My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
117. Menjijikkan, Bukan?



Mereka larut dalam perasaan manis sampai-sampai tidak menyadari bila mereka telah berpindah tempat. Davin membawa Rein masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan Rein dengan gerakan dominasi di atas ranjang.


Ketika menyentuh tempat yang hangat dan empuk, Rein tiba-tiba menyadari bila mereka sudah melangkah terlalu jauh. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi Davin tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara. Setiap kali Rein memalingkan wajahnya untuk memutuskan ciuman mereka, Davin akan menekan tengkuk Rein agar kepalanya tidak banyak bergerak. Membuat Rein sekali lagi terbuai dalam ciuman panas nan manis Davin, terkadang Davin akan melakukanya dengan gerakan kasar seakan-akan Rein adalah santapan lezat yang tidak boleh dilewatkan, dan terkadang pula Davin akan melakukanya dengan gerakan lembut juga manis, seakan-akan Rein adalah permen manis nan rapuh yang harus ia santap dengan hati-hati.


Dia memeluk Rein, membawanya ke dalam pelukan hangatnya yang sangat nyaman. Di bawah dominasinya, Rein terkurung tidak berdaya tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia bertindak pasif di atas semua tindakan agresif Davin, membiarkan Davin menjelajahi tubuhnya yang sudah lama merindukan sentuhan Davin.


Davin tersenyum puas melihat sikap patuh Rein, dia merasa bangga karena akhirnya bisa menaklukkan Rein, membawanya kembali ke dalam dekapannya lagi. Di dalam hatinya, dia berjanji jika mereka tidak akan pernah berpisah seumur hidup. Kecuali katena dipisahkan oleh kematian, Davin tidak akan pernah membiarkan kemungkinan apapun membuat Rein jauh darinya.


"Kamu sangat seksi, Rein." Bisiknya dengan nada seduktif.


Davin melepaskan bibir merah nan ranum Rein yang telah membengkak karena pembuatnya sendiri. Tertawa kecil, Davin merendahkan kepalanya mengecup ringan kedua mata basah Rein yang terlihat sangat menggoda.


Dia suka melihat Rein patuh di bawah dominasinya, entah mengapa ada rasa kepuasan yang tidak terucap di dalam hatinya.


"Kamu adalah penggoda ulung." Kekehan serak Davin membuat Rein tersihir.


Ia untuk sementara waktu linglung, mengangkat kedua tangan kurusnya untuk melingkari leher Davin dan menariknya semakin bawah agar lebih dekat dengannya.


"Dav, jangan pergi..." Mohon Rein merengek dengan nada manjanya yang terdengar seksi di dalam pendengaran Davin.


Dia menginginkan sentuhan Davin lagi dan lagi, dia menginginkan sentuhan yang lain, yang lebih intim, yang lebih manis sebagai klaim bahwa Davin hanya miliknya seorang.


Dia menginginkan Davin-nya!


"Rein, apa kamu menyadarinya? Kamu malam ini terlihat sangat seksi dan jauh lebih menggoda." Bisik Davin serak, tangan besarnya menyentuh wajah merah Rein, mengelusnya hati-hati sembari menyingkirkan anak rambut yang telah lancang menyentuh wajah cantik Rein-nya.


"Wajah merah dan tatapan sayu mu memberikan perasaan seolah-olah kamu tenggelam dalam manisnya wine, itu adalah perasaan yang sangat hebat dan menimbulkan rasa candu, Rein. Kamu adalah penggoda ulung, kamu sangat pandai membuatku kehilangan kendali."


Wajah merah seperti buah plum matang, menatapnya dengan kedua mata basahnya yang meleleh, bagaimana mungkin Davin tidak kehilangan kendali?


Rein seperti buah plum merah nan ranum, menyebarkan wangi yang manis dan menggoda bagaikan cairan afrodiasik di dalam tubuh Davin.


Tubuh Davin terkungkung dalam nyala api gairah, membangkitkan keinginan paling primitif milik manusia, menyentuh tubuh halus itu, menciumnya sepuas hati, menggigitnya tanpa menahan diri, dan melahapnya dengan dominasi yang kuat. Davin ingin menandai Rein, menjadikan sebagai klaim yang tidak terbantahkan agar tidak ada seorangpun yang berani mendekati Rein apalagi memiliki maksud lain kepada Rein, tidak, Davin tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi.


Rein hanya bisa menjadi miliknya, miliknya, dan hanya bisa menjadi milik Davin Demian!


"Davin, jangan pergi..." Rengekan manja Rein bagaikan sebuah cambuk penyemangat untuk Davin.


"Rein," Panggil Davin seduktif, tangan besarnya bergerak masuk ke dalam piyama Rein, menyentuh perut datar nan lembut Rein- tiba-tiba gerakan tangannya menjadi kaku. Dia menatap Rein dengan ekspresi kejutan di wajah tampannya.


"Davin, cukup." Akhirnya Rein kembali berpikir jernih saat merasakan tangan Davin kini sedang menyentuh perutnya- menyentuh kulit kasar yang tidak lagi memiliki keindahan menggoda seperti dulu lagi.


Davin juga menyadari apa yang terjadi. Dia buru-buru bangun dari tubuh Rein, membiarkan Rein ruang kosong untuk bernafas dan menstabilkan gejolak gairah yang sempat mendominasi tubuh mereka.


Davin duduk termenung, wajah tampannya tidak pernah lepas dari wajah kemerahan Rein yang perlahan surut menjadi raut wajah malu dengan rasa percaya diri yang rendah.


Rein merendahkan kelopak matanya sembari mendudukkan dirinya di atas ranjang. Kaki rampingnya ia tarik ke atas hingga tertekuk, kemudian Rein memeluk lututnya untuk menyembunyikan semangat rendah di wajahnya dari Davin- namun, Davin telah melihat semuanya.


Ia melihat semua yang Rein lakukan di bawah mata almond nya yang kini memiliki sinar sendu dan bukan lagi cahaya gairah yang sempat membara ingin menaklukkan Rein.


"Apakah rasanya sakit?" Bisik Davin sembari bergerak mendekati Rein.


Rein tersenyum tipis, dia menggelengkan kepalanya membantah.


"Tidak sakit, aku diberikan bius." Jawabnya singkat.


Davin tidak puas, dia tahu rasanya pasti sangat menyakitkan.


"Benar, tapi setelah biusnya hilang kamu pasti sangat kesakitan." Kata Davin dilanda sakit.


Rein lagi-lagi tersenyum tipis, dia tidak mengatakan apa-apa untuk membalas Davin. Bibirnya tertutup rapat diam membisu terjebak dalam pikiran yang sangat rumit. Ia tidak memiliki keberanian mengatakan apa-apa. Ia tidak memiliki wajah untuk menghadapi Davin lagi.


"Rein, kenapa kamu diam saja?" Tanya Davin lembut.


Ia ingin membicarakan hari itu, hari dimana Tio- putranya lahir ke dunia ini. Hari itu pasti sangat berat untuk kekasihnya. Ia harus melahirkan Tio sendirian dan bahkan harus mengorbankan dirinya sendiri.


"Apa kamu merasa jijik?" Tanya Rein linglung.


"Apa maksudmu?" Tanya Davin tidak mengerti- tidak sepenuhnya tidak mengerti, ia hanya meragukan pikirannya saja.


Rein tersenyum tipis,"Sayatan di perutku sangat panjang, meskipun sudah dijahit tapi masih meninggalkan bekas dan tidak bisa menghilang setelah bertahun-tahun. Permukaannya kasar dan tidak rata, aku tahu kamu pasti tidak nyaman ketika menyentuhnya."


Dia mengerti apa yang Davin rasakan. Dia pasti kecewa menemukan jika dirinya tidak semulus dulu.