
Sudah satu minggu, sudah satu minggu ia tidak pernah datang ke kantor lagi dan sudah satu minggu ia melakukan perang dingin dengan Dimas. Mereka tidak pernah berbicara, bertemu pun rasanya mulai jarang karena Rein lebih banyak mengurung diri di dalam kamar.
Satu minggu yang lalu sempat terjadi perdebatan hebat antara ia dan Dimas karena Tio yang tiba-tiba dibawa pergi oleh Davin. Ia dimarahi habis-habisan oleh Dimas, dikatakan sebagai seorang Ibu yang tidak becus menjaga anaknya sendiri. Dimas juga mengatakan jika inilah yang ia dapatkan karena terlalu sok kuat, sok berani tinggal dikandang buaya padahal dirinya tidak sekuat apa yang dilihat orang.
Rein bodoh, ya.
Ia keras kepala bekerja di sana meskipun sudah tahu jika Davin adalah bos besarnya. Rein pikir awalnya kenapa ia harus melarikan diri lagi, toh mereka tidak punya hubungan apa-apa lagi dan mereka juga sudah tidak lebih dari dua orang 'asing'. Namun, siapa yang akan menduga justru Davin lah yang terus-menerus mencari masalah, membuatnya tetap tinggal di ruangan yang sama, dan terkadang melemparkannya kata-kata tajam. Davin bahkan mengancamnya tidak boleh berhenti, membuat Rein tidak punya jalan selain tetap tinggal.
Ini benar-benar salahnya karena terlalu polos berpikir Davin sudah tidak perduli lagi dengan hidupnya.
Rein kalah telak dibuatnya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan tidak sabar datang dari pintu masuk apartemen. Rein mengernyit terganggu, enggan bangun untuk melayani sang tamu kasar yang mungkin hanya orang asing yang iseng mengerjai.
Ini adalah kawasan apartemen bobrok, apartemen yang seharusnya sudah tidak layak lagi ditinggali oleh manusia. Ketukan kasar seperti ini sudah menjadi hal biasa, itulah kenapa Rein enggan bangun untuk membuka pintu.
Brak
Kali ini Rein mendengar suara tendangan dari luar. Ini sudah keterlaluan pikirnya. Terpaksa ia bangun dari acara rebahan nya, menaruh kembali bingkai foto menggemaskan Tio di atas nakas sebelum keluar dari kamarnya.
Brak
Brak
Brak
Orang itu semakin membuat ulah, membuat Rein mendengus kasar bersiap ingin melayangkan kata-kata kasar. Suasana hatinya sedang buruk karena Davin, emosinya beberapa waktu ini berada dipuncak nya karena Davin, dan sudah satu minggu ini wajahnya diselimuti awan mendung karena Davin.
Benar, itu semua karena laki-laki sampah itu yang telah berani-beraninya mengambil Tio!
Cklack
Ia membuka pintu kasar, meluapkan emosinya dengan suara bernada tinggi dan sarat akan kekesalan.
"Berani-beraninya mengganggu-" Kata-kata bernada tinggi itu segera ia telan kembali ke dalam mulutnya.
Karena orang yang sedang ingin ia hindari selama satu minggu ini kini telah berdiri di depannya dengan Tio yang telah bersarang di dalam pelukannya.
"Mommy! Tio linduuu..." Teriakan manja Tio menarik Rein dari lamunannya yang kusut.
Ia mengambil Tio dari Davin tanpa meminta izin terlebih dahulu, memeluknya hangat untuk berbagi kerinduan.
Davin menatapnya datar,"Kemasi semua barang-barang kamu." Perintahnya santai seraya masuk ke dalam apartemen.
Rein mengambil Tio tanpa izin maka ia pun masuk ke dalam tanpa izin, mengabaikan ekspresi galak Rein saat melihatnya masuk ke dalam.
"Cek, aku tidak menyangka kamu dan Tio bisa hidup di tempat kumuh seperti ini." Davin menatap heran sekaligus jijik ruangan sempit yang ada di depannya.
Baginya, tempat ini lebih cocok sebagai gudang atau penyimpanan barang bekas daripada ditempati sebagai tempat tinggal.
Rein mendelik tidak senang,"Memangnya karena siapa aku dan Tio tinggal di sini, ngomong kok gak dipikir-pikir dulu." Balas Rein jutek.
Karena semuanya sudah jelas, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi, dan Rein juga tidak berniat kembali bekerja di kantor, ia menjadi lebih berani berbicara dengan Davin. Memperlakukan Davin seperti orang aneh yang tidak layak menjadi teman bicara.
Kelopak mata Davin bergetar ringan, dia memalingkan wajahnya dari Rein, berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Rein tadi padahal ekspresi sendu di wajahnya tidak bisa dibohongi.
"Karena itulah kamu harus mengemasi semua barang-barang mu hari ini." Kata Davin masih dengan gaya santai nan malasnya yang membosankan.
Rein mengerjap tidak percaya. Ia mulai meragukan pendengarannya saat ini.
"Kamu memintaku melakukan apa?" Rein bertanya.
Davin memutar bola matanya malas.
"Kemasi barang-barang kamu sekarang." Davin mengulangi singkat.
Kedua mata Rein membola, dia mundur beberapa langkah sambil memeluk erat Tio di dalam pelukannya.
"Aku belum membuat keputusan." Dengan kata lain Rein menolak.
Davin tidak perduli, sambil bersedekap dada ia menatap Rein dengan senyuman miring nan angkuhnya yang menjengkelkan- okay, Rein tidak menampik jika Davin sangat tampan sekarang!
Oh ayolah, meskipun tampan mahluk hidup ini berhati kejam dan penuh tipu muslihat dan yah, Rein pernah menjadi korbannya.
"Satu minggu sudah cukup. Jika kamu masih belum membuat keputusan hari ini maka kamu harus rela berpisah dengan Tio karena hari ini aku akan membawanya keluar negeri-"
"Davin!" Potong Rein jengkel.
"Kamu kok jahat banget sama aku dan Tio!" Kesal Rein.
Davin tidak setuju,"Sebelumnya aku sudah memberikan kamu kesempatan untuk berpikir dan membuat kesepakatan. Rein, satu minggu sudah lebih dari cukup untuk kamu. Lagipula ini bukanlah keinginan ku sendiri melainkan keinginan Tio yang sudah rindu ingin bertemu dengan mu." Davin dengan sangat mudah dan santainya melemparkan masalah kepada Tio, anak kecil berusia 4 tahun yang kini sedang bersarang nyaman di dalam pelukan Rein.