My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
Kegabutan Author, Jangan Dibaca (Nanti Nyesel)



Rein Xia adalah seorang hermaprodhit yang lahir entah dari keluarga siapa dan dimana. Dia sejak dari balita sudah ditelantarkan di depan panti asuhan lengkap dengan beberapa onggok pakaian tipis yang murahan. Tidak ada penjelasan seperti surat singkat ataupun aksesoris yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya seperti yang ada di dalam novel romance penuh keajaiban.


Proses pembuangannya juga tidak melalui berbagai macam drama mengharu biru yang menguras air mata. Singkatnya dia seperti ini, dibuang tepat depan panti asuhan bobrok tanpa meninggalkan jejak yang berarti. Kelanjutannya kalian semua bisa menebaknya.


Dia diambil dengan berat hati oleh pengurus panti dikarenakan saat itu keuangan panti sangat kritis. Bahkan untuk tidur pun anak-anak terpaksa saling berdesakan di satu ruangan kecil yang seharusnya tidak layak dijadikan sebagai tempat tinggal.


Meskipun begitu, orang panti tidak menyerah dengan kedatangan anggota baru. Mereka menganggap kedatangan Rein Xia sebagai salah satu hadiah dari Tuhan kepada mereka.


Semuanya berjalan lancar tanpa ada perubahan di dalam panti asuhan. Rein Xia seperti kebanyakan anak pada umumnya, dia berisik dan cengeng hampir-hampir membuat seluruh panti menguburnya.


Hem, tapi mereka tidak bermaksud serius karena faktanya semua anak kecil pasti seperti ini saat masih belum mengenal dunia.


Lalu, suatu hari orang-orang panti mulai mendiskusikan keanehan pada tubuh si kecil Rein. Mereka pikir Rein adalah seorang perempuan karena wajahnya sangat cantik dan lembut, kulitnya juga seputih susu dan sangat mudah kemerahan apabila disentuh.


Itu yang mereka duga. Akan tetapi saat melihat sesuatu yang tumbuh di area vital Rein kecil mereka semua langsung tercengang di tempat. Mereka bingung karena Rein mempunyai dua alat kelamin dengan jenis yang berbeda.


Ya, tembakkan yang benar!


Dia punya alat kelamin wanita dan laki-laki, membuat semua orang ketakutan saat melihatnya.


Karena takut Rein kecil mempunyai penyakit yang serius, salah satu pengurus panti lalu membawa Rein kecil ke rumah sakit setelah berdiskusi lama dengan kepala panti. Demi Rein kecil yang malang mereka ikhlas menggunakan setengah simpanan uang panti untuk memastikan kehidupannya.


Setelah pulang dari rumah sakit pengurus panti tersebut menceritakan kepada kepala panti asuhan bahwa Rein sangat sehat dan tidak mengidap penyakit apapun. Ada pun kelainan yang terjadi pada alat kelamin Rein adalah salah satu bentuk kelainan genetik yang terjadi saat Rein di dalam kandungan.


Dokter bilang dia adalah manusia Hermaprodhit, bahwa dia terlahir dengan dua jenis kelamin berbeda dan sama-sama dapat digunakan secara aktif. Dokter juga menjelaskan jika Rein kecil adalah seorang wanita meskipun dia mempunyai dua alat kelamin karena di dalam perutnya ada sebuah rahim yang sama seperti perempuan normal lainnya.


Jadi meskipun dia punya dua kelamin tapi Rein masih mempunyai kesempatan dapat dibuahi dan melahirkan seperti wanita normal meskipun kemungkinannya tidak 100% berhasil. Hal ini dikarenakan kondisi tubuh Rein kecil yang spesial dan cukup langka dalam dunia medis.


Diantara 10 orang yang terlahir sebagai hermaprodhit, 3 diantaranya dapat melahirkan sementara sisanya gagal. Ini adalah kemungkinan yang sangat kecil dan mengandalkan peruntungan hidup.


Nah, dokter bilang seandainya Rein kecil tidak mempunyai rahim maka dia bisa dikategorikan sebagai laki-laki karena meskipun punya dua jenis kelamin yang berbeda tapi masih bisa membuahi.


Yah, lagi-lagi itu tidak sepenuhnya berhasil 100%. Ini hanya masalah peruntungan hidup.


Setelah orang-orang panti tahu tentang kondisi tubuh Rein kecil yang spesial mereka tidak lagi memperlakukannya seperti pasien sakit keras. Mereka menyatukan Rein kecil dengan anak-anak panti yang lain seraya menanamkan pemahaman indahnya perbedaan.


Anak-anak panti tumbuh besar bersama Rein tanpa mempermasalahkan kondisi spesial tubuhnya. Malah mereka terbiasa memperlakukan Rein seperti anak perempuan lainnya di panti. Mereka tidak bisa terlalu dekat ataupun berduaan di ruangan yang sama karena perbedaan jenis kelamin.


Mereka semua menyayangi Rein dan melindunginya di luar panti dari anak-anak yang senang sekali melakukan pembulian. Hal ini terus berlangsung sampai satu demi satu diantara mereka mulai keluar dari panti untuk diadopsi orang tua baru.


Sekarang sudah 17 tahun sejak Rein tinggal di panti asuhan dan sebentar lagi dia akan masuk usia 18 tahun. Karena kondisinya yang spesial tidak ada satupun orang tua angkat yang mau mengadopsinya sehingga dia terpaksa tinggal di panti asuhan sampai lulus SMA.


Setelah lulus SMA atau tepatnya saat dia berusia 18 tahun, Rein memutuskan untuk keluar dari panti asuhan untuk mencari pekerjaan. Selain itu dia juga malu terus tinggal dan menyusahkan panti asuhan sampai usia sebesar ini, padahal menurut aturan yayasan dia tidak diizinkan tinggal di panti asuhan melewati usia adopsi. Namun orang-orang panti tidak tega membiarkannya pergi tanpa tahu harus tinggal dimana. Oleh karena itu mereka membiarkan Rein tinggal di panti dengan alasan sebagai pengurus baru sehingga yayasan tidak menegur.


Jadi Rein menguatkan tekad pergi ke kota dengan biaya hidup seadanya untuk mendapatkan pekerjaan. Awalnya dia bekerja sebagai buruh kasar di rumah makan dengan gaji yang minim, tidak sebanding dengan biaya hidup di kota besar. Di tambah lagi Rein juga sering mendapatkan pelecehan dari para pelayan maupun klien di rumah makan tersebut sehingga keinginan Rein untuk berhenti semakin menggunung. Maka dari itu Rein memutuskan untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan hidupnya selama di kota, dia juga harus berhati-hati mencari pekerjaan karena tidak mau setiap pelecehan yang dia terima terulang kembali.


Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya yang baik hati. Laki-laki paruh baya itu mendatangi Rein yang sedang duduk melamun memandangi jalan di depan toko roti. Di dalam pelukan Rein ada sebuah gulungan tebal dari kain yang laki-laki paruh baya itu duga berisi pakaian.


Laki-laki paruh baya itu menjadi simpati melihat keadaan Rein dan menawarkan agar Rein ikut tinggal bersamanya. Tentunya Rein langsung menolak karena dia tidak ingin menjadi beban untuk hidup orang lain. Akan tetapi laki-laki paruh baya itu terus memaksanya dan mengatakan jika dia sudah menganggap Rein sebagai cucunya.


Rein tidak punya pilihan lain dan ikut pulang bersama laki-laki paruh baya baik hati itu. Dia berencana akan membersihkan rumah Kakek itu-(Sekarang panggilannya berubah ya gays, capek juga ngulang panggilan yang sama hehe..)-dan memasakkannya makanan.


Itu karena Rein tidak mau menerima tumpangan hidup secara cuma-cuma.


Untungnya Kakek tidak melarang dan malah ingin mengajarkan Rein sebuah pekerjaan yang menyenangkan. Kata Kakek dia sudah tidak kuat lagi melakukan pekerjaan ini karena usianya yang sudah tidak muda lagi. Dia ingin Rein menggantikan dirinya untuk menekuni pekerjaan ini sebagai pembuat skenario untuk acara film drama.


Rein sangat senang dan belajar dengan tekun dibawah bimbingan Kakek. Berbulan-bulan dia habiskan untuk belajar sampai suatu hari Kakek sangat puas dengan hasil kerjanya. Kakek lalu memperkenalkan Rein dengan beberapa sutradara yang pernah bekerja dengannya. Dia menunjukkan kepada mereka hasil kerja Rein dan berpesan agar mereka meminta Rein menulis skenario apabila mereka membutuhkan bantuan.


Setelah kunjungan itu Rein mulai mendapatkan kerjaan resmi dari salah satu sutradara yang pernah bekerja sama dengan Kakek. Sutradara itu memberikan Rein sebuah novel yang sedang naik daun untuk dijadikan sebagai skenario dalam pembuatan drama nanti.


Rein tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan mulai bekerja keras mengedit novel tersebut untuk dijadikan skenario yang bagus. Pekerjaannya ini selesai satu bulan kemudian dengan hasil yang memuaskan serta gajinya yang sangat tinggi.


Uang sebanyak itu tidak pernah dia bayangkan untuk melihatnya di dunia nyata. Dia sangat terkejut tapi juga senang.


Namun kesenangannya tidak bertahan lama karena Kakek tiba-tiba jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit. Dua hari kemudian pihak keluarga datang ke rumah sakit untuk mengambil jasadnya dan dikebumikan di tempat kelahiran Kakek.


Saat itu Rein sangat shock dan ketakutan karena satu-satunya orang yang disayang tiba-tiba meninggal di depan matanya.


Namun pihak keluarga tidak menyalahkan Rein dan menganggap jika Rein adalah murid langsung Kakek sehingga mereka tidak bisa menyakitinya.


Kesedihan itu memang tidak bertahan lama karena setelah dua minggu kemudian Rein mendapatkan tawaran lagi untuk mengedit sebuah novel. Rein menjadi sibuk dan lambat laun mulai melupakan kesedihannya.


Sampai setengah tahun kemudian Rein pergi ke tempat panti asuhan yang sudah berjasa dalam hidupnya. Dia menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk panti asuhan dan berharap anak-anak di sana menjadi bahagia.


Yah, hidup bahwa dan jangan pernah dirundung kesedihan seperti dirinya saat di panti. Sejujurnya dia selalu cemburu dan iri melihat anak-anak yang diadopsi dengan mudah oleh orang tua angkat sedangkan dirinya selalu ditolak karena tubuhnya yang spesial.


"Hah..Tuhan selalu punya rahasia." Gumamnya saat memperhatikan tawa dan senyum dari anak-anak panti.


...🌸🌸🌸...


Sudah 2 tahun berlalu dan Rein kini sudah hidup dalam kenyamanan yang membosankan. Pekerjaan sehari-harinya hanya berkutat di depan komputer dan mengolah jutaan huruf yang membosankan.


Dia menjadi bosan dan tidak sungkan untuk bermalas-malasan, menunda pekerjaannya berhari-hari untuk menikmati kesenangan hidup.


Hei, jangan salah paham.. Rein tidak sebebas yang kalian pikirkan. Menikmati kesenangan hidup yang Rein maksud adalah duduk di balkon kamarnya dan menikmati udara segar dengan setumpuk buku di atas meja.


Benar.


Akhir-akhir ini Rein sangat suka membaca buku entah itu novel bergenre romantis atau tidak. Baginya selama itu menarik dia tidak akan sungkan membacanya.


"Hem, menarik?" Ujarnya saat membaca judul novel yang masih baru dan terbungkus plastik bening dari toko buku.


Buku ini dia pesan secara acak beberapa hari yang lalu untuk mengisi kebosanan yang dia rasakan.


"Runtuhnya Dunia. Hem.. cukup menarik." Ujar Rein lagi membaca judul buku itu.


Setelah membaca sinopsis yang ada di belakang buku Rein menyimpulkan jika novel ini bercerita tentang Jenderal besar yang menaklukkan akhir dunia bersama pujaan hatinya yang indah. Mereka berpetualang bersama mengalahkan para zombie dan mencari penawar untuk virus zombie yang tidak diketahui asal muasalnya dari mana.


Novel ini dibumbui genre romantis dan fantasi, seharusnya orang akan sangat mudah tertarik ingin membacanya.


Namun apa yang tidak Rein ketahui secara jelas adalah..


"Apa itu beta?" Tanyanya bingung setelah selesai membaca sinopsis buku.


Sinopsis secara singkat menyebutkan jika pemeran utama pria adalah seorang laki-laki dominan sedangkan pemeran utama wanita adalah seorang perempuan baik dan berpendidikan, dan juga.. beberapa beta dari kelas atas yang mengincar hati sang jenderal muda.


"Aku tidak pernah mengedit novel yang mempunyai tema seperti ini. Malah ini pertama kali ku menemukan buku dengan tema yang sangat asing tapi menarik. Apa aku harus menelpon Paman Mo saja untuk menanyakan detail buku ini? Siapa tahu Paman Mo pernah membaca buku ini." Ucapnya berbicara dengan dirinya sendiri.


Rein lalu mengambil ponselnya untuk menelpon Paman Mo, pemilik toko buku tempatnya sering membeli buku.


"Hallo Rein, apa kamu masih belum cukup dengan semua buku yang aku kirimkan?" Ucapan pertama Paman Mo adalah ini saat mengangkat telpon dari Rein.


Rein tertawa kecil, mengibas-ngibaskan tangan kirinya yang masih memegang novel ke udara.


"Tidak Paman Mo, aku masih belum menyelesaikan mereka. Mungkin satu atau dua minggu lagi aku akan kembali memesan buku ke toko Paman." Bantah Rein diselingi tawa kecil.


Paman Mo diseberang sana juga tertawa tapi suara tawanya sangat keras dan berat, sangat berbeda dengan milik Rein.


"Aku pikir kamu ingin memesan lagi. Nah, jika tidak ingin membeli buku lalu kenapa kamu meneleponku? Hahah.. tidak biasanya kamu tiba-tiba menelpon seperti ini." Karena biasanya Rein hanya menelpon saat dia ingin membeli buku saja. Itulah kenapa Paman Mo cukup heran.


"Oh ya benar, ini soal buku yang Paman Mo kirimkan." Rein membawa buku itu ke hadapannya seraya meneliti sudut-sudutnya yang masih mulus dan terbungkus.


"Buku ini judulnya Runtuhnya Dunia, Paman Mo setelah aku membaca sinopsisnya novel ini memang sangat bagus dan cukup menarik. Namun, aku sedikit bingung dengan tema yang diusung oleh novel ini karena tidak satupun buku yang pernah aku baca mengusung tema ini." Lanjut Rein tidak perlu berbasa-basi.


"Runtuhnya Dunia?" Paman Mo terdengar sedang berpikir.


Wajar saja karena buku yang dihadapi Paman Mo tidak seratus atau dua ratus tapi ribuan buku. Dan Rein berharap diantara semua kemungkinan yang terjadi Paman Mo pernah membaca novel ini.


"Ah novel ini.. novel ini sangat buming di internet dan di beberapa negara. Tema yang ada di dalam novel memang sedikit aneh dan terkesan fantasi tapi menurutku disitulah daya tariknya. Kamu akan langsung tergila-gila dan jatuh cinta saat pertama kali membacanya. Oh..aku juga mendengar jika ada banyak permintaan dari para pembaca agar buku ini segera difilmkan. Entah itu dalam bentuk animasi ataupun live action semua orang sangat menantikannya. Bacalah, kamu tidak akan menyesal membacanya." Ulas Paman Mo sangat percaya diri.


Rein menganggukkan kepalanya mengerti, nyatanya sikap lunaknya ini menunjukkan jika dia semakin tertarik membaca novel ini.


Tapi dia masih punya pertanyaan lain untuk Paman Mo.


"Aku mengerti, Paman. Tapi untuk jenis orang yang disebutkan novel ini aku masih belum terlalu paham. Apakah Beta adalah sebuah bidang pekerjaan atau sesuatu yang lain. Paman Mo bisakah Paman menjelaskannya?"


Paman Mo yang ada di seberang sana lagi-lagi tertawa keras, Rein bingung dan bertanya-tanya apakah pertanyaan ini lucu?


Tapi dia pikir itu tidak terdengar lucu sama sekali.


"Rein, Beta adalah jenis kelamin di dunia novel itu. Penulis menyuguhkan tema yang berbeda dan berani karena itulah banyak pembaca dari berbagai macam mancanegara membacanya." Jawab Paman Mo langsung membuat Rein tercengang.


Dia menatap tidak percaya pada buku yang ada di tangan kirinya.


"Jadi ada 3 jenis kelamin?" Ini sangat aneh karena faktanya tidak ada jenis kelamin ketiga di dunia nyata.


"Kamu harus membacanya untuk menjawab semua kebingungan kamu." Ujar Paman Mo diseberang sana.


"Paman Mo terima kasih untuk waktumu dan aku akan segera membaca novelnya sekarang. Aku harap buku ini sesuai dengan ekspektasi ku." Rein sudah tidak sabar ingin membacanya.


Novel ini adalah asupan dan sumber pengetahuan yang sangat penting untuknya yang hampir mati karena bosan.


"Haha..ya..ya.. tidak masalah. Nikmatilah waktumu bersantai, ei! Aku ingat kamu masih bekerja sekarang tapi kenapa sudah ingin bersantai saja?"


Beberapa minggu yang lalu Rein sempat mengatakan jika dia ada proyek baru lagi untuk dikerjakan dan Paman Mo tidak yakin Rein langsung jadi hanya dalam waktu yang singkat.


Rein tertawa kecil penuh makna,"Aku sedang malas jadi tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk bersantai sedikit saja."


Paman Mo diseberang sana menggelengkan kepalanya,"Yah aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Kalau begitu Rein, selamat sore."


"Selamat sore, Paman."


Tud


Sambungan telepon Rein tutup namun dia tidak langsung mengabaikan ponselnya. Dia mencari dulu di internet tentang novel ini dan mendapatkan hasil yang sama persis Paman Mo katakan.


Banyak orang tergila-gila dengan buku ini dan malah ramai-ramai meminta penulis menambahkan bab baru padahal buku sudah lama diselesaikan.


Rein tanpa sadar tertawa kecil melihat ambisi para pembaca yang secara kompak meminta keadilan kepada sang penulis.


"Baiklah, kamu adalah hidangan pembuka ku untuk membunuh kebosanan hidup. Mengenai lezat atau tidak aku akan mengatakannya setelah memakan habis kamu." Ujarnya berbicara pada buku tersebut.


Buku itu hanya diam, tidak memberikan respon apapun dan Rein mengganggap diamnya sebagai persetujuan jadi dia tidak sungkan merobek plastik bening yang melindungi buku itu.


"Nah..aku akan mulai." Rein menyandarkan tubuhnya di atas sandaran kursi santai dan mulai menenggelamkan dirinya dalam dunia fantasi yang mengejutkan keingintahuannya.


Waktu demi waktu terus terlewati dan tanpa sadar langit sudah menyaksikan aksinya. Rein sama sekali sekali tidak menyadari waktu yang terus berjalan dalam keseriusannya membaca buku. Lembar per lembar sudah cukup kali terdengar bergesekan dengan jari-jari tangan yang ramping.


Setiap paragraf yang dia ekspresikan ekspresi berubah, setiap halaman dia lewati kerutan wajah terlihat terlihat, dan setiap bab yang dia lewati sinar mata menunjukkan binar terang.Semua tindakan tangan maupun ekspresi wajah menunjukkan bahwa dia menikmati emosi yang diciptakan penulis dalam buku tersebut.


Benar, dia mulai jatuh cinta dengan dunia yang penulis ciptakan dalam buku ini. Sama seperti mereka yang mengidolakan buku ini, Rein tanpa sadar berharap jika buku tersebut disusun bab yang panjang.


Rasanya tidak rela jalan cerita yang disuguhkan oleh sang penulis sangat singkat dan kurang memuaskan.


Waktu berlalu sangat cepat tanpa Rein sadari.Dia terlalu tenggelam dalam buku yang ada di tangan dan tidak menyadari jika sudah saatnya makan malam. Bukan saja tidak menyadari tapi perutnya juga tidak menunjukkan adanya suara-suara. Lingkungan sekitarnya sangat sunyi dan tenang membuat Rein sangat damai dalam bacaannya.


Ting nong~


Suara bel apartemennya menghancurkan suasana damai Rein membaca buku. Dia langsung menutup novel itu setelah halaman terakhir yang dia baca.


Mata kelamnya mengungkap sekitar dan tersadar jika waktu berlalu banyak.


"Hampir jam 9 malam." Gumamnya pada diri sendiri saat melihat waktu di ponselnya.


Sudah berjam-jam dia hanyut dalam novel ini dan dia juga sudah menyelesaikan setengah jalan cerita dalam waktu yang sangat singkat.Rein pikir besok pagi dia bisa menyelesaikan buku ini sekaligus jika dia begadang.


"Begadang sehari saja tidak apa-apa, toh itu juga sudah menjadi rutinitas ku selama dua tahun ini." Jadi Rein memutuskan untuk membaca bacaannya malam ini juga.


Isinya sangat menarik sehingga dia menunda waktu untuk menjauh dari buku itu.


Ting nong~


Bel apartemennya berbunyi lagi, mendesak Rein agar segera membuka pintu.


Rein tidak meletakkan novel itu di atas meja seperti novel-novel yang lain. Dia membawa novel itu ikut bersamanya karena tidak tahan berpisah. Dia berlari kecil keluar dari kamarnya dan segera membuka pintu apartemen. Rein pikir orang yang datang adalah tamu penting atau kenalannya. Namun nyatanya yang tersedia sekarang adalah seorang pelayan rumah makan yang tidak cukup asing untuk Rein.


"Dengan nona Rein...Xia?" Tanya pelayan itu ragu.


Di sini pesanan harus dikirim kepada pelanggan atas nama nona Rein Xia, seharusnya yang menerima adalah seorang gadis muda pikir pelayan itu. Rein Xia memang cantik dan menawan tetapi penampilannya seperti seorang laki-laki?


Hei, dia sangat kurus dan berdada datar. Oke, dia sama sekali tidak ingin menghakimi para gadis yang berdada kecil di luar sana.


Ini.. apakah alamat pengiriman salah atau Rein Xia yang dia cari, orang yang tidak ada di sini.


Rein mengerti kebingungan itu namun namun dia menjelaskan- pura tidak melihatnya.


"Benar, itu saya sendiri." Jawabnya tenang.


Pelayan itu terbatuk canggung dan langsung memperbaiki ekspresinya.


"Ada kiriman untuk Anda dari pelanggan rumah makan kami. Pelanggan berpesan jika Anda harus makan lebih banyak untuk kesehatan hidup Anda." Katanya sambil memberikan Rein paket makanan itu.


"Terima kasih, aku akan menerimanya." Rein mengambil alih paket makanan itu ke tangan.


Lumayan berat. Batin Rein di dalam hati.


"Kalau begitu saya izin dulu, Nona selamat malam." Pelayan rumah makan itu langsung pergi setelah Rein menerima paket pesanan yang diminta.


Rein melirik punggung pelayan itu dan melihat ke paket yang sedang ada ditangannya.


"Sutradara Edi sangat murah hati." Gumamnya pada diri sendiri.


Rein langsung menutup pintu apartemennya dan membuang novel itu ke atas sofa. Lalu kedua mengarahkan dengan cekatan membuka paket makanan yang masih hangat dan menggugah selera makannya.


Rein beberapa sumpitnya menjadi dua doa mulai memakan beberapa makanan dalam suap kecil. Setelah suap ke 11 Rein sudah kenyang dan tidak sanggup lagi memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Porsi makannya memang tidak besar dan dia juga mudah kenyang jika memakan makanan dari rumah makan atau pesan antar. Sejak dia tinggal di kota nafsu makannya mulai berkurang dan sering menolak hidangan dari rumah makan. Dia sangat menyukai makanan rumah sewaktu di panti yang sederhana tetapi sangat menggugah selera makannya. Memang dia bisa memasak untuk dirinya sendiri, tetapi karena itu pekerjaan yang super sibuk untuk memasak sulit dan lambat laun Rein mulai terbiasa mengingat makan jika dihadapkan dengan kesibukan.


"Aku kenyang." Dia menutup paket makanan itu dan mengikatnya seperti semula.


Setelah itu dia meninggalkannya di depan pintu seraya meninggalkan pesan singkat kepada orang yang mengambilnya.


Makanan itu sangat banyak dan Rein hanya mengambil sedikit dari porsi besarnya. Jadi daripada membuangnya lebih baik makanan yang dia berikan kepada orang yang membutuhkan. Beruntung selalu ada orang yang mengambil makanan itu setiap kali Rein di depan pintu apartemennya.


"Nah sekarang aku akan kembali membaca buku!" Teriakannya tidak sabar.


Dia mengambil buku yang sempat diabaikan di atas sofa dan membawanya masuk ke dalam kamar. Menutup pintu kamar dan mulai membaca di atas kasurnya dengan khusyuk.


Sekali lagi tenggelam dalam buku itu dan waktu yang terus berlalu melewatinya. Dia akan memperbaiki posisinya mungkin atau mengubahnya karena sudah terlalu lama posisinya yang sama.menghadap ke atas akan memijit tengkuknya karena terlalu lama menunduk dan menoleh pula akan menggosok salah satu mata yang mulai memerah atau teras tidak nyaman.


10 jam kemudian Rein berhasil menyelesaikan novel itu. Kedua mata terbelalak karena lelah menangis dan sudut pandang terus berdiri setelah menyelesaikan novel itu.


Dia sangat senang dengan akhir bahagia yang penulis sampaikan dan cukup sedih karena novel sebagus ini tidak memiliki lanjutan lagi.


"Mulai sekarang aku akan mengidolakan penulis buku ini. Hah..aku jatuh cinta dengan novel ini." Ucapannya seraya memeluk sayang buku itu.


Menciumnya beberapa kali dengan suara kecupan yang sengaja dibuat-buat. Semua Rein sangat menyukai buku ini.


"Penulis menciptakan sebuah dunia dimana hermaprodhit seperti ku dapat diterima di dalam sosial pengalamannya mengalami masalah namun lebih baik daripada di dunia nyata." Ucapannya lagi dengan pikiran yang menerawang.


Dia sudah tahu dan sekarang tahu mengapa buku ini disukai banyak orang.


Aku tahu dia cemburu melihat Rania dan Davin menjadi dekat tapi tidak seharusnya dia melakukan itu. Lihat, karena perbuatannya sendiri banyak umat manusia yang harus mati dan negara pun menjadi kacau balau. Hah.. sangat menjengkelkan!" Ulasnya berbicara dengan dirinya sendiri.


Dia memukul-mukul bantal untuk melampiaskan kekesalan hatinya dari tokoh Beta yang ada di dalam buku tersebut. Meskipun Beta itu hanya beberapa halaman singkat dijelaskan penulis namun dampak kekacauan yang disebabkan sangat besar untuk semua orang.


"Eh, tapi.. nama Beta itu sama dengan namaku. Yah, dia dipanggil Rein! Aa..kenapa nama kami berdua sama, aku tidak bisa menerimanya!" Rein berteriak histeris di dalam kamar.


Melompat-lompat di atas kasur empuknya sepuas hati untuk menyuarakan ketidaksenangannya pada sang penulis. Dia tidak terima jika nama orang yang membuat bencana besar dalam novel itu sama dengan dirinya. Dia merasa jika Rein yang penulis maksud adalah dirinya dan perasaan itu sangat menjengkelkan.


"Ah, sudahlah! Lagipula ini hanya cerita fiksi di dalam novel jadi tidak seharusnya aku bersikap kekanak-kanakan." Rein kemudian menjatuhkan dirinya ke atas ranjang.


Mengambil novel itu dan mengamatinya dengan pandangan menerawang.


"Aku terlahir sebagai hermaprodhit dan sangat sulit untuk menemukan pasangan hidup. Tapi di dalam buku ini hermaprodhit masih mempunyai harapan untuk hidup bersama dengan seorang laki-laki. Aku juga ingin.. seperti mereka tinggal di dunia yang masih menyediakan harapan untuk orang yang terlahir berbeda. Astaga..aku berbicara aneh lagi. Aku sepertinya butuh istirahat karena begadang semalaman." Rein mengusap wajahnya kasar.


Selalu saja seperti ini. Batin Rein miris.


"Aku lebih baik mandi dulu sebelum tidur agar kepalaku kembali normal dan tidak error' lagi." Rein lalu turun dari ranjangnya.


Mengambil baju ganti dari dalam lemari dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia melepaskan semua kain yang melekat di tubuh dan melemparkannya ke dalam rak pakaian kotor.


Beberapa detik kemudian suara shower memenuhi kamar mandi diiringi dengan suara sumbang Rein. Dia bernyanyi sepenuh jiwa di dalam kamar mandi dan terkadang menghentak-hentakkan kakinya untuk menambah kepuasan. Beberapa menit kemudian dia berganti lagu dengan nyanyian ceria. Saat menyanyikan lagu ini Rein tidak malu mengeluarkan suara kerasnya sambil melompat-lompat di dalam kamar mandi. Guyuran air dingin dari shower menjadi pelengkap aksi konser dadakan yang dia gelar di dalam kamar mandi.


Suara hentakan kakinya bersatu padu dengan suara gemericik air, itu terdengar agak-


"Argh.." Rein berteriak kaget karena salah satu kakinya terpleset dan keseimbangan tubuhnya menjadi goyah.


Rein langsung jatuh ke bawah tanpa bisa dicegah. Kepala belakangnya langsung membentur ubin kamar mandi yang keras dan kasar.


"Apa ini.." Pandangan Rein dipenuhi warna merah dan sebuah rasa sakit mulai berdenyut dari kepala belakang.


Rein ingin menyentuh kepalanya yang sakit tapi kedua tangannya tidak mau bekerja sama. Mereka terus saja gemetaran setiap kali Rein mencoba mengangkatnya.


"Sakit.." Kepalanya semakin sakit dan pandangannya mulai goyah.


Dia tidak bisa melihat dengan jelas bahkan suaranya mulai melemah. Nafas Rein tersengal-sengal karena dadanya terasa berat. Seolah-olah ada batu besar yang menindihnya tepat di atas jantung yang sedang berdetak.


Apa aku akan mati?. Batin Rein bertanya.


Tubuhnya sangat sakit dan tidak bisa digerakkan, nafasnya juga mulai menipis dan detak jantungnya melambat. Tidak ada kesimpulan yang lebih cocok selain ini, satu-satunya jawaban untuk situasinya sekarang adalah dia akan segera mati.


Baguslah.. setidaknya aku tidak akan pernah menderita lagi. Batinnya merasa lega.


Meskipun menghasilkan banyak uang namun dia belum bisa bahagia karena kehadirannya di dunia ini sangat asing. Para manusia normal menatap sebelah mata kelahiran manusia yang spesial. Hah.. mengapa Tuhan begitu tidak adil?


Jika Tuhan menciptakan mereka dalam kondisi spesial maka seharusnya Tuhan juga bertanggung jawab atas kehidupan mereka diantara para manusia normal. Namun mengapa Tuhan hanya diam saja melihat hidup mereka disepelekan para manusia normal?


Mengapa Tuhan diam saja melihat penderitaan mereka di dunia ini, Rein tidak bisa mengerti alasannya.


"Argh..sa..kit.." Badannya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa.


Seolah-olah ada ribuan benda tajam yang menusuk kulit Rein dan mengirisnya dalam waktu yang bersamaan. Rasa sakit ini terus saja memenuhi tubuhnya dan membuat Rein menjadi mati rasa.


Nafas Rein kian kacau seiring berbagai macam rasa sakit menghujani tubuhnya. Rein ingin menangis keras namun dia tidak bisa karena suaranya saja sudah hilang.


Hanya sakit yang dia rasakan di sekujur tubuh dan lambat laun penglihatannya mulai mengabur. Mengabur dan mengabur digantikan oleh kegelapan yang tidak berujung.


Sebelum dia benar-benar hilang dalam kegelapan Rein merasakan sebuah rasa sakit yang luar biasa.. sangat luar biasa sampai-sampai dia berteriak keras karena tidak bisa menahan gelombang rasa sakit yang tidak ada habisnya.


Jadi seperti ini rasanya mati. Batin Rein menderita.


Membuat jiwanya tersiksa.


Tapi sekarang dia sudah mati sehingga keluhan itu tidak ada gunanya lagi. Tahap selanjutnya dia akan melewati akhirat untuk memutuskan apakah dia berhak masuk surga atau tidak.


Rein pikir Tuhan tidak akan memasukkannya ke dalam neraka karena semasa hidup Rein selalu berjuang menghadapi kesulitan yang Tuhan ciptakan. Lagipula Rein juga yakin dia adalah orang yang baik semasa hidupnya karena sebagian besar gajinya selalu diberikan kepada panti asuhan tempat dia dibesarkan.


Tentu saja, seharusnya Tuhan mengirimnya ke surga dan bukan ke neraka.


...🌸🌸🌸...


Keningnya berkerut tidak nyaman dan ada getaran halus dari bulu mata panjangnya. Beberapa detik kemudian bulu mata yang sempat bergetar kini bergerak ke atas menampilkan bola mata hitam kelam yang indah.


Kedua mata itu mengerjap bingung setelah menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam retina. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan ekspresi kebingungan.


"Ugh.. kepalaku pusing." Dia meringis kecil ketika merasakan kepalanya berdenyut pusing.


"Dimana ini?" Tanyanya seraya mengedarkan pandangan ke sembarang arah.


Dia yakin ini bukan surga apalagi neraka karena jika dia sudah di surga seharusnya tidak ada rasa sakit lagi dan jika dia di neraka seharusnya ada bara api hitam pekat yang terus menyala di sekelilingnya.


Tapi tidak ada sama sekali dan malah yang dia temukan di kamar ini adalah berbagai macam furniture modern yang kekinian.


Melihat ini dia menjadi semakin bingung karena dia masih ingat dengan jelas bahwa dia sudah mati.


Benar, dia sudah mati di dalam kamar mandi karena terlalu asik bernyanyi dan melompat-lompat sehingga dia tanpa sengaja jatuh terpeleset menimpa ubin kamar mandi. Dia juga belum bisa melupakan rasa sakit yang terus saja berdatangan saat dia mulai menghembuskan nafas terakhirnya.


Dia masih ingat dengan sangat jelas itu semua tapi kenapa dia ada di sini dan bukannya di akhirat?


"Apakah ini rumah sakit?" Sekali lagi dia melihat sekitarnya.


"Rumah sakit mana yang menyediakan rumah kelas atas seperti ini? Bahkan ada juga fotoku. Aneh, aku tidak pernah berfoto menggunakan pakaian modis seperti itu..aku juga tidak suka melakukan selfi." Dia memaksakan diri bangun dari tidurnya.


Mengambil salah satu bingkai foto yang mengabadikan wajahnya saat tersenyum lebar  sambil memegang bunga mawar merah.


Di samping bingkai foto ini ada juga bingkai foto yang lain dan lebih aneh dari bingkai foto yang dia pegang ini.


Salah satunya adalah bingkai foto yang paling besar diantara semua foto. Di foto itu dia sedang berdiri dengan seorang laki-laki tampan. Ditangannya ada bunga mawar merah muda yang dia pegang dengan wajah tersipu yang manis.


"Omong kosong! Kapan aku pernah berfoto dengan orang lain? Tidak.. tidak, ada yang salah dengan tempat ini. Ini bukan cuma perasaan ku saja tapi faktanya memang ada yang salah." Dia segera membuang bingkai besar itu ke lantai dengan ekspresi ketakutan.


Prang


Pecahan kaca langsung berserakan dimana-mana.


"Rein apa yang kamu lakukan?"


Rein?


Ting


Tiba-tiba sebuah ingatan membanjiri kepalanya. Di dalam ingatan itu dia melihat dirinya sendiri-lebih tepatnya dia melihat orang yang bernama Rein dan mempunyai wajah yang sama persis seperti dirinya.


Anak itu bernama Rein Xia dan dia terlahir sebagai seorang Beta. Ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia saat Rein masih berusia 3 tahun. Penyebab kematiannya adalah karena Ibu Rein telah mengetahui perselingkuhan sang suami dengan wanita lain. Suaminya ternyata sudah menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuan Ibu Rein. Pasangan suami-istri haram itu juga dikaruniai seorang anak dan yang paling tidak bisa diterima adalah usia anak itu tidak jauh berbeda dari usia Rein kecil.


Ibu Rein tidak bisa menerima kebenaran ini dan jatuh sakit. Dia dirawat di rumah sakit selama beberapa hari sebelum benar-benar meninggal pada hari kelima perawatan.


Setelah Ibu Rein meninggal, Ayah Rein membawa istri keduanya masuk ke dalam rumah untuk menjadi Nyonya besar. Keberadaan wanita itu dengan anaknya membuat Rein kecil tidak mempunyai tempat di mata Ayahnya. Alhasil Rein tumbuh besar tanpa mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah ataupun Ibu. Hatinya hampa dan kosong tanpa simpati orang-orang terdekatnya.


Rein Xia kemudian menjadi keras kepala dan sering membuat masalah untuk keluarganya, seringkali orang-orang menghindari keberadaannya karena mempunyai perilaku yang kasar.


Alhasil Rein tidak punya teman dan semakin menjadi-jadi ketika bertindak. Akan tetapi suatu hari Rein tiba-tiba menjadi jinak dan penurut di rumah. Dia jarang membuat masalah yang cukup aneh untuk orang rumah dan mulai berperilaku baik. Lalu, beberapa waktu kemudian dia mengumumkan kepada semua orang bahwa dia dan Jason sudah menjadi sepasang kekasih.


Jason adalah seniornya saat di SMA dan berasal dari keluarga yang berkuasa. Tentu saja berita ini membuat semua orang sangat senang.


Awalnya Rein pikir hubungannya dengan Jason sangat direstui oleh kedua belah pihak keluarga. Karena keluarga Rein maupun keluarga Jason sering bertemu untuk membicarakan masalah hubungan mereka ke depannya. Akan tetapi nyatanya itu hanya imajinasi Rein saja karena alasan setiap pertemuan mereka adalah Frida, adik Rein. Berbulan-bulan menjalin hubungan dengan Jason, dia akhirnya menyadari ada sesuatu yang aneh dari sikap Jason. Setiap kali berkunjung ke rumah orang pertama yang Jason cari adalah adiknya dan perilaku ini terus saja berulang sampai akhirnya Rein memutuskan untuk menyelidikinya.


Hasil penyelidikan yang dilakukan berhari-hari membuat Rein langsung patah hati sekaligus hancur. Dia akhirnya tahu jika Jason tidak pernah menyukainya dan hanya berpura-pura saja menyukainya karena orang yang Jason sukai selama ini adalah Frida.


Mereka menjalin hubungan di belakang Rein namun kedua belah pihak keluarga sudah saling merestui hubungan mereka.


Saat itu Rein sangat marah dan merasa terkhianati. Dia tidak menyangka jika orang yang menusuknya adalah keluarganya sendiri. Rein sangat marah, dia melampiaskan kemarahannya di rumah dan sengaja membuat kekacauan di sana-sini. Dia juga sering kali mencelakai Frida untuk membalas dendam namun selalu saja gagal.


Keluarga besar tidak bisa menerima sikap Rein dan mengusirnya dari rumah. Saat Rein keluar dari rumah tanpa tempat tujuan dia tidak sengaja  bertemu dengan Jendral Davin, laki-laki dominan yang menjadi idola Beta dan banyak perempuan.


Rein langsung jatuh cinta saat itu juga dan memutuskan untuk mulai mengejar-ngejar Davin. Dia melakukan berbagai macam cara untuk menarik perhatian Davin tapi semua itu tidak pernah berhasil.


Hal ini terus berlangsung sampai akhirnya Davin bertemu dengan seorang perempuan cantik nan cerdas yang bernama Raini, belahan hatinya.


Rein patah hati sekaligus cemburu. Dia tidak mau Davin dimiliki oleh Raini Maka dari itu dia berencana akan menyerang Raini di bandara, namun sebelum dia bisa melakukan serangan, tubuhnya tiba-tiba mengamuk dan kesadarannya hilang. Dia menyerang siapa saja dan menggigitnya. Orang yang digigit tubuhnya akan bereaksi sama seperti Rein. Kesadarannya akan hilang dan dia sangat ingin menggigit siapapun yang ada di sekitarnya. Entah itu keluarga atau orang asing, mereka tidak bisa membedakannya.


Lalu cerita selanjutnya adalah Rein berakhir menjadi zombie dan pelopor lahirnya para zombie. Sebenarnya itu bukan kesalahan Rein sepenuhnya karena orang yang menyuntikkan virus zombie ke dalam tubuh Rein adalah adiknya sendiri.


Frida sudah lama berencana ingin menjadikan Rein sebagai musuh semua orang dan dunia. Dia ingin menghancurkan kehidupan Rein yang telah membuatnya muak.


"Rein.. Rein!"


"...ya?" Jawab Rein setelah tersadar dari lamunannya.


Dia menatap wanita yang ada di depannya dengan bingung. Wanita ini sama persis dengan wanita arogan yang dia lihat tadi. Wanita yang membuat Ibu Rein patah hati.


"Kenapa kamu menangis?" Tanyanya tanpa rasa khawatir sedikitpun.


"Ah..jadi aku benar-benar pindah ke dalam dunia buku itu?" Rein tidak menjawab wanita itu karena saat ini pikirannya sedang kalut.


Dia tidak pernah menyangka dan dia bahkan tidak pernah berpikir tentang keajaiban ini. Dia tidak pernah menduga akan dilahirkan kembali ke dunia lain tepatnya di dalam sebuah buku dan DILAHIRKAN SEBAGAI UMPAN MERIAM!


Oh ayolah, kenapa Tuhan menempatkannya pada posisi yang salah!


Selain menjadi umpan meriam dia akan dibenci oleh semua orang di dunia ini. Dia akan dikutuk habis-habisan karena menjadi orang pertama yang berubah dari manusia menjadi zombie.


"Aku tidak bisa mempercayainya.. dilahirkan sebagai umpan meriam, Tuhan apakah Kau tidak mencintai ku?" Tanya Rein tidak habis pikir.


Dia memang hidup lagi tapi hanya beberapa bulan karena setelah itu dia akan mati sebagai zombie yang menakutkan.


Rein tidak bisa mempercayai ketidakberuntungannya di dunia ini.


"Hei, apa kepalamu masih sakit? Bicaramu ngelantur kemana-mana." Wanita itu menatap Rein dengan tatapan aneh juga takut-takut.


"Ya, kepalaku masih sakit! Bukan hanya kepala ku saja tapi hati dan jiwaku juga sakit! Aku tidak mau hidup di dunia ini, aku ingin pulang!" Jawab Rein berteriak.


Wanita itu terkejut dan tanpa sadar mundur ke belakang. Dia berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Rein.


"Kamu.. istirahatlah. Jika butuh sesuatu panggil saja pelayan dan katakan apa mau mu kepada mereka."  Setelah mengatakan itu, dia segera pergi meninggalkan Rein yang masih kalut dengan takdir hidupnya.


"Aku tidak mau hidup hanya menjadi ikan asin atau umpan meriam. Aku hanya ingin hidup normal dengan sebuah harapan, selain dari itu aku tidak menginginkannya. Tapi Tuhan.. kenapa Kau mengirim ku ke tempat ini? Apa dosaku sangat besar dan tidak termaafkan sehingga Engkau mengirim ku ke dunia ini?" Rein tidak bisa menahan kesedihannya ketika tahu dia masuk ke dalam dunia buku ABO.


Sesungguhnya dia tidak apa-apa dilahirkan kembali ke dunia ini asalkan jangan menjadi tokoh Beta yang menyebalkan itu. Dia tidak mau hidup singkat dan dia lebih tidak mau menjadi pelopor kebencian dunia.


Dia tidak mau!


"Tapi.. tapi aku mungkin bisa tidak mengikuti naskah yang penulis tulis." Tiba-tiba dia mendapatkan ide.


Semangatnya untuk bertahan hidup kembali berkibar dengan gagahnya.


"Ya.. lagipula dunia ini sangat nyata jadi aku hanya perlu melenceng dari jalan cerita yang sebenarnya. Untuk keselamatan hidupku dan umat manusia, aku harus lebih menjaga jarak dengan Frida agar virus itu tidak disuntikkan ke dalam tubuhku. Lalu aku tidak akan membuat keributan gara-gara buaya darat sialan itu dan yang paling penting aku harus mengantisipasi pertemuan ku dengan Jenderal Davin. Uh.. jika saja aku bukan umpan meriam maka pikiran pertama ku adalah bertemu dengan Davin. Laki-laki gagah dan pem- berhenti memikirkannya! Aku harus menjauhi semua orang yang mempunyai kemampuan mengirim ku berakhir dibenci dunia." Rencananya sangat sederhana dan seharusnya mudah dilakukan.


"Menjauhi mereka..ada baiknya jika aku keluar dari rumah ini. Membeli rumah atau menyewa di luar sana adalah solusi terbaik untuk menghindari jalan cerita yang penulis tulis. Ah dan masalah uang! Aku tidak perlu bingung memikirkannya karena aku hanya perlu bekerja! Aku hanya perlu meneruskan pekerjaan Kakek atau mencari pekerjaan yang lain. Pokoknya pekerjaan apapun itu akan aku terima asalkan menjauh dari alur cerita!." Rein sangat senang dengan ide cemerlangnya.


Kekhawatirannya beberapa saat lalu langsung digantikan dengan sebuah senyuman kebanggaan. Dia mengagumi kelebihan otaknya yang tidak bisa dibandingkan dengan otak-otak orang lain. Untungnya dia cerdas dan dapat diandalkan pada masa kritis seperti ini sehingga keselamatan hidupnya terjamin.


Ah, pengalaman memang guru terbaik.


"Tapi.. kenapa lengan kiri ku rasanya sangat sakit?" Tanya Rein bingung.


Dia mengangkat tangannya meraba-raba lengan kiri yang sakit dan menekannya iseng.


Ini memang sakit sungguhan. Batin Rein setelah mengkonfirmasi.


Rasa sakitnya seperti ada jarum tajam yang terus menekan kulitnya. Rein merasakan sebuah firasat buruk dan ingatan tentang awal mula pemilik tubuh asli berubah menjadi zombie langsung berkelebat di dalam kepalanya.


"Tidak mungkin secepat itu.." Ujarnya tidak percaya.


Rein menjadi panik dan segera menarik lengan baju panjang tangan kirinya ke atas. Menariknya dengan tergesa-gesa untuk mencari pusat rasa sakit yang terus menerus mengirim gelombang sengatan yang tidak main-main. Ada bintik merah di atas lengan kirinya yang masih bengkak  dan baru. Sepertinya bintik merah ini disuntik kemarin atau tidak beberapa jam yang lalu.


Dia sontak tercengang melihat bintik merah yang ada di lengan kirinya karena dalam sekali lihat dia langsung tahu bahwa itu adalah bekas suntikan.


Ya, ini adalah bekas SUNTIKAN!


"Sun-suntikan?" Tanyanya kosong.


"TIDAK!!!" Rein berteriak histeris di dalam kamar.


Kedua tangan dan kakinya mengepak-ngepak tidak terima di atas ranjang. Melempar apapun yang bisa dia lempar untuk melampiaskan kemarahannya.


Yang benar saja, Tuhan!


Katakan Tuhan bahwa suntikan ini bukanlah suntikan yang akan mengakhiri hidupku! Katakan ini hanya suntikan biasa saja dan bukan suntikan virus zombie..!. Batin Rein meraung di dalam hatinya.


Padahal dia baru saja merancang masa depannya tapi Tuhan ternyata tidak memberikannya kesempatan untuk bernafas. Apa-apaan ini pikirnya, Tuhan ternyata mengirimnya ke dunia ini memang hanya untuk menjadi umpan meriam!


Dia dilahirkan di dunia ini hanya untuk membuka jalan kisah percintaan protagonis dengan omega terkasihnya.


"Rein, kenapa kamu tiba-tiba berteriak? Apa tubuh mu masih bermasalah?" Seorang laki-laki paruh baya tiba-tiba menerjang masuk ke dalam kamar Rein.


Bergegas mendekati wajah suram Rein dengan kamar yang sudah berantakan. Gambaran ini memang cocok untuk anak manja yang terlahir dari keluarga kaya.


Rein melihat laki-laki paruh baya itu dan langsung mencari di dalam ingatannya tentang identitas laki-laki paruh baya itu. Ternyata laki-laki paruh baya itu adalah Ayah Rein yang tidak bertanggungjawab!


Dia seorang Alpha dan auranya penuh akan tekanan.


Jika saja Rein tidak sedang kalut dia akan langsung menerjang orang ini dengan segenap tenaganya. Karena semua yang menimpa Rein di rumah ini disebabkan oleh orang tidak berperasaan ini!


Aahhhhh...ini semua salah penulis sialan itu!. Batin Rein meraung.


"Benar Rein, apa kamu baik-baik saja?" Ibu tirinya juga khawatir.


Sebenarnya dia tidak khawatir tapi lebih tepatnya sedang ketakutan. Kedua tangannya memeluk lengan sang suami erat sambil terus mengawasi perubahan ekspresi Rein dari warna merah menjadi warna hijau, dari warna hijau menjadi warna hitam.


Rein melihat kedatangan mereka dan segera menata ekspresinya senormal mungkin. Dia kemudian bangun dan duduk di atas ranjang sambil menghadap pasangan munafik yang juga sedang menatapnya.


"Siapa yang menyuntik ku?" Tanya Rein langsung sambil menunjukkan lengan kirinya yang masih bengkak diantara titik merah.


Ayah dan Ibu tirinya sontak saling tatap dengan ekspresi wajah yang berbeda. Jika Ayah terlihat tidak perduli dan menganggap Rein idiot maka Ibu tirinya terlihat agak gugup dan gelisah.


Membaca ekspresi Ibu tirinya, Rein menduga jika suntikan ini adalah suntikan yang akan mengakhiri kehidupannya. Membuatnya menjadi pelopor kejahatan dan dibenci dunia.


"Apa kamu tidak ingat semalam kamu demam tinggi sehingga dokter Shu memutuskan untuk memberikan kamu suntikan. Lihat, pagi ini kamu sudah sembuh jadi masalah luka yang tertinggal tidak perlu diributkan lagi. Kamu bisa menggunakan krim kulit atau operasi kulit untuk menghapus luka yang tertinggal." Jawab Ayah tidak ambil pusing dengan ekspresi kekhawatiran Rein.


Menurutnya Rein hanya berlebihan saja dan sudah biasa bersikap manja di rumah ini. Sehingga masalah kecil atau sepele dapat dibesarkan sesuka hatinya.


"Benar Rein, dokter Shu bilang luka suntikan di lengan mu bisa dihilangkan jika menggunakan krim kulit." Kata Ibu tirinya jauh lebih tenang.


Dia tidak takut lagi Rein akan curiga dengan suntikan yang dia terima semalam karena Rein dimatanya sangat bodoh dan impulsif. Jadi rahasia sebesar ini tidak akan pernah berkelebat di dalam otak kosong Rein.


Rein seketika menahan nafas dan merasakan dadanya dihancurkan dalam sekejap. Dokter Shu..dokter ini ada di dalam ingatan pemilik tubuh asli.


Dokter Shu adalah selingkuhan Ibu tirinya di belakang Ayah. Bersama dokter Shu, Frida dan Ibunya berencana ingin menghilangkan Rein dari rumah ini agar mereka bisa menguasai sepenuhnya semua kekayaan yang akan Rein dapatkan.


Bibi, aku tahu kamu haus harta tapi caramu terlalu keji. Orang yang kamu bunuh bukan hanya aku Bibi tapi hampir semua umat manusia yang ada di dunia ini. Bahkan keluarga mu juga tidak akan lepas dari kebuasan virus yang kamu tanam di dalam tubuhku. Batin Rein merana.


"Habislah sudah..aku tidak mau melanjutkan hidup ini lagi." Ucap Rein sedih.


Dia menjatuhkan dirinya kembali ke atas ranjang sambil meratapi takdir hidupnya yang mengenaskan.


Ayah melihat sikap aneh Rein tapi tidak menganggapnya serius. Bagi Ayah ini jauh lebih baik daripada Rein membuat kekacauan di dalam rumah.


"Ayo kita turun dan biarkan saja Rein sendiri." Ajak Ayah kepada istrinya.


Ibu tiri Rein mengangguk dengan lembut namun sudut matanya masih mengawasi tingkah laku aneh Rein.


"Tunggu sayang, ada yang ingin aku sampaikan kepada Rein." Dia menahan lengan suaminya agar tidak meninggalkan dia sendirian.


Meskipun masih waras tapi dia masih takut Rein tiba-tiba mengamuk dan melakukan serangan mendadak di rumah ini.


"Rein," Panggilnya dengan suara lembut yang dibuat-buat.


Rein menoleh tapi tidak merespon.


"Siang ini Jason dan Ibunya ingin bertemu dengan mu. Apakah kamu bisa bertemu dengan mereka?" Lanjut Suyi bertanya.


Rein sedang dalam mood yang buruk dan dia tidak mau diganggu. Apalagi lawan bicaranya adalah wanita yang sudah merencanakan alur kematiannya.


"Terserah." Jawab Rein tidak perduli.


Membuang pandangannya menatap ke arah balkon kamarnya yang menampilkan hamparan langit yang cerah.


Suyi tersenyum tipis, di dalam hatinya dia saat ini sedang mengutuk keras sikap kurang ajar Rein.


"Baiklah, kita akan pergi pukul 2 siang nanti jadi aku harap kamu bisa bersiap-siap." Katanya masam.


Rein tidak menoleh ataupun mengeluarkan suara. Artinya dia tidak mau berbicara dengan mereka lagi dan ingin sendirian.


Ayah juga tidak mau terus berada di dalam kamar ini. Dia menarik Suyi keluar dari kamar Rein dan turun ke bawah untuk melanjutkan waktu santai mereka yang tertunda.


Setelah kepergian mereka berdua Rein tidak lagi berpura-pura acuh. Dia bangun dari tidurnya dan langsung melompat-lompat di atas kasur sekuat tenaga.


"Tuhan, Kau sengaja kan mengirim ku di waktu yang salah? Hah..aku tidak punya jalan keluar lagi." Rein jatuh lemas di atas kasurnya.


"Aku tidak bisa sembuh tapi aku juga tidak mau menjadi musuh umat manusia. Daripada menjadi musuh dan menerima jutaan kutukan lebih baik aku mati saja. Mati.." Rein tercengang dengan pikirannya.


Tiba-tiba dia mendapatkan sebuah ide untuk menyelamatkan harga diri dan martabatnya di dunia ini.


"Yah..aku harus mencari sebuah rumah yang jauh dari pemukiman manusia. Aku akan mengunci diriku di dalam rumah itu sampai aku benar-benar berubah menjadi zombie. Setelah berubah menjadi zombie tubuhku akan membusuk dan tidak bertenaga karena aku tidak menggigit manusia. Dengan begini umat manusia akan terselamatkan dan harga diriku tidak terinjak-injak. Hahah..betapa cerdasnya diriku." Rein kembali menghidupkan semangatnya


Meskipun tidak akan hidup lama tapi itu lebih baik daripada menjadi musuh manusia.


"Nah, di dalam ingatan pemilik tubuh asli dia akan menjadi zombie setelah 6 atau 7 bulan kemudian. Masih jauh, setidaknya aku masih hidup setengah tahun lagi di dunia ini secara normal." Rein mulai merenung dan menghitung durasi hidupnya di dunia ini.


"Setengah tahun memang cukup singkat tapi seharusnya sudah cukup untukku bersenang-senang di dunia ini. Benar..aku akan bersenang-senang!" Rein sangat senang dengan rencana hidupnya yang singkat di dunia ini.


Dia akan memanfaatkan setengah tahun durasi hidupnya sebelum menjadi zombie untuk bersenang-senang.


"Di dunia ini aku adalah Beta karena mempunyai rahim. Aku mempunyai kesempatan mendapatkan kekasih ataupun berkenalan dengan laki-laki di luar sana, jika beruntung aku akan mendapatkan alpha...yah, seorang alpha!" Dia mengeluarkan pakaian yang cantik dan sesuai dengan seleranya dari lemari pakaian pemilik tubuh asli.


Untungnya pemilik tubuh asli adalah orang yang sangat pandai merawat tubuhnya sehingga setiap pakaian ataupun perawatan kulit yang dia punya membuat Rein lega.


Dia sangat puas dengan wajah lembut yang terpantul di cermin saat ini.


"Tapi masalah rumah ini harus segera aku selesaikan. Lebih baik segera pergi dari rumah ini secepat mungkin sebelum Frida dan Ibunya merencanakan sesuatu untuk menyakitiku-"


Grurr


Perutnya berbunyi keras minta diisi. Untung saja tidak ada siapapun di dalam kamarnya.


"Aku sangat lapar." Keluhnya sambil mengusap perut datarnya.


Dia kemudian menekan tombol merah yang ada di samping tempat tidur seraya mengatakan sesuatu ke arah tombol.


"Bawakan aku makanan..oh, makanan yang paling lezat dan masih hangat." Perintahnya sesuka hati.


"Rein dunia ini ternyata sangat manja dan sombong tapi kenapa penulis tidak menyebutkan alur cerita ini? Padahal kehidupan Rein dunia ini sangat menegangkan dan patut ditulis agar pembaca tidak terus-terusan menyalahkan Rein dunia ini. Tapi itu wajar saja penulis tidak perduli karena pada dasarnya Rein dunia ini hanya umpan meriam. Setelah umpan meriam diledakkan maka Rein tidak mempunyai kegunaan apapun di alur selanjutnya. Menyedihkan...hah, sekarang aku yang menggantikan posisinya. Betapa menyedihkannya hidupku." Sambil menunggu makanan datang Rein melanjutkan ratapannya.


Tiba-tiba pindah ke dunia ini dan menjadi seonggok figur yang menyebalkan memang tidak langsung bisa dipercayai Rein. Dia awalnya menolak percaya dan tidak menerima peran hidupnya yang tidak bermanfaat.


Akan tetapi sekuat apapun dia menolak percaya fakta yang dia dapatkan justru tidak bisa dibantah. Inilah adanya dan itu tidak akan terbantahkan meskipun Rein melempar dirinya dari lantai dua rumah ini.


Tok


Tok


Tok


Makanan Rein sudah sampai.


"Masuk." Teriak Rein bersemangat.


Pelayan yang membawa kereta makanan Rein masuk ke dalam kamar. Dia membawa makanan itu ke hadapan Rein dengan sopan dan menyingkirkan kain saji yang menutupi makanan di kereta.


"Bagus, kamu bisa pergi." Usir Rein santai.


Rein menikmati layanan yang dia terima di rumah ini dan langsung melupakan ratapan hidupnya.


"Tidak buruk." Ujar Rein setelah mencicipi beberapa makanan.


Setidaknya ini jauh lebih baik daripada hidangan yang dibuat dari rumah makan atau restoran cepat saji dari dunianya.


Setelah mencicipi semua piring Rein tidak lagi bersuara karena fokusnya saat ini mengisi perut untuk menghidupkan semangat hidup. Dia memasukkan beberapa suap ke dalam mulutnya tanpa tergesa-gesa dan mengunyahnya dengan santai. Setelah menelan dia mengulangi lagi kegiatannya tadi sampai perutnya tidak bisa menerima makanan lagi.


Beberapa menit kemudian dia sudah menyelesaikan makannya.


"Saatnya mandi dan bersiap-siap menemui alpha sialan yang sudah membuat pemilik tubuh asli patah hati. Hem.. Jason, akan ku tunjukkan betapa bodohnya kamu memilih omega licik itu dibandingkan dengan Rein." Ucapnya bertekad.


Ayolah, sebelum keluar dari rumah ini dia ingin melihat siapa laki-laki breng**k yang sudah berani memainkan hati pemilik tubuh. Tentu saja Rein juga ingin menunjukkan kepada alpha bodoh itu betapa indahnya pesona tubuh pemilik asli- atidak lagi, ini adalah tubuhnya sendiri!


"Semoga saja pesona ku membuat alpha sialan itu menyesal...semoga saja." Harap Rein agak tidak percaya diri.


Hei, dia tidak pernah berpacaran dan menjalin hubungan di dunianya dulu sehingga wajar saja dia agak khawatir dengan penampilannya nanti.


Rein tidak ingin ambil pusing dan menduga-duga hasil pertemuannya nanti jadi dia memutuskan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum mandi Rein menasehati dirinya agar tidak mengurangi kesalahan masa lalu di dunianya. Dia tidak boleh melompat-lompat di dalam kamar mandi dan kalau bisa hindari mandi dengan shower. Lebih baik menggunakan bathub yang aman dan tidak mempunyai resiko berbahaya.


Bersambung...


Promo doang wkwkwkw..


Jangan plagiat yah, Allah maha melihat lho..


Ide mandek, mood nulis hilang, hahhh...saya gak tahu mau ngapain jadi pada akhirnya ngeluarin catatan lama. Ini adalah novel fantasi yang saya tulis pada awal tahun 2020 tapi saya hanya saya tulis beberapa bab saja karena tulisan saya masih berantakan dan belum berpengalaman membuat tulisan tentang dunia fantasi seperti zombie, kekuatan, atau Alpha, omega, dan Beta..


Fiuh... jadilah tulisan ini berdebu di dalam aplikasi menulis saya.