
Besoknya Davin, Rein, Tio, maupun Aska bangun sedikit terlambat dari biasanya. Mereka tidur terlalu lelap sehingga tidak menyadari bila sinar matahari sudah membasahi bumi. Bila Adit sebagai bawahan Davin tidak datang membawa laporan ke rumah, maka semua orang tidak akan menyadari waktu sudah banyak berlalu.
"Dav, cuci wajahmu dan bawa Adit ke ruang kerja untuk berbicara. Jangan bicarakan urusan pekerjaan di depan anak-anak agar mereka tidak menyusahkan mu." Rein menarik Davin turun dari atas ranjang dan menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi.
Davin terlihat sangat enggan menyingkir dari kasur dan selimut hangatnya. Dia ingin tidur sebentar lagi karena masih mengantuk. Tapi Rein tidak membiarkan itu terjadi karena Adit sudah menunggu di luar. Adit datang dengan buru-buru pagi ini ke rumah, keadaanya terlihat cukup buruk. Dia sepertinya begadang semalaman untuk bekerja dan kekurangan waktu tidur.
"Rein, 5 menit lagi, okay? Biarkan aku tidur 5 menit lagi." Mohon Davin ingin melarikan diri masuk ke dalam kamar.
Tapi Rein tidak mau melepaskan Davin. Dia menarik lengan Davin masuk ke dalam kamar untuk membersihkannya wajah Davin.
"Jangan membuat masalah, Dav! Kasihan Adit diluar sana menunggu mu. Saat aku melihatnya tadi wajah Adit terlihat sangat buruk. Sepertinya semalam dia tidak pernah tidur." Kata Rein sambil menyalakan air keran di wastafel. Ia mengarahkan kedua tangan Davin untuk mengambil air dan menggunakannya untuk membasuh wajah.
Setelah itu ia mengambil produk sabun cuci muka yang sering Davin gunakan, menyiapkan sikat gigi dan pasta gigi sebelum memberikannya kepada Davin.
Davin mengambil sikat gigi yang diberikan Rein dan langsung menggunakannya sambil mempertahankan pikirannya tetap jernih dari rasa mengantuk.
"Adit adalah orang luar, tapi kamu sangat mengkhawatirkannya. Sedangkan aku adalah kekasihmu, tapi aku tidak melihat kamu sekhawatir ini kepadaku." Keluh Davin nelangsa.
Jika dia ingat-ingat semalam dia dan Rein hampir saja melewati malam yang sangat menggairahkan, tapi dua bocah nakal itu mengganggu momen yang sangat krusial untuk Davin pribadi. Mereka memonopoli Rein semalaman tanpa menyisakan tempat untuk Davin. Alhasil, Davin hanya bisa menahan api gairahnya surut dengan rasa yang sangat tidak nyaman. Awalnya, ia pikir tidur akan segera menyelesaikan semua keluhannya. Tapi siapa yang menduga bila tidur sama sekali tidak memberikan efek yang baik untuk Davin.
Bukannya merasa lega Davin justru semakin tersiksa karena sumber dari api gairahnya- Rein tidur sangat dekat dengannya. Dia ingin menyentuh Rein, memeluknya untuk menghilangkan ketidaknyamanan tapi dia tidak bisa melakukan itu karena ada Tio dan Aska di kamar.
Davin tidak memiliki solusi lain. Dia lalu bangun dari tidurnya dan pergi ke dalam kamar mandi untuk mandi air dingin. Guyuran air dingin di malam hari bisa menenangkan panas ditubuhnya meskipun membuang banyak waktu.
Tapi tetap saja itu adalah sebuah penyiksaan untuk Davin!
"Kamu ada di depan ku dan tidur dengan nyaman, jadi bagaimana mungkin aku akan khawatir? Adapun Adit adalah bawahan terpercaya mu. Jika dia sakit maka orang yang akan mengalami kesulitan adalah kamu, Dav." Rein tidak berdaya dengan 'cuka' yang kekasihnya dapat pagi ini.
Padahal Davin harusnya tahu bahwa Adit bukanlah seseorang yang bisa masuk ke dalam matanya dan Davin harusnya tidak perlu membuat keributan sepagi ini hanya karena masalah sepele.
Davin mendengus, tapi senyuman hangat mulai terbentuk manis di bibirnya.
"Tapi aku masih tidak suka kamu menyebut nama laki-laki lain di depan ku, Rein. Kamu tidak diizinkan melakukan ini di masa depan."
Kedua mata Davin terbuka mata lebar. Ia menatap Rein tidak percaya- atau mungkin lebih tepatnya agak terkejut. Untuk yang kesekian kalinya Davin dibuat terkejut dengan inisiatif Rein menciumnya terlebih dahulu. Tenggorokan Davin menjadi kering untuk alasan yang tidak bisa disembunyikan, ia menginginkan lebih. Karena itulah ia buru-buru menundukkan kepalanya ingin mencium Rein, mencicipi bibir merah nan ranum itu, tapi sebelum ia bisa melakukannya Rein sudah mengambil langkah cepat untuk menghindar.
"Dav, kita belum menikah jadi aku hanya bisa memberikan mu ini. Selain itu kamu sedang menyikat gigi jadi kamu tidak bisa mencium ku." Kata Rein berpura-pura terlihat polos di depan Davin yang kini tengah tercengang dengan mulut berbusa.
Rein menganggap ini sangat lucu jadi dia tidak bisa menahan tawa lembut keluar dari bibirnya.
"Rein, bukankah ini terlalu berlebihan?" Tanya Davin merasa sangat teraniaya.
Tidak hanya tidak bisa menyentuh Rein, tapi sekarang ia juga tidak bisa berbagi ciuman dengan Rein. Coba katakan, bukankah ini tidak ada bedanya dengan sebuah penyiksaan?
Rein sangat pandai membuatnya menderita.
Rein masih memainkan kartu polosnya,"Dav, apa yang sedang kamu katakan? Bagaimana mungkin kamu mengatakan ini semua berlebihan? Tidakkah kamu pernah mendengar bila pasangan kekasih yang belum sah menikah tidak bisa melakukan hal-hal intim yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami-istri? Jadi, jika kamu ingin mencium ku maka segera nikahi aku. Semudah itu, tidak sulit, bukan?"
Sebenarnya Rein tidak ada bedanya dengan pasangan kekasih di luar sana yang sangat membutuhkan ikatan sah secara hukum maupun agama. Dia ingin posisinya sebagai kekasih Davin tidak tergoyahkan, dan itu hanya bisa dilakukan dengan menikah.
Oh hei, dia benar-benar tidak berniat menyiksa Davin. Dia hanya tidak ingin kedua putranya merasa bingung bila suatu hari ada orang yang bertanya mengapa Rein bisa menetap di rumah Davin sedangkan mereka sebenarnya belum menikah?
"Baiklah, lanjutkan kegiatan mu dan aku akan keluar membuat sarapan untuk anak-anak." Dengan itu Rein langsung melarikan diri dari Davin.
Meninggalkan Davin yang masih belum bergerak di tempat menatap kepergian Rein. Beberapa detik kemudian, ia menghelat nafas panjang guna menenangkan hatinya yang sudah dua kali Rein aniaya dalam waktu satu hari.
Di dalam hatinya dia berjanji untuk segera menyelesaikan masalah perjodohan dengan keluarganya agar bisa menikahi Rein dengan adil tanpa menyembunyikannya dari publik.
"Rein, aku tidak tahu kamu adalah orang yang sangat kejam." Gumam Davin tidak berdaya seraya melanjutkan acara bersih-bersihnya.
Semalam ia tidur sangat larut sehingga bangun terlambat. Padahal dia sudah membuat janji dengan Adit untuk melanjutkan urusan pekerjaan di negara A pagi ini sehingga masalah bisa segera teratasi dan ia pun bisa berpikir dengan tenang bersama keluarga kecilnya.
"Proyek di negara A, aku takut ada campur tangan keluarga Demian di dalam kekacauan ini." Bisik Davin dingin dengan ekspresi datar di wajahnya, berbanding terbalik dengan ekspresi hangat yang ia tampilkan untuk Rein.