
"Sudah terlambat." Ucap Davin dengan kemarahan yang tidak bisa disembunyikan dari matanya.
"Sudah terlalu banyak yang menjadi korban di rumah ini. Maaf Kakek... benar-benar tidak dibutuhkan. Bahkan aku ataupun Adit yang telah menjadi korban di rumah ini sudah mati rasa dengan semua kekejaman anggota keluarga ini. Di bawah hidung Kakek mereka merenggut satu demi satu orang yang paling kamu cintai tapi Kakek tidak melakukan tindakan apa-apa selain hanya mengatakan bahwa ini adalah bagian dari ujian. Kakek, sesungguhnya aku maupun Adit tidak mengharapkan posisi ini jadi kami tidak mau menerima ujian yang dengan gampangnya Kakek minta untuk kami jalani. Rasanya sangat menyakitkan, Kakek. Jadi mana mungkin aku dan Adit masih memiliki ruang di hati untuk memaafkan semua yang terjadi di masa lalu? Sekedar pengingat, kami bukanlah orang yang murah hati." Ujar Davin menolak permintaan maaf Kakek Demian.
Dia tidak asal berbicara. Apa yang dia katakan tulus dari dalam hatinya. Jangankan dirinya, dokter Adit saja bahkan sangat enggan membawa pandangannya menatap Kakek Demian ataupun orang-orang yang dicurigai dalam pembunuhan kedua orang tuanya. Jauh dari dalam hatinya, dia merasa ini tidak adil, sungguh tidak adil. Namun, adakah yang mau mendengarkan keluhan hati mereka?
Tidak, tidak ada yang mau. Mereka ataupun Kakek Demian seolah tuli juga buta terhadap penderitaan mereka.
"Aku tahu, ini pasti sangat sulit untuk kalian berdua. Tapi aku tidak menyesal melakukannya, Dav, karena aku mempercayai pilihanku. Jika Tuhan mengizinkan ku untuk kembali menebus waktu-waktu itu maka aku tidak akan ragu mengulangi tindakan yang sama, sungguh. Davin, katakanlah aku seorang laki-laki tua yang egois. Ya, aku mengakuinya bahkan tanpa menunggu orang lain membicarakannya terlebih dahulu. Aku egois untuk masa depan keluarga ku sendiri. Aku ingin keluarga ini tetap berdiri dengan aman dan damai, jauh dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Dan itu semua hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang pantas menduduki kursi ini. Seperti Papa mu, kamu, ataupun Adit. Kalian adalah pilihan terbaik di dalam hidupku. Adapun anak-anak dan cucuku yang lain, mereka tidak bisa memenuhi syarat untuk menempati kursi ini karena perilaku yang mereka cermin kan jauh dari kata pantas." Seperti yang Davin harapkan, Kakek Demian masihlah egois.
Untuk keluarga ini dia akan bersikeras dengan pilihannya sendiri namun berpura-pura bodoh terhadap suara-suara di sekelilingnya. Dan karena keegoisannya inilah Kakek Demian secara sadar menempatkan ahli warisnya di jurang kehancuran, diburu kemanapun pergi bagaikan mangsa yang harus segera ditaklukkan. Davin membenci perasaan ini, membenci perasaan tidak berdaya saat orang-orang di belakangnya diam-diam mengasah pisau tajam untuknya.
"Ini tidak adil." Kata Revan tiba-tiba memberanikan diri untuk berbicara.
Situasinya sudah tidak bisa ditolong lagi saat ini. Semua orang sudah mengetahui rahasianya maka kenapa tidak ungkapkan saja semuanya agar mereka semua mengerti mengapa dia berani melakukan kejahatan ini?
Dia tahu jika masalahnya sangat besar tapi dia tidak mau melepaskan kesempatan untuk memohon kepada laki-laki tua bangka itu. Berharap laki-laki tua bangka yang bergelar 'Papa' ini mau mengulurkan tangan untuk menyelamatkannya dari Davin. Sebab dia adalah putra Kakek Demian dan secara rasional, kedudukannya jauh lebih tinggi daripada Davin yang hanya seorang cucu.
"Papa tidak adil kepadaku dan kepada Kakak-kakak ku yang lain." Kata Revan tampak sangat dianiaya.
Kata-katanya ini telah memicu gelombang bisikan yang lain. Beberapa orang mencemoohnya karena tidak tahu malu setelah semua kejahatan yang dilakukan dan beberapa orang lagi turut prihatin melihatnya yang masih bersikap bodoh juga tidak menyadari kekurangan diri sendiri.
"Dia hanya tahu membuat masalah jadi bagaimana mungkin Kakek mau menempatkannya menjadi pewaris?"
"Jangan katakan itu lagi, aku sudah tidak tahan melihat keluarga kita dipermalukan oleh tindakannya yang senonoh diluar sana..."
"Apa-apaan, apakah otaknya mengalami masalah? Mengapa dia tidak menyadari nilai dirinya sendiri sebelum berbicara? Keterlaluan..."
"Anak dan Ibu sama-sama bodoh, jadi ini tidak mengherankan..."
Suara-suara itu tidak disamarkan, entah sengaja atau tidak disengaja. Jadi, Revan masih bisa mendengarnya. Ketika suara-suara itu mencapai telinganya, kepala Revan rasanya sangat terbakar. Dia marah tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk kemarahannya. Saat ini posisinya sangat berbahaya dan Kakek Demian juga ada di sini, jadi dia memutuskan untuk menahannya dalam diam. Tapi jauh dari dalam hatinya, dia berjanji akan membalas mereka semua.
Bagaikan disiram ember dingin tepat di atas kepalanya, Revan sungguh tidak mengira bila laki-laki tua bangka itu akan menyerangnya langsung dengan kata-kata tajam. Dia juga tidak pernah menduga bila laki-laki tua bangka itu sama sekali tidak memberikannya wajah sedikitpun dihadapan banyak anggota keluarga yang lain.
Harapannya langsung hancur. Revan tahu jika laki-laki tua bangka itu tidak akan memihak nya.
"Pa, aku bisa menjelaskan semuanya."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku tahu apa yang kamu inginkan dan aku juga tahu apa yang kamu kejar. Kamu, wanita itu, dan saudara-saudara yang kamu tarik untuk bekerjasama, aku sudah mengetahui semua siasat licik kalian. Aku tahu tapi aku hanya diam saja dan menganggap jika ini adalah ujian yang harus dilewati pewaris ku agar bisa duduk di sini. Seperti Davin, rasanya memang sakit kehilangan putraku yang luar biasa tapi demi melatihnya, aku membiarkan kalian berulah. Karena dengan begini aku bisa mengetahui jika pewaris yang ku pilih memang pantas mendapatkannya. Lalu tentang kamu dan wanita itu, apakah kamu tahu satu-satunya kesalahan ku dalam hidup ini adalah membawa kalian masuk ke dalam rumah ini. Kalian adalah orang-orang yang berhati hitam, mengadu domba anak-anak aku agar bersaing mendapatkan hartaku. Padahal sebelum kalian datang ke sini semuanya baik-baik saja. Semuanya tidak seburuk yang terjadi sekarang. Aku sungguh menyesal membiarkan kalian masuk ke dalam rumahku!"
Tidak hanya Revan yang terkejut namun seluruh anggota keluarga yang mendengarnya juga tercengang. Mereka tidak pernah menyangka jika suatu hari Kakek Demian akan mengakui secara gamblang betapa benalu kedua orang ini. Di dalam hati mereka sangat bersyukur karena hari ini akhirnya datang. Sebab mereka sungguh tidak tahan melihat pasangan Ibu dan anak berbuat sesuka hati di rumah ini, seolah-olah mereka adalah tuan rumah yang sebenarnya.
"Papa...apa maksud Papa mengatakan ini?" Tubuh Revan menegang, dia tiba-tiba merasakan sebuah firasat buruk jika hari ini dia akan berakhir buruk.
"Hem! Hem!" Nenek yang berteriak keras dan meronta-ronta ingin dilepaskan.
Kekuatannya sangat besar dan membuat para pelayan kelimpungan. Tangan mereka yang memegang badan Nenek tidak kuat memegang tubuh Nenek lagi jadi tanpa persiapan apapun mereka kecolongan. Nenek langsung berlari sekuat tenaga untuk menjangkau tangan tua Kakek Demian.
"Sayang....sayang..." Raung Nenek seraya mencoba memegang tangan Kakek Demian, tapi Kakek Demian tidak mau disentuh olehnya jadi dia langsung menepis tangan Nenek menjauh.
Dia sudah cukup memelihara wanita tidak tahu malu ini.
"Bukankah aku sudah memperingatkan kamu sebelumnya?" Tanya Kakek Demian dengan nada acuh tak acuh yang membuat orang-orang jadi gelisah.
Temperamen Kakek Demian tiba-tiba berubah.
"Apa..." Revan tiba-tiba menjadi linglung. Apa yang sudah dia lupakan?
"Jika kamu membuat masalah lagi maka kamu akan keluar dari keluarga Demian-ku. Dan sekarang sudah cukup, aku sudah cukup muak dengan semua kebodohan mu! Kamu tidak memiliki kelebihan apa-apa tapi sok ingin berkuasa di rumah ini seolah kamu adalah orang yang paling cerdas di rumah ini. Semua orang di luar sana mengatakan kamu adalah anakku yang paling payah dan tidak berguna, mereka bahkan meragukan kamu sebagai putraku melihat betapa payahnya kamu. Tapi kamu tidak sadar diri. Bukannya memperbaiki diri kamu malah semakin berulah, membuat masalah, mempermalukan keluarga, dan mempermalukan di sendiri. Sudah cukup, aku tidak bisa menahannya lagi. Maka dari itu hari ini...aku memutuskan bahwa Revan Demian bukan lagi anggota keluarga Demian ku. Dia tidak diizinkan menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Jika dia keras kepala dan memaksa, maka jangan ragu untuk mengusirnya pergi. Ini adalah keputusan ku sebagai orang tua yang gagal. Adapun di masa depan nanti jika kepala keluarga kalian membuat keputusan yang baru, maka aku tidak akan mengatakan apa-apa karena di rumah ini kepala keluarga adalah hukum yang tidak bisa dilanggar dan Nyonya besar adalah tiang rumah yang tidak bisa dipatahkan. Jika ada yang berani mencari masalah maka kepala keluarga dan Nyonya besar, berhak menjatuhkan sebuah hukuman kepada pelaku pencari masalah!" Ucap Kakek Demian final dengan nafas yang mulai terengah-engah karena tubuh tuanya yang mulai melemah.