My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
171



Sudah 5 hari Davin pergi ke negara A dan baru menghubunginya semalam. Dia bilang hari ini akan pergi ke kota B di negara A untuk melihat langsung proyek kilang minyaknya sebelum terbang kembali ke Indonesia. Rein senang mendengar tapi dia mengerti jika urusan Davin tidak semudah itu diselesaikan.


Mungkin butuh satu atau dua hari lagi sampai semuanya selesai dan mereka bisa berkumpul bersama lagi.


Untuk hari itu, Rein masih dengan sabar menunggu kepulangan kekasihnya.


"Rein, ada seseorang di depan rumah. Dia ingin masuk tapi dicegat oleh penjaga." Anggi melaporkan keadaan di luar rumah.


Sebelumnya, Adit meninggalkan pesan kepadanya agar jangan meninggalkan rumah dan tetap mengawasi Rein serta anak-anak sampai Davin kembali. Tugas ini memang tidak berat justru terkesan santai malah, tapi pada kenyataannya tugas ini sangat berat karena melibatkan dua keluarga besar. Sedangkan dia dan Rein adalah orang awam yang tidak tahu menahu pertikaian orang-orang kaya itu.


"Perempuan atau laki-laki, Mbak?" Rein bangkit dari duduknya.


Sambil bertanya dia membawa langkah kakinya pergi ke arah ruang tamu untuk melihat siapa gerangan tamu tak diundang itu.


"Laki-laki dan perempuan, aku pikir dia adalah Nenek tuan Davin." Beritahu Anggi.


Langkah Rein tersendat, beberapa detik kemudian dia berbalik kembali masuk ke dalam kamar tanpa perlu mengintip dari balik jendela ataupun bermurah hati mengundang singa betina masuk ke dalam rumah.


Hell, dia dan anak-anak adalah makanan bagi Nenek Davin. Jadi mengapa dia harus bertindak bodoh mengundang pemangsa masuk ke dalam sarangnya?


"Kamu tidak membiarkannya masuk?" Tanya Anggi heran.


Dia masih tidak tahu bila hubungan Davin dan keluarganya tidak terlalu baik. Apalagi jika menyangkut Neneknya yang menjengkelkan, hubungan mereka benar-benar bisa dikategorikan sebagai 'sangat buruk '.


Rein tidak menyembunyikannya,"Dia berbahaya. Jika tidak, para penjaga itu tidak akan mungkin mencegahnya masuk." Jawabnya santai.


Anggi tercengang. Dia menoleh ke belakang dengan tatapan rumit sebelum pergi mengikuti Rein masuk ke dalam kamar untuk bersantai. Kamar yang Rein masuki sekarang adalah kamarnya dulu sebelum tidur dengan Davin jadi Anggi bisa bebas keluar masuk ke sini.


"Hidupmu pasti sangat sulit." Anggi merasa tidak enak.


Dia sudah menumpang terlalu lama di rumah ini dan tidak tahu apa-apa tentang masalah yang Rein hadapi, sungguh sangat sulit dipercaya.


Rein tersenyum tipis. Dia membawa matanya melihat fotonya dengan Davin 5 tahun yang lalu saat mereka masih sangat muda untuk jatuh cinta.


"Hidupku yang sekarang jauh lebih baik dari 5 tahun ini. Setidaknya aku bersama Davin dan anak-anak saat melewati masa sulit sehingga hatiku tidak akan kesepian. Jujur, Mbak. Aku merasa jauh lebih kuat setelah bersama mereka. Dan aku pikir rasanya tidak apa-apa mendapatkan banyak cobaan asal Tuhan tidak memisahkan kami semua. Aku akan sangat ikhlas menjalaninya." Ungkap Rein menyuarakan isi hatinya yang terdalam.


Dia takut sakit dan dia takut akan masalah. Tapi selama ada kekasih dan anak-anaknya, Rein merasa jauh lebih berani untuk menghadapi rasa sakit dan masalah. Karena dengan bersama mereka hatinya tidak terlalu tertekan atau terbebani. Dengan mereka, Rein merasa dilindungi dan dijaga, sehingga masalah apapun yang datang menyapa Rein masih tegar untuk menghadapinya.


Rein menatapnya. Diam mengamati dan menyadari bila Anggi mulai lebih terbuka dari sebelumnya. Tidak hanya terbuka, tapi dia juga banyak bicara dengan anak-anak dan tidak suram lagi seperti hari itu.


"Mengapa Mbak Anggi cemburu? Mbak Anggi sudah memiliki dua anak dan suami yang penyayang, jadi kehidupan Mbak Anggi harusnya bahagia." Kecuali jika itu berhubungan dengan uang.


Namun, selama berteman dengan Anggi, dia tidak pernah mendengar Anggi mengatakan jika dia bertengkar dengan suaminya hanya karena uang. Mungkin ya, sekali dua kali itu wajar saja tapi tidak sampai harus menuntut memiliki penghasilan besar, kan?


Dan yang paling membuatnya heran adalah mengapa Anggi bisa terjerat dengan Revan?


Melakukan hal-hal kotor disaat dia masih bersuami, Rein tidak berani memberikan komentar apa-apa!


"Itu dulu, Rein." Anggi menggelengkan kepalanya masam.


"Hem?" Rein lambat mencerna.


"Dulu aku sangat bahagia dengan kehidupanku yang sederhana. Walaupun tidak memiliki banyak uang tapi aku masih memiliki anak-anak dan suamiku. Entah sejak kapan dimulai, suatu hari suamiku tiba-tiba memberitahuku jika dia memiliki hutang sebanyak 200 juta. Aku terkejut dan bertanya-tanya kenapa dia bisa berhutang sebanyak itu tapi dia tidak mau mengatakan apa-apa. Suamiku hanya bilang jika hutang itu harus dilunasi dan satu-satunya orang yang bisa melunasinya adalah aku sendiri. Saat itu aku hampir saja gila karena tiba-tiba diberikan beban yang sangat besar. Gaji ku kecil dan tabunganku pun tidak besar, jadi bagaimana mungkin aku bisa melunasinya di saat aku tidak memiliki uang? Lalu suamiku bilang aku bisa melunasinya dengan mengikuti persyaratan pemilik uang. Aku pasrah dan mau mengikuti arahan suamiku. Kemudian aku dan pemilik uang itu bertemu, kamu tidak bisa membayangkan betapa terkejutnya aku saat mengetahui pemilik uang itu adalah Revan." Ketika menyebut nama Revan, tubuh Anggi tanpa sadar bergetar ringan mengingat betapa menakutkannya hari-hari yang dia habiskan bersama Revan.


Sakit rasanya dan dia merasa sangat-sangat kotor.


"Mbak Anggi... jika Mbak tidak bisa melanjutkannya maka jangan bicarakan masalah ini. Aku tidak mau melihat Mbak Anggi tertekan." Ucap Rein tidak tega.


Anggi terlihat sangat tertekan. Mengungkit masalah itu tidak ada bedanya dengan mengulang kembali saat-saat menyedihkan itu. Inilah kenapa Rein tidak pernah mengambil inisiatif untuk bertanya ataupun meminta Anggi menjelaskan hubungan apa yang dia miliki dengan Revan.


Namun, Anggi menggelengkan kepalanya menolak untuk berhenti.


Rein adalah orang yang baik. Membicarakan rahasianya dengan Rein tidak akan mendapatkan masalah karena Rein tidak mungkin membocorkannya.


"Revan memberikan ku dua pilihan untuk melunasi hutang suamiku. Pertama, aku harus membayarnya dalam waktu yang sangat singkat atau kedua, aku bisa melunasinya dengan menjadi pelayan di rumahnya selama setengah bulan. Kau tahu..aku pikir pelayan yang dia maksud adalah orang yang membersihkan dan menyiapkan segala sesuatu kebutuhannya selama di rumah. Tapi ternyata aku salah kaprah karena pelayan yang Revan inginkan adalah mainan di atas ranjangnya."


"Dia... benar-benar melakukan itu kepada Mbak Anggi?!" Rein sangat marah dan merasa sangat sulit mempercayainya.


Pasalnya hubungan Mbak Anggi dan Revan dulu cukup baik, jadi agak menakutkan rasanya saat mengetahui perubahan hubungan mereka hanya karena masalah uang.


"Ya, dia melakukannya. Bodohnya, aku begitu mudah tertipu dan yang lebih mirisnya lagi, aku tidak bisa membatalkan transaksi ini karena nyawa suamiku adalah taruhannya. Selama tinggal bersamanya aku sudah sangat hancur dan tidak memiliki harapan pada kehidupan rumah tanggaku. Tapi meskipun begitu aku masih berharap suamiku mau menerimaku lagi. Jadi, suatu ketika aku memutuskan untuk pulang kembali ke rumah dan menemui suami serta anak-anakku. Dan coba tebak kejutan apa yang aku temukan di rumah?" Tanya Anggi bercanda agar bisa menyamarkan kesedihannya.