
Dia menatap Rein acuh tak acuh seperti orang asing yang sedang merusak pemandangan. Itu menyakiti mata dan Davin tidak ingin melihatnya terus berlama-lama di sini.
Rein tidak terganggu dengan kata-kata membosankan Davin. Bagaimanapun juga apa yang Davin katakan sepenuhnya benar. Di sini mereka tidak lebih dari atasan dan bawahan.
"Pak Davin bisa tenang, saya pasti mengerti."
Davin mengangguk malas, tangan kanannya yang bebas diarahkan kepada Rein membuat gerakan 'mengusir'. Pembicaraan mereka hanya sampai di sini saja karena tidak ada yang penting dari pegawai kasar seperti Rein. Dia tidak ingin diganggu lagi dan Rein tanpa mengatakan bertanya apapun bisa memahaminya dengan baik.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak, selamat siang."
Rein kemudian berbalik ingin segera kembali ke bawah tapi langkahnya tiba-tiba berhenti ketika mendengar suara acuh tak acuh Davin di belakang.
"Singkirkan atau buang kopi ini. Di masa depan nanti aku tidak ingin melihat kopi ini ada di atas meja kerjaku jika kamu masih ingin bekerja di perusahaan ini."
Rein segera memutar badannya kembali mendekati meja Davin untuk mengambil kopi yang masih belum diminum sedikitpun oleh Davin.
"Saya mengerti, Pak."
Setelah mengambil kopi itu Rein langsung keluar dari ruangan kantor Davin tanpa membuang waktu. Dia mengambil langkah ringan, mengontrol emosi dihatinya yang sudah berkecamuk menahan luka.
Ketika dia berhasil masuk ke dalam lift, barulah Rein melepaskan emosinya. Kedua tangan yang memegang erat nampan terasa sangat basah karena berkeringat, sedangkan kedua lututnya tiba-tiba menjadi lemas tidak kuat menopang tubuh Rein.
Dengan berpegangan pada pegagan besi di dalam lift, Rein membiarkan tubuhnya jatuh merosot di atas lantai untuk menenangkan diri sebentar saja.
"Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?"
Rein mengusap wajahnya gelisah, pandangannya menjadi kabur karena sudah ada cairan bening nan hangat yang mulai mengenang di kelopak persik mata Rein.
"Dan kenapa kami harus bertemu di sini? Kenapa harus Davin yang menjadi Bosku?"
Dia menggigit bibir bawahnya erat guna mencegah ledakan air mata yang sudah berteriak-teriak ingin ditumpahkan.
Berdiri sedekat itu lagi dengan Davin, berbicara sedekat itu lagi dengan Davin, jujur Rein tidak bisa mengelak hatinya sangat merindu. Akan tetapi dari awal pembicaraan mereka, Davin melemparkan Rein sikap yang sama seperti hari itu. Acuh tak acuh dengan nada yang dingin dan sarat akan rasa malas dan membosankan.
"Jangan uji aku lagi, Tuhan. Tolong jangan uji aku lagi karena rasanya sungguh sangat menyakitkan. Aku tidak tahan menanggungnya."
5 tahun yang lalu dia datang ke kota ini berharap bisa memulai kehidupan baru dan bisa melupakan Davin. Akan tetapi harapannya terlalu tinggi karena bukannya memulai hidup baru dia malah terseret-seret mengingat masa lalu mereka, apalagi sejak Tio lahir ke dunia ini hidup Rein di kota ini benar-benar tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Davin.
Tidak cukup sampai di situ saja karena sekarang Tuhan malah kirimkan Davin ke kota ini. Bukankah ini konyol?
Sementara itu di dalam kantor Davin.
Selepas Rein pergi Davin tidak langsung melanjutkan lagi pekerjaannya. Namun dia duduk termenung memikirkan sesuatu, kedua matanya menyipit seiring dengan pikirannya yang bergerak semakin jauh.
Beberapa detik kemudian dia menelpon sekretarisnya yang ada di luar.
"Hallo Pak Davin, apa Anda butuh sesuatu?" Suara sekretaris di ujung sana lembut dan ramah, sangat berbeda jauh dengan suara acuh tak acuhnya ketika berbicara dengan Rein tadi.
"Ya, aku butuh sesuatu." Davin bangkit dari duduk sambil melonggarkan dasi yang menjerat leher jenjangnya dengan rapi. Dia berjalan menuju dinding kaca yang memperlihatkan sebagian kota dari ketinggian tertentu. Memandanginya dengan tatapan tertentu yang tidak bisa dijelaskan.
"Kirimkan aku biodata lengkap Rein Xia, pegawai office girl yang baru saja mengantarkan kopi ke kantorku. Aku ingin informasinya sudah dikirim ke email ku satu jam kemudian, apa kamu mengerti?"
Sekretaris di luar sana terlihat kelabakan tapi nada suaranya tetap tenang dan terjaga.
"Mengerti, Pak. Saya akan segera menghubungi badan personalia agar segera memproses dokumen yang Anda minta."
"Hem." Setelah itu dia menutup sambungan telepon dengan acuh tak acuh.
Sorot matanya yang dingin masih tidak bosan memandangi pemandangan kota di luar sana. Matanya memang melihat ke arah sana tapi pikirannya jelas sudah melalang buana entah kemana.
"Rein Xia.."
Bersambung..
Maaf sebelumnya, saya gak bisa up banyak karena saya harus adil sama yang ada di lapak ijo hehe...