My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
135. Identitas Revan



Dia bilang apa?


Aku praktis menoleh ke belakang ingin meminta penjelasan tapi langsung dibuat mengerti ketika melihat penampilannya. Dia sudah menggunakan pakaian formal dengan jas hitam dan mantel coklat di tubuh tingginya. Rambut hitamnya di sisir ke belakang menampilkan jidat seksinya yang menggugah- ugh, Rein! Berhentilah memikirkan yang tidak-tidak!


Ayo, fokus dengan apa yang ingin kamu katakan sebelumnya!


"Kamu mau kemana?" Tanyaku sebenarnya tidak mau berpisah.


Davin sangat sering berpergian beberapa waktu ini, kecuali saat sakit kemarin, dia akhirnya bisa beristirahat dengan baik dan aku bisa menghabiskan waktu lagi bersamanya. Dan lihat sekarang, ya Tuhan dia baru saja keluar dari rumah sakit tapi sudah ingin berpergian!


"Aku akan ke kantor dan mungkin pulang nanti malam." Katanya membuatku patah hati.


"Tapi kamu baru keluar dari rumah sakit, Davin! Tidak bisakah kamu melupakan urusan kantor sebentar saja? Kamu baru sembuh dan membutuhkan istirahat, Davin!" Teriak ku marah.


Aku jengah melihatnya terus menerus bekerja sampai-sampai lupa dengan kondisi tubuhnya sendiri. Buktinya kemarin dia jatuh sakit karena terlalu sibuk bekerja dan terpapar cuaca dingin. Meskipun hanya demam biasa tapi tetap saja itu rasanya sakit dan tidak nyaman.


"Hei, jangan marah." Dia ingin memelukku tapi aku segera mendorongnya menjauh.


Aku tidak ingin mendengarkan apapun yang mau ia katakan saat ini. Percuma saja, toh ujung-ujungnya dia akan pergi juga!


"Patuh, Rein." Perintahnya kepadaku.


Arghhh... bodohnya aku selalu patuh kepadanya setiap kali dia memintaku untuk patuh.


Dengan wajah cemberut, aku terpaksa masuk ke dalam pelukannya. Mencium wangi gel di tubuh Davin dengan marah. Kami menggunakan sabun mandi yang sama tapi kenapa aku merasa milik Davin jauh lebih harum?


Apakah penciuman ku bermasalah?


"Aku tidak bisa membiarkan pekerjaan ini di urus oleh siapapun, ini sangat penting, Rein. Aku janji setelah hari ini aku akan diam di rumah bersama kamu dan anak-anak." Dia memberikan ku janji manis.


Ugh, memangnya aku anak-anak apa mau saja diberikan janji manis semudah itu. Tidak, aku tidak akan mudah termakan oleh janji buaya siapapun termasuk dari Davin!


Tapi...aku tidak punya cara lain selain menerimanya! Ini sangat menjengkelkan! Davin sangat menjengkelkan!


Kenapa laki-laki di dunia ini semuanya menjengkelkan!


"Dav, aku bukan anak-anak!"


Dia tertawa kecil. Apa kata-kataku terdengar lucu?


Nah, laki-laki tidak hanya menjengkelkan tapi mereka juga adalah makhluk yang tidak jelas! Tidak jelas!


"Oke, berhenti merajuk. Aku akan pergi bersama Adit dan aku berjanji akan pulang secepat mungkin ke rumah agar bisa ikut makan malam bersama kalian, bagaimana?"


Oke, aku setuju tapi aku ingin menegaskan bahwa aku tidak pernah merajuk! Tidak, pernah!


"Pulang lebih cepat malam ini dan setelah itu kamu tidak akan keluar lagi?" Tanyaku memastikan.


Dia lagi-lagi tertawa, memelukku erat dan mencium puncak kepalaku sebelum membuat persetujuan.


"Sungguh, aku akan berusaha pulang lebih cepat dan tidak akan keluar dari rumah lagi setelah itu."


Sejujurnya aku meleleh diperlakukan selembut ini oleh Davin. Kemarahan ku tidak akan bertahan lama jika sudah diberikan perasaan yang manis-manis oleh Davin. Haah.. salahkan diriku yang terlalu lembut.


"Baiklah, kamu bisa pergi." Kataku terpaksa.


Ini sangat penting untuk Davin, jika tidak, dia tidak akan mungkin memohon kepadaku. Davin-ku, aku harap semua ini cepat berlalu.


"Anak baik, patuh di rumah dan tunggu aku pulang membawa permen untuk-"


"Siapa yang anak baik!" Potongku tidak senang. Lagi-lagi dia tertawa, tapi kali ini tawanya terlihat sangat lepas dari sebelumnya.


Tuhan tahu betapa lega hatiku melihatnya.


Setelah mengucapkan beberapa kata, Davin lalu pergi bersama Adit menggunakan mobil panjang Limosin yang sudah lama tidak aku lihat. Biasanya Davin lebih suka menggunakan mobil BMW atau semacamnya jika berpergian bersamaku. Aku pribadi juga lebih suka Davin menggunakan mobil-mobil itu daripada menggunakan mobil Ferrari atau Limosin karena Davin akan memiliki kesan Tuan muda kaya raya dan sombong. Hah, dia terlihat sangat tampan dengan hybe itu!


Aku tidak rela melihatnya semakin digilai oleh para wanita!


"Mom, Daddy mau kemana?" Aku menoleh ke bawah dan baru menyadari Tio sudah berdiri di sampingku.


Aku merendahkan tubuhku, menyentuh puncak kepala Tio untuk memperbaiki letak rambutnya yang agak berantakan karena bermain.


"Daddy mau kerja sama uncle Adit. Daddy bilang Tio sama Kak Aska harus patuh yah diam di rumah temani Mommy, jangan berantem dan jangan buat masalah di rumah buat Daddy makin sayang sama kalian." Kataku berbohong.


Padahal Davin tidak pernah memberikan pesan apapun kepadaku mengenai anak-anak.


Lucunya, ekspresi Tio sangat serius menerima mandat 'bohongan' dari Davin. Seolah-olah mandat itu adalah tugas yang sangat penting dan diberikan langsung oleh Davin. Hem, putraku sangat menggemaskan!


"Okay, Mom-"


"Dasar j*lang tidak tahu diri! Keluar! Keluar dari rumahku!" Teriakan keras bernada kasar seseorang mengintrupsi ucapan putraku.


Aku dan Tio menoleh kaget melihat ke arah asal suara.


Teriakan keras itu berasal dari tetangga kami di samping kanan. Sekilas, dari tempatku berdiri aku bisa melihat seorang wanita seksi ditendang keluar dari rumah oleh seorang laki-laki dewasa. Laki-laki itu berteriak kasar kepada wanita itu, melayangkan berbagai macam sumpah serapah untuk menjatuhkan martabat wanita itu.


Teriakan kasarnya ini tak pelak mengundang perhatian tetangga yang lain. Sama seperti diriku, tetangga yang lain juga mengintip dari pintu mereka, menonton dari jauh pertunjukan yang laki-laki itu ciptakan. Sejujurnya ini sangat menganggu karena Tio dan Aska segera berlari memeluk pahaku meminta sebuah perlindungan.


"It's okay, semuanya pasti baik-baik saja, sayang." Kataku berusaha menenangkan saraf tegang mereka.


"Sekarang ayo kita masuk ke dalam untuk makan siang-""


Aku merasa jika suara laki-laki ini terdengar tidak asing tapi aku tidak ingat pernah mendengarnya dimana.


"Mom?" Panggil Aska masih takut.


Aku buru-buru mengusap puncak kepala Tio dan Aska, membujuk mereka berdua masuk ke dalam rumah untuk makan. Setelah memberikan mereka makan siang aku tidak ikut duduk bersama mereka di meja makan. Aku pergi keluar rumah untuk memastikan keraguanku, memastikan apa yang aku pikirkan sepenuhnya salah- tapi, tidak!


Aku sangat shock melihat wajah laki-laki itu yang tidak lain dan tiada bukan adalah Revan, rekan kerjaku semasa bekerja sebagai office girl di perusahaan Davin.


Revan?


Untuk apa Revan di sini- tidak, ini tidak masuk akal. Melihat sikap sombongnya dia pasti pemilik vila itu.


Revan sedang berdiri dengan angkuh di sana, masih memarahi dan menyumpahi wanita berbaju merah yang kini tengah terduduk lemas- Mbak Anggi!


Ya Tuhan, hari ini aku mendapatkan dua kejutan yang sangat mengerikan. Pertama, Revan dengan segala keangkuhannya kini tengah berdiri menyumpahi Mbak Anggi. Sedari awal aku memang curiga bila identitas Revan tidak sesederhana yang dilihat oleh orang. Dia pasti berasal dari orang kaya melihat dia juga tinggal di tempat orang-orang kaya berkumpul. Dan kedua, untuk apa Mbak Anggi di sini dan bagaimana bisa Revan memarahi Mbak Anggi?


Memangnya apa yang telah Mbak Anggi lakukan sehingga membuat Revan sangat marah?


"Sial, pergi dari hadapanku sekarang juga!"


"Akh!" Mbak Anggi berteriak kesakitan setelah ditendang oleh Revan.


Tidak, mataku tidak salah lihat bahwa Revan baru saja menendang Mbak Anggi!


Keterlaluan!


Sebesar apapun kesalahan Mbak Anggi dia masihlah seorang perempuan! Dia tidak bisa diperlakukan secara kasar apalagi sampai mendapatkan kekerasan!


Aku tidak tahan lagi!


Maka langsung saja aku berlari menuju vila Revan yang tidak terlalu jauh dari vila Davin. Aku harus segera menyelamatkan Mbak Anggi sebelum Revan menyakitinya terlalu jauh!


"Pergi atau kamu akan ma-"


"Mbak Anggi!" Teriak ku berusaha menahan amarah ku.


Revan dan Mbak Anggi kompak menoleh menatap ku, jelas, aku melihat tatapan penuh kejutan di mata mereka. Jika Mbak Anggi terlihat sangat malu dan panik untuk sekedar menatapku maka Revan justru sebaliknya, dia terlihat sangat senang ketika melihat kedatanganku.


Benar saja, laki-laki ini tidak benar dan kepalanya mengalami kerusakan. Dia tidak bisa didekati!


"Rein, apa yang sedang kamu lakukan di sini." Revan berjalan mendekati ku tapi dengan dingin ku peringati.


"Minggir, aku tidak ingin berurusan denganmu." Kataku sambil berjalan mendekati Mbak Anggi.


Penampilan Mbak Anggi sangat berantakan. Pakaian ketat ditubuhnya compang-camping seperti buru-buru digunakan. Lalu, bagian-bagian tubuhnya yang terekspos dan tidak tertutupi kain memiliki jejak-jejak merah seperti pengantin baru!


Tidak, apakah mungkin mereka berdua...


Tapi bukankah Mbak Anggi masih memiliki suami dan dua anak-anak?


Apa yang sedang dia lakukan di sini bersama Revan! Dan kenapa ia meninggalkan keluarnya!


Aku marah tapi tidak bisa melampiaskannya karena Mbak Anggi terlihat sangat hancur. Wajahnya basah karena menangis dan ada juga memar bekas pukulan di wajahnya.


"Mbak Anggi.." Panggilku merasa sedih.


Apa yang sedang terjadi kepada Mbak Anggi selama ini?


Mbak Anggi hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatapku tapi suara isakan nya semakin jelas. Dia pasti sangat sedih dan malu menjadi bahan tontonan di tempat ini.


"Ayo Mbak, pakai ini." Aku melepaskan baju switer yang aku kenakan dan memakainya ke tubuh Mbak Anggi.


"Jangan, Rein." Mbak Anggi menolakku.


Tapi aku semakin memaksanya.


"Ayo, Mbak!" Dan dia tidak menolak lagi.


Aku memainkannya switer ku dan membantingnya bangun. Kaki Mbak Anggi terlihat sangat bengkak dan dia mengalami kesulitan berjalan. Jangankan berjalan, berdiri saja dia sangat kesulitan.


"Sakit, Rein." Bisik Mbak Anggi sambil meringis kesakitan.


Aku tahu, aku tahu pasti sakit rasanya karena itulah aku berusaha untuk hati-hati membantunya berdiri.


"Ayo, Mbak. Kita pasti bisa." Bisik ku ingin menangis tapi aku berusaha menahan air mataku sekuat mungkin di depan Mbak Anggi.


"Rein, jangan sentuh wanita kotor ini. Jika kamu menyentuhnya, aku takut kamu akan terkontaminasi kotoran di tubuhnya-"


"Diam!" Teriak ku marah di depan Revan.


Dia terlihat shock, tidak, lebih tepatnya ekspresi terkejut di wajahnya adalah sebuah kepura-puraan.


"Kamu marah kepadaku hanya karena wanita j*lang ini?" Tanyanya terdengar tidak masuk akal.


Otaknya benar-benar mengalami kerusakan!


"Revan, berhenti mengucapkan kata-kata memuakkan itu di depanku!" Aku sungguh benci mendengar kata-kata kasar itu keluar dari mulut kurang ajarnya


"Kenapa Rein? Bukankah apa yang aku katakan itu benar jika wanita ini adalah j*lang yang kotor dan menjijikkan!" Katanya semakin membuat ku muak- ah, bukan lagi muak tapi sudah masuk ke tingkat yang sangat menjijikkan!