
"Apa dia sengaja ingin mempermainkan ku?"
Ini bukanlah hal yang mustahil. Mereka pernah menjadi bagian dari masa lalu yang tidak menyenangkan jadi untuk menebus semua ketidaknyamanan itu Davin mungkin menggunakan pertemuan mereka ini sebagai bagian dari rencana balas dendamnya.
"Masa lalu.." Pikirannya kembali terbang di pagi yang tidak bersahabat itu.
Pagi itu rasanya amat sangat dingin, Rein tidak bisa menampiknya.
"Lalu.. bagaimana waktu 3 tahun yang kita lalui bersama, tidakkah masa-masa itu berarti indah untuk mu?"
Rein memejamkan kedua matanya menahan sesak. Pertanyaan bodoh ini masih terngiang jelas di dalam ingatannya. Dulu, dia berpikir bahwa waktu-waktu yang pernah mereka lewati itu rasanya indah, sangat indah.
"Indah?"
Davin menganggap pertanyaannya lucu. Dia tertawa tapi bukan tawa yang ingin Rein dengar dalam hidup ini.
"Itu indah untuk kamu tapi bagiku waktu 3 tahun yang aku lalui bersama mu adalah mimpi buruk! Aku hampir gila setiap hari mendengarkan teman-teman kantor ku membicarakan betapa dekatnya kita. Mereka bilang hubungan ini menjijikkan dan memalukan. Aku sudah muak mendengar kata-kata sialan itu, aku juga tidak mau membiarkan waktu berharga ku terbuang sia-sia bersamamu. Hah.. akhir-akhir ini aku mulai menyadari jika tidur bersama mu terasa tidak memuaskan seperti dulu lagi jadi aku punya alasan untuk mengakhiri hubungan sialan ini. Sekarang apa kamu sudah mengerti?"
Dan Rein masih mengingat dengan jelas betapa bodohnya dia pagi itu setelah mendengar kata-kata ini. Dia tidak bisa berkata-kata atau lebih tepatnya dia tidak bisa membantah apapun yang Davin katakan.
"Rein.. Rein!"
"Ah, ya?" Rein menarik diri dari lamunannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Orang disebelahnya bertanya.
Rein mengangguk ringan. Dia baru menyadari jika kopi pesanannya sudah jadi.
"Aku akan segera mengantarkan kopi ini ke kantor Pak Davin. Bu Dinda, terimakasih untuk kopinya. Hem, baunya sangat enak."
Bu Dinda tertawa terbahak-bahak khas tawa seorang Ibu yang terbebas dari lilitan hutang.
"Kamu bisa saja, Rein. Pergilah dan jangan melamun lagi lain kali."
Setelah berbasa-basi sebentar dengan Bu Dinda, dia lalu pergi membawa pesanan kopi Davin ke ruangannya di lantai 11. Dia tidak mungkin menggunakan tangga darurat untuk sampai ke lantai itu jadi dia terpaksa berhimpitan bersama karyawan yang lain naik ke lantai atas.
Karyawan lantai 5 sampai seterusnya tergolong mempunyai jabatan yang tinggi di perusahaan ini. Mereka tidak terlalu mengenal Rein dan lebih tidak ramah lagi kepada pegawai kasar seperti Rein.
"Apa kamu tidak bisa menggunakan tangga darurat?" Salah satu wanita cantik yang terganggu dengan kehadiran Rein menegur.
Rein tidak mudah diintimidasi,"Ini adalah kopi untuk Pak Davin."
Wajah wanita itu langsung menjadi buruk. Dia terlihat marah tapi juga malu karena diperhatikan karyawan yang lain.
"Oh ya, bahkan jika ini untuk Pak Davin tidak seharusnya kamu menjejalkan diri di antara kami."
Implikasinya jelas, wanita itu secara tidak langsung merendahkan posisi Rein. Yah, ini wajar saja menemukan tindakan bias di sini. Dari kasta maupun penampilan, orang selalu punya cara untuk menjatuhkan orang lain.
Rein melirik id card yang ada di depan dada wanita itu.
"Saran dari, Mbak, bagus juga. Tapi jangan salahkan saya jika Pak Davin nanti bertanya kenapa kopi pesanannya telat datang dan lebih dulu menjadi dingin sebelum bisa diminum. Apa, Mbak Yuni, tidak masalah?"
Lagi, respon Rein membuat para karyawan yang asik menonton pertunjukan harus menahan tawa. Bahkan ada beberapa orang yang kelepasan tertawa, membuat Yuni semakin malu.
"Dasar miskin." Umpat Yuni tidak mau berdebat lagi dengan Rein.
Rein mengangkat bahunya tidak perduli. Dia tidak membalas ucapan kasar Yuni dan menganggap apa yang Yuni katakan tadi hanya angin lalu saja.
Ting~
Orang-orang yang memenuhi lift mulai berhamburan keluar tidak terkecuali Yuni, wanita yang menegur Rein tadi.
"Ops.." Yuni sengaja menyenggol pundak Rein sebelum keluar sehingga air kopinya sedikit tumpah di atas nampan. Membuat nampan menjadi kotor dan menodai pinggiran cangkir kopi.
Sekali lihat saja Rein bisa membayangkan bagaimana reaksi Davin ketika melihat kopi ini.
"Kau sengaja?" Tanya Rein dengan senyuman yang bukan lagi disebut senyuman.
Yuni tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sedikitpun,"Benar, apa kamu menyesal sekarang?"
Bersambung..