My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
57. (57)



Begitu mendengar suara Ibu, perhatian semua orang kini beralih melihat ke arah Anggi. Ada senyuman penuh harapan di wajah masing-masing yang mendoakan kebahagiaan menimpanya. Anggi merasa terharu, kedua matanya kembali memerah karena sentuhan hati yang diberikan oleh semua orang. Ya Tuhan, dia sungguh bersyukur karena dilahirkan di tengah-tengah keluarga sehangat ini. Mereka bukanlah orang-orang yang hebat juga bukan dari kalangan orang kaya yang berada. Mereka hanyalah orang-orang biasa-biasa saja namun dampaknya begitu besar di dalam hati Anggi. Kehadiran mereka di dunia ini bagaikan obat penenang di dalam hatinya. Anggi bersyukur dan dia sungguh bersyukur karena dilahirkan di tengah-tengah keluarga ini.


"Apa jawaban mu, Anggi?" Tanya Adit kepadanya.


Anggi menundukkan kepalanya. Mengambil nafas panjang untuk menenangkan rasa gugup dihatinya. Beberapa waktu kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan pasti dan bersungguh-sungguh. Lalu berkata,"Aku mau, mas. Aku mau menikah dengan mas Adit." Kata Anggi memberikan jawaban yang posisi. Di dunia ini tidak ada yang lebih berharga dari jatuh cinta dan dicintai. Dia dicintai oleh keluarganya dan dia juga dicintai oleh seorang laki-laki hebat yang sangat luar biasa. Dia masihlah laki-laki yang lajang, beberapa tahun lebih muda darinya, pekerja elit dan berasal dari keluarga yang terpandang. Dengan semua kelebihan ini laki-laki itu masih memilih untuk jatuh cinta kepadanya, sang janda beranak dua yang memiliki banyak kekurangan di dalam hidupnya.


Anggi tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana menjelaskan betapa bahagianya dia saat ini. Sungguh, mungkin hanya air mata yang bisa menjelaskan semuanya betapa bahagianya dia malam ini.


"Maka kamu tidak diizinkan untuk berubah pikiran." Suara Adit dengan senyuman lembut di bibirnya.


Anggi tertegun, dia spontan mengangkat kepalanya untuk bertemu dengan tatapan lembut sang kekasih. Terpesona, Anggi menganggukkan kepalanya menerima seolah-olah ada sebuah kekuatan yang membuatnya menganggukkan kepala.


***


Mas Adit terlalu tampan. Aku tidak bisa berpaling dari matanya yang sangat menarik. Seakan-akan ada magnet tersendiri yang menarik ku masuk ke dalam pesonanya.


"Dengan mas Adit, aku takkan menarik kata-kataku." Aku berjanji dengan bersungguh-sungguh.


Ketika hatiku terpaut dengan mas Adit, segala macam kemungkinan telah membanjiri hatiku. Aku merendahkan diriku sendiri, tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dan mengecap diriku sebagai wanita yang kotor. Aku merasa sehina itu ketika berbicara tentang mas Adit. Namun lihatlah apa yang aku lihat sekarang. Mas Adit justru telah lama melabuhkan perasaannya kepadaku. Dia nyatanya menyukaiku, memiliki perasaan yang sama dengan diriku. Kejutan ini terlalu luar biasa untuk ku. Aku tidak menyangka bila mas Adit juga akan membalas perasaanku.


Tuhan... mungkinkah ini adalah jawaban atas semua penderitaan dan ujian yang telah ku lalui dalam hidup ini?


Mungkinkah ini adalah hadiah yang telah Engkau siapkan untuk membalas semua rasa sakit yang ku rasakan di dalam hidup ini?


Jika memang ya, maka terima kasih, Tuhan. Aku bersyukur dan amat sangat bersyukur karena Engkau telah memberikan ku hadiah yang begitu besar juga luar biasa. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain terima kasih yang terukir jauh dari dalam hatiku. Sungguh, tidak ada yang lebih indah dari skenario ini.


"Kamu telah mengatakannya. Maka aku tidak punya kata-kata lagi. Besok malam aku akan membawamu bertemu dengan kedua orang tuaku. Ku harap, kamu mulai mempersiapkan diri dari malam ini." Kata mas Adit kepadaku.


Aku menganggukkan kepala ku dengan malu-malu. Tanpa diberitahu oleh mas Adit pun aku akan mulai mempersiapkan diri malam ini.


Setelah pembicaraan ini, aku izin masuk ke dalam kamarku untuk berganti pakaian dan membersihkan diri sembari menenangkan diriku yang tidak berhenti panik. Aneh, aku cemas tapi hatiku rasanya tidak bisa lepas dari musim semi. Aku bisa merasakan bila hatiku sedang rajin-rajinnya berbunga, menebarkan benih kemanapun aku melangkah dan menebarkan wangi kebahagiaan kemana pun aku berpikir.


Setengah jam di dalam kamar, aku pikir bila diriku sudah siap menemui masa Adit jadi aku segera keluar dari kamarku dengan penampilan ku yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.


Aku keluar dari kamar dan pergi ke ruang tengah, tidak ada siapapun di sana. Aku heran kemana orang-orang pergi. Awalnya aku pikir mereka ada di ruang makan jadi aku bermaksud menyusul ke ruang makan, namun saat aku baru saja mengambil beberapa langkah, aku mendengar suara tawa Ibu dan Bibi dari dalam ruang tamu. Aku langsung memutar jalanku dan segera menyusul mereka ke ruang tamu. Sesampai di ruang tamu aku terkejut melihat semua orang berkumpul kecuali mas Adit.


Eh, kemana mas Adit pergi?


Aku melihat ke arah pintu rumah unik sudah tertutup rapat dan mungkin telah dikunci oleh Ayah. Apa mungkin mas Adit sudah pulang?


"Mencari Adit, nak?" Tanya Ibu sebagai menggodaku.


Aku sangat malu dan tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Menghampiri Ibu di sofa dan duduk di sampingnya.


"Bu, kemana mas Adit?" Tanyaku malu-malu.


Ibu dan Bibi langsung tertawa terbahak-bahak. Tangan ibu kini mengelus puncak kepala ku sambil menggelengkan kepalanya tidak berdaya.


"Adit sudah pulang, nak. Dia bilang ini sudah larut malam jadi dia izin pulang ke rumah." Kata ibu mengejutkan ku.


Jadi mas Adit benar-benar pulang?


Hah...apa yang mas Adit bilang memang benar. Ini sudah larut malam dan tidak sepantasnya dia di sini mengingat dia adalah seorang laki-laki. Tapi tetap saja aku masih merasa kecewa karena mas Adit tidak mengatakannya langsung kepadaku. Kenapa mas Adit tiba-tiba pulang ke rumah tanpa memberitahu ku terlebih dahulu?!


Memikirkannya membuatku sedikit kesal. Padahal kami baru saja membicarakan hubungan kami dengan serius. Tapi dia sudah main pergi saja tanpa pamit dulu kepadaku.


"Lalu bagaimana denganku, Bu? Siapa yang akan mengantarkan ku pergi ke mansion Demian malam ini? Aku takut menggunakan mobil taksi selarut ini." Kataku lemah.


Aku bukanlah orang yang manja, sungguh, tidak. Malah aku terbilang wanita yang mandiri karena sejak awal aku telah berusaha untuk tidak menyusahkan siapapun saat menghadapi masalah. Namun untuk keluar malam selarut ini aku tidak memiliki keberanian sebesar itu. Hei, aku juga seorang wanita. Aku punya kelemahan dan rentan terhadap kejahatan malam.


"Oh masalah itu. Jangan khawatir, nak. Adit sudah mengatakannya kepada ibu tadi jika dia sudah meminta izin kepada tuan Davin sehingga malam ini kamu bisa tinggal di sini. Adit juga sudah menjelaskan bila besok kamu bisa beristirahat di rumah dan kembali bekerja lagi setelah kalian berdua menyelesaikan urusan kalian." Kata Ibu dengan senyuman lebar di wajahnya.


Sejak mendengar kabar bahagia ini, Ibu tidak berhenti tersenyum lebar saking bahagianya. Anggi tahu ibu tidak pernah merasakan perasaan sebahagia ini. Ibu pasti puas dengan calon suami ku dan puas dengan sikap calon suami ku yang sangat menghormati mereka selaku keluarga ku.


Dan kepuasan dihatinya semakin bertambah saat melihat bagaimana sikap mas Adit kepada kedua cucunya yang masih kecil. Untungnya mereka diterima dengan ikhlas oleh mas Adit dan mas Adit pun juga telah dianggap sebagai papa oleh kedua anakku.


Ini adalah hasil yang memuaskan dan kabar yang sangat menggembirakan untuk semua orang di rumah ini.


"Oh...jadi begitu, Bu. Aku...aku lega mendengarnya." Kata ku sangat malu.


Tadinya aku sempat kecewa karena mas Adit pulang duluan dan aku juga sempat bingung harus ke mansion Demian dengan apa. Faktanya aku besok libur gara-gara agenda ke rumah kedua orang tua mas Adit.


Ugh, diingatkan tentang keluarga mas Adit. Aku bingung harus membawa apa untuk mereka berdua. Aku tidak ingin meninggalkan kesan pamer kepada mereka berdua karena apa yang mereka miliki mungkin jauh lebih baik daripada milikku. Tapi aku juga tidak ingin terlihat asal-asalan di depan mereka, takutnya mengira bahwa aku adalah orang yang pelit. Jadi aku bingung harus memberikan hadiah apa?!


"Bu, Anggi enggak tahu mau bawain orang tua mas Adit apa. Anggi takut membuat kesan yang sangat buruk kepada mereka berdua." Kataku kepada ibu.


Aku ingin meminta bantuan kepada ibu. Mungkin saja ibu tahu aku harus melakukan apa dan membawa apa.


"Nak, ibu juga bingung kamu harus membawa apa. Sebab ibu tidak berpengalaman soal beginian." Kata Ibu sepertinya takut meninggalkan kesan yang sangat buruk kepada calon mertuaku.


"Anggi, Bibi pikir sebaiknya kamu memaksakan mereka sesuatu yang lezat. Ingat, mereka adalah keluarga kaya raya dan mungkin sudah memiliki banyak hal yang tidak kamu miliki. Jadi daripada memberikan mereka benda mahal atau barang berharga, kenapa tidak buatkan saja mereka makanan atau kue yang lezat?" Bibi memberikan solusi kepadaku.


Solusi ini memang agak menegang kan dan terkesan tidak terlalu menjanjikan. Tapi apa yang bibi katakan ada benarnya juga. Jika aku membeli perhiasan, Mama mas Adit pasti memiliki perhiasan yang jauh lebih baik daripada yang ku belikan. Lalu jika aku membeli jas atau gaun untuk kedua orang tua mas Adit, aku takut salah karena tidak tahu berapa ukuran tubuh mereka. Jadi seperti yang Bibi bilang, cara teraman adalah memasak untuk mereka.


Sempat memikirkan cara ini sih tapi ragu. Sekarang setelah memikirkannya, cara ini seharusnya lebih baik daripada yang lainnya.


"Saran bibi bisa dicoba. Baiklah, aku akan membuat kue untuk kedua orang tua mas Adit. Semoga saja kue yang aku buat bisa diterima oleh orang tua mas Adit." Kataku sekali lagi langsung disambut gelak tawa oleh mereka berdua.


"Anggi terlihat seperti anak gadis yang belum pernah menikah." Kata bibi kepadaku.


Ah, apakah mungkin?


Menurutku setiap orang yang berada di posisiku pasti akan langsung panik dan cemas.


"Itulah yang aku pikirkan tadi, kak. Dia seperti anak gadis yang belum pernah menikah." Kata ibu ikut-ikutan.


Mereka mulai menggodaku lagi. Aku sangat malu. Aku tidak tahan lagi berada di sini. Dengan alasan ingin tidur, aku langsung angkat kaki dari ruang tamu dan segera pergi ke kamarku. Di kamar aku tidak langsung tidur tapi aku buru-buru mengambil ponsel ku. Aku mencari resep kue yang enak di internet dan melihat banyak hal. Setelah memilih beberapa jenis kue yang ku anggap mampu ku buat, aku lantas pergi ke dapur untuk mengecek bahan-bahan. Aku menyiapkan semua bahan yang akan aku gunakan besok untuk membuat kue.


Pukul 1 dini hari aku akhirnya bisa rileks. Aku melihat semua bahan yang tertata rapi di atas meja. Tersenyum puas, aku mengangkat tanganku menggeliat nyaman untuk menghilangkan pegal-pegal di tubuhku. Rasanya sangat nyaman.


Setelah melihat tidak ada yang kurang dari semua persiapan yang telah aku lakukan. Aku lalu keluar dari dapur. Rumah masih menyala terang tapi tidak ada suara atau canda tawa lagi. Ibu, Ayah, Bibi, dan paman sudah beristirahat di dalam kamar masing-masing. Aku tersenyum lega memikirkannya.


"Astaga, aku lupa hadiah anak-anak." Kataku memukul kening.


Untung saja aku sempat mengingat nya. Tanpa membuang banyak waktu aku mengambil hadiah anak-anak dari ruang tamu dan membawanya masuk ke kamar anak-anak. Di dalam kamar, Aldo dan Aldi tidurnya dengan sangat lelap. Di atas nakas Aldo ada buku tulis dan pensil yang ditaruh tidak rapi. Mungkin sebelum tidur Aldo menyempatkan diri untuk belajar. Sedangkan Aldi memegang buku bacaannya dengan posisi yang aneh. Dia rupanya jatuh tertidur sebelum bisa menyelesaikan bacaannya. Ah, melihatnya sekarang. Anak-anak sangat menyukai belajar. Mereka persis seperti mas Adit. Apa iniz sangat konyol. Mereka bukanlah darah daging mas Adit tapi kenapa setiap tindakan dan perilaku mereka justru menunjukan seolah-olah mereka adalah darah daging mas Adit.


"Konyol." Kataku menertawakan diri sendiri.


Aku menaruh hadiah di atas ranjang masing-masing sebelum memperbaiki posisi buku tulis Aldo dan menaruh kembali buku bacaan Aldi di atas nakas.


Setelah beres, aku tidak langsung keluar dari kamar anak-anak.


Aku menyempatkan diri untuk berbicara dengan anak-anak dulu sebelum kembali ke kamar untuk tidur.


"Aldo dan Aldi, buah hati kesayangan Mama..." Bisik Anggi kepada kedua putranya yang masih mendekam di alam mimpi.


Mengelus puncak kepala mereka, aku lalu membisikkan kata-kata yang ingin sekali aku ucapkan kepada anak-anaknya.


"Akhirnya, nak... akhirnya kebahagiaan datang di hidup kita. Kalian akan segera memiliki sosok Papa yang luar biasa dan mama akan memiliki sosok suami yang luar biasa pula. Mama yakin bersama dengannya, hidup kita akan jauh lebih baik lagi." Kataku kepada mereka berdua.


Namun baik Aldo maupun Aldi tidak merespon ku sama sekali. Dia sangat asik tertidur dan berkelana ke alam mimpi. Aku tidak ingin mengganggu mereka jadi aku langsung keluar dari kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menggangu waktu tidur mereka.


Setelah itu aku langsung masuk ke dalam kamarku. Jatuh ke atas ranjang dan mencari posisi yang paling nyaman di atas ranjang. Setelah merasakan kenyamanan yang ku cari, mataku yang sudah berat perlahan mulai enggan berkedip dan jatuh menghalangi pandanganku.


Aku akhirnya bisa tidur dengan nyaman tanpa ada kekhawatiran akan hari esok. Sebab hari esok ada kebahagiaan yang telah menunggu di penghujung hari.


***


Adit ingin tinggal lebih lama di rumah Anggi. Namun dia masih memiliki sesuatu yang harus diurus dan cukup mendesak. Jadi dengan berat hati dia meminta izin kepada keluarga Anggi untuk undur diri.


Keluar dari rumah Anggi, dia sudah ditunggu oleh supir pribadinya yang telah datang entah sejak kapan.


Adit melemparkan kunci mobilnya, meminta Niko masuk ke dalam mobil untuk mengikutinya. Di dalam mobil Adit duduk dengan nyaman sambil mendengarkan laporan yang Niko sampaikan.


"Bagaimana dengan pecundang itu?" Tanya Adit malas-malasan, auranya sangat berbeda ketika berada di dalam rumah Anggi.


Niko sudah terbiasa dengan sikap Adit yang malas dan acuh tak acuh jadi dia segera melaporkan apa yang dia dapatkan dari bawahannya.


"Bos, Doni sudah kami bawa ke gudang bawah tanah. Saat ini dia sedang diamankan oleh yang lainnya." Kata Niko memberikan jawaban positif.


Untuk Doni, laki-laki yang baru saja mendapatkan gelar pecundang dari Adit, dia sebagai asisten pribadi Adit harus turun tangan dengan serius untuk menanganinya sebab Doni telah menyinggung perasaan Adit berkali-kali.


Sejujurnya dia tidak memiliki simpati untuknya laki-laki itu. Karena selain dia pecundang, Doni juga memiliki wajah yang sangat tebal. Mengaku-ngaku sebagai suami Anggi setelah semua yang dia lakukan, sungguh, Niko tidak tahu kemana laki-laki ini menaruh kepalanya.


"Bagus. Kirim aku ke sana." Kata Adit dengan suara rendahnya yang membosankan.


Mulut Niko bergerak terbuka dan tertutup beberapa kali. Dia ingin mengatakan sesuatu untuk mencegah Adit pergi karena dia kasihan melihat bosnya yang telah bekerja keras akhir-akhir ini. Namun saat melihat ekspresi serius bosnya, Niko segera menekan kekhawatirannya dan memutuskan untuk menyanggupi permintaan Adit.


"Ke jalan X." Kata Niko kepada supir pribadi Adit.


"Baik, tuan." Supir itu langsung mengerti tanpa bertanya.


Adit dalam suasana hati yang rendah sejak membicarakan Doni. Dia menutup matanya untuk beristirahat, mengistirahatkan kepalanya yang telah beroperasi serius selama beberapa waktu ini.


Melihat Adit memejamkan matanya, Niko tidak tega mengganggunya. Padahal masih ada lagi laporan hasil harus dia sampaikan kepada Adit.


"Apa lagi?" Merasakan keraguan Niko, Adit perlahan membuka matanya untuk menatap Niko.


"Bos, ada berita dari orang-orang suruhan ku mengenai keluarga nona Sera." Kata Niko mulai berbicara cepat.


Adit tersenyum dangkal,"Oh, apakah ada sesuatu yang menarik tentang mereka?" Dia pikir butuh waktu lama untuk mendengarkan berita tentang keluarga ini lagi.


Tak disangka dia hanya menunggu beberapa jam saja keluarga ini sudah mulai bergerak. Mereka sangat agresif. Pikir Adit mencemooh.


"Orang-orang ku melapor bila Mama Sera telah meminta beberapa orang untuk datang ke rumah kekasih bos tadi sore. Orang-orang itu diperintahkan untuk menyuap keluarga mbak Anggi dengan sejumlah uang agar mbak Anggi segera menjauhi bos dan memutuskan hubungan kalian berdua. Namun untungnya orang-orang kita telah bergerak cepat dan menghentikan mereka sebelum bertemu dengan keluarga mbak Anggi." Kata Niko dengan ekspresi datar di wajahnya.


Dia tahu bila kabar ini pasti sangat menarik untuk bosnya. Terutama hal ini memiliki sangkut paut terhadap orang yang Adit cintai.


Adit terkekeh ringan.


"Menarik. Lalu dimana mereka?" Adit mulai menyusun rencananya.


Niko tersenyum tipis,"Mereka sudah diamankan di gudang bawah tanah, bos." Kata Niko melaporkan.


"Bagus, minta kenaikan gaji kepada tuan Davin." Kata Adit enteng.


Mulut Niko berkerut. Mereka memang bekerja untuk Davin tapi mereka tidak sedekat Adit ketika bersama Davin. Jadi mana mungkin mereka seberani itu meminta kenaikan gaji kepada Davin?


Selain itu semua tugas-tugas ini adalah milik Adit jadi seharusnya Adit lah yang memberikan mereka gaji tambahan.


"Kenapa, tidak mau?" Tanya Adit datar.


Niko mengusap wajahnya frustasi.


"Lagipula hari ini kami bekerja untuk bos dan bukan untuk tuan Davin." Kata Niko aneh.


Bagaimana mungkin mereka meminta bayaran disaat jasa mereka digunakan oleh orang lain?


Adit tersenyum simpul,"Aku adalah asisten pribadi tuan Davin dan Anggi adalah asisten pribadi nyonya Rein. Artinya, apa yang kalian lakukan hari ini adalah untuk menjaga kesejahteraan asisten tuan Davin dan nyonya Rein. Maka upah seharusnya dibayarkan oleh tuan Davin selaku kepala rumah tangga, apa kamu memahaminya?" Kata Adit enteng.


Bukannya dia pelit, biasanya dia tidak akan pelit apalagi Niko dan yang lainnya sudah bekerja keras untuknya. Hanya saja Adit masih menaruh dendam kepada sahabatnya itu yang main menjebloskan untuk mengurus segudang kesibukan di kantor. Jadi untuk membalas dendam, setidaknya Davin mengeluarkan isi dompetnya sedikit saja sebagai kompensasi.


Niko benar-benar tidak berdaya,"Bos, kamu sungguh memaksaku." Ujarnya lemah.


Adit mengangkat bahunya acuh dan kembali menutup matanya untuk beristirahat. Setelah itu tidak ada suara lagi di dalam mobil selain suara dari jalanan.


Nino maupun sang supir secara alami diam, bahkan laju mobil diperlambat beberapa kali agar membuat istirahat Adit menjadi nyaman.


Hingga setengah jam kemudian, mereka akhirnya sampai di jalan x. Tepatnya di depan sebuah pabrik tua yang telah kam ditinggalkan.


"Hem, begitu cepat?" Adit sedikit terkejut karena mereka jauh lebih cepat daripada biasanya.


Mulut Niko dan supir itu berkedut. Mobil tidak hanya tidak cepat tapi berkali-kali jauh lebih lambat daripada biasanya. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa untuk berkomentar sebab Adit baru saja menikmati waktu tidur singkatnya.


"Pimpin jalan." Perintah Adit.


Beberapa bawahan orang yang sudah menunggu kedatangan Adit segera memimpin jalan ke depan dan langsung diikuti oleh Adit serta yang lainnya.


Sepanjang jalan menuju ke ruangan itu, Adit bersiul dengan nyaman, mengabaikan suasana dingin di dalam gedung tua ini.


"Bos sepertinya sedang tidak mood." Bisik beberapa orang di belakang.


"Hust. Suasana hati bos sedang buruk karena laki-laki yang kita sekap tadi adalah mantan suami mbak Anggi." Kata bawahan yang lain memberitahu.


Setelah mendengar penjelasan singkat dari temannya, bawahan itu akhirnya mengerti kenapa Adit dalam suasana hati yang buruk. Sejujurnya agak jarang melihat Adit tiba-tiba kehilangan kesabaran karena setiap kali Adit kehilangan mood, tidak akan ada hal baik yang akan datang. Setiap orang yang akan bermasalah dengannya pasti akan mendapatkan ganjarannya.


"Orang itu sangat sial. Dia tidak akan berakhir dengan baik karena telah menyinggung hati bos." Kata bawahan itu berbisik.


Temannya hanya menganggukkan kepala setuju karena dia pernah melihat dengan kepalanya sendiri bagaimana cara Adit memperlakukan orang-orang yang telah menyinggungnya. Tapi itu dulu dan sudah lama tidak terjadi.


Jadi melihatnya sekarang, mereka merasa agak takjub sekaligus takut.


"Dimana?" Tanya Adit lembut.


Orang-orang yang memimpin jalan merasakan hawa dingin mulai merambati punggung mereka.


"Di ruangan ini, bos." Akhirnya mereka sampai di ruangan tempat Doni tinggal.


Orang-orang yang memimpin jalan tadi langsung membuka jalan agar Adit bisa masuk ke dalam. Diam-diam menjaga jarak dari jangkauan Adit agar tidak mendapatkan bagian yang menyakitkan.


"Oh." Adit masuk ke dalam dan segera bertemu dengan ekspresi penuh benci Doni.


Doni kini sedang terikat di atas kursi. Mulutnya disumpal agar tidak berisik, kaki serta tangannya diikat agar tidak membuat masalah. Dan dia tidak bisa melakukan apa-apa selain berteriak tidak nyaman sambil menatap Adit dengan melotot.


"Yo, pecundang. Kita baru saja berpisah beberapa jam yang lalu dan kini bertemu kembali di sini. Takdir memang sedikit buruk." Kata Adit sok akrab kepada Doni.


Dia duduk bersandar di atas sofa single, merentangkan kedua tangannya di atas pegangan kursi dan menyilang kan salah satu kakinya dengan santai. Dia terlihat sedang menikmati waktu santainya di dalam rumah.


Melihat tatapan penuh ejekan dari Adit, Doni yang sedang terikat di atas kursi mulai bergerak liar ingin membebaskan diri dan mulutnya tidak berhenti berteriak ingin mengucapkan banyak sumpah serapah. Tapi semua usahanya sia-sia karena tidak hanya tidak bisa melakukan apa-apa, tangan serta kakinya mulai sakit karena terjerat tali. Padahal dia sangat marah dan membenci Adit karena hatinya sangat tidak puas setelah dikalahkan oleh Adit dengan mudah. Apalagi ketika memikirkan Anggi kini telah menjalin hubungan dengannya, ketidakpuasan di dalam hatinya semakin tidak terlukiskan. Dia mungkin hampir gila jika terus seperti ini tanpa bisa membalaskan dendam nya.


"Nah, terus lah bergerak dan berteriak sesuka hatimu. Sungguh, aku sangat terhibur dengan atraksi yang kamu lakukan. Kamu yah... jika aku ingat dengan baik-baik pertunjukan mu mirip seperti topeng monyet di jalanan, apakah aku benar?" Adit menghina ketidakberdayaannya.


Menyamakannya dengan aktraksi topeng monyet di jalanan. Orang normal manapun tidak akan suka disamakan dengan ejekan seperti itu, apalagi jika sampai membawa nama-nama hewan. Siapapun mungkin akan merasa terhina. Tak terkecuali untuk Doni sendiri hanya selalu menganggap dirinya baik dan sangat membenci Adit.


"Mmmft!" Teriak Doni marah.


Kata-katanya segera disaring oleh kain basah di dalam mulutnya sehingga tidak bisa diterjemahkan dengan baik oleh kepala siapapun yang ada di ruangan itu.


"Oh, jadi kamu ingin pertunjukan lebih?" Kata Adit menduga-duga.


Ketika mendengar kata Adit, semua orang yang ada di ruangan ini merasakan sebuah firasat buruk. Akan ada hal buruk yang akan segera terjadi. Beberapa orang merasa bersimpati untuk Doni dan beberapa nya lagi bersuka cita untuk kemalangan Doni. Mereka tidak sabar ingin melihat apa yang akan Doni dapatkan dari kejadian ini. Apakah Doni bisa keluar hidup-hidup atau tidak dari tempat ini tergantung bagaimana dia berperilaku. Jika dia terus berperilaku buruk seperti tadi, maka mungkin tidak akan ada harapan. Namun jika dia tunduk sedikit saja dan mau meminta maaf kepada Adit, maka mungkin dia masih memiliki kesempatan untuk terus memiliki angin segar dalam hidup ini.


"Niko?" Panggil Adit kepada asisten pribadinya.


"Ya, bos?" Niko dengan sigap mendatangi Adit.


Adit tersenyum simpul,"Panggil para gigolo yang telah aku minta sebelumnya." Perintah Adit langsung mengejutkan semua orang.


"Gigolo?" Bisik mereka bertanya-tanya.


Gigolo adalah sebutan untuk laki-laki bayaran. Biasanya mereka digunakan untuk menemani para wanita kesepian atau untuk menjadi kekasih peliharaan para wanita. Ini sudah menjadi hal biasa dalam dunia mereka yang memiliki tuntutan hidup yang tinggi. Tidak ada yang mengejutkan dari semua itu. Hanya saja mendengar Adit memanggil gigolo rasanya agak menyesatkan.


"Baik, bos." Niko lalu memanggil orang-orang yang dia tugaskan untuk menyewa para gigolo dari pusat hiburan.


Beberapa menit kemudian, muncullah beberapa laki-laki kekar dengan bentuk tubuh besar yang sangat spektakuler. Mereka masuk tanpa menggunakan baju atau celana panjang, hanya menyisakan celana pendek untuk menunjukkan betapa spektakuler nya tubuh mereka.


Doni langsung tercengang melihat 5 laki-laki kekar dengan penampilan mengerikan ini masuk ke dalam gudang. Dia curiga tapi tidak berani menebak karena pikiran itu sangat menakutkan.


Namun, alasan apa yang tepat kenapa Adit membawa orang-orang ini masuk ke dalam gudang tempatnya di sekap?


"Hemft!" Doni bertanya dengan gugup.


Adit tersenyum miring, dia menunjuk lima laki-laki kekar itu dengan seringai lebar di bibirnya.


"Bukankah kamu menyukai cita rasa seorang model? Sekarang untuk memuaskan kamu, aku telah menyiapkan 5 model laki-laki top untuk memuaskan cintamu jadi kamu tidak perlu berlari-lari lagi mengganggu calon istriku di nada depan." Kata Adit disertai gelak tawa yang dibuat-buat.


Mendengar apa yang Adit katakan, semua orang diam-diam menelan ludah mereka karena ngeri. Benar saja, Adit tidak akan tanggung-tanggung saat menghukum seseorang. Jika tidak mengalami kecacatan, maka hidup mereka akan dihancurkan seperti yang Doni lalui saat ini.


"Hemft!" Mata Doni terbelalak kaget.


Dia tidak menyangka bila Adit adalah orang yang sangat tercela. Dia menggunakan cara yang sangat menjijikkan untuk menyerangnya. Doni tidak bisa menerima kenyataan ini jadi dia bergerak liar di atas kursi untuk menunjukkan protes namun Adit sama sekali tidak perduli. Dia mengabaikan Doni yang bergerak putus asa ingin melarikan diri sejauh-jauhnya.


Dia tidak ingin dilecehkan oleh semua laki-laki kekar itu.


"Ada apa? Tidakkah kamu menyukainya? Hei, aku sangat baik kau tahu. Aku memberikan kamu 5 model tampan sedangkan Revan memberikan kamu satu model lemah, bukankah aku sangat baik? Lagipula kami adalah orang yang sangat serakah dan tidak mudah dipuaskan jadi aku sengaja menyiapkan kamu banyak gigolo. Selain itu kamu juga tidak perlu melarikan diri dari sini seperti dua tahun yang lalu. Cukup bersenang-senang di sini dan tidak akan ada orang yang akan menangkap kamu, percayalah." Kata Adit berpura-pura bingung.


Untuk memuaskan orang ini, dia telah menelpon sebuah perusahaan model tertentu agar dapat memenuhi kebutuhan orang ini. Harga yang dia tawarkan pun sangat mahal dan tidak main-main, jadi seharusnya orang ini bersyukur. Bahkan dia jauh lebih baik daripada mantan tuannya yang dulu. Tuannya dulu hanya memberikan satu model lemah sedangkan dia sendiri, orang asing memberikan 5 model yang sangat kuat. Lihat betapa baik dirinya. Padahal mereka adalah dua orang asing yang baru bertemu dua kali hehehe...


"Hemft! Hemft! Hemft!" Doni tetap tidak bisa menerima pengaturan ini.


Dibandingkan dengan Adit, Revan jauh lebih baik dan lebih bisa diandalkan. Revan memang memberikannya 1 model, tapi itu jauh lebih baik daripada 5 laki-laki kekar yang ada di depannya ini.


Sungguh tidak masuk akal jika dia berbahagia didampingi oleh 5 laki-laki kekar ini.


"Oh...kamu terlihat sangat menyukainya." Kata Adit diselingi sebuah tawa.


Dia lalu bangun dari duduknya dan bersiap beranjak dari tempat ini. Melihatnya akan segera pergi, Doni sekali lagi berteriak tidak puas dan bergerak panik hingga dia terjatuh ke atas lantai.


"Hemft!" Kedua matanya memerah karena amarah yang mengamuk di dalam hatinya.


Dia sangat membenci Adit dan sudah tidak sabar ingin mencabik-cabik Adit dengan kedua tangannya sendiri. Sungguh, kebenciannya kepada Adit kini telah mendarah daging. Dia sudah mulai berdelusi membunuh Adit dengan kedua tangannya sendiri.


"Niko, berikan obatnya." Perintah Adit kepada Niko, tersenyum dingin,"Lagipula rasanya mungkin tidak menyenangkan jika dia tidak minum obatnya dulu. Ingat, dosisnya harus seimbang dengan para gigolo yang kita siapkan untuknya." Kata Adit serius.


Niko tidak berani menolak. Dia buru-buru memerintahkan bawahannya untuk memberikan Doni suntikkan sebuah obat terlarang.


Melihat jarum suntik yang akan menembus kulitnya, Doni sekali memberontak tidak ingin disuntik. Bagaimana mungkin dia tidak tahu obat terlarang macam apa ini?


Dia adalah laki-laki yang pernah menggunakannya jadi dia tahu apa kegunaan obat terlarang ini. Dengan kendali obat ini, dia tidak akan mungkin menolak apapun yang dilakukan oleh 5 gigolo itu kepada dirinya. Sungguh tidak berguna, membayangkan martabatnya sebagai laki-laki akan diinjak-injak malam ini membuat hatinya marah sekaligus sedih. Bertanya-tanya mengapa dia harus mengalami semua ini?!


"Hemft!" Doni berteriak putus asa ketika merasakan jarum suntik itu masuk ke dalam dagingnya, menyebarkan cairan obat terlarang itu melalui pembuluh darahnya.


"Bos, obatnya telah digunakan." Kata Niko segera melaporkan.


Aditya semakin puas. Dia menepuk pundak Niko sangat puas dengan apa yang telah terjadi saat ini. Pekerjaan para bawahannya sangat luar biasa.


"Sekarang kalian bisa menikmatinya. Bila ada yang ingin menonton, maka tonton saja. Dan jika tidak, maka keluar untuk berjaga-jaga. Oh ya, jangan lupa untuk membuat dokumentasi agar kenangan malam ini tidak akan terlupakan." Instruksi Adit kepada Niko dan yang lainnya..


Niko mengangguk mengerti sebagai tanggapan.


Adit tidak membuang-buang waktunya lagi di sini. Dia akan pergi menemui peserta selanjutnya. Namun sebelum pergi, dia mengingatkan Doni dengan murah hati sebelum dikendalikan oleh obat terlarang tersebut.


"Oh ya, kamu pernah menjual kekasihku kepada laki-laki lain, kini aku memberikan kamu balasan. Aku tidak menjual ku tapi membelikan kamu beberapa laki-laki kuat, bagaimana? Bukankah kita sekarang seimbang. Jadi tolong nikmati mereka dengan sepenuh hati karena niatku sungguh sangat tulus." Kata Adit dingin di warnai oleh nada penuh kemenangan.


Dia sangat ingat beberapa saat yang lalu Doni pernah merendahkan Anggi sebagai wanita yang kotor dan hina. Sekarang untuk membalasnya, Adit membuat Doni merasakan bagaimana rasanya menjadi laki-laki yang paling hina juga kotor.


Ini adalah trik yang sama dan cara yang sama pula untuk membalas kejahatan yang sama. Sungguh sangat menyenangi.


"Pimpin jalan." Kata Adit tanpa melihat bagaimana ekspresi Doni saat ini.


"Ya, bos." Orang-orang itu kembali memimpin jalan menuju ruangan selanjutnya.


Ekspresi Doni langsung berubah memucat saat mendengarkan kata-kata terakhir Adit. Dia pernah membuat Anggi kotor dan sekarang dialah yang akan dikotori. Sungguh kenyataan yang sangat kejam. Kepalanya menjadi linglung saat merasakan tubuhnya perlahan menjadi panas dan mulai gelisah tak terkendali. Dia berkeringat dingin ketakutan, berteriak ingin segera dilepaskan dari tempat ini. Namun tidak ada yang mendengarnya.


Tak satupun ada yang mau membantu. Beberapa orang pergi dan sebagian besar diam di tempat menunggu dan menonton pertunjukan. Sedangkan para laki-laki kekar itu mulai melancarkan aksi. Mereka datang mengelilingi Doni, membantu melepaskan tali yang melilit Doni dan membuang kain basah yang digunakan untuk menyumpal mulut. Begitu talinya di lepaskan, Doni langsung berdiri dan mencoba melarikan diri. Namun belum dua langkah kakinya melangkah, kaki yang seharusnya berpijak dengan kuat justru melemah dan berubah seperti jeli. Doni segera jatuh kembali dengan lemas di lantai. Setelah itu Doni tidak ingat apa-apa lagi karena dia sudah pasrah dengan keadaannya. Dia tidak mungkin melarikan diri dengan keadaan seperti ini, dia tidak mungkin meminta bantuan kepada mereka karena tak satupun yang mau membantu.


Hidupnya sudah berakhir. Semuanya sudah berakhir. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak berdaya dan putus asa. Hal terakhir yang dia lihat sebelum kehilangan akal adalah kamera yang terus bergerak mengelilinginya. Menyoroti tubuh telanjangnya yang memerah dan berkeringat dingin, merekam setiap hal yang orang-orang bejat itu lakukan kepadanya.


Ini sudah berakhir. Dia tidak memiliki keberanian lagi untuk melihat Anggi ataupun anak-anaknya di masa depan.


Saat melihat para gigolo itu mulai menjalankan tugas, Niko langsung membuang muka karena jijik. Dia buru-buru memanggil beberapa laki-laki yang memiliki ketahanan mental luar biasa. Memintanya untuk merekam semua yang merenggut lakukan dan menyerahkan rekaman kepadanya besok pagi.


Setelah mendapatkan kepastian, Niko langsung keluar dan buru-buru menghampiri Adit di ruangan sebelah. Adit sangat mengerikan tadi jadi Niko tidak yakin apakah orang-orang suruhan Mama Sera memiliki akhir yang baik mengingat betapa suram Adit tadi.


***


Adit berjalan keluar dari ruangan itu dengan ekspresi yang sangat puas. Ekspresi puasnya tidak bertahan lama karena sedetik kemudian, wajahnya kembali muram ketika memikirkan orang-orang suruhan Mama Sera.


Sebenarnya dia sangat puas membalaskan sakit hati dan cemburu yang dia rasakan kepada Doni. Namun kepuasan yang dia rasakan agak terasa dangkal ketika memikirkan orang-orang di ruangan sebelah. Untuk mereka dia punya pengaturan sendiri karena begitu percaya diri ingin menghancurkan hubungannya dengan Anggi.


Untuk sekelas keluarga Anggi, mereka mungkin tidak akan mau menerima uang ataupun sogokan apapun sebab moral mereka begitu tinggi. Tapi meskipun mereka menolak hati mereka pasti sangat terluka karena telah diremehkan sedemikian rupa. Beruntung bawahannya bergerak cepat menghentikan mereka. Jika tidak, malam ini dia tidak akan bisa memiliki Anggi dengan lancar.


"Dimana ruangannya?" Tanya Adit kembali dalam suasana hati yang buruk.


Orang-orang yang memimpin jalan merasakan hawa dingin mulai merambati punggung belakang mereka. Rasanya agak menakutkan, apalagi mereka tadi melihat dengan kedua mata kepala mereka sendiri bagaimana Adit memperlakukan musuh cintanya. Caranya sangat ekstrim walupun kelihatanya sedang bermain-main.


"Satu ruangan lagi kita akan sampai, bos." Salah satu orang di antara mereka buru-buru menjawab agar tidak membuat Adit semakin kesal.


"Bukankah sebelumnya kalian mengatakan bila ruangannya bersebelahan dengan laki-laki pecundang itu? Lalu kenapa sekarang tempatnya tiba-tiba berubah?" Tanya Adit tidak puas.


"Maaf, bos. Sebenarnya ruangan mereka memang bersebelahan tapi berjarak beberapa ruangan." Kata seseorang langsung menimpali dengan nada permintaan maaf.


Adit yang sedang terbakar amarah,"....." Sangat bodoh!