My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
37. (37)



"Asisten?" Mata dingin Adit beralih menatap wanita berkacamata yang sedari tadi diam di belakang Adit tanpa bersuara.


Wanita berkacamata itu terlihat pucat pasi. Dia meremat tangannya gugup dan tidak berani menatap langsung ke mata Adit.


"Dina, apa yang terjadi di sini?" Tanya Adit kini beralih menatap Dina.


Dina adalah asistennya di perusahaan. Setahunya selama Dina bekerja kepadanya, belum pernah ada kesalahan atau kecerobohan yang dibuat oleh Dina. Karena Dina sangat sesuai dengan kinerja yang Adit inginkan. Dia lugas, bertindak cepat, disiplin dan tidak cerewet. Inilah alasan mengapa Adit sangat puas dengan Dina selama ini. Namun melihatnya tiba-tiba membuat kesalahan hari ini langsung merubah cara pandang Adit kepadanya. Trik ini, bagiamana mungkin dia tidak tahu?


"Pak Adit, maaf karena aku telah membuat kesalahan. Aku tidak melakukannya dengan sengaja karena di jadwal pak Adit sendiri aku tidak melihat ada janji temu dengan nyonya Anggi. Jadi ketika pihak resepsionis menelepon, aku langsung meminta mereka mengirim nyonya Anggi pergi karena takut dia sama seperti wanita-wanita sebelumnya yang telah membuat masalah di sini." Kata Dina setenang mungkin.


Dia lah yang menolak Anggi dan meminta resepsionis untuk segera mengusir mereka pergi walaupun dia tahu identitas Anggi sebelumnya.


"Oh ya, bukannya aku sudah mengingatkan kamu berkali-kali sebelumnya jika ada wanita yang bernama Anggi mencari ku maka minta dia langsung masuk ke dalam kantor ku! Bagaimana mungkin kamu bisa melupakan hal ini?!" Tegur Adit marah.


Padahal Dina sudah tahu bila beberapa hari ini dia sering mengingatkannya agar membiarkan Anggi masuk bila dia datang berkunjung ke kantor. Menurutnya Dina harusnya tahu dan tidak perlu menambahkan Anggi dalam buku jadwalnya karena Anggi adalah tamu pentingnya, bukan seorang klien atau bawahannya yang harus dijadwalkan bila ingin bertemu.


Dina menundukkan kepalanya sedih,"Aku minta maaf pak Adit, tapi aku benar-benar tidak tahu bila nyonya Anggi yang pak Adit maksud adalah wanita ini." Bohong Dina kepada Adit.


Anggi merasa tidak enak karena orang lain jadi mendapatkan masalah di sini gara-gara kesalahpahaman ini. Dia tahu bila kecerobohan asisten Adit telah membuatnya sakit hati tapi dia bisa memakluminya karena Dina mungkin memang tidak pernah mengenalnya.


"Mas Adit, sudah. Aku tidak akan mempermasalahkan lagi kecerobohan mereka. Aku mengerti mengapa mereka melakukan itu kepadaku." Kata Anggi seraya mendekati Adit.


Adit melirik Dina dari sudut matanya. Entah apa yang dia pikirkan tidak ada yang tahu bahkan menyadarinya. Adit tidak berbicara lagi karena Anggi sudah mengatakannya. Dia juga tidak ingin membuang waktunya di sini dan diam-diam merasa tidak nyaman melihat senyuman Anggi dilihat oleh para karyawan laki-laki yang kebetulan berkumpul di sini.


Adit meraih tangan Anggi dan menyeretnya pergi,"Ayo pergi." Ajak Adit.


Dia membawa Anggi masuk ke dalam lift khusus presiden tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Dina.


Melihat kepergian mereka berdua, Dina membetulkan letak kacamatanya, menatap punggung Anggi tanpa berkedip sedikitpun.


"Bu Dina? Apa Ibu baik-baik saja?" Tanya salah satu karyawati kepada Dina.


Dina langsung mengubah wajahnya, tersenyum lembut kepada karyawati itu.


"Aku baik-baik saja. Pergilah, kembali ke posisi mu. Aku tidak ingin mengganggu waktumu." Jaga Dina lembut.


Setelah berbicara beberapa patah kata kepada mereka, dia lalu pergi ke lift karyawan. Saat melewati lift khusus presiden, matanya berkilat aneh berbanding terbalik dengan citranya yang lembut kepada karyawati tadi.


"Anggi.." Katanya menyenandungkan nama Anggi.