baik saja namun bagaimana depan statusnya yang janda dan memiliki dua anak di permasalahkan?
Bagaimana dengan masa lalu kelamnya yang menyakitkan dipermasalahkan?
Bukankah hasilnya akan menyakitkan pula?
Bukankah kehidupan bahagia yang diinginkan putri mereka tidak sampai?
"Ibu dan semuanya, kalian jangan mengkhawatirkan hal ini. Aku sudah membicarakan semua ini kepada kedua orang tuaku dan mereka sama sekali tidak masalah dengan Anggi. Mereka juga mengatakan selama Anggi dapat membuatku bahagia maka aku bisa memilikinya asalkan perasaan ku tulus kepadanya." Kata Adit positif.
Sebelumnya, atau tepatnya 3 minggu yang lalu dia sudah menelpon Papa di rumah untuk menceritakan segala situasi Anggi dan bagaimana perasaannya kepada Anggi. Dia juga menekankan bahwa Anggi adalah korban di sini dan dia sama sekali tidak bisa disalahkan. Selain itu Adit juga menekankan kepada Papa bahwa dia merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan ketika bersama dengan Anggi. Dia sungguh tidak mau kehilangan Anggi dan hanya ingin menikah dengannya seorang. Kecuali dia, Adit menegaskan bila dia tidak tertarik dengan wanita lain. Kecuali bukan dia, Adit tidak akan pernah menjalin hubungan dalam hidup ini apalagi sampai memikirkan untuk menikah atau memulai hubungan rumah tangga.
Bukan karena Adit sangat sok ataupun berlebihan sehingga begitu berani mengklaim suara dominasinya kepada Papanya. Tidak, dia tidak senaif itu. Hanya saja dia telah melihat semuanya. Dia melihat bagaimana Davin memperlakukan Rein dengan sepenuh hati, melihat perubahan besar laki-laki hangat itu berubah menjadi laki-laki tidak berperasaan hanya untuk memperjuangkan cintanya kembali dihadapan para rubah tua itu. Dia melihat bagaimana bahagianya Davin saat bertemu kembali dengan Rein dan mendapatkan kasih sayang yang telah lama menghilang. Segala interaksi mereka begitu hangat dan menakjubkan, mereka adalah pasangan yang Tuhan cintai. Dan dari sudut inilah dia mulai menyadari bahwa tidak ada satupun wanita yang mampu membuatnya merasakan cinta serta kenyamanan seperti yang Davin rasakan ketika bertemu kembali dengan Rein.
Itulah yang dia lihat dari Anggi, wanita ini sudah putus asa tapi masih bertahan untuk hidup karena dia masih memiliki orang-orang yang harus dilindungi dalam hidup ini. Seketika Adit langsung dibuatnya tersentuh. Dia tiba-tiba merasakan perasaan nyaman dan hangat yang belum pernah dia rasakan dalam hidup ini. Melihat Anggi, rumah yang telah lama dia cari-cari seolah berdiri tepat di depannya.
Adit jatuh cinta. Pada saat itu dia tidak ragu untuk mengakui bahwa dia jatuh cinta kepada Anggi. Dan dia sama sekali tidak mempermasalahkan bila dia jatuh cinta kepada seorang janda beranak dua yang lebih tua beberapa tahun di depannya. Tidak, Adit sama sekali tidak mempermasalahkan itu.
Untuk meraih cintanya dia mulai merancang rencana. Menarik Anggi secara perlahan agar Anggi menyadari keberadaannya, posisinya, dan kehadirannya. Adit ingin Anggi menyadari bahwa dia adalah laki-laki yang sangat luar biasa, jauh lebih baik daripada laki-laki di luar sana. Karena itulah dia selalu berusaha ada untuk Anggi sesibuk apapun dia bekerja. Akhirnya sampai dengan malam ini, semua ketika kerasnya akan segera terbayarkan.
Sejujurnya dia bukanlah laki-laki yang penyabar, namun untuk Anggi, dia rela merubah mindset kepalanya hanya untuk menunggu Anggi merespon perasaannya.
"Sungguh? Apakah mereka tidak masalah dengan Anggi kami?" Tanya Ibu tidak percaya, lebih jauhnya dia sangat lega.
Adit tersenyum lembut,"Ya, Mama tadi sudah menghubungi ku. Dia bilang ingin bertemu dengan Anggi dan anak-anak jadi aku akan membawa mereka besok malam untuk menemui kedua orang tuaku." Kata Adit kepada mereka semua.
Anggi sangat terkejut. Dia tidak menyangka bila dia akan melangkah sejauh ini dengan Adit. Dia pikir mereka perlu banyak waktu untuk bertemu kedua orang tuanya, tapi ternyata mereka sebenarnya akan bertemu besok malam.
Anggi sangat gugup dan cemas. Kepalanya sudah berdengung memikirkan apa yang harus dia lakukan besok ketika bertemu dengan calon mertuanya. Dia tidak tahu apa kesukaan mereka dan harus membawa hadiah apa, dia juga tidak tahu orang seperti apa kedua orang tua calon suaminya sehingga dia khawatir besok malam dia membuat persiapan yang tidak cukup.
"Secepat itu?" Tanya Anggi kaget.
Dia menatap Adit shock.
Adit tersenyum geli.
"Yah, apakah kamu tidak ingin bertemu dengan Mama dan Papaku?" Tanya Adit berpura-pura muram di depan kekasihnya.
Anggi langsung menggelengkan kepalanya dengan panik. Dia mengepalkan tangannya gugup namun keras kepala.
"Aku...aku ingin pergi. Hanya saja aku takut bila aku tidak melakukan persiapan yang cukup untuk besok malam. Aku juga tidak tahu harus memberikan mereka hadiah apa?" Kata Anggi mengakui kebingungannya dan langsung mengundang gelak tawa semua orang.
Perasaan sedih dan tertekan sebelumnya segera menguap digantikan oleh suasana manis dari pasangan yang akan segera maju ke tahap serius ini.
"Anak konyol, jika kamu tidak tahu maka bertanyalah kepada Adit. Ingat, jangan meninggalkan kesan buruk kepada mereka. Mengerti?" Ibu mencubit puncak hidung putrinya gemas.
Sudah lama sekali dia tidak melihat penampilan malu-malu juga konyol putrinya ini. Sebab Anggi dulu selalu membawa tampilan seorang wanita dewasa yang sangat matang. Ini adalah kabar baik karena Ibu pikir Anggi pasti sudah bisa mengendalikan hidupnya dengan baik tapi di satu sisi Ibu menjadi sedih karena dia kehilangan putrinya yang cengeng juga pengadu. Padahal Ibu senang sekali melihatnya seperti itu meskipun kerap kali membuat mereka berdua pusing.
"Bu, aku mengerti. Hanya saja aku sangat gugup." Bisik Anggi malu-malu.
Dia tidak ingin kegelisahannya dilihat oleh sang calon suami.
"Jangan gugup. Kedua orang tuaku bukanlah orang yang pemilih juga suka mengatur. Apapun yang kamu berikan kepada mereka berdua, dia akan menerimanya dengan tulus. Jadi jangan khawatir, okay?" Hibur Adit dengan suara yang lembut juga menenangkan.
Sikapnya persis seperti pacar siaga yang akan selalu ada untuk kekasihnya. Anggi malu-malu dan tidak memiliki keberanian yang besar untuk melihat Adit.
"Aku...aku akan berusaha untuk menyiapkan hadiah yang baik." Kata Anggi malu-malu.
Adit tersenyum, lalu dia tiba-tiba teringat bila keluarga Anggi belum mengatakan kesiapannya untuk permintaan yang dia ungkapkan beberapa waktu yang lalu.
"Bu, kalian belum menjawab pertanyaan ku sebelumnya." Kata Adit mengingatkan mereka semua.
Ibu tidak tahu pertanyaan yang mana.
"Pertanyaan yang mana, nak?" Tanya Ibu dalam senyum lebarnya.
Adit tersenyum lembut,"Aku ingin menikahi Anggi, apakah kalian bersedia melepaskan nya bersamaku?" Tanya Adit berbicara dalam hatinya.
Anggi tertegun. Dia menatap kedua orang tuanya dengan gugup. Dia sangat ingin, tidak perlu ditanyakan lagi, menikah dengan Adit adalah mimpinya dalam hidup ini. Namun meskipun dia menginginkannya, mendengar pertimbangkan dari kedua orang tuanya adalah hal yang utama. Sebab ridho orang tua adalah ridho Tuhan juga. Dia tidak mungkin memaksakan diri bila kedua orang tuanya tidak mau.
"Nak Adit," Ibu melihat Ayah dengan senyuman kebahagiaan yang tak bisa mereka tutupi,"Kami menerima niat baik nak Adit dengan tulus selama nak Adit memperlakukan putri kami dengan baik. Kami sangat menghargai nak Adit dan bersyukur kamu mau menerima putri kami. Namun terlepas dari itu semua kami akan menyerahkan keputusan semuanya kepada putri kami sebab yang akan menjalaninya adalah putri kami sendiri." Kata Ibu menyerahkan semuanya kepada putrinya.
Nila beberapa saat yang lalu Adit bertanya, maka mungkin dia akan langsung menerima tanpa mendengarkan pendapat Anggi lebih dulu. Tapi situasinya sekarang berbeda. Anggi punya masa lalu di dalam hidupnya yang mungkin meninggalkan trauma mendalam. Mungkin dia perlu waktu untuk bersentuhan dengan laki-laki lain atau mungkin Anggi masih belum bisa beranjak ke jenjang serius karena mentalnya belum siap. Apapun keputusan putrinya, dia akan menghormatinya sebab hubungan ini Anggi lah yang menjalaninya. Mereka tidak mau memaksanya untuk membuat pernikahan jika Anggi sendiri belum siap sepenuhnya.