My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
239. 11



Dimas tersenyum aneh,"Ganti Ba - pak - nya!" Tekan Dimas memprovokasi.


"Beraninya kamu-"


"Ayolah, kalian berdua harus berhenti. Bayiku tidak suka mendengarkan keributan dan jangan berikan contoh yang buruk untuk bayiku karena dia bisa mendengar apa yang kalian berdua katakan." Lerai Rein membujuk kedua orang ini agar berhenti berdebat.


Davin mendengus dingin dan menatap Dimas dengan mata melotot untuk memperingatinya.


"Habisnya dia om-om pedofil, sayang. Aku takut dong kelakuan buruk dia nularin-"


"Perusahaan kayaknya sepi, yah?" Potong Rein dengan nada mengancam.


Davin langsung sigap menutup mulutnya, tampak layu. Salahkan bayinya yang terlalu manja bahkan sebelum dia melihat dunia ini. Huh, jika anak itu sudah lahir, Davin berjanji akan memberikannya sebuah pelajaran yang tepat untuk menebus semua dosa-dosanya saat masih di dalam perut Rein.


Setelah melihat Davin akhirnya memiliki sikap yang baik, Rein kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Dimas mengenai Ail, gadis remaja yang telah menarik perhatian Dimas.


"Jadi dia masih berusia 15 tahun. Jaraknya dengan kakak cukup jauh, yah." Kata Rein perihatin.


Dimas melambaikan tangannya tidak perduli. Toh dia cukup santai saat ini dan menikmati pertumbuhan Ail dengan senang hati.


"Bukan masalah. Ketika hati sudah menginginkannya, aku tidak berdaya untuk melawan jadi jalani saja. Jika sudah waktunya maka cepat atau lambat dia akan menjadi milikku."


Karena dia berani membawa Ail pulang maka dia berani bertanggungjawab dan menanggung semuanya. Jadi Dimas tidak terlalu memikirkannya. Toh, Ail juga gadis yang sangat penurut dan masih memiliki sifat kekanak-kanakan sehingga melihatnya tumbuh besar adalah sesuatu yang cukup menyenangkan untuk dijalani.


Mereka berbicara santai dan makan malam dengan damai. Setelah makan malam Rein mengajak Dimas bertemu dengan Tio dan Aska. Mereka berkenalan dan mulai memupuk pendekatan yang sangat singkat sebelum akhirnya bermain bersama dengan seru.


Malam ini berjalan dengan menyenangkan. Rein dan anak-anak sangat puas bertemu dengan Dimas. Dan tepat pada pukul 11 malam Dimas meminta undur diri karena kedua orang tuanya di rumah pasti sudah mengkhawatirkannya sekarang. Jadi Rein dan anak-anak dengan enggan melepaskannya.


Setelah Dimas pergi, Rein kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Dia kembali tidur tanpa buaian lembut dari suaminya. Meskipun sedih Davin juga memahami kondisi maupun situasi istrinya yang spesial. Dia tidak memberikan komentar apapun sekalipun dia sendiri tidak puas.


Istrinya sudah tidur jadi Davin mengambil tugas untuk menemani anak-anak tidur. Di dalam kamar anak-anaknya Davin membacakan sebuah dongeng tidur yang sangat mendebarkan dan mengundang keingintahuan anak-anaknya. Dan perlahan anak-anaknya yang tadi bersemangat mendengarkan dongeng mulai memasuki alam mimpi satu demi satu.


Davin menghela nafas panjang. Dia memperbaiki posisi selimut di tubuh anak-anaknya, setelah merasa aman, dia mencium puncak kepala Tio dan Aska seraya membisikkan ucapan 'selamat malam'.


Menegakkan tubuhnya menatap anak-anak yang tertidur lelap. Lalu dia dengan hati-hati menaruh buku dongeng di atas nakas dan membawa langkahnya dengan hati-hati pula keluar dari dalam kamar kedua anaknya.


Begitu keluar dari kamar anak-anaknya, Davin menyempatkan diri mampir di depan pintu kamar istrinya yang telah tertutup rapat. Menghela nafas panjang dia akhirnya pergi menuju ruang kerjanya untuk bekerja dan menyelesaikan beberapa dokumen perusahaan.


Tepat pukul dua dini hari, Davin akhirnya berhenti bekerja karena lelah dan tanpa sadar jatuh tertidur di mejanya.


Hari ini membuatnya sangat kelelahan.


...***...


"Mas Davin?" Panggilnya lembut.


Rein lalu bangun dari tidurnya dengan susah payah. Melihat ke sekeliling kamarnya dengan perasaan campur aduk karena kehilangan pemanas hidupnya yang tidak biasa. Dalam linglung nya pikiran Rein akhirnya perlahan mulai jernih. Dan dia mengingat dengan baik jika suaminya tidak bisa masuk ke dalam kamar ini karena dilarang olehnya.


Hah, aneh!


Kali ini dia tidak merasa mual saat memikirkan suaminya. Mungkinkah bayinya tidak membuat ulah lagi?


"Mas Davin?" Rein perlahan turun dari ranjangnya.


Tangan kecilnya mengelus permukaan besar dan kencang perutnya untuk menenangkan si bayi yang mulai aktif menendang. Rasanya tidak sakit tapi cukup geli dan agak tidak tertahankan. Jadi Rein suka mengelus perutnya untuk menenangkan si bayi agar jangan terlalu aktif karena tidak tahan dengan rasa geli di perutnya.


"Apa mas Davin tidur di kamar anak-anak?" Gumam Rein sambil melangkah keluar dari dalam kamar.


Di luar, lampu menyala sangat terang. Ini adalah kebiasaan karena Rein tidak suka gelap. Jadi untuk kenyamanan Rein, Davin sengaja membiarkan semua lampu menyala.


"Eh, tapi kenapa lampu kerja mas Davin masih menyala?" Sebab ruang kerja Davin adalah tempat pengecualian karena itu ruangan pribadi Davin.


Jika tidak digunakan pasti ruang kerja itu akan dimatikan lampunya.


"Apa mas Davin tidur di sana?" Rein memutar langkahnya menuju ke ruang kerja Davin yang hanya berjarak beberapa ruangan saja dari kamar mereka.


Cklack


Rein membuka pintu sepelan mungkin, mengintip ke dalam, Rein melihat wajah lelah Davin tertidur di atas meja. Rein tiba-tiba menjadi sedih melihatnya. Dengan perut besar di masuk ke dalam ruangan kerja Davin.


Komputer meja Davin masih menyala dan menunjukkan lampiran dokumen penting perusahaan. Rein lalu menyimpan dokumen itu sebelum mematikan'komputer.


"Mas Davin..." Rein mengelus puncak kepala suaminya dengan lembut.


"Hem, Rein?" Davin sangat kaget melihat keberadaan istrinya di sini.


"Kamu...kamu enggak apa-apa, kan?" Davin masih sangat mengantuk tapi ketika melihat Rein, semangatnya langsung pulih.


Dia ingin menyentuh Rein tapi mencoba menahan diri karena takut menyakiti istrinya. Tidak hanya menahan diri, dia juga sebenarnya ingin bergerak menjauh dari istrinya tapi tangan Rein lebih dulu memeluk lengannya.


"Aku tidak apa-apa, mas. Aku ingin tidur dengan mas Davin. Rasanya sangat aneh tidur tanpa mas Davin di sisiku." Ujar Rein seraya memeluk erat tangan suaminya.


Davin tertegun. Dia menatap istrinya ragu dan mengamati perubahan wajah istrinya. Kemarin istrinya langsung lemas dan pucat pasi saat berdekatan dengannya tapi saat ini dia tidak menunjukkan reaksi besar itu. Dan ketika bersamanya, Rein terkadang akan mual dan ingin muntah, tapi tidak hanya tidak mual, Rein bahkan tidak ingin muntah.


"Mas Davin...aku ngantuk..." Rengek Rein dalam mood ingin dimanjakan.